Kalau nggak salah nama Band nya Metamorfis!” jawab Pak Syamsudin.
Ma-maksud Bapak Metamorfis Band, grupnya cuma empat orang, vokalisnya bernama Faeyza Ammar mereka dari Jakarta!” tanya balik Dafa terkejut.
“Iya mereka dari Jakarta, katanya sih sekalian jalan-jalan ke sini, kebetulan band anak muda ini banyak digandrungi mungkin personilnya yang ganteng-ganteng apalagi vokalisnya,” jelas Pak Syamsudin.
“Kok kamu tahu detail gitu, apa kamu salah satu fansnya mereka ya?” ledek Pak Syamsudin tertawa.
“Bukan begitu Pak, salah satu personilnya itu saya kenal bahkan kenal sampai akar-akarnya,” gerutu Dafa.
“Pak, dipanggil Bu Nia!” seru mahasiswa lain memanggil Pak Syamsudin.
“Iya tunggu sebentar!”
“Maaf Nak Dafa saya tinggal dulu, nanti kalau kalian pulang kasih tahu kami, silakan menikmati hidangan makanan yang sudah disediakan, bentar lagi mereka juga manggung loh, santai saja dulu di sini, kasih tahu Nak Tari ya!” ucap Pak Syamsudin tersenyum sembari meninggalkan Dafa yang termenung sendiri setelah mendengar nama band itu.
“Aduh ternyata orangnya ada di sini, bagaimana ini, aku harus cepat kasih tahu Tari, bisa-bisa terjadi perang dunia ke dua!” batin Dafa.
Ets ... ngapain juga aku harus kasih tahu Tari seru lagi, aku kan mau si Tari putus sama Ammar begajulan itu, nggak jelas, cemburuan, anak mami lagi, atau aku buat Tari sama Fajar saja kali ya, mereka kan cocok!” ucap Dafa lagi dalam hati.
“Dari pada sama Ammar lebih baik sama Fajar, tapi bagaimana caranya supaya Ammar cemburu ya sama Fajar, ayo Dafa pikir dong biasanya kamu punya ide cemerlang nih!” gerutunya dalam hati.
Dafa pun berpikir keras dengan mondar-mandir seperti setrikaan, tiba-tiba Dafa melihat Siska dan anak band itu.
Selang beberapa menit rombongan anak band itu sudah menampakkan wajah coolnya, tak heran beberapa dari kaum hawa memperebutkan tempat di depan agar bisa menatap atau pun menyentuh pemuda tampan yang sekarang di gandrungi oleh mereka.
Selain lagu dan liriknya yang sangat menyentuh menurut mereka, tetapi tampang dari mereka juga menjadi nilai jual tersendiri, terutama seorang vokalis.
Namanya Faeyza Ammar seorang vokalis band anak muda zaman sekarang, lagu dan liriknya yang dia ciptakan sendiri lumayan menarik kaum hawa untuk menyukai mereka.
Walaupun masih merintis, memang Ammar sudah bertekad setelah tour ke beberapa kota dengan uang pribadinya sendiri untuk memperkenalkan lagunya, kini dia pun berkeinginan masuk dapur rekaman dengan modal dari sang ayah.
Bersama tiga sahabatnya yang lain, mereka mendirikan sebuah band yang sedikit nyentrik tetapi kalem.
Dafa melihat mereka dengan atribut yang aneh tetapi bagi mereka itu adalah seni dan ciri khas dari band itu.
“Rupanya mereka sudah datang, apa yang harus aku lakukan dan di mana Tari, lama banget ke toiletnya? gerutu Dafa sembari melihat ke sana kemari mencari keberadaan Tari.
Saat mencari Tari, Dafa melihat Fajar yang tengah sibuk menerima telepon, entah dari siapa.
Dafa berpikir ini kesempatan yang bagus untuk mengerjai Fajar dan Tari agar mereka terlibat percekcokan.
“Permisi Mbak, maaf numpang tanya, Mbak ada lihat reporter kami yang tadi manggung namanya Tari?” tanya Dafa kepada seorang mahasiswi.
“Oh Kak Tari yang tomboi itu, tadi kita lihat ada di kantin kampus, Mas nya lewat sini terus lurus entar belok dikit nah di situ kantinnya,” jawab mahasiswi itu dengan ramah.
“Terima kasih, Mbak!” jawab Dafa tersenyum.
“Sama-sama,” jawab mahasiswi itu sembari pergi melewati Dafa.
Dafa pun pergi ke belakang kantin dan memang benar ada Tari yang sibuk makan dengan lahap di belakang kantin kampus.
“Duh Tari, bikin malu saja tuh cewek makannya seabrek begitu, doyan apa lapar tuh anak!” ucap Dafa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dafa pun kembali mencari Fajar, untungnya dia juga menuju ke kanti belakang.
“Mimpi apa aku semalam, belum bertindak sudah di gerakkan hati mereka, terima kasih ya Allah, mudah-mudahan mereka jodoh, Aamiin,” lanjutnya lagi sembari mempersiapkan kamera kesayangannya untuk merekam mereka berdua.
Dafa pun langsung bersembunyi di balik pohon besar samping kantin, dan benar saja Fajar datang menghampiri Tari yang tengah asyik makan.
“Astaga kamu kuli atau cewe sih, jijik banget lihat beginian, Udin ngapain sih kita ke sini nggak ada jalan lain selain lewat sini!” tanya Fajar kesal dengan Udin asistennya.
“Maaf Tuan Muda hanya jalan ini yang agak sepi menuju ke luar kampus, kan tadi Tuan sendiri yang minta jalan yang agak sepi nggak banyak orang!” kilah Udin.
“Memang benar saya menyuruh kamu, tetapi lihat juga dong tempatnya, saya itu paling anti melihat perempuan seperti laki-laki, makan seperti nggak pernah di ajarkan orang tua saja!” celetuk Fajar.
“Apa maksud kamu, kamu mau cari gara-gara sama saya, apa urusan kamu, terserah saya dong mau makan pakai tangan kek, pakai kaki kek terserah saya, apa pedulimu, saya ini bukan istrimu yang harus tunduk sama Tuan Muda Fajar yang terhormat!” sahut Tari kesal.
“Kamu memang bukan istri saya, tetapi jaga kesopanan kamu di muka umum, apa kamu nggak malu makan seperti di warung kopi, sedangkan kamu adalah seorang reporter handal yang membawa citra nama perusahaan di bawah naungan saya.”
“Nanti kalau ada paparazi dan masuk di media sosial apa kata dunia, mempunyai karyawan tidak mempunyai etika sopan santun, walaupun dia seorang gadis cantik!” ucap Fajar seketika.
“Ya ampun orang ini, memang siapa saya, tidak ada yang mengenal saya karena saya bukan artis, bukan pula pejabat tinggi yang wira-wiri masuk kamera!” balas Tari tak mau kalah.
“Kamu susah di bilang in ya, untung kamu bukan istri saya, kalau nggak!"
“Duh semakin seru nih, telepon Ammar ah biar dia panik dan cemburu melihat mereka hihihi ..” ucap Dafa dalam hati.
@Ammar
{Assalamualaikum, Daf ada apa, aku mau manggung nih}
@Dafa
{Wa’alaikumsalam, Mar, akhirnya kamu bisa juga di telepon, kata Tari kamu susah banget di telepon, atau kamu lagi selingkuh ya }
@Ammar
{Biasalah sibuk buat lagu dan aku ketiduran, sekarang di mana Tari, kok aku nggak bisa hubungi dia, ini lagi di mana Daf, tolong dong panggil in Tari nya}
“Busyet nih orang, dari tadi kek tanya Tari, kalau nggak di telepon nih orang nggak bakalan tanya,” ucap Dafa dalam hati.
@Dafa
{ Nah itu dia si Tari nya lagi ribut sama seorang pria ganteