Is it a game again??

1193 Words
Fenny POV Setelah duduk dengan tidak tenang, berkali-kali melihat arloji hanya untuk memastikan bahwa monster yang kini ada di ruangan Pak Dika tidak sedang memangsa Pak Dika yang lemah. Eh! Fenny ngomong apaan sih?!! “Fen..matanya Fen..matanya..”. Ternyata sejak tadi Dista memperhatikanku yang berkali-kali melihat bergantian arloji - ruang Pak Dika – arloji – ruang Pak Dika. Pusing. Aku pura-pura sibuk mengerjakan tugasku padahal otakku sama sekali tidak paham apa yang sedang ku kerjakan. Pikiranku terbang ke tempat lain. “Fen..nanti juga orangnya kesini. Biasa aja lah”. “Gimana bisa biasa? Kalo ntar aku dijadiin santapannya kan serem Dis”. Aku bergidik ngeri sendiri. “Santapan apa sih?” “Ya siapa tau aja nanti aku disuruh ikut, dipaksa naik mobil dia. Dibawa ke restoran mewah, aku dimutilasi, terus dipanggang! Kan parah itu namanya!!”, aku sudah histeris sendiri membayangkan semua kemungkinan ini. Dista meletakkan telapak tangannya di keningku. “Nggak panas tuh. Kamu waras??” “Apaan sih Dis, aku tuh serius” “Aku juga serius. Kamu lebih mirip orang gila kalo giini. Menghayalnya kejauhan, deket-deket aja napa? Pake acara mutilasi lagi. Obatnya habis ya?” “Obat apaan?” “Yang dari rumah sakit jiwa udah diminum?” “Ck. Dis, yang beli obatny kamu kok yang minum aku sih?” “Ha? Udah..udah...makin nggak nyambung” “Ya di lem aja biar nyambung”. “Fen, udah. Kalo mau gila jangan ajak-ajak ya. Aku masih seneng jadi orang waras”. “Ya ampun Dis. Di ajak stres sebentar aja nggak mau. Kan aku mau berbagi” “Idih. Berbagi itu makanan ke, duit kek, apa kek..yang penting jangan stres. Nggak mau!” “Kak..kek..kak..kek..emang lagi ada kakek-kakek ya?” Dista memegang kepalaku dengan kedua tangannya dan.. Duk ”Aduuh!! Kamu kira-kira dong. Sakit tau!”. Dista baru saja menabrakkan kepalaku dengan kepalanya. Aku yakin dia juka merasa sakit sekarang. “Fenny. Kamu cuma dicariin dia. Mungkin dia mau nanya sesuatu atau apalah, yang pasti nggak bakal sampe yang kamu sebutin tadi”. “Kamu nggak pusing Dis?” “Nggak” “Kok bisa?” “Kepala aku lebih batu dari kamu. Kalo punyamu kan lemot” “Apa hubungannya coba?”. Aku tak paham penjelasan Dista barusan. “Hubungannya? Long Distance Relationship..” “Distaaaa..”, ganti aku yang kesal dengannya. “Apaaa..?” “Kamu waras?”. Tanyaku balik. “Habis kena kepala kamu jadi nggak waras”, balas Dista sengit. Perdebatan kami terhenti saat ku dengar pintu ruangan Pak Dika terbuka, menampilkan sosok yang tadi katanya mencariku. Dan sekarang ia sedang berjalan menuju mejaku. Deg.. Deg.. Deg.. Ia semakin dekat. Dan jantungku sekarang rasanya ingin meledak, terlalu kencang. Jangan makan aku..jangan makan aku.. Wusshh.. Apa? Apa yang terjadi? Apa? Dia berjalan melewati mejaku tanpa berhenti sekedar menjelaskan kenapa tadi ia mencariku. Aku membuka mulut tak percaya. Kalau dia memang tidak ada keinginan untuk bicara padaku, setidaknya jangan membuat mataku sakit gara-gara menunggu monster itu keluar. Dasar. Memang dia monster. Kalau sekarang aku berada dalam dunia kartun, aku yakin di atas kepalaku sudah ada banyak sekali asap!! Dasar menyebalkan! *** “Aku pulang..!!”. ucapku setelah melepas sepatu dan masuk ke dalam rumah. Tumben tidak ada jawaban, semua orang menghilang kemana? Kumasuki ruang keluarga, dapur, kamar mandi sampai ke jemuran? Ya siapa tau kan pada piknik di sana? Di bawah kibaran pakaian warna-warni. Hehe Ya sudahlah, mungkin mereka memang sedang keluar. Aku menaiki tangga dan sampai di depan pintu kamarku. Rasanya menyenangkan bisa langsung istirahat setelah ini. “Aaaaa!!”, begitu membuka pintu ada beberapa sosok hitam di dalam kamar. Bugghh... Apa ini? Bantal? “Kakak bisa diem nggak? Telingaku sakit!”, seorang anak laki-laki turun dari kasur empuk milikku, tentu saja itu adikku. “Kamu ngapain disini?”, tanyaku. Dia hanya menunjuk dua orang yang sedang duduk di kasur membelakangiku. Dari badanny, gaya rambutnya dan pakaiannya...itu.. “Ayah? Ibu? Kenapa di kamar Fenny?”. Aku berjalan mendekati mereka. “Sttt..jangan berisik. Lagi konsentrasi”, sebuah suara yang kuyakini milik ibuku. “Konsentrasi kenapa sih?” “Aduh..Fenny..diem!” Aku hanya mempoutkan bibirku. Kalau ibu sudah bicara seperti itu, berarti memang sesuatu hal yang penting. Dan biasanya, ibu tetap tidak akan mengatakannya padaku apa yang sedang ibu lakukan. Aku tidak tau apa yang membuat mereka begitu konsentrasi. Yang aku tau mereka membuka semua album foto milikku. Dan ya ampun! Itu kan album foto waktu aku kecil!! Daripada memikirkan mereka yang sibuk sendiri dengan album-albumku, kurasa lebih baik aku mandi. Sepertinya akan terasa lebih segar. Tanpa mempedulikan mereka aku masuk ke kamar mandi. Aku hanya mandi lima belas menit, tapi mereka sudah tidak ada begitu aku keluar. Sepertinya mereka sudah cukup lama berada di kamarku tadi. Dan bagus! Semua album sudah kembali ke tempatnya semula, senang rasanya kamarku menjadi milikku lagi. “Haaa...nyaman...”, aku merebahkan diri di sofa. Rasanya begitu nyaman, seakan semua lelah menguap begitu saja. Kelopak mataku menurun perlahan dan alam bawah sadarku mengajakku untuk bermimpi. Duk duk duk duk...!! Duk duk duk duk...!! Arghh!! Siapa yg menggedor pintuku seperti itu?? Brutal sekali! “Siapa?” Duk duk duk duk...!! Kepalaku jadi tambah pusing. Daripada menambah penderitaanku lebih baik kubuka saja pintunya. “Ap...aauu!! HEY!!” Adikku satu-satunya ini selalu bersemangat jika harus menggangguku dan kali ini ia memukul wajahku!!! “Hahaha...maaf. Salah sendiri pintunya dibuka tiba-tiba”. Ucapnya ketika ia melihat tanduk sudah muncul di atas kepalaku. Ok. Baik. Itu berlebihan. Intinya..Aku MARAH! “Ada apa?!”. Tanyaku masih dengan wajah kesal. “Dipanggil ibu, suruh turun. Makan” “Iya. Nanti aku turun” Aku langsung masuk ke kamar begitu menyelesaikan kalimatku. Mengganti pakaian dalam sekejap dan turun ke ruang makan. Awalnya ini terlihat biasa saja, sampai aku menyadari ada yang aneh dari ekspresi mereka. Selesai makan, aku mencoba berbicara dengan mereka. “Ayah, ibu, ada apa?” “Begini sayang, malam ini kita akan kedatangan tamu. Kamu dandan yang cantik ya” Aku mengernyitkan dahiku. “Siapa?” “Teman lama ayah, sudah lama tidak bertemu. Makanya nanti harus lengkap ya. Soalnya dia juga akan membawa keluarganya”. Aku mengangguk mengerti. *** “Ah..Fenny sayang, kamu cantik sekali”, ucap ibu saat memasuki kamarku. “Terimakasih bu. Aku ingin tampil cantik di depan teman ayah. Biar nggak malu-maluin”. Aku tersenyum saat ibu mendatangiku. “Ya udah. Ayo turun” Ibu mengajakku langsung ke ruang keluarga. Sudah ada dua orang disana. Bisa kutebak mereka adalah pasangan suami istri. “Oh..ini ya si Fenny. Udah besar ya”, ucap seorang lelaki yang menjadi tamu ayah. Aku hanya tersenyum. Mendengar dari kata-katanya sepertinya beliau mengenalku sejak kecil. “Kamu juga sangat cantik”, ucap seorang wanita cantik yang duduk di sampingnya. “Terimakasih tante”. Aku tersenyum lalu duduk di samping ibuku. “Mereka sangat cocok ya. Yang satu tampan, yang satu cantik”. Baiklah, aku mulai tidak paham dengan pembicaraan ini. “Ibu, ini ponselnya tadi”. Seseorang datang dan meletakkan barang tersebut di atas meja. Dia.. bukankah dia... Kenapa ada disini??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD