Bagian 9

1211 Words
Gavin menyeringai dan tersenyum aneh setelah membalaskan pesan singkat dari Laras istrinya. "Ada apa?" tanya Ando, pria dengan tubuh tinggi tegap tak beda jauh dari Gavin. Bedanya pria itu tampak lebih dewasa dan karismatik ketimbang Gavin. Kalau masalah ketampanan, Gavin keluar sebagai pemenang beda tipis. Pria itu adalah rekan bisnis yang kerap kali berurusan dengannya, sebelum kemudian mereka menjadi teman sampai sekarang. "Istriku, dia sudah membaca isi perjanjian pernikahan yang kami sepakati, tidak ada perceraian atau jika berani pihak yang ingin cerai harus membayarkan denda sejumlah yang aku yakini jika Laras tidak akan mampu menyanggupinya," jelas Gavin santai. Ando mengangguk paham, kemudian membuang nafas kasar teringat akan sesuatu. "Bagaimana dengan Raya? Bukankah saat itu kau menyukainya dan aku dengar kabarnya saat ini jika tidak salah bukannya dia sudah dalam proses perceraian dengan suaminya?" Gavin seketika terdiam kaku sebelum kemudian membuang nafasnya dengan kasar. "Itulah alasannya aku tidak akan pernah menceraikan Laras. Aku tidak ingin terayu mengikuti hatiku untuk kembali padanya. Sesuatu yang pergi tanpa menoleh kebelakang bukannya itu tak patut diperjuangkan? Raya sendirilah yang memilih meninggalkanku, tetapi sayangnya Aku tidak akan pernah menjadi bodoh lagi hanya karena sebuah perasaan dan aku tidak akan pernah kembali kepadanya!" tegas Gavin dengan serius. Ando kembali mengangguk paham dan mendukung keputusan Gavin. "Aku harap kau memegang kata-kata ini. Jangan pernah menolehkan kepalamu kebelakang, apapun yang yang terjadi." "Ya, tentu saja." ***** Laras terdiam duduk di sofa yang menghadap pintu. Gadis itu menatap sinis dengan tajamnya begitu Gavin dari luar masuk lewat pintu yang diawasinya. "Kamu kenapa?" tanya Gavin menghampiri Laras dan langsung duduk disampingnya. Pria itu bersandar pada sandaran sofa kemudian mengalihkan pandangannya untuk mengamati Laras. "Kamu marah karena surat perjanjian nikah itu?" Laras menggeleng cepat enggan menjawab dengan suara dan masih terlihat mengerucut menahan amarah. "Jika bukan hal itu, kamu marahnya kenapa?" tanya Gavin datar. Laras mendengus sambil membulatkan kedua bola matanya menatap tajam Gavin. "Karena isinya!" Laras berteriak keras melampiaskan amarahnya. "Bagaimana bisa berubah begitu?" Gavin menyeringai. "Tidak ada yang berubah, isinya sama. Kamu saja yang tidak membacanya," jelasnya sambil mengangkat bahunya acuh. "Tapi Bapak yan--" "Mas!" potong Gavin menekan perkataannya. "Kita sudah sepakat kemarin, jika kamu akan merubah panggilan mu, Laras," sambung Gavin protes. "Bodoamat!" Pletakk! "Argghhh, sakit Bapak!" Pletakk! "Sakit--" Laras tak melanjutkan kalimatnya, berhenti akibat dipelototi tajam oleh Gavin. "Jangan membantah dan berhenti mendebat ku, Laras. Aku ini suamimu kamu terima ataupun tidak!" "Aku tau nggak usah diberi tahu!" Gavin mendengus kasar, lantas akibat tidak tahan dengan emosi yang menggerogoti dirinya, pria itupun tanpa diduga menarik kepala istrinya dan menjepitnya diantara lengannya. "Bandel bangat kamu, ya...." Gavin mengeram kesal seraya menarik bingung Laras gemas. "Aaaaa ... lepas, Pak. Bapak belum mandi, masih bau asem, asap dan nggak enak banget ... iiihhh ... lepas," rengek Laras sambil memberontak sembari menggeleng-gelengkan kepadanya ke kiri dan ke kanan. Gavin tidak mengiyakan hal itu dan malah makin menjepit kepala Laras diantara lengannya. "Hm, apa? Lepas? Belum waktunya Gadis Bodoh. Aku akan menerangkan sesuatu dan kamu pun harus mengerti dahulu!" Putus Gavin. "Kalau nggak lepas, Aku nangis nih, yaa ...." "Menangis saja, tidak masalah. Namun setelahnya kamu akan tahu rasanya tidur dalam kamar mandi yang dingin tanpa selimut," ancam Gavin membuat Laras memberengut. "Ok, baiklah. Aku nyerah!" putus Laras tidak punya pilihan. "Sekarang Bapak Gavin Ivander Zeroun, mohon untuk menerangkan beberapa hal yang dimaksudkan dan setelah itu tolong lepaskan Aku." Gavin tersenyum menang mendengarnya dan lantas menarik hidung Laras untuk terakhir kalinya sebelum kemudian ia menjelaskan. "Pertama kamu harus memanggil ku, 'Mas,' tidak enak sekali mendengar panggilan bapak dari bibir bawel gadis bodoh sepertimu," jelas Gavin. Laras setuju dan mengangguk dalam kepala masih dalam jepitan antara lengan dan ketiak Gavin. "Ok," jawab Laras tanpa ragu. "Kedua, jangan coba-coba sekalipun meminta cerai dari ku, sebab meski Aku juga tidak siap denganmu, Aku tidak mau menyandang status Duda. Lagipula seperti perkataanmu tempo hari yang mengatai bahwa tidak akan ada perempuan manapun yang mau denganku, mengingat bagaimana kelakuan baikku tidak mungkin cocok dengan mereka." 'Ralat, kelakuan buruk Setan Tampan. Arrrggghhh, nyebelin bangat sih, jadi laki?' jawab Laras membatin tidak berani langsung mengatakannya sebab masih ingin lepas dari jepitan lengan suaminya. "Mmm... I-iya." Laras menjawab dengan tidak ikhlas. "Ketiga jadilah istri yang baik dan berbakti kepadaku. Bersikaplah sebagaimana seorang istri kepada suaminya, menyiapkan keperluanku, pakaian, makan, minum dan kalau perlu Kamu boleh memanjakan diriku agar Kamu mendapat pahala yang berlipat ganda." Laras ingin mengumpatinya seketika, tapi karena tak tahan kepalanya dijepit antara lengan dan ketiak, akhirnya dia pun mengangguk pasrah. Seketika Gavin pun melepaskannya. "Nah kalau patuh begini, Kamu jadi keliatan Cantik dan sedikit pintar." "Hm," jawab Laras malas berdebat dengan suaminya itu. Sehingga gadis itupun hanya mengusap-usap kepalanya sendiri. Ada yang lecet, tidak? Setelah beberapa waktu dalam jepitan antara lengan dan ketiak Gavin. 'Ch, bau nih kepalaku. Dasar Setan Tampan, nyebelin! Huhh ....' Laras membatin dengan kesalnya. "Laras kenapa diam? Jawab aku ...." Laras menoleh dengan wajah ketus menyimpan kekesalan mendalam. "Sekarang apa lagi? Kamu masih mau melawan ku, Laras?!" Gavin bersiap menghukum Laras. Sehingga membuat Laras yang melihatnya antisipasi dengan segera menggeleng dan mencari alasan yang tepat agar pria itu tidak jadi marah kepadanya. "Aku lapar, Pa-eh Mas ...." "Kalau lapar, sana pergilah makan! Ngapain sih, ngomong ke padaku dahulu. Sudah-sudah pergilah makan, Aku capek ingin mandi!" Laras menggertakkan giginya geram tanpa sepengetahuan Gavin. "Apalagi yang Kamu tungguin, sana makan. Entar Kamu tambah sakit baru tahu rasa!" Setelah Gavin mengatakan kalimat terakhirnya Laras dengan cepat berlalu dari sana dan segera menuju dapur. "Kalau tiap hari begini terus, menghadapi Setan Tampan satu itu. Aku yakin, bisa-bisa suatu saat nanti Aku akan mati muda!" Laras mengomel dan langsung berjalan menghampiri lemari pendingin. Gadis itu meraih botol minuman dingin dan meneguknya sampai habis setengah. Setelahnya dia mulai memeriksa persediaan makanan yang bisa di simpan dalam lemari pendingin tersebut. "Arrrggghhh, sial. Ini lemari pendingin milik Setan Tampan itu isinya minuman kaleng dan camilan doang. Tenagaku yang baru terkuras menghadapinya, tidak akan kembali jika pun semua makanan ini Aku makan," ringis Laras menatap ngeri. Setelahnya Gadis itu menutup lemari pendingin dan beranjak setengah berlari ke ruang tengah, tetapi tak menemukan Gavin di sana. Kemudian ia pun mengecek kamar pria itu. Tanpa mengetuk, Laras segera membuka pintu kamar Gavin dengan seenaknya. "Pa-eh Mas, dalam lemari pendingin tak ada satupun yang bisa di masa-- aaarrggh apa itu?" Blam. Laras kembali keluar dan mengoceh diluar kamar Gavin. "Makanya kalau masuk kamar pria jangan asal dan sembarangan. Dasar Gadis Bodoh!" Omel Gavin dari dalam membuat Laras mendengus dari luar. Jantung Laras setelah apa yang dilihat olehnya langsung berdebar kencang tak karuan. Sial, bagaimana Gavin secepat itu membuka pakaiannya, mana kedua bola mata Laras sudah ternoda dengan tubuh atas Gavin yang tak dibalut sehelai benang pun. Terlambat keluar sedikit saja, maka mata mungkin sudah melihat sesuatu yang lain dan lebih menyeramkan. Laras menggelengkan kepala dan mengenyahkan pikiran kotornya. "Aku lapar!" Teriaknya dari luar berusaha santai sambil berusaha melupakan apa yang barusan terjadi. Tak ada sahutan dari Gavin. Mungkin pria itu sudah pergi ke kamar mandi dan sedang mandi. Laras mendengus dan beranjak dari sana. Gadis itu kembali ke dapur, memakan camilan dan meminum air dingin untuk mengganjal rasa laparnya. "Perasaan Aku ingin menghajar dan memberikan Setan Sialan itu pelajaran, sebab sudah menipuku. Namun kenapa jadinya begini, Aku berakhir di dapur dengan perut yang minta di isi, huh...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD