bc

HEART BREAK

book_age16+
659
FOLLOW
2.4K
READ
family
playboy
arrogant
goodgirl
drama
highschool
betrayal
friendship
lies
school
like
intro-logo
Blurb

Menangis sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi wanita bernama lengkap Sabintan Yeselin Henas. Setiap hari yang bisa dia lakukan hanya menangis dalam diam dan gelap. Di tuntut untuk selalu tersenyum, walau sejujurnya tersenyum adalah hal yang paling menyakitkan baginya.

Terluka. Itulah yang sedang dia rasakan.

Terluka di dalam keluarganya dan terluka karena laki-laki yang paling dia cintai di dalam hidupnya. Bertahan bersama laki-laki yang mungkin tidak tahu caranya menghargai perasaan perempuan, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Bintan. Terus, mengapa dia mau bertahan? Jawabannya hanya satu. Karena dia mencintai laki-laki itu. Belajar untuk setia dan bertahan adalah tantangan baginya.

Lantas apakah kesetiaan dan pertahanan akan tetap menjadi prinsip baginya? Berdiri tegak saat tiba-tiba saja seseorang yang tulus dan menawarkan kebahagiaan datang kehidupnya. Siapa yang akan dia pilih di antara kedua laki-laki itu? Pilihannya hanya bertahan dengan air mata atau berlalri mengejar kebahagiaan? Atau mungkin dia membuat satu pilihan lagi. BERHENTI.

Berhenti mencintai, mungkin?

