Strange

1750 Words
Author POV Hari sudah berganti, liburan sudah berakhir. Hari ini saatnya mereka kembali ke Jakarta. “Fenny, kayanya liburan kali ini kamu banget deh ya?”, ucap Dista sambil mengepak barangnya di kamar. Fenny yang baru keluar dari kamar mandi memandangnya tak suka. “Hey..hey..wajah kamu ditekuk gitu karena nggak ingin semua ini berakhir ya?”, goda Dista. Fenny duduk di depan meja rias dan memandang wajahnya di cermin dengan lesu. Tidak. Bukan karena liburan ini berakhir. Tapi ada satu hal yang mengganggu fikirannya. Kata-kata Pak Rey kemarin. Apa yang harus dia ingat? “Woy! Diajak ngomong malah asyik bengong! Enak kali ya ngacangin orang!”, teriak Dista disamping telinga Fenny. Fenny yang kaget memandang geram pada Dista dari cermin. “ENAK BANGET. KAYA DISANGRAI!” “Udah ah, ngomongin kacang bikin laper tau”, Dista kembali ke kasur sambil mengelus perutnya. “Gih makan sana. Daun banyak di halaman. Aduh!”, Dista melempar bantal tepat mengenai kepala Fenny. “Sekalian aja makan tuh bantal!” “Ogah ah, bekas iler kamu..hiiyy”, Fenny membuang bantal itu jijik. “FENNYYY!!” Ckreekk “Aduuh, apaan sih pagi-pagi udah berisik!”, ucap Rita anak bag. Keuangan di perusahaan mereka. “Dia nih!!”, ucap Fenny dan Dista bersamaan, menunjuk satu sama lain. “Kaya anak kecil aja! Ayo pulang, bisnya udah dateng tuh”, Rita keluar dan menutup pintu. Sedangkan Fenny dan Dista buru-buru menyelesaikan pekerjaan mereka. *** Sesampainya mereka di halaman, semua orang sudah berkumpul dan mulai memasuki bis. Fenny tampak mencari-cari seseorang, “Dia mana ya, kok nggak ada?”. “Siapa Fen?”, tanya Dista yang ikut mencari seseorang walaupun tidak tau siapa yang dicari. “Bukan siapa-siapa kok”, Fenny tampak salah tingkah. “Alaaahh! Itu kan si Mr. Frozen”, Dista tertawa melihat sahabatnya itu. “Siapa Mr. Frozen?” “Aduh Fenny..Pak Reyy…” “Kenapa jadi Mr. Frozen?”, tanya Fenny heran. “Tau dah Fen. Cari tau sendiri. Ayo masuk”, Dista menarik tangan Fenny agar mau masuk ke dalam bis. *** Sehari setelahnya.. Seseorang menghampiri meja Fenny, membawa segelas kopi. “Kalau capek istirahat, jangan terlalu maksain diri..”. Fenny menatap seseorang yang berdiri di depan mejanya. “I..iya pak” “Ini buat kamu. Biar agak fresh”, orang itu tersenyum dan meletakkan kopi tadi di meja Fenny. “Oh. Terimakasih pak”, kemudian orang itu pergi dan masuk ke ruangannya. Dista menggerakkan kursinya mendekati Fenny. “Eh bocah! Sejak kapan Pak Dika jadi perhatian gini sama kamu?” “Barusan deh” “Masa?”, Dista memandang Fenny curiga. Fenny memandang Dista dengan malas. “Kamu itu nanya apa nanya?” “Ngasih pilihan itu yang beda kenapa?” “Tau dah”, Fenny kembali sibuk dengan pekerjaannya. Merasa dicuekin akhirnya Dista kembali ke mejanya. Saat Fenny berniat memindahkan letak gelas kopi tadi, ia merasa menyentuh sesuatu. Ia memutar gelas itu dan disana terlihat sebuah note tertempel di gelas. Makan siang denganku. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. ‘Dk’ Fenny mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap bosnya kali ini. Mungkin nanti ia bisa menanyakannya. Kemudian ia mengambil kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Bukan ia tidak menghargai Pak Dika, tapi ia merasa tak enak pada karyawan lain. Dika POV Hari ini dia tetap semangat seperti biasa. Melihat wajahnya yang selalu seperti itu kadang aku heran, apa dia tidak pernah merasa lelah? Ah..lihatlah saat dia tertawa. Begitu manis. Liburan kemarin benar-benar saat yang menyenangkan. Aku bisa melihatnya diantara banyak orang. Dan dia selalu menjadi sorotan. Oiya, dia kan kemarin ulang tahun, aku belum memberikan kado untuknya. Kulihat arlojiku dan mungkin masih sempat. Aku segera melangkah keluar dari ruanganku. “Tiara, nanti jika ada yang mencariku katakana aku sedang ada urusan. Dan titipkan pesannya padamu”, pintaku pada sekretarisku. Saat melangkah, sekejap aku melihatnya yang masih sibuk dengan dokumen-dokumennya. Entahlah, aku tak bisa menghilangkan senyumku saat melihatnya. Saat ini aku sudah di mobil dan mencari sebuah toko. Aku ingat saat dia kuberi kesempatan untuk menggantikan sekretarisku yang sedang sakit untuk mendampingiku rapat. Dia melompat kegirangan. Ah. Itu tokonya. Saat ini aku sudah sampai kantor, semoga rencanaku berhasil. “Kalo capek istirahat, jangan terlalu maksain diri”, dia tampak bingung menatapku dan mungkin terkejut. “I..iya pak”, lihatlah! Apa dia gugup? “Ini buat kamu biar agak fresh”, kuletakkan gelas itu di mejanya. Dia mengucapkan terimakasih padaku. Dan aku kembali ke ruanganku, kuharap ia membaca pesanku. *** Fenny POV Saat ini aku ada di mobil Pak Dika. Entahlah, aku merasa ada yang aneh dengannya hari ini. Sikapnya, perhatiannya. Kuharap ia tak memiliki perasaan apapun padaku, kuharap. “Pak..kalo lagi nyetir liat ke depan” “Eh!! I..iya..” Dari tadi aku merasa aneh, dan sekarang tambah aneh lagi. Walaupun aku hanya melihatnya dari sudut mataku, aku tau dia memandangiku. Bukannya aku GR loh ya. Ini fakta! “Pak Dika mau ngajak aku kemana sih?”, aku menghadap dia yang saat ini sedang menyetir. Dia tampan, kacamatanya itu justru memberi kesan bahwa ia pintar. Rahangnya. Hidungnya. Ah! Hentikan! Kenapa aku jadi memperhatikan Pak Dika sih? “Fenny..kamu kenapa?”, tanyanya yang melihatku kesal sendiri tadi. “Ah..nggak kenapa-kenapa kok”, aku langsung memalingkan muka menghadap ke depan. “Aku mau ngajak kamu makan di kafe kesukaan aku” “Em..” Sepuluh menit kemudian kami sampai di kafe yang dimaksud Pak Dika tadi. Dari luar, kafenya terlihat menyenangkan. Terasa seperti di rumah. Apalagi di dalam, hangat. Begitu masuk Pak Dika langsung menuju meja yang berada di ujung. Sepertinya ini adalah tempat favoritnya jika berkunjung ke sini. Dari tempat yang ada di luar bangunan. Tamannya yang indah dan air mancur di tengah kolam semakin memperindah suasananya. Seorang pelayan datang kearah kami. “Kamu mau pesen apa?”, tanya Pak Dika. “Em? Aku…”. “Nasi goring spesial 2 sama es lemon 2”. Aku belum memesan dan Pak Dika sudah menyerobot kata-kataku! Kenapa tadi tanya!! Aku langsung mempoutkan bibirku. Kesal? Tentu saja! Setelah pelayan itu pergi, Pak Dika menatapku. “Kamu kenapa?” “Pak Dika nggak ngerasa bersalah gitu?” “Oh! Tadi ya? Maaf kalo kamu nggak suka, aku panggilin ya biar kamu pesen” Aku pun menarik jas Pak Dika yang sudah beranjak dari kursinya. “Nggak usah Pak”. “Beneran?” “Iyaa” “Serius?” “Iya” “Yakin?” “Pak Dika! Aku balik nih”, aku mengancam Pak Dika yang sepertinya sangat senang mengerjaiku. Dia tertawa melihat ekspresiku tadi. Ya ampun, lesung pipinya!! Melihatku terdiam, Pak Dika menghentikan tawanya. “Kamu kenapa Fen?” “Manis…eh!”, ucapku tanpa sadar. Mampus! Bisa kulihat wajah Pak Dika terlihat memerah. Efek punya kulit putih ya? Canggung, sama-sama salting. ‘Kenapa malah jadi gini sihhh??’ Beruntung kecanggungan itu tak bertahan lama karena pesanan kami sudah dating. Selama makan tak ada satupun diantara kami yang berbicara. Setelah selesai makan, Pak Dika memandangiku seperti tadi. Aku yang merasa risih akhirnya mengakhiri tatapannya di wajahku tadi. “Ehm! Pak Dika tadi bilangnya ada yang mau di bicarakan kan?” “Oh..iya..itu..begini..”, kenapa ngomongnya jadi ribet begini sih? “Ada seseorang yang aku suka..”. Oh, curhat toh “Dia manis dan selalu terlihat semangat. Itu yang membuatku jadi memperhatikannya”, Pak Dika bercerita sambil menatap gelasnya dan mengaduk-aduk dengan sedotan. “Pak…yang diajak ngomong saya atau minumannya pak?” Dia pun menatapku lagi dan tersenyum. “Maaf, aku terlalu malu”. “Nggak usah malu kali pak. Oiya, bapak mau nembak dia gitu ceritanya?” “Em..aku belum punya keberanian untuk itu” “Terus kapan dia taunya pak?” “Nanti saja. Sekarang bukan waktu yang tepat” “Hati-hati lho pak. Keburu disamber orang nantinya” “Eh, kamu jangan gitu dong” “Aku cuma ngingetin kok pak. Oiya..hehe, perasaan daritadi saya ngomongnya nggak formal ke bapak”, ucapku sambil menunduk. Malu. “Hahaha..nggak apa-apa kok. Saya malah seneng kamu gitu. Tapi di luar kantor ya” “Hehe.iya pak. Ngomong-ngomong kenapa bapak curhat ke saya?” “Nggak kenapa-kenapa, cuma saya lihat kamu orangnya humble. Jadi enak saya ngomongnya. Eh! Tapi kamu bisa jaga rahasia kan?” “Beres lah pak!” “Fenny. Saya punya sesuatu untuk kamu”. Pak Dika mengambil sesuatu dari dalam jasnya. “Ini. Hadiah ulang tahun buat kamu”. Pak Dika memberikanku sebuah kotak kecil berwarna putih dan berpita pink. Cantik. “Terimakasih pak”. Aku mengambil kotak itu dari Pak Dika. “Tapi sebenernya saya nggak ulang tahun lho pak. Kemarin saya cuma dikerjain temen”, aku jadi merasa bersalah. Kasihan Pak Dika tertipu juga. “Dikerjain?? Serius??”, setelah menampilkan ekspresi terkejut Pak Dika malah tertawa. “Hahaha..kalau begitu saya tertipu” Merasa bersalah karena kadonya, kuputuskan untuk ku kembalikan saja. “Pak, ini kadonya saya kembalikan”. “Ha? Nggak usah. Saya nggak keberatan kok. Barang itu memang saya beli untuk kamu. Jadi mau kamu ulang tahun atau nggak, itu nggak masalah”. “Terimakasih Pak”. Kumasukkan kado kecil tadi ke dalam tasku. Setelah perbincangan tadi, kami pun kembali ke kantor. Begitu aku kembali ke mejaku, Dista langsung menyeret kursiku. “Ehh!!” “Kamu tadi kemana?” “Makan diluar..” “Sama Pak Dika?” “Iya”. Dista adalah sahabatku, jadi aku bisa merasa santai untuk bicara apapun padanya. “Ck. Dasar. Kamu tadi dicariin!” Aku mengerutkan keningku. “Sama siapa?” “Tuh yang lagi di ruangannya Pak Dika”, spontan aku melihat ke ruangannya Pak Dika. “Nggak kelihatan, Dista”. “Ya iyalah!!”, jawab Dista sambil menjitak kepalaku. “Kamu tuh habis makan apa sih kok jadi gini?” “Terus itu siapa?”, tanyaku sambil mengelus kepalaku. “Mr. Frozen” “Elsa?”, tanyaku. Dista mengerutkan keningnya. “Siapa Elsa?” “Kakaknya Anna. Itu lho.. let it go... let it go..” “Ini malah kartun” “Loh..bukannya kartun itu jenis kertas ya Dis?” “Itu mah karton!! Udah deh balik lagi ke topik. Pusing dengerin kamu. Mr. Frozen.. Pak Rey!” “Pak Rey?” Pak Rey? Kenapa orang itu mencariku? Apa dia mau buat masalah lagi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD