ardito menaiki tangga untuk menuju kekamarnya.
pria tinggi itu membuka kembali kemeja putihnya dan menggantinya dengan kaos polos dan celana pendek.
suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Dito "bisa ketuk kan!", ketusnya saat melihat siapa yang masuk.
Dian mengerutkan dahinya "kamu tadi bukanya udah keluar?,aku gak tau kamu ada didalam mas" ucapnya berjalan kearah ruang gantinya.
"alasan" ucap Dito lirih,tidak mau berada dalam ruangan yang sama dengan istrinya Dito memilih turun kembali kebawah.
sementara Dian yang mengetahui suaminya keluar dari kamar kini mulai mengganti pakaiannya dengan pakaian formal.
hari ini Dian akan mencoba mencari lokasi yang akan dijadikan tempat usahanya.
tabungannya dari bekerja secara freelance sudah lumayan.
Dian tidak pernah memakai uang pemberian Dito selama ini yang rutin Dito kirim ke kartu atm pemberian Dito sendiri.
kartu itu masih tersimpan rapih dilaci nakasnya.dia tidak memakai uang Dito bukan karna sombong atau merasa dirinya mampu,tapi perkataan suaminya yang selalu mengatakan Diandra sama sekali tidak berarti apa apa dan cukup jadi pajangan saja dirumah karna Dito membayarnya untuk itu.
kadang jika Dian mengingat awal mula mereka dijodohkan ingin rasanya Dian mengulang waktu dan membatalkan semuanya.
sikap Dito tidak pernah berubah,semua yang mertuanya ucapkan tidak terbukti sama sekali jika lambat laun Dito akan berubah menyayanginya.
*******
Dian membuka kamar anaknya untuk melihat apakah anaknya sudah bangun atau belum,jika sudah Dian berniat akan mengajaknya ikut.
tapi ternyata anaknya tidak ada dikamarnya.
suara tawa terdengar dari arah kolam renang,Dian berjalan menghampiri.
benar saja milkha dan Dito sedang bermain air disana.
"sayang,mama pergi sebentar ya milkha sama papa dulu oke" Dian menghampiri milkha dipinggir kolam,sedangkan Dito didepan milkha dengan tubuh yang berada didalam air.
Dito hanya melihat kearah istrinya tanpa mau bertanya meski jujur saja dia sangat penasaran.
"mama mau kemana?" tanya bocah itu.
"mama ada kerjaan diluar sebentar aja kok" jawab Dian sambil tersenyum.
"sendili aja?" tanya milkha lagi.
"enggak nanti mama jemput Tante Sandra dulu" ucapnya.
"yaudah,mama hati hati ya", ucap anaknya.
Dian menganggukan kepala dan mengecup pipi gembul milkha,Dian menoleh kearah suaminya yang masih melihat kearahnya,wanita cantik itu mengulurkan tangannya kearah suaminya.
Dito menaikan sebelah alisnya bingung "apa?" tanya nya datar.
Dian tersenyum "Salim" ucap Dian.
Dito mengumpat dalam hati ingin menolak tapi ada milkha didepannya jadilah dia mengulurkan tangannya dan Dian meraihnya untuk mencium punggung tangan suaminya.
jantung Dito tiba tiba berdegup ada rasa hangat didadanya.
"aku titip milkha sebentar ya mas" ucapnya lembut.
"hm" Dito hanya menjawab singkat.
Dian segera beranjak dari sana takut terlalu sore.
setelah kepergian istrinya Dito iseng bertanya pada anaknya.
"mama sering ninggalin kamu sendiri?" pertanyaan aneh macam apa itu.
milkha menggelengkan kepala "enggak,mama selalu ajak aku kalo pelgi" jawab bocah kecil itu.
"pergi kemana aja?" tanya nya lagi.
"belanja ke supelmalket,ketaman,ketemu Tante sandla sama kemalin mama ajak milkha liat toko kosong katanya mama mau jual cake pa" melikha menceritakan rencana Dian yang akan membuka usahanya.
Dito mengerutkan dahinya kenapa juga Dian harus membuka usaha toh uang yang diberikan Dito jumlahnya sangat besar tiap bulannya.
tapi kemudian dia berpikir mungkin Dian hanya ingin mencari kesibukan.
bukan urusannya itu,yang terpenting dia tetap mengurus rumah dan anaknya dengan baik.begitulah pikir Dito.
"udah yuk main airnya nanti kamu masuk angin loh" ucap Dito.
"tapi aku boleh es klim ya pa" ujar milkha.
"oke boleh tapi jangan banyak banyak ya"
"iya"
mereka keluar dari dalam kolam, Dito memandikan anaknya dan mendandaninya ala kadarnya saja.
******
"ini pas sih lokasinya,bakal rame kalo kamu buka toko roti disini,disebelah butik,depannya itu toko bunga tuh ambil aja deh" ucap Sandra yang menemani Dian melihat bangunan dua lantai itu.
"terlalu luas gak sih ini" ucap Dian.
"iya sih,lebih cocok jadi kafe ya,ahh kalo gak bikin sekalian yang besar,buat makan ditempat juga ala kafe gitu" ucap Sandra.
"kamu tau modal aku gak banyak San", ucap Dian.
"yaelah,aku invest deh kita bagi hasil,atau kamu bisa cicil senyamannya kamu aja" tawar Sandra.
"yakin nih" tanya Dian.
"kapan aku main main sih,udah deal aja tempatnya keburu diambil orang,lantai dua bisa kita jadiin ruangan kamu kaya mini studio gitu jadi milkha juga bisa istirahat sama main main diatas kan".
"iya kamu bener,diatas juga sama besarnya aku bisa bikin tempat tinggal disana kalo mas Dito udah buang aku" ucapnya.
"ih kok gitu ngomongnya,justru harusnya kamu yang buang manusia kutub itu" Sandra mendengus.
"aku mikirin milkha san" ucapnya lagi.
"hmm,susah kalo gitu,yaudah yuk kita ketemu orang yang punya kita deal besok mulai renof biar bisa langsung dipake" ajak Sandra.
kurang lebih tiga jam Dian berada diluar untuk menyelesaikan urusannya.
kini wanita cantik itu pamit kepada temannya.
"aku balik ya San,makasih loh,salam sama Gista ya" Dian memeluk Sandra.
"iya hati hati ya,salam juga sama milkha" ucapnya.
mereka berpisah Sandra menaiki mobilnya sedangkan Dian masuk kedalam taksi.
tiga puluh menit kemudian Dian sampai didepan rumahnya.
Dian buru buru masuk kedalam rumah karna hari sudah mulai gelap,Dian belum memasak untuk makan malam.
begitu pintu terbuka keadaan rumah sepi ,Dian menuju kamar anaknya dan membuka pintunya tapi milkha tidak ada disana.
Dian langsung menuju kedapur untuk mulai memasak saja.
mungkin anaknya dikamar dengan suaminya pikirnya.
saat membuka kulkas untuk melihat apa yang kira kira akan dimasak,pintu kulkas itu menutup dengan keras membuat Dian terkejut.
"kamu pikir ini rumah siapa hah!" suara Dito yang berat terdengar marah.
"mas,aku minta maaf" ucap Dian takut.
"pergi sebentar tapi ternyata Berjam jam,lupa kalo udah punya anak!!" tekannya.
baru kali ini suaminya bicara panjang padanya tapi yang keluar hanya amarah.
"maaf" ucap Dian sambil menunduk
"begini aja udah lupa sama anak gimana kamu sok mau buka usaha,jangan sampe aku tendang kamu dari rumahku tanpa bawa milkha!" Dito meninggalkan istrinya yang sudah meneteskan air mata di depan kulkas.
Dito masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan sedikit keras.
ntah kenapa hatinya kesal melihat istrinya baru kembali saat matahari sudah tenggelam.
"papa malah?" tanya milkha yang duduk ditengah kasur sambil memainkan boneka nya.
"enggak sayang" Dito menghampiri anaknya.
"loh katanya mau ambil cemilan" ucap milkha lagi.
"oh yaampun papa lupa maaf ya,kamu tadi mau apa?" tanya Dito.
"s**u coklat sama loti pisang" ucapnya.
"sebentar ya papa ambilin" saat Dito akan berdiri,Dian masuk kedalam kamarnya.
"mama" pekik milkha yang melompat menghampiri ibunya.
"astaga,nanti jatuh gimana?"Dian menggendong milkha dan mencium pipinya.
"mama balu pulang?" tanya milkha.
"iya,maaf ya milkha nyariin mama ya?" tanya Dian.
"enggak,kan ada papa" milkha menunjuk papanya.
"hm udah maem belom?" tanya nya lagi.
"udah,papa beli SOP daging,sama banyak juga yang lain" bocah itu tidak bisa mengingat nama makanan apa saja yang dipesan papa nya.
"alhamdulilah,udah mandi juga ya kenapa bajunya begini?" tanya Dian yang melihat baju milkha sangat tidak meching.
"papa yang pakein" ucapnya.
Dian hanya tersenyum melihat wajah anaknya "yuk kekamar sama sama,pamit dulu sama papa" ucap Dian yang menurunkan milkha dari gendongan.
gadis kecil itu menghampiri papanya dan memeluk kakinya "milkha kekamal sama
mama dulu ya pa" ucap milkha.
Dito melihat kebawah dan mengelus kepala anaknya "hm biar papa yang beresin bonekanya" ucap Dito tapi Dian sudah mengambil boneka dan mainan milkha dan menggandeng tangan anaknya untuk dibawa kebawah.
"mama udah maem belom?" tanya milkha yang masih bisa didengar Dito.
"udah tadi sama Tante Sandra" ucapnya.
sepeninggal anak dan istrinya dari kamarnya Dito merebahkan tubuhnya dikasur dan melihat kelangit langit dengan pandangan kosong.
sampai suara ponselnya berdering.
Dito menyunggingkan senyumnya melihat nama kekasihnya dilayar ponselnya.
"sayang" ucap Dito.
"mas,aku mau ketemu sekarang" ucap suara disebrang sana yang terdengar seperti sedang menangis.
Dito menegakan tubuhnya "kamu kenapa?" tanya nya kawatir.
"aku gak bisa jelasin ditelpon,kamu kesini sekarang pokonya" rengek wanita itu.
"oke kamu tenang dulu ya aku kesana sekarang" Dito segera berganti baju dan bergegas menemui wanita kesayangannya.