chap-preview
Free preview
PROLOG
Dua wanita itu sedang berdiri menatap lurus ke arah depan. Memandang dua orang berbeda jenis kelamin sedang bermesraan sembari tersenyum dan terkadang tertawa. Bahkan sang laki-laki di depan sana tidak segan-segan untuk mencium wanita itu dengan mesranya. Mereka  terlihat tidak ada beban ketika melakukan hal itu.  Tapi ketika mereka sedang menikmati indahnya malam ini, justru satu dari dua perempuan yang sedang melihat perilaku mereka itu sedang menagis dalam diam. Bagimana rasanya melihat laki-laki yang notabenenya adalah pacar kita bermesraan dengan wanita lain? Sakit.  Itu jugalah yang sedang dia rasakan saat ini. Dia hanya bisa diam dan menangis. Memperhatikan kekasihnya yang sedang bermesraan dengan wanita yang sangat dia kenal. Tidak ada yang bisa dia perbuat selain sabar. Itu sudah menjadi pemandangan yang biasa yang sering dia lihat. Bahkan ini tidak ada apa-apanya di banding dengan hari-hari kemarin. Sakit hati? Mungkin lebih tepatnya dia sudah mati rasa untuk merasakan hal seperti itu. "Lihat? Ini bukan yang pertama, Tan! Mungkin ini udah yang ke seribu kalinya loe ngelihat pacar loe ciuman sama cewek lain!" perempuan yang sedari tadi setia di samping perempun itu sudah tidak tahan lagi menahan kekesalannya, "Gue gak mau tau, pokoknya malam ini juga loe harus putus sama El!" dia menarik tangan sahabatnya itu untuk menghampiri laki-laki yang saat ini sedang menjadi bahan perbincangan mereka. Namun dengan cepat tangannya di tahan. "Bel, gak usah." tolaknya, "Gue gak akan ngelakuin itu dan loe tau itu." Bella mendegus kesal melihat sahabatnya yang benar-benar sudah di butakan oleh yang namanya 'cinta'. Di satu sisi dia bersyukur karena tidak memilki pacar yang b******k seperti pacar sahabatnya itu. Namun di sisi lain dia sangat kasihan melihat sahabatnya yang harus sakit hati karena laki-laki itu.  "Terus sekarang apa?" tanyanya yang kedengarannya justru sudah tau apa yang akan di katakan sahabatnya itu, "Loe milih untuk tetap diam lagi dan lagi, dan menganggap apa yang loe lihat tadi hanya angin lalu?" ucapnya memprediksi, "Gue kehabisan akal ngelihat loe, Tan. Kalau gue jadi loe, yang gue lakuin saat ini adalah ngehampirin itu cowok dan nampar dia berkali-kali." kata Bella sudah sangat emosi. Bintan menghapus air matanya lalu tersenyum tipis kepada Bella, "Dia gak tau apa yang lagi dia perbuat, Bel. Dia kan lagi mabok dan itu wajar." "Loe bilang itu wajar?" Bella menghembuskan nafasnya kasar, "Itu gak wajar! Itu namanya keterlauan, Bintan." "Udalah, Bel. Gue lagi gak mau berdebat sama loe soal El." dan detik ini juga Bella ingin sekali mencakar wajah sahabatnya itu, "Kita pulang aja, Ya? Gue capek pengin istirahat." Bella menggelengkan kepalanya. Seumur hidupnya, hanya Bintanlah satu-satunya wanita yang tidak akan pernah marah jika melihat pacarnya bermesraan dengan wanita lain di luar sana. Bahkan dia masih bisa tersenyum walau Bella tau itu hanyalah senyuman palsu yang sering Bintan perlihatkan ke orang-orang. Rapuhnya Bintan, mungkin hanya Bella yang tahu sebagai sahabat. Di perjalanan pulang, Bintan coba untuk melupakan semua yang dilihatnya tadi. Dia mencoba untuk membuang semua pikiran-pikiran buruknya. Kalau perlu dia ingin Tuhan mengosongkan semua pikirannya saat ini juga. Kalau dia bisa jujur, hatinya sangat-sangat sakit. Dia ingin berteriak sekuat-kuatnya malam ini. Namun dia masih manusia waras yang memilki akal untuk tidak melakukan hal itu. Ini pilihannya dan dia harus konsisten dengan setiap pilihan yang sudah dia ambil. Dia akan coba bertahan selagi dia mampu. Dia akan coba untuk setia selagi dia yakin kalau dia bisa melakukan itu. Ini hanya masalah waktu dan Bintan harap waktu akan selalu ada di pihaknya suatu saat nanti. "Makasih ya udah ngantar gue, Bel." "Sama-sama." Setelah mobil Bella menghilang dari pandangan Bintan, ia itu menarik nafasnya dalam sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dia bahkan sudah siap mendapat apapun ketika dia berada di dalam nanti. Tubuhnya sudah kebal dengan benda apapun. CEKLEK!! PAARRR!!!! Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya hingga sekarang berubah warna menjadi merah. Perih. Mungkin itu yang sedang kita pikirkan. Namun tidak bagi Bintan. Bahkan dia sudah tidak lagi merasakannya. Hampir setiap malam dia mendapat perlakuan itu dari laki-laki yang di sebutnya papa. "PEREMPUAN MACAM APA KAMU PULANG TENGAH MALAM KAYAK BEGINI?!" bentak ayahnya kuat, "BUAT MALU NAMA KELUARGA KAMU!" Bintan tersenyum sinis, "Aku buat malu nama keluarga?" tanya Bintan dengan senyum terlukanya, "BAHKAN ORANG LAIN GAK TAU KALAU AKU ANAK DARI KELUARGA INI!" PARRR!!! Bintan meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya malam ini. Sekarang, rasa sakitpun sudah tidak dia rasakan lagi. Dia hanya kecewa dan marah dengan semua yang Tuhan berikan kepadanya. Tidak ada satu halpun yang bahagia, yang bisa dia dapat. Lantas, bolehkan kali ini Bintan mengatakan kalau Tuhan itu tidak adil? "Jangan kurang ajar kamu, Bintan!" ucap ayahnya tegas dan penuh penekanan. "Bintan memang kurang di ajar. Lebih tepatnya gak pernah di ajar. Yang papa ajari ke Bintan hanya tamparan, tamparan dan tamparan!" ayahnya terdiam, "Yang papa selalu banggakan hanya anak kesayangan papa itu. Yang selalu papa ajar hanya dia dan dia! Jadi untuk apa Papa peduli sama Bintan? Untuk apa papa khuatir kalau Bintan pulang malam kayak gini? untuk apa?" Bintan berhenti sejenak," Bintan udah besar, dan Bintan gak butuh larangan-larangan yang papa buat." Setelah itu Bintan berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Meninggalkan ayahnya yang masih kelihatan emosi, dan beberapa pekerja di rumahnya yang sedang memperhatikan pertengkaran ayah-anak itu yang hampir terjadi setiap hari. Bintan membeci hidupnya yang tidak sama seperti orang-orang di luar sana. Dia benci keluarganya yang bahkan tidak pantas di katakan dengan sebutan keluarga. Dia bahkan marah kepada Tuhan karena sudah memberikannya hidup yang sangat-sangat hina dan menderita seperti ini. Andai saat ini dia bisa untuk membunuh dirinya, dia akan lakukan itu. Mati lebih baik daripada hidup dengan penderitaan. SEKIAN DAN TERIMA KASIH. I HOPE YOU LIKE IT, GUYS! New story, Yeaaaa!!!!! Sumpah, untuk mikirin buat prolog aja harus nguras tenanga begitu banyak. Tapi akhirnya prolog ini selesai, dan saya bahagiaaaaaa! Ok itu kedengaran sedikit berlebihan. Tapi jujur, aku antusias banget buat cerita ini. Harapanku sih aku bisa nyelesaikan cerita ini dan akhirnya nanti akan sesuai dengan yang aku ekspetasikan. Dan Yahhh,,,, lagi dan lagi, aku harap kalian suka denga  ceritaku ini. Ok, ini gue terlalu banyak bicara sepertinya. See you di part selanjutnya....

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
204.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
24.2K
bc

Kali kedua

read
223.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook