BAGIAN-02

1502 Words
Bintan sedang sibuk mengeringkan rambutnya yang basah karena hujan yang tiba-tiba saja turun sepulang dia sekolah tadi. Dia merutuki langit karena sudah menangis di siang hari seperti ini. Bintan tipe wanita yang tidak menyukai hujan. Dia benci suara hujan dan aroma hujan yang terasa horor baginya. Dia juga benci hujan karena ketika hujan, dia tidak bisa berbuat apapun di luar sana. Saat ini dia bingung harus berbuat apa. Dia memandang seluruh isi kamarnya. Tidak ada satupun yang bisa dia perbuat. Kenapa dia tidak turun ke bawah? itu adalah pekerjaan yang paling sia-sia jika ia melaukan itu. Untuk apa dia ke bawah? Melihat bagaiamana kedua orang tuanya memperlakukan kakaknya dengan sangat baik dan penuh perhatian? Itu justru akan membuat Bintan muak dan bisa-bisa dia muntah saat itu juga. Senyum Bintan terlukis di wajahnya saat dia menemukan satu objek yang akan menemani harinya yang membosankan ini. Dia melihat lukisan setengah jadi yang ada di kanvas. Entah kenapa melihat lukisan itu membuat dia senyum-senyum sendiri. Padahal di dalam lukisan itu ada wajah El, laki-laki yang selalau menyakitinya. Dia duduk di kursi khusus untuk melukis dan kemudian kembali melanjutkan lukisannya. Sebenarnya lukisan ini adalah tugasnya yang harus dia kumpulkan minggu depan. Tapi mengingat objek yang dia lukis adalah El, tentu lukisan itu tidak akan di kumpulnya. Dia memilih untuk melukis objek lain kepada guru seninya minggu depan. Hampir sempurna. Setelah memperindah backgroundnya, Bintan tersenyum puas melihat karyanya yang sangat tidak mengecewakan. Lukisan ini akan dia pajang di kamarnya. Lukisan dengan wajah El, akan menjadi lukisan favoritenya mulai dari detik ini. Cling! Bintan mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang. Jantungnya hampir saya copot saat melihat notifikasi line yang masuk. Bukan karena notofikasi itu, tapi lebih kepada orang yang mengirimkannya pesan. El? Dia nge-chat Bintan siang ini? Sungguh Bintan tidak percaya. Elnathan Tan. Elnathan lagi sibuk, Loe? Bintan knapa? Bintan merutuki dirinya yang terlalu cuek dan singkat membalas pesan El. Bintan tiba-tiba saja merasa aneh. Kenapa chatan dengan El, yang notabenenya adalah pacarnya, berhasil membuat perempuan berhidung mancung itu deg-degan? Elnathan gue lagi free. Mau jalan? WHAT?!!!!!!! Sumpah ini El ngajak gue jalan? Serius nih? Batinnya tidak percaya. Ada angin apa tiba-tiba El ngajak dia jalan? Tapi bukannya itu wajar, seorang pacar mengajak pacarnya jalan? Bintan serius? Gue sih lagi gak sibuk. Elnathan gue sampek lima belas menit lagi. Dengan cepat Bintan bersiap-siap. Tidak perlu mandi karena memang badannya tidak terlalu kotor dan lengket, mengingat hari ini udaranya yang dingin. Bintan memilih menggunakan t-shirt warna putih yang di tutupinya dengan bomber jaket warna army berbahan katun dan bawahan celana jeans putih yang senada dengan t-shirtnya. Simple memang, tapi Bintan justru kelihatan lebih manis. Gadis itu memilih untuk menggerai rambutnya yang ikal dan pirang. Perfect. Saat dia mendengar suara klakson mobil yang dia yakini adalah milik El, dia segera turun dan langsung naik ke dalam mobil laki-laki itu. Duduk diam tanpa berkata satu katapun. Bintan hanya melirik tanpa tau mau berkata apa. Cowok itu benar-benar sangat tampan. Tidak salah kalau semua wanita mengejar-ngejarnya. Dan tiba-tiba saja satu pertanyaan muncul di benak Bintan. Mengapa El mau berpacaran dengannya? "Kita ke mana?" itu suara El. Suara teduh yang sudah jarang Bintan dengar. Bukan jarang aja, bahkan hampir tidak pernah beberapa bulan ini. Sekalinya El berbicara, dia pasti akan membentak ataupun memarahi Bintan. Tapi sekarang, Bintan melihat El yang berbeda. "Terserah. Loe maunya kemana? Gue ikut aja." jawab Bintan apa adanya. Dia memang bingung jika di tanya mau kemana. Tidak terlintas satu tempatpun di pikirannya saat ini. "Nonton?" Bintan tersenyum. Ya, dia sudah lama tidak nonton. Terakhir dia nonton dua bulan yang lalu bersama Bella dan Karin, "Yok. Gue juga udah lama gak nonton." terlihat jelas wajah bahagia Bintan, "Film apa?" "Loe maunya film apa?" "Action?" "Boleh." Bintan dan El adalah dua remaja yang menyukai genre film yang sama. Film yang berbau action adalah film favorite mereka berdua. El melirik Bintan di sebelahnya. Dia tersenyum tipis melihat Bintan yang sedang tersenyum bahagia seperti saat ini. Laki-laki itu bahkan lupa kapan terakhir kalinya dia melihat Bintan tersenyum seperti ini. Setitik rasa bersalah tiba-tiba saja menghampirinya. Apa dia terlalu jahat menjadi seorang pacar yang tidak setia? "Oh iya, gimana ujian praktek loe tadi? Bisa?" sejujurnya Bintan sedikit ragu bertanya prihal ini kepada El. Dia takut kalau El merasa jenuh dengan pertanyaannya. "Ya, gak terlalu buruk." jawabnya dan hanya di balas anggukan dari Bintan. Dan setelah itu tidak ada lagi yang berbicara. Hening. Baik Bintan maupun El tidak ada yang berniat untuk membuka obrolan sampai mobil itu berhenti di salah satu mall terbesar di Jakarta. ***** Setelah hampir dua jam mereka habiskan untuk nonton film, sekarang mereka sedang berada di salah satu caffe yang ada di mall itu. Sedari tadi senyum Bintan tak pernah pudar saat meningat bagaiamana dekatnya mereka sewaktu di dalam bioskop tadi. Bagimana cara El tersenyum dan tertawa. Bagiamana lucunya wajah laki-laki itu saat dia sedang tegang, hampir semua Bintan perhatikan. Dan satu hal lagi yang gak bisa Bintan lupa, yaitu bagaiamana hangatnya kepala El yang dia sandarkan di pundak Bintan dengan sadar. Itu sungguh moment yang tidak akan pernah Bintan lupakan sampai kapanpun. Bintan meminum minumannya. Minuman akan selalu sama ketika dia berada di caffe ini. Ice green tee milk. Sedangkan El memesan coffe latte favoritenya. Mereka berdua hanya sibuk dengan pikiran dan kesibukaan mereka masing-masing, tanpa berucap septah katapun. El yang sibuk dengan ponselnya, sedangkan Bintan sibuk dengan pikiran-pikirannya. Suana hening itu tiba-tiba berubah menjadi ribut dengan teriakan dari beberapa wanita yang kebetulan mengenal El. Mereka terlihat sangat kaget saat melihat El ada di dalam mall ini. Perhatian El dan Bintan langsung saja teralihkan, saat beberapa wanita itu menghampiri mereka. Lebih tepatnya menghampiri, El. "Hai kak, El," sapa salah satu perempuan dengan wajah blesteran yang kelihatan lebih muda dari El, "Aku Geisha. Senang bisa ketemu kak El di sini." ucapnya dengan teriakan yang tertahan. "Hai kak, El." sapa temannya yang lain. Wanita cantik yang berpakaian mini, sehingga memperlihatkan bagian dadanya dan paha putihnya. El hanya membalas dengan senyum tipis sembari melirik Bintan yang sedang mencoba tidak peduli, dengan cara sibuk dengan ponselnya. El tau Bintan sedang bosan dan juga muak dengan beberapa wanita itu. Tapi perempuan itu tidak ingin mengatakannya. "Dia siap, Kak? Pacar baru kakak?" tanya wanita yang berpakaian mini itu sembari melirik Bintan dengan tatapan tidak sukanya, "Bukannya semalam kak Daniella baru ngepost foto kalian berdua di IG?" sambungnya lagi. "Ia. Masa udah putus aja? Orang di foto kelihatan romantis banget." timpal temannya lagi. "Ini pasti cewek yang mau modus-modusi kakak aja, Kan?" El lagi-lagi hanya dia sembari menantap Bintan yang kelihatannya sudah tidak tahan lagi dengan ucapan wanita-wanita itu. Dia benar-benar sudah jenuh. "Kalian nagapain di sini, Sih? Gak ada kerjaan? Gue terganggu sama kehadiran loe semua. Mending loe semua pergi, dari pada gue nyuruh satpam buat ngusir loe dari sini!" dan inilah sikap asli El. Keras dan tidak bisa di bantah sedikitpun. Beberapa wanita tadi akhirnya pergi meninggalkan El dan juga Bintan. Kalau sudah seperti ini El jadi bingung harus berbuat dan bersikap seperti apa. Bahkan dia bingung harus menjalaskan apa kepada Bintan soal Daniella. "Tan, gue mau loe gak dengari apapun yang mereka bilang tadi." Bintan mengangkat wajahnya menatap El. Tidak terlihat eksprsi apapaun di sana. Hanya datar, seperti siang tadi di sekolah. Apakah wajah datar Bintan, menunjukkan kalau dia sedang marah? Batin El. "Udah malam. Kita pulang yuk." ajak Bintan yang kedengarannya lebih kepada mengalihkan pembicaraan, "Gue lupa ada pr fisika." sambungnya sembari bersiap-siap untuk bangkit berdiri. Namun entah apa yang membuat El menahannya. Bintan kembali duduk dengan kedua matanya menatap jauh ke dalam mata El. Ingin rasanya dia menangis. Ingin rasanya dia bilang ke El kalau saat ini dia sakit hati dengan semua yang di katakan beberapa wanita tadi. Ada perasaan cemburu saat semua orang di luar sana tau kalau El adalah pacar Daniella, bukan pacarnya. Dia juga merasa iri dengan Daneilla yang lebih dekat dengan pacarnya ini. "Gue tau loe marah." ucap El. Bintan diam sejenak, sebelum dia memantapkan diri untuk membuka suaranya, "Gue gak marah." dan semua orang tau kalau Bintan sedang berbohong, "Apapun yang loe perbuat di luar sana, hanya loe dan Tuhan yang tau, Kan?" butuh kekuatan yang super untuk mengatakan kalimat itu, "Udah yuk pulang?" Bintan jalan terlebih dahulu, meninggalkan El yang masih harus membayar pesanan mereka. Bintan lagi-lagi meneteskan air matanya. Kenapa saat dia lagi bahagia, ada saja hal yang akhirnya membuat dia menangis lagi seperti sekarang. Kenapa kebahagiaan seakan malas untuk menyapanya. Apa yang salah dari dirinya? Dia segera menghapus air matanya saat menyadari El sudah berada di sampingnya. Bersikap sok kuat dan tegar adalah hal yang harus dia lakukan, jika ingin tetap bersama dengan El. Tuhan, jika aku tau mencintai sesakit ini, aku lebih baik tidak mengenalnya sama sekali. Gak ada yang bisa aku lakuin selain diam dan bersabar. Tapi, kalau aku boleh minta satu hal, aku hanya ingin berlari jauh tanpa bertemu dan mengenal siapapun termasuk dia. Karena aku capek, Tuhan. Capek bermain dengan drama yang aku sendiri tidak tahu kapan dan bagiamana endingnya. SEKIAN DAN TERIMA KASIH. I HOPE YOU LIKE IT
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD