"Hueeekk-" Nina muntah di bawah pohon begitu Arka selesai parkir mobil. "Hueek-"
Arka mendekati Nina dan menepuk pundaknya. "Kamu tidak apa-apa?"
Sontak orang-orang menatap aneh mereka berdua.
"Hueek-" Nina masih pusing, Arka benar-benar gila!
"Haduh, kamu ini norak ya? Mual karena naik mobil."
Nina ingin memaki tapi apa daya, tubuhnya masih lemas karena ulah Arka sialan.
"Kamu kuat jalan nggak?"
Nina menggeleng. "Kakiku lemas," rengeknya.
Arka menggendongnya ala putri. "Lain kali jangan udik, ke depannya kamu pasti naik mobil itu lagi. Harus dibiasain."
Nina menggeleng lemas. "Nggak, itu semakin menguatkan aku supaya tidak dekat denganmu."
Arka tersenyum kecil. "Kamu beneran nggak mau nikah sama aku?"
"Ya, nggaklah. Gila aja, mau cari mati apa?" balas Nina.
Arka mengangguk mengerti lalu mereka masuk ke suatu gedung yang seperti masjid? Hah?
Ayu mendekati Arka. "Aduh, Nina. Kamu tidak apa?"
Nina memaksa turun. "Tante, kenapa di sini?"
Retno mendekati Nina. "Nina, Arka sudah cerita sama mama semuanya dan minta maaf."
"Apa?" tanya Nina tidak mengerti sambil menatap curiga Arka.
"Kamu-" Retno tidak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi.
Ayu mengambil alih. "Kata Arka, kalian baru pertama kali bertemu tapi sudah haha hihi."
"Haha hihi?"
"Aduh, itu lho yang hubungan suami istri."
"Siapa?"
"Kamu sama Arka."
"HAH?!"
"Arka sudah menunjukkan foto ciuman kalian."
"Ciuman a-" Nina teringat dengan kelakuan Arka yang tiba-tiba menciumnya waktu itu. "Hanya ciumankan?"
Ayu dan Retno menatap bingung Arka.
Arka mengangguk kecil. "Lebih dari itu."
"Lebih dari itu?" tanya Nina bingung.
Arka tersenyum miring sambil menepuk kedua bahu Nina. "Istri tercinta, kita akan menikah hari ini- jadi jangan kecewakan suami kamu."
"Meni-" Nina masih mencerna kalimat Arka lalu melotot ngeri, berusaha kabur. "Aku tidak mau menikah!"
"Ya, kita harus menikah. Kita sudah ciuman dan bergandengan tangan, dalam agama jika melakukan kedua hal itu harus dinikahkan."
"Yang benar saja! Bobo bareng baru dipaksa nikah, ini cuma ciuman sama pegangan tangan, mana mungkin sampai nikah. Ma, mama tahukan cita-cita Nina- Nina mau dapat sarjana dulu."
Retno mengangguk canggung. "Arka, jangan paksa Nina."
"Arka tidak paksa kok, tante. Masa depan Nina pasti akan terjamin sama Arka, Arka butuh istri kuat bukan lemah. Nina yang pas."
"Kamu kira aku mau jadi tukang pukul?!" seru Nina. "Gila aja aku harus nikah sama kamu!"
Arka masih memeluk Nina dan memegang kedua tangannya, lalu menyeret maju ke depan penghulu.
"GILA! INI SUDAH GILA!" jerit Nina. "Mana hak asasi manusia aku di sini?"
Arka duduk berhadapan dengan penghulu lalu Nina duduk di atas pangkuan Arka, masih memegang erat Nina.
"Pak penghulu, dia orang gila! Jangan buat saya menikah dengannya. Saya masih SMA, nih lihat seragam saya. Saya masih mau daftar kuliah!" cerocos Nina yang masih berusaha lepas dari Arka.
Arka sengaja mengarahkan p****t Nina ke bagian kejantanannya.
Nina terbelalak ngeri lalu diam membeku. "Apa itu?"
"Masa nggak ngerti?" tanya Arka.
Retno dan Ayu sudah duduk di tempatnya. Belum menyadari ulah m***m Arka.
Nina menggigit bibir bawah. "Apa ini yang seperti aku pikirkan?"
"Ya." Arka menjawab dengan tenang lalu berbisik di telinga Nina. "Bergerak sedikit saja, aku tidak akan bertanggung jawab."
Dasar m***m! Nina berteriak di dalam hati. "Kamu- kamu-"
Arka menjabat tangan penghulu. "Kita mulai pak."
Penghulu mengerutkan kening. Baru kali ini melihat pengantin baru tidak sopan seperti ini.
Ayu menegur Arka. "Ka, turunin Nina dulu."
"Tidak bisa," tegas Arka.
"Kenapa?" tanya Retno.
"Anak ini bisa kabur, nanti Arka tidur sendiri dong."
Ayu dan Retno saling menatap penuh arti.
Nina tidak berani bergerak, sepanjang proses hanya diam dan menggerutu di dalam hati.
Selesai acara, Arka membawanya ke dalam mobil. Nina hanya diam memucat, air mata menetes begitu masuk ke dalam mobil.
Arka tahu sudah menyakiti Nina tapi ini satu-satunya cara. "Aku tidak akan menikah dengan sembarang wanita Nina, karena ibu sudah mantap memilih kamu sejak lahir. Aku tidak bisa membantah."
"Kamu kan sudah dewasa, kenapa tidak bisa bantah?"
"Karena aku anak yang baik, aku tidak mau mengecewakan ibu."
"Tapi kamu egois banget," rengek Nina dan mulai menangis keras. "Aku tidak mau menikah!"
Arka menghela napas panjang sambil menyalakan mobil, membiarkan Nina menangis sepanjang jalan.
Setelah puas menangis, Nina dibelikan es krim dua cup oleh Arka.
Sambil terisak, Nina menghabiskannya. Arka tertawa geli.
"Sudah puas?"
Nina cemberut sambil mengangguk kecil. "Ini kita nikah di bawah tangan?"
"Ya."
Nina semakin cemberut.
"Aku akan meresmikannya setelah kamu lulus sekolah."
Kepala Nina bersandar di jendela kaca, memikirkan masa depan suram.
"Tenang saja, aku akan menjamin hidup kamu."
Harga diri Nina berteriak keras. "Tidak, aku bisa melakukan sendiri."
"Aku suami kamu sekarang."
"Lantas setelah kita menikah, kamu akan mengekang aku sekarang?" tanya Nina.
"Apa?"
"Aku masih muda dan ingin bersenang-senang, bukan waktunya dikekang seperti ini."
"Beritahu aku, apa yang kamu inginkan dari konsep bersenang-senang ini?"
"Dugem?"
"Bisa sama aku."
"Minum alkohol?"
"Lebih baik minum di depanku."
"One Night Stand?"
"Ya, kita bisa. Eh, tunggu- apa?"
"Aku pengen ONS."
Terbesit keinginan Arka untuk memeriksa isi kepala Nina. "Kamu gila?"
"Apanya?"
"One Night Stand! Kamu serius mau melakukan itu?!"
"Iya." Angguk Nina.
Dahi Arka bersandar di setir mobil lalu tertawa masam. "Aku lupa kamu penulis novel erotis."
"Kamu tidak merasa aneh kalau aku penulis novel itu?"
"Aneh dimananya?"
"Aku masih SMA dan mendapat pengahasilan dari sana, kamu tidak ingin bertanya atau merasa jijik kepadaku?"
"Coba beritahu aku, kenapa kamu bisa masuk dunia itu? Orang tidak curiga padamu?"
"Tidak, aku melakukannya di online. Ada buku tapi tidak terlalu vulgar."
"Apa nama pena kamu?"
"Nina."
"Hanya Nina?"
"Ya." Angguk Nina.
"Ada di toko buku?"
"Ya."
"Sudah terbit berapa buku?"
"Hanya satu."
"Satu saja? Kenapa?"
"Aku-" Nina berpikir apakah harus cerita atau tidak, lalu akhirnya cerita. "Aku malu."
"Apa?" Arka tidak percaya dengan pendengarannya. "Bagaimana bisa malu sementara kamu menulis bagian itu?"
"Aku pernah berdiri diam, agak lama di depan rak toko buku. Yang aku lihat buku itu lalu melihat seragam juga. Aku merasa ini ironis."
"Memang ironis, anak SMA membuat buku dan novel erotis."
Nina membentak Arka. "Itu karena kalian tidak butuh apa-apa! Aku butuh uang banyak, tadinya aku hanya menulis kisah cinta biasa lalu ternyata tidak terlalu laku di online, aku bingung. Aku sendiri juga tidak bisa kerja di luar karena tidak ada kendaraan- akhirnya aku cari apa penyebabnya dan ternyata banyak yang berminat."
"Tunggu, tunggu. Online? Kamu penulis online?"
"Aku menulis di platform bahasa inggris, dollarnya lebih banyak mengalir sekaligus menghasilkan."
Akhirnya Arka paham kenapa ibunya tidak pernah tahu, pasalnya Ayu adalah pemilik percetakan buku jadi pasti tahu seluk beluk kelakuan Nina, ternyata bocah satu ini jauh lebih pintar. "Pantas saja tidak ketahuan!"