‘Ayo bermain denganku..’
Kata-kata aneh lagi. Teka-teki atau dia memang ingin menjadikan aku sasaran berikutnya? Menjadi mangsanya?
Ia memundurkan wajahnya dan tersenyum begitu manis padaku. ‘Apa-apaan senyumnya itu?? Mengerikan..’. Lalu ia pun langsung pergi begitu saja meninggalkanku dengan banyak pertanyaan. Belum lagi, para wanita disekitarkku ini yang menahan jerit histerisnya dan bersiap untuk menghujaniku dengan pertanyaan lagi.
***
Dan tentu saja, pertanyaan mereka ku jawab asal saja.
Flashback
“Dia ngomong apa?”, tanya mereka begitu antusias.
“Mendingan kalian jangan berharap banyak deh, dia cuma ngomong terimakasih aja kok”, jelasku.
“Wah, ngomong terimakasih aja bikin deg-degan gitu..”
“Tapi Fenny, bukannya kamu bilang kemarina dia bilang ‘masalah’?”
Oiya! Aku memutar otak, “Kemarin aku menemukan map kerjanya yang tertinggal di kursi luar, makanya dia bilang bakal kena masalah kalau nggak ada itu..gitu..aku baru ingat tadi”, jelasku panjang lebar dan mereka hanya ber ‘oh’ ria.
‘Apa rencana orang aneh itu?’
Flashback off
***
Malam ini kami mengadakan acara api unggun. Lelah juga rasanya seharian berusaha menghindari si bos nggak jelas itu. Rasanya itu orang pantes buat diperiksa. Bukan kesehatannya lho ya, tapi kewarasannya!
Tapi heran deh sikapnya kok beda ya? Kerjaannya diemmmm...jawabnya sepatah dua patah kata doang. Mana wajahnya kaya nggak punya stok ekspresi, itu-itu terus..datar. bukan berarti aku merhatin dia lho ya, cuma dari dengerin obrolannya para karyawan.
“Ayo semuanya berkumpul di dekat api unggun!”, seru Pak Dika yang malam ini pun tetap terlihat maskulin. Entah kenapa rasanya Pak Dika cocok deh pakai baju apa aja.
Semua karyawan segera berkumpul didekat api unggun yang besar itu. Seperti dulu saat masih sekolah, api unggun selalu menjadi hal yang paling menyenangkan saat berkemah. Yahh.. walaupun saat ini aku tidak sedang berkemah.
Tiba-tiba pemandangan ini harus dirusak saat tanpa sengaja aku melihat Si Tuan Super Menyebalkan Paling Nggak Jelas. Upss..kepanjangan ya? Tapi dia memang seperti itu kok. Dia berdiri tidak jauh dari Pak Dika, dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya. Pandangannya sangat dingin, dan tanpa senyum sedikitpun.
Pandangannya beralih menatapku. ‘Ya Tuhan, dari sekian banyak orang kenapa dia berhasil nemuin aku sih?’. Perlahan sudut bibirnya terangkat, kupikir dia akan tersenyum tapi aku salah..dia menyeringai padaku? Aku jadi ingat perkataannya sebelum ini. Apa rencananya?
***
“Baiklah, kali ini kita akan melakukan sebuah permainan. Satu orang dari para wanita dan satu orang dari para pria akan maju ke depan dan melakukan tantangan yang diberikan. Siap???”, suara Pak Dika yang kencang membuat kami semua terlihat begitu tegang.
Jantungku berdetak begitu cepat. Sudah dari tadi tanganku menggenggam tangan Dista. Kami sama-sama berharap bukan nama kami yang disebut. “Jangan namaku...jangan namaku..jangan namaku..”, kalimat yang kini aku baca terus menerus seperti doa. Justru membuat Dista mengencangkan genggaman tangannya.
“Baiklah..nama kalian sudah dimasukkan dalam tabung yang saya bawa ini. Barangsiapa yang nanti namanya disebut..silahkan maju”, ucap Pak Dika sambil mengocok tabung yang ia pegang. Dan satu kertas sudah keluar.
“Tabung berwarna pink yang saya pegang ini adalah tabung yang berisi nama-nama yang perempuan, jadi siap-siap untuk yang akan saya panggil”, Pak Dika perlahan membuka kertas kecil yang tergulung di tangannya. Sekilas aku bisa melihat ia tersenyum. Walaupun tipis.
“Dan yang beruntung diantara kalian adalah..,Fe...”
Astaga! Jantungku...! kumohon jangan aku....
“Fe...Fennyy...!!”
Aaaargghh sial!! Aku memejamkan mataku erat. Dan aku merasa Dista memelukku erat dan justru memberiku...selamat??!! hey!
Dista melepas pelukannya dan tersenyum begitu manis. Ia menepuk pundakku pelan. “Selamat ya..dan terimakasih..untung bukan aku...hehe. Auuu!!”. Aku langsung menjitak kepalanya begitu mendengar kata-katanya.
“Dasar!”, ucapku padanya tapi ia justru tersenyum lagi dan membuat sign V dengan tangannya. Aku mengedarkan pandanganku lagi dan mendapati orang menyebalkan itu sedang menatapku. Dia tersenyum, walau bisa ku bilang itu senyum yang mengerikan, seperti aku adalah mangsanya. Aku menelan ludah dengan kasar. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan mengangkat jari telunjuk. Apa maksudnya?
“Ayo yang tadi sudah disebutin namanya langsung maju”, suara Pak Dika mengalihkan perhatianku dari “orang itu”.
Aku pun maju perlahan ke depan, lebih dekat dengan api unggun. Lumayan, rasanya jauh lebih hangat. “Kalian yang ada di depan dengarkan baik-baik. Yang jadi lainnya juga. Karena yang ada di depan ini akan menyampaikan pesan pada kalian melalui gerakan”
Gerakan? Kumohon jangan yang aneh-aneh.