“Hey!” Fenny tersentak lalu menatap tajam pada Dista yang menatapnya bingung sekarang. “Kamu kenapa sih? Kok sepertinya dari tadi pagi cemberut terus?, Dista menyeret kursinya dan duduk di samping Fenny, memperhatikannya dengan seksama. Sedangkan Fenny lebih memilih untuk mengacuhkan sahabatnya itu. Moodnya pagi ini benar-benar buruk, coba saja sampai ada yang memancing emosinya lagi. Bukannya tak mungkin ia akan meledak. “Woy!! Orang ngomong dari tadi di acuhin mulu, emang aku kacang?!”, sepertinya Dista mulai tidak sabar dengan kebisuan temannya ini yang tidak biasanya ia tampakkan. “Aduuh…sakit Dis!”. Fenny memijat pundaknya yang tadi diremas Dista karena gemas. “Perasaan aku tadi pelan deh?”, “Pelan kamu tuh pake perasaan! Makanya bikin sakit!” “Hah? Serius kok tadi pelan, nih!”,

