ISTRI DAJJAL

1043 Words
Nina merasa ada sesuatu yang menindih tangannya, kedua mata perlahan dibuka dan melihat seseorang tertidur di samping tempat tidur dengan salah satu tangan di atas tempat tidur, lebih tepatnya di atas tangan Nina. Nina hampir menjerit lalu menutup mulut, melihat jam tangan di tangan pria itu sudah jam dua belas malam. Nina tersadar dirinya sudah di rumah. Kapan? Nina segera menggoyang tubuh Arka dan membangunkannya. "Arka!" Arka membuka mata. "Mhm?" erangnya. Astaga, mengerang saja sudah sexy begitu. PLAK! Nina menampar pipinya sendiri dengan keras, Arka sontak membuka mata. "Kamu kenapa pukul pipi sendiri?" Nina menatap Arka lalu menggeleng. "Tidak." Arka menarik tangan Nina lalu mengusapnya pelan. "Astaga, ini sampai merah." Nina menepis tangan Arka. "Kamu kenapa di kamarku?" "Wajar, aku kan suami kamu." "Tidak wajar bagiku," bantah Nina. "Biarkan aku istirahat di sini." "Enak saja, di dunia ini tidak gratis! Pergi sana!" "Aku kabulkan apa pun yang kamu inginkan." "Tidak mau!" "Ah, bagaimana jika aku menyenangkan kamu?" "Menyenangkan aku?" "Melayani ìstri." Nina menggetok kepala Arka. "Sinting!" "Ya, wajar saja kan. Kita sudah menikah." "Pergi!" "Tante Retno suruh aku tidur di sini." Nina tidak percaya tapi melihat wajah lelah Arka, dia jadi tidak tega. Arka menatap sendu Nina. "Kamu bisa menginap di hotel." "Nenekku pasti datang dan memaksa aku menemani Aiko." "Siapa Aiko?" "Wanita yang akan dijodohkan denganku, lihat- aku tampan kan sampai ada yang mau dengan a-" Nina baru menyadarinya, dari dekat terlihat jelas sekali sehingga pikirannya jadi tidak fokus. "Julurkan lidahmu." Arka menurut daripada diusir. "Kamu pakai tindik?" Arka mengangguk kecil. "Di tempat kerja, tidak apa?" "Aku melepasnya jika kerja." Jawab Arka lalu kembali menjulurkan lidahnya. "Tidak sakit?" "Sedikit, di awal." Jawab Arka yang tanpa sadar memeluk pinggang Nina. Nina tidak menyadarinya dan masih menatap kagum tindik itu. "Belum selesai?" tanya Arka. Lama-lama pegel juga posisi lidah keluar begini. Di luar dugaan Nina mengisap lidah Arka sambil menyelipkan rambut di sebelah kiri ke telinga. Arka terkejut. Apakah bocah ini fetish tindik? Arka tidak peduli lalu memejamkan kedua mata, lidah Nina menelusuri tindik kecilnya di lidah. "Mhm." Tanpa sadar Arka mengerang. Mereka berciuman intens lalu menjauh dengan jaring masih bertautan. "Sudah selesai?" tanya Arka dengan suara serak. "Aku suka." Arka membuka mata dan melihat mata penuh nafsu Nina. "Aku suka ini," kata Nina tanpa malu. "Mau coba bagian lain?" tawar Arka. Malam ini harusnya menjadi malam pertama mereka, tidak ada salahnya mencoba. Nina segera melepas celananya. Arka menatap takjub, perempuan unik di depannya ini. Tanpa malu buka di depannya? Yah meskipun status suami tetap saja mereka baru dua hari bertemu. Nina membuka kaki tanpa malu di depan Arka. "Aku ingin mencoba manfaat namanya suami." Arka benar-benar gemas dengan pernyataan Nina. "Jangan bersuara atau nanti ada yang dengar." Nina mengangguk setuju lalu menggigit selimut. Arka segera melakukan tugas suami. Nina memejamkan mata dan segera bereaksi. "Mhm." Memainkan inti bunga dengan tindik lidahnya, memberikan sensasi tersendiri untuk Nina. Arka memainkannya secara intens. Punggung Nina melengkung ketika lidah Arka mulai masuk. Nina berusaha lepas dari genggaman Arka ketika tidak tahan. Kedua tangan Arka menahan kedua kaki Nina dengan kuat. Napas Nina tidak teratur, Arka benar-benar menyiksanya. Setelah dirasa cukup, Arka segera bangun dan mencium bibir Nina yang sudah lepas dari mengigit selimut. Membiarkan istrinya menjerit di dalam mulutnya sementara jarinya memainkan inti bunga Nina dengan cepat. Kedua tangan Nina melingkar di leher Arka dan memeluknya erat. Dahi Arka bersandar di dahi Nina. "Bagaimana?" tanyanya. "Takjub." "Mau lagi?" Nina memejamkan mata. "Tidak." Arka cemberut. "Aku kapan?" "Entah." Nina menguap dan memeluk tubuh Arka lalu tertidur nyenyak. Malam ini Nina memutuskan gencatan senjata karena Arka sudah memberikan kepuasan. ----- Arka menghela napas panjang di kantornya, dahi bersandar pada kedua punggung tangan yang sikunya bertumpu pada atas meja. "Arka, kenapa kamu?" "Aku kesal." "Kesal kenapa?" Kesal punya istri dajjal! teriak Arka di dalam hati. "Ka, banyak banget orang-orang yang mau pakai jasa kamu. Kamu tidak masalah?" Arka mengangkat kepala. "Siapa saja?" Teman kerja Arka meletakkan daftar klien yang harus dikerjakan Arka. "Ini, baca saja. Salah satunya adalah Fumoshi, haduh- nama itu terkenal sekali di sini. Kamu beruntung, dia mau pakai jasa kamu." Arka tidak mau mengambil resiko. "Aku bisa menolak?" "Selama kamu bisa memenuhi target perusahaan, tidak masalah. Apakah kamu ada masalah dengan klien ini?" Arka mulai berpikir. Jika dia beralasan sibuk, nenek pasti menggerakkan segala upaya supaya berkurang kliennya dan Aiko harus menjadi klien eksklusif tapi jika dia menerimanya- Susah memang jadi orang tampan sekaligus keturunan orang kaya. "Kamu beneran mau nolak klien ini? Aku akan memindahkannya ke rekan yang lain. Aku coba dulu soalnya dia bersikeras pakai kamu." Arka sontak memeluk tubuhnya sendiri dan menatap ngeri teman kerja yang berdiri di depan mejanya. "Nggak usah alay!" "Aku bukannya alay, tapi aku mau jaga diri. Ini pasti kerjaan orang itu." "Apa?" "Tidak, tidak apa-apa." "Sebentar lagi jam makan siang, kamu mau makan dimana?" Arka tersenyum lalu mengeluarkan tas bekal dari tas ransel. "Hahahaha- lihatlah, mulai hari ini aku bawa bekal lagi." Teman kerja Arka menatap tidak mengerti dia. "Dengar, kamu tahu juru masak terkenal sekota Malang yang bernama Retno?" Teman kerja Arka membulatkan matanya. "Bohong!" Arka menepuk kotak bekalnya. "Ya, ini masakan beliau. Aku pikir anaknya yang dajjal mau masak tapi membedakan ini dan itu saja sudah menyerah." "Kamu kenal anaknya juga?" "Uhm, ya sedikit. Kenapa?" "Dia komikus terkenal lho, aku baca semua komiknya dia mengenai persahabatan dan hubungan keluarga." Arka tersenyum sinis. Berbanding terbalik dengan dia yang menjadi penulis erotis. Arka teringat sesuatu. "Ah, kamu tahu penulis erotis bernama Nina?" "Ah, aku tahu itu. Sempat heboh, sayangnya hanya bahasa Inggris dan tidak diterjemahkan, katanya yang menulis orang Indonesia tapi tidak ada beritanya lagi." "Boleh aku pinjam novelnya?" "Boleh, aku pinjam dulu ke istriku. Dia penggemar berat novel itu." "Hari ini juga bisa? Pake ojek online saja." "Ah- kenapa tiba-tiba kamu tertarik?" "Aku hanya sedikit penasaran, seterkenal apa sampai dia bisa sombong begitu." "Sombong? Kamu tahu penulisnya siapa?" "Tidak tahu, makanya aku cari tahu." "Oh, oke. Aku akan bicara ke istriku." "Sebagai rasa terima kasih, aku berikan satu kotak ini ke kamu." Teman kerja Arka menatap tidak percaya kotak kecil mika yang berisikan karage ayam. "Serius?" "Ya." "Ah, terima kasih ya. Hari ini aku dapat makanan serba kecambah, maklum lagi program hamil." Tawa teman kerja Arka lalu cepat-cepat pergi membawa hadiahnya. Arka langsung merenung. Program hamil ya, hmm-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD