09. Sesi Tanya Jawab

1155 Words
“Ayuk cepat tunggu apa lagi waktu ini berjalan bukan diam di tempat,” ucap Bu Nia lagi. “Iya Mam ...Fajar ingat,” gerutunya. “Nak Tari, atas nama anak saya Panda eh maksudnya Fajar minta maaf kalau ada kata-kata yang membuat kamu tersinggung, soalnya maklum dari dulu dia di didik untuk disiplin,” ucap Bu Nia tersenyum. “Tari juga minta maaf Bu, seharusnya juga tidak terbawa emosi seperti ini, dan maaf juga kalau Tari sudah berani memeluk Ibu dengan erat seperti tadi,” sahut Tari malu-malu. “Iya Sayang, nggak apa-apa kok, entah kenapa Ibu sangat suka dengan kamu,” ucap Bu Nia sembari menatap lekat Tari. “Ya sudah ayuk, para penonton sudah menunggu kalian, jangan membuat orang lain kecewa loh,”ucap Bu Nia lagi sembari pergi meninggalkan mereka berdua. “Mari Mas Fajar dan Mbak Tari sudah di tunggu,” ucap Pak Syamsudin memperjelas. Akhirnya mereka mengakhiri ketegangan mereka, dan pergi menuju panggung yang sudah di sediakan panitia. “Urusan kita belum selesai ya, jangan kamu pikir sudah selesai, aku belum puas sebelum kamu yang meminta maaf kepadaku,” ucap Fajar dengan ketus. “Masa belum selesai sih, perasaan sudah Panda ku Sayang,” sahut Tari tanpa sadar mengatakan sayang. Seketika itu juga Fajar kaget, dia pun tersenyum, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Sampai di lapangan tempat acara itu, Fajar tak henti-hentinya memandang Tari dari kejauhan. Kadang Fajar tersenyum sendiri melihat Tari yang sedang sibuk berbicara dengan maminya. Netranya tak lepas darinya, seakan-akan sudah ada yang merasakan sesuatu entah itu benci atau cinta. “Bos kita itu dari tadi memandang Non Tari terus ya, sepertinya dia kena sihir,” ucap Udin. “Wah bahaya nih kalau kena sihir, apa kita cari dukun saja untuk menyembuhkan Bos kita ini?” tanya Fikri bingung. “Ngapain cari dukun, maksudnya si Bos kita satu ini kena sihir yang namanya cinta, buktinya dari tadi nggak lepas tuh pandangannya ke Non Tari,” sahut Udin sembari ikut memperhatikan Fajar dan Tari. “Kamu benar juga, jangan kan cocok nama mereka pun kebetulan hampir sama, yang gadis namanya Mentari Khairunnafiza dan yang bujang namanya Fajar Ali Wardana sama-sama berbau matahari, hahaha ...” tawa Fikri diikuti Udin. Mendengar asistennya tertawa cekikikan, tiba-tiba Fajar menatap mereka berdua dengan tatapan tajam setajam silet. Seketika itu juga kedua asisten Fajar berhenti tertawa dan kembali diam di tempatnya. Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu pun terjadi juga. Riuh tepuk tangan menggelegar saat Fajar Ali Wardana naik ke atas panggung. “Assalamualaikum, selamat pagi menjelang siang!” seru Tari lantang. “Walaikumsalam, kakak, selamat pagi,” jawab mereka serentak dan menggema. “Wah kalian fresh banget hari ini, sebelumnya kami minta maaf ada keterlambatan jadwal biasalah ada masalah kecil terapi sudah di atasi.” “Hari ini saya merasa terhormat karena kami diundang untuk membawakan acara yang sangat oke punya, mana lagi kalau bukan di sini.” “Nama kakak siapa kenalan dong,” tanya salah satu mahasiswa muda yang cukup tampan menurut Tari. Tari pun menjadi malu-malu kucing saat ada yang bertanya seperti itu. “Oh iya belum kenalan ya?” “Perkenalkan nama saya Mentari Khairunnafiza biasa dipanggil Tari,” ucapnya sembari memberikan senyuman yang termanis. “Kak Tari sudah punya pacar atau belum?” tanya salah satu mahasiswa yang lain. “Iya kak kalau belum mau nggak jadi pacarku?” sahut mahasiswa yang lain. “Huh...!” seru mahasiswa yang lain sehingga menjadi ramai dengan gelak tawa mereka. Begitu juga dengan Fajar yang terlihat tertawa membuat kedua asisten dan maminya terperanjat kaget dan melongo. “Nyonya kita nggak salah lihat, coba Din cubit tangan aku, sakit apa nggak,” ucap Fikri menyuruh Udin. “Augh sakit Din!” bentak Fikri tang merintih kesakitan. “Tadi katanya suruh cubit, lah sekarang malah marah, bagaimana sih kamu?” celetuk Udin kesal. “Iya tapi jangan kuat-kuat, sakit tahu!” “Iya maaf.” “Sudah-sudah kok malah kalian yang bertengkar?” tanya Bu Nia sedikit kesal. “Maaf Nyonya, cuma bingung saja Tuan muda bisa tertawa seperti itu, jarang-jarang kan Nya?” tanya Fikri menjelaskan. “Iya kamu benar juga sih, apakah mereka jodoh ya, soalnya dengan gadis itu dia bisa tertawa,” jawab Bu Nia sedikit matanya berkaca-kaca. “Aduh Nyonya jangan sedih dong, nanti kami berdua ikut sedih juga, seharusnya kita bahagia karena baru kali ini ada gadis yang bisa membuat Tuan muda tertawa, jangan-jangan mereka jodoh,” lanjut Fikri. “Nggak tahu juga sih mereka berjodoh, kalian kan tahu setelah selesai acara ini kita pergi ke Jakarta,” sahut Bu Nia. “Siap Nyonya!” *** “Kak di jawab dong, masa didiamkan saja sih?” “Maaf sekali pendaftaran untuk calon imamku sudah tutup, soalnya saya sudah ada yang punya,” jawab Tari tersenyum. “Wah sayang sekali, wajah kakak imut sih!” cela seorang mahasiswa yang satunya tersenyum. “Baiklah tidak panjang lebar, hari ini kita kedatangan tamu spesial, beliau adalah pengusaha yang sukses di bidangnya, di umur yang masih ya bisa terbilang muda sudah banyak mengukir prestasi, sudah banyak perusahaan yang beliau kembangkan, katanya sih juga lulusan dari kampus ini, pasti kalian sudah tahu dengan orang ini.” “Penasaran kan, baiklah kita sambut tamu istimewa kita adalah Fajar Ali Wardana, SE!” sambut Tari disertai tepuk tangan dari penonton. Semua mata memandang lekat wajah tampan nan rupawan itu, tak henti-hentinya kaum hawa yang mayoritas menghadiri temu wicara dari nara sumber super ini. Acara pun di mulai dengan semangat dan penuh energik, Fajar menjelaskan dari awal menitik karier sampai bisa sukses seperti ini. Dia pun tak pelit memberikan ilmunya kepada para mahasiswa yang hadir. Semangat yang menggebu dan loyalitas terhadap pekerjaan selalu dijunjung tinggi. “Bahkan Fajar memberikan kiat-kiat khusus supaya bisa mencapai target yang diinginkan. Tari pun terkesima dengan penuturan Fajar yang menurutnya gila dengan pekerjaan. Namun di balik kesuksesannya masih ada campur tangan dari maminya yaitu doa dari seorang Ibu yang kuat. Bu Nia tak kuasa mendengar saat Fajar mengatakan kesuksesan yang dia raih adalah semata-mata juga berkat usaha dan doa seorang ibu. Tibalah sesi tanya jawab Fajar dengan penonton yang hadir. Mereka mengelu-elukan, bahkan apa yang mereka tanya bukan tentang wirausaha melainkan jodoh. Fajar pun merasa kikuk, saat di berondong segudang pertanyaan tentang kehidupannya, ingin rasanya dia menyudahi pembicaraan itu tetapi melihat maminya antusias mendengarkannya dan tidak ingin mengecewakan maminya dia pun bersikap profesional menjawab semua pertanyaan dari mahasiswa saat di berikan kesempatan untuk bertanya. “Maaf teman-teman yang budiman, usahakan pertanyaan yang sesuai dengan yang tema acara ini ya,” ucap Tari menjelaskan. “Huh ... nggak apa-apa dong, atau kakak ini jangan-jangan pacarnya ya?” tanya mahasiswi bernama Siska cemberut. “Bukan,” jawab Tari dan Fajar serentak membuat para penonton seketika diam seketika. Hal itu membuat Tari dan Fajar tersipu malu-malu, dan langsung mengklarifikasi pertanyaan mereka. “Terus siapa dong pacar kalian? Kenapa nggak kalian berdua saja, klob banget!” tanya Siska salah satu mahasiswi itu bersemangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD