Bagian 1
"Fiuh, ah ... akhirnya selesai juga." Laras mendesah lega sambil menatap kagum pada desain rancangan gaun yang dibuat olehnya.
Hal itu berarti selesai sudah acara lemburnya yang beberapa hari ini dilakukan olehnya dan berarti dia akan mempunyai waktu istirahat yang cukup untuk menyenangkan diri.
Tak ayal Laras buru-buru memperlihatkan hasil rancangannya kepada atasannya dan ternyata ia mendapat apresiasi yang memuaskan.
"Kamu memang tidak pernah mengecewakan aku Laras!" Seru Diana tersenyum ramah. Wanita itu adalah atasannya sekaligus pemilik butik.
Siapa yang tidak mengenal Diana Zeroun, wanita kaya raya dengan bangunan toko pakaian dan butik yang ada hampir ada di seluruh penjuru kota. Bukan cuma hal itu, Diana juga mempunyai suami kaya dan putra dan putri yang sukses melebihi dirinya.
Membayangkan menjadi bagian keluarga Diana, rasanya membuat Laras minder dan mundur teratur. Ah, hal itu memang menggiurkan, namun menjadi bagian keluarga Zeroun bukanlah sebuah pilihan, mengingat Laras hanyalah seorang perancang busana yang tiada artinya dan tak pantas bersanding dengan salah satu putra Diana.
"Hm, Laras bisakah kamu mendesain gaun pengantin untuk putriku. Aku harap kamu mau melakukannya, ayolah desain mu pasti akan membuat putriku menjadi pengantin paling cantik yang pernah ada."
Perkataan itu walau terdengar seperti permintaan, tapi memangnya Laras bisa menolak atasannya?
Buyar sudah angan-angan mengenai waktu untuk memanjakan diri berganti hari sibuk ditambah malam-malam begadang demi menyelesaikan rancangan pekerjaan. Baiklah Laras akan melakukannya.
"Auchhh, ssstt ...." Laras meringis sakit mana kala saat berjalan keluar ruangan Diana, seseorang menyenggol bahunya dengan kasar.
"Kamu!"
"Bapak!!"
Laras dan laki-laki yang menyenggol bahunya berucap secara bersamaan. Keduanya saling mengamati setelah merasa sangat mengenal.
"Ternyata kamu gadis bodoh," cibir laki-laki dihadapannya memulai.
Sialan sudah sekian tahun tak bertemu laki-laki dihadapannya masih saja ingat untuk mengatainya gadis bodoh.
Laras mengeram kesal. "Memang kalau aku bodoh, kenapa? Masalah buat Bapak, hah?? Yang penting aku cantik, termasuk golongan gadis paling cantik yang pernah ada dan Bapak pun mengakuinya empat tahun lalu. Tolong jangan lupakan hal itu Pak Gavin Ivander yang terhormat!" Laras tersenyum puas setelah membalas dan mengatakannya, dia yakin laki-laki didepannya ini sudah kehabisan kata.
"Sialan. Kamu pikir cantik saja cukup? Ch, asal kamu tahu saja, cantik juga percuma. Tetap saja tidak akan ada lelaki mana pun di dunia ini yang mau dengan perempuan bodoh seperti kamu!!" balas Gavin mencibir dengan tajamnya.
Laras terhenyak memikirkan perkataan laki-laki tersebut. Benarkah tidak akan ada satupun laki-laki yang mau dengannya dengan perempuan bodoh seperti dirinya?
Laras belum menjawab, tapi laki-laki itu pergi terlebih, setelah sebelumnya menatap Laras sambil merendahkannya.
Laras terus kepikiran ucapan tersebut sampai acara makan siangnya tidak mengenakkan sama sekali.
"Kamu ini kenapa, sih? Makanannya diaduk terus bukannya dimakan ...." Mira yang merupakan sahabatnya berkomentar.
"Aku ketemu Gavin sialan itu, Mir. Kali ini aku berani melawannya, huh," desah Laras tak bersemangat.
"Terus bagian mana yang membuat kamu tidak mood sampai segininya?!"
Laras menghentikan kegiatan mengaduk-aduk makanannya dan menatap Mira dengan tatapan terluka.
"Dia bilang gak akan ada laki-laki yang mau dengan perempuan bodoh seperti aku ini. Apakah itu benar Mir?" tanya Laras dengan polos.
Ah, ya. Laras memang demikian, mudah terbawa perasaan oleh perkataan orang disekitarnya mengenai dirinya. Laras mudah minder dan kadang-kadang terlalu polos untuk memahami kalimat seseorang.
"Kamu ini, kayak nggak kenal si baji-ngan Gavin itu saja. Ch, berkata sudah seperti ada wanita yang mau menikah dengan laki-laki sinis dan sombong sepertinya saja. Udahlah Gavin baji-ngan itu emang gak ngotak kalau bicara, jadi loh nggak usah pikirkan."
"Tapi Mir ...."
"Jangan terlalu polos, Laras. Begitu saja kamu sudah stress, ch!!! Lagian kamu cantik dan minggu lalu ada cowok yang godain kamu kok, itu artinya kamu ada yang mau. Persetan dengan kepintaran, sekarang aku yang bertanya kepada kamu, Gavin udah nikah?"
Laras mengerut heran tak mengerti. "Mana aku tahu."
"Belum!" Seru Mira memberitahu. "Kau tau artinya. Dia yang pintar begitu belum laku, karena gak satupun perempuan yang tahan dengan mulut berbisanya."
*****
Laras tidak konsen melakukan pekerjaannya, terus merutuk dan tidak menemukan ide apapun untuk rancangan gaun pengantin yang akan dibuatnya.
"Aaarrggh, sial. Kenapa aku mudah sekali kepikiran akan perkataannya. Ini sudah sekian lama dan lagi pula aku memang gadis cantik dan tidak mungkin tidak ada satupun laki-laki yang mau menikah denganku!!" Kesalnya jengah memikirkan kata-kata Gavin.
Sebenarnya Laras bisa saja mengabaikan hal itu, tapi masalahnya dari sejak lahir sampai saat ini Laras masih saja menjomblo. Memang beberapa kali ada laki-laki yang mendekatinya, namun beberapa laki-laki tersebut sayangnya golongan b******k semuanya alias hanya ingin mempermainkan Laras saja. Jadi mana mungkin Laras mau menjalin hubungan dengan laki-laki demikian. Bodoh saja jika dia mau menjadi mainan saja, mending jomblo.
Tapi memang begitulah kebenarannya, cantik saja nyatanya tidak membuatnya menjadi incaran para kaum adam dan bagian buruknya perkataan Gavin menjadi kenyataan, tidak ada satupun laki-laki baik-baik yang mau jadi pasangannya.
Di umurnya yang telah dua puluh tiga tahun mungkin tidak punya pasangan atau belum menikah bukanlah masalah, tapi bagaimana nanti ketika ia sudah menginjak usia matang, usia siap menikah siapa yang akan menjadi pasangannya, laki-laki mana yang mau menikah dengan gadis bodo-tidak bukan bodoh, tapi Laras hanya sedikit lemot, laki-laki mana yang mau menikahinya?
Laras hanya seorang gadis yang terlalu gampang untuk, diperdaya, ditipu, ya hanya itu sisanya Laras baik, normal bahkan prestasi sekolah dan kuliahnya di atas rata-rata dan sekarang karirnya pun cukup bagus. Lalu bagaimana bisa Gavin tiap kali bertemu dengannya selalu saja mengatai dirinya gadis bodoh ditambah perkataan laki-laki itu sudah seperti kebenarannya saja.
"Aaarrggh, Gavin monster sialan!!" Laras membuang beberapa barang di atas mejanya guna melampiaskan amarahnya.
Beruntungnya Laras sedang berada di apartemen miliknya jadi dia tidak perlu menghawatirkan ada orang yang melihat kegilaannya.
Lama-lama ia menjadi gila gara-gara perkataan Gavin. Empat tahun tidak bertemu dengan Gavin hidup Laras sangat bahagia dan tentram, tapi setelah kemarin mereka bertemu kembali, Laras sudah merasakan badai besar akan mengacaukan hidupnya.
"Sial-sial, nasib gue selalu saja sial tiap ketemu dia ditambah kenapa lagi pikiran ini selalu saja memikirkan kata-katanya. Oh, Gavin berengs-ek apa yang kamu lakukan padaku, kenapa kata-katamu selalu saja mempengaruhiku padahal kau bukan orang penting. Kalau setan sih iya, huhh ...." Laras menghela nafasnya panjang.
"Baiklah, jika gadis yang kau anggap bodoh ini tidak ada satupun laki-laki yang mau menjadi pasangannya. Maka aku pastikan, kamu Gavin sialan yang aku nikahi!!" Tukas Laras bersungguh-sungguh.
Semoga saja tak ada malaikat yang mendengar dan mengaminkan kalimatnya atau jika tidak artinya Laras berada dalam masalah yang lebih berat lagi.