PEREMPUAN BAWAAN NENEK

1007 Words
"Apa? Mau protes?" tantang Nina. "Jika aku tidak melakukan ini, aku tidak akan bisa membayar semua kebutuhan rumah." "Mama kamu tidak curiga?" "Tidak, mama hanya tahu aku gambar komik." "Kamu- bisa membohongi dua orang tua dengan mulus, jangan-jangan juga bisa bohong ke suami kamu ini?" Nina tidak suka dengan klaim status Arka. "Meskipun kita nikah siri, aku masih belum setuju menikah dengan kamu. Biar saja aku dibilang istri tidak tahu diri, proses menikahnya saja paksa. Aku juga curiga kenapa tante dan mama hanya diam saja, berarti ke depannya aku disuruh menghadapi sesuatu kan?" "Benar." Angguk Arka. Nina tiba-tiba menampar pipi Arka. Arka terkejut, ini kedua kalinya ditampar Nina. "Talak aku!" "Kamu melakukan ini untuk aku talak?" "Memang!" "Kamu-" "Aku tidak mau ikut denganmu, aku masih mau sama mama." "Kamu istriku!" "Dan aku musuh kamu!" Arka dan Nina saling melotot, tidak takut dengan intimidasi masing-masing lawan. Arka akhirnya menyerah. "Kamu mau apa sekarang?" "Tetap menjalani hidup masing-masing lalu talak aku segera." "Aku tidak bisa!" Nina mengangkat kedua bahu dengan santai. "Terserah kamu!" Arka ingin emosi tapi lawannya anak kecil, perbedaan mereka cukup jauh yaitu sepuluh tahun. Nina delapan belas tahun, Arka dua puluh delapan tahun. "Kamu masih mau dugem, mabuk sama ons?" "Mauuu- eh, ons? Tunggu!" "Apa lagi?" "Ons kan hubungan satu malam, jangka pendek. Lha kita?" "Tujuan kamu ons untuk apa?" "Melihat dan merasakan?" "Kamu hanya ingin hidup bersama pria lain hanya sebentar?" "Iya." "Nina, aku benar-benar tidak tahu jalan pikiran kamu." Geleng Arka sambil menjalankan mobilnya lagi. Nina pun juga bingung, dia hanya menjawab asal soal ons. Tidak mau benar-benar melakukannya, hanya saja karena lawannya pria dewasa jadinya ingin mengimbangi tapi ternyata ditanggapi dengan serius. Citra Nina benar-benar runtuh di mata Arka dan dia tidak peduli. "Nin." Panggil Arka, matanya tetap fokus melihat ke depan. "Ya?" "Jangan melakukannya." Nina memutar bola mata dengan bosan. Ya kali, mau melakukan hal itu? Gak takut penyakit apa? "Kalau mau melakukannya, sama aku saja." Nina bersandar di kursi dan memunggungi Arka. Tidak mau menjawab. "Aku lebih jago lho, kamu tahukan istilah-istilah nakal? Nah, aku bisa melakukannya." Nina memasang headset dan tidak mau mendengar, mata dipejam rapat. Arka tertawa geli. Takut juga dia ternyata. Nina tertidur di dalam mobil Arka, energinya sudah habis setelah habis-habisan melawan biang kerok. Arka segera mengarahkan mobil ke rumah Nina. ------ Setelah mengantar Nina pulang, Arka masuk ke dalam rumah dan mengerutkan kening ketika melihat seorang anak perempuan ada di dalam rumah bersama nenek. Untung Arka selangkah lebih cepat. Nenek memperkenalkan perempuan itu. "Ini namanya Aiko, kalau tidak salah kekasih kamu orang Jepang kan dulu. Kebetulan Aiko juga orang Jepang dan orang tuanya ada bisnis di Indonesia." "Bisnis apa?" "Bank milik keluarga Fumoshi." Arka mengerutkan kening. Bank yang terkenal dengan investasinya? "Saya hanya keluarga cabang." Aiko menepisnya dengan malu. "Oh." Arka menjawab datar. "Nenek ingin kalian berdua bisa berteman baik." "Arka." Angguk Arka. "Aiko." Senyum Aiko. Nenek Arka senang melihat cucunya bisa berinteraksi dengan Aiko. "Masalah anak yang akan menikah dengan kamu- nenek sarankan dia menjadi istri kedua." "Apa?" Arka tercengang mendengar nasehat ngawur neneknya. "Nenek tidak masalah kamu menikah dengan wanita biasa, Aiko juga bisa berteman dengan wanita itu. Poligami tidak masalah." Kata nenek sambil membelai rambut panjang Aiko. Arka menatap marah neneknya. "Nenek serius memberikan saran seperti ini?" "Tentu saja, supaya cinta kalian berdua bisa jalan. Aiko sendiri juga tidak masalah, dia akan belajar dari kamu, bimbing dia dengan baik." Arka berusaha menahan emosi, kepalanya sakit mendengar teriakan Nina di dalam kepalanya. Belum dipoligami saja sudah minta talak apalagi kalau dipoligami, Nina tidak akan kekurangan pria. Masalahnya ibu Arka lebih suka anak itu. Bukannya itu egois? Apa? Tiba-tiba muncul suara di benak Arka. Menikah dengan dua wanita, bukankah egois? Lantas apa yang harus Arka lakukan? Talak Nina dan nikahi Aiko, dia jauh lebih bermanfaat apalagi keluarganya pemilik bank. Kedua tangan Arka mengepal marah. Sampai kapan pun, aku tidak akan talak dia! Arka bangkit dari kursi lalu pamit pada neneknya. "Nenek, tiba-tiba Arka ingat ada janji dengan teman. Arka pamit keluar dulu." "Bawa Aiko!" seru nenek. "Maaf, ini pertemuan antar pria." Nenek tidak berkomentar lagi. Arka mengarahkan mobilnya kembali ke rumah keluarga Nina, mengetuk pintu malam-malam. Retno keluar dan membuka pagar untuk Arka. "Ada apa?" "Nenek di rumah." Jawab Arka. Retno yang sudah tahu ceritanya, mempersilahkan Arka masuk ke dalam rumah. "Apakah ada yang mengikuti kamu?" "Tentu saja, tidak mungkin tidak ada yang ikut." Retno menghela napas panjang. "Kamu mau menginap di sini?" "Boleh?" "Kamu suami Nina, tentu saja boleh." "Tante, Arka ingin tanya." "Apa itu?" "Kenapa tante setuju Arka menikah secara paksa ke Nina?" Senyum Retno menghilang. "Apakah ada sesuatu?" Retno menepuk pelan pipi Arka. "Tante tidak bisa cerita sekarang, tapi tante harap kamu mau menjadi pewaris untuk melindungi semuanya." Arka menjadi bingung. "Kenapa?" "Tante tidak pantas cerita, ibu kamu saja yang cerita." "Ibu tidak akan pernah cerita." Arka tahu sifat ibunya yang suka memendam masalah. Retno menatap sendu Arka. "Ka, tolong jaga Nina ya, tante percaya Arka bisa menjaga anak tante." Arka semakin bingung. "Sekarang kamu masuk ke kamar Nina saja, istirahat di dalam." Arka menggeleng. "Tidak, Arka istirahat di sofa saja." "Malang kalau malam dingin, kamu istirahat di kamar saja. Toh kalian sudah menikah." Arka didorong Retno menuju tangga. Dengan pasrah dia naik ke lantai dua lalu masuk ke kamar Nina. Sang istri masih tertidur pulas tapj sudah berganti pakaian, sepertinya tante sudah menyuruhnya ganti baju. Arka tersenyum lalu duduk di samping tempat tidur. "Nina." Dahi Nina berkerut. Arka tertawa kecil lalu menyentuh alisnya, dia ingat saat masih kecil melihat bayi kecil yang seperti monyet lalu berkata jelek. Benar, perempuan jelek. Lalu tidak melihat bayi ini lagi karena orang tuanya terlalu sibuk, sementara orang tua Nina tinggal di Surabaya. Mereka bertemu lagi di tengah kekacauan dan ternyata tante Retno sudah pindah ke Malang setelah berpisah dengan suaminya, Arka juga dengar kalau ibunya berinisiatif membelikan rumah tapi ditolak, akhirnya tante dan anak-anaknya hidup menumpang di rumah kakak tante. Tiba-tiba rasa kantuk menyergap, dia tertidur di samping tempat tidur Nina. Melupakan sejenak masalah yang menghampirinya. Semoga besok dirinya bangun lebih segar tanpa kendala apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD