10. Nasihat Tari

1191 Words
“Aduh kepo banget nih orang, malu tahu dilihat banyak orang,” gerutu Tari menjadi salah tingkah di depan Fajar. “Apalagi saya, lagian kamu bukan level saya juga,” gerutu Fajar sembari memandang Tari dengan sorotan tajam. “Maaf teman-teman kami bukan sepasang kekasih, nanti ada yang dengar bisa-bisa saya habis acara dijegat di jalan sama pacarnya, bagaimana, siapa yang tanggung jawab?” ucap Tari sembari tersenyum. “Maaf Kak Tari, kami hanya bercanda!” ucap Siska mahasiswi semester tiga itu. “Iya santai aja kali!” jawab Tari tersenyum kembali menanggapi Siska yang merasa bersalah. “Baiklah teman-teman, kalian sudah mendengar bagaimana kiat-kiat menjadi orang sukses seperti Mas Fajar ini.” “Satu hal yang harus kalian ingat bahwa tidak ada yang tidak mungkin kita bisa lakukan, berpikirlah kenapa orang itu bisa tetapi kita tidak bisa?” Namun jangan juga memaksakan keinginan kita, yang ternyata bukan keahlian kita, kita harus tahu kekurangan dan kelebihan dari dalam diri kita.” “Kadang kelebihan kita bisa menjadi kekurangan kita begitu pula sebaliknya kekurangan kita bisa menjadi kelebihan kita.” “Yang paling utama lagi adalah Niat.” “Jika kita mempunyai niat dalam hati kalau aku harus bisa, pasti bisa maka dengan usaha pasti bisa, tetapi ingat jangan lupa berdoa.” “Sudah ada niat dalam hati, sudah ada kemampuan, tetapi tidak dibarengi doa yang tulus dan ikhlas maka menjadi sia-sia.” “Mas Fajar pasti sukses berkat doa restu dari keluarga terutama orang tua.” “Orang tua kita selalu mendoakan yang terbaik buat kita, maka sayangilah kedua orang tuamu sebelum kamu terlambat menyesalinya setelah mereka pergi,” jelas Tari membuat Fajar terkesima sesaat. Tepuk tangan dari penonton begitu antusias, mereka sangat menyukai pandangan Tari, begitu juga dengan Fajar. “Terima kasih semuanya, sudah datang dalam acara ini, dan untuk teman-teman yang belum bisa hadir, tenang saja nanti akan diadakan kegiatan seperti ini lagi dilain kesempatan, tunggu Mas Fajarnya ada waktu lagi,” ucap Tari tersenyum. Atas perhatian dari kalian semua saya ucapkan terima kasih dan kepada Mas Fajar yang sudah mau meluangkan waktunya datang kemari, semua kru yang bertugas serta panitia yang menyelenggarakan acara ini, tidak lupa untuk kampus tercinta ini yang mau membagikan ruang tempat terselenggaranya acara ini khususnya dengan Ibu Nia Ramadhani Wardana terima kasih, selamat berakhir pekan!” “Assalamualaikum Warohmatullohiwabarokatuh!” Selamat siang semuanya!” seru Tari menutup acara itu. “Walaikumsalam Warohmatullohiwabarokatuh!” jawab mereka serentak. Akhirnya acara yang selama kurang lebih satu jam itu selesai juga, dan disertai acara kampus lainnya. Banyak yang meminta foto bareng dan tanda tangan Fajar bak artis ibu kota, mereka antusias dengan penampilan Fajar yang kasual. Sebenarnya Fajar sangat risih dengan tingkah laku mahasiswi yang sangat berani, bahkan tak segan-segan mencium pipi mulus Fajar. Seketika Tari tertawa terbahak-bahak melihat Fajar yang tidak terima di cium layaknya seorang penggemar. “Ih Kak Tari ngelihat Mas Fajar begitu amat, jangan-jangan Kak Tari naksir ya?” tanya Siska mahasiswi di kampus itu. “Nih cewek dari tadi buat tensi naik melulu, apa sih maunya?” batin Tari sembari meliriknya. “Jawab dong Kak Tari jangan diam saja, kata orang kalau diam ditanya orang biasanya betul sih,” ucap Siska tersenyum. “Idih nggak deh, punya cowok kaya dia, dingin kaya kulkas, songong, belagu, sok jaim, dan ....” “Tampan kan seperti pangeran!” ucap Siska lagi meneruskan kalimat Tari tadi. “Enggak lah, aku ini sudah punya pacar yang tak kalah gantengnya dengan dia,” sahut Tari tak mau kalah membandingi ketampanan pacarnya. “Oh ya kak kenal in namaku Siska Angelita biasa anak kampus sini juga, aku senang sama kakak!” “Aku senang saat Kakak membawakan acara tadi, natural banget, seperti kakak bilang tentang kemampuan diri kita.” “Sebenarnya aku punya bakat loh kak jadi presenter, cuma keluarga nggak mendukung aku jika suatu saat bekerja seperti itu. Aku dengar Kakak sering ke luar kota ya, untuk meliput berita baik itu peristiwa diduga mau tak terduga, keren banget Kak, bisa ke luar kota sekalian jalan-jalan dong!” jelasnya lagi. “Senang sih bisa pergi dari tempat satu ke tempat lain, cuma tugas dan tanggung jawab harus juga dijalankan dengan baik,” sahut Tari tersenyum. “Tadi kamu bilang keluargamu tidak mendukung kamu, memang kenapa?” tanya Tari penasaran. “Biasa lah Kak, aku ini anak gadis satu-satunya, jadi mereka nggak aku kerja yang sering keluar kota, bahaya katanya!” sahut Siska sedikit sedih. “Dulu aku juga seperti kamu takut mengambil tindakan, tetapi seperti yang kamu lihat aku berdiri di kakiku sendiri.” “Selama kita bisa menjaga batasan kita dan tidak mengumbar sesuatu tentang kita, pasti deh kamu yakin, mampu untuk menggapai cita-citamu kelak,” ucap Tari memberikan semangat kepada Siska. “Wah terima kasih ya Kak Tari, mudah-mudahan mereka mau mengizinkan ku mengikuti jejak langkahmu!” sahur Siska bahagia. “Aamiin semoga ada kabar baik,” ucap balik Tari. “Terus pacar kak Tari orang mana, kerja di mana, siapa namanya?” tanya Siska beruntun. “Idih kamu seperti sensus penduduk saja, terus kalau kamu sudah punya pacar atau belum?” tanya Tari kepada Siska. “Kalau aku sih belum Kak, baru pedekate,” ucapnya tersipu malu-malu. “Memang seperti apa tampangnya?” tanya Tari mulai penasaran. “Jadi malu sendiri, aku tuh suka cowok yang manja, soalnya aku kan bukan tipe cewek manja sih Kak, terus dia itu romantis banget setiap mau tidur aku selalu dinyanyikan sebuah lagu lewat sambungan telepon.” “Romantis nggak itu Kak, Cuma dia belum menyatakan cinta atau suka, bahkan nembak saja nggak ada, aku kan jadi bingung!” lanjutnya kesal. “Dia itu humoris, penyayang, pengertian dan satu lagi dia sama tampannya dengan Mas Fajar itu,” ucapnya bahagia. “Tar, nggak salah nih orang kok kriteria cowok idamannya seperti kekasihmu yang begajulan itu!” cerca Dafa sedikit berbisik. “Mungkin sama kali, tetapi orangnya pasti bedalah, secara hari ini dia ada jadwal manggung juga sih di salah satu kampus, Cuma aku lupa tanya kampus yang mana ya?” tanya Tari. “Coba di telepon lagi orangnya, masa dari tadi malam sampai siang begini nggak diangkat melulu, atau jangan-jangan dia bersama wanita lain!” serunya membuat Tari marah. “Apa-apaan sih kamu, jangan buat tensiku naik ya, si Ammar juga susah banget di hubungi, ke mana sih tuh orang!” gerutu Tari kesal. “Kenapa Kak Tari kok mukanya manyun gitu?” tanya Siska. “Oh nggak apa-apa Sis, aku mau ke toilet dulu ya sudah nggak tahan nih!” ucap Tari beralasan pergi dan mencoba menelepon kekasihnya itu lagi. “Iya kak Tari silakan, aku juga mau ke depan lagi, soalnya ada yang mau manggung, nanti aku kenali deh sama orangnya!” sahut Siska bersemangat. “Memangnya siapa sih yang manggung kok kita nggak tahu bahkan nggak ada di jadwal kami?” tanya Dafa bingung. “Oh maaf nak Dafa, memang tidak ada di jadwal acara, cuma kebetulan Siska itu kenal sama anak band, siapa tahu dari kampus sini manggung terus ada yang tertarik,” jawab Pak Syamsudin. “Memang apa nama bandnya Pak?” tanya Dafa yang mulai penasaran juga. “Kalau nggak salah namanya ...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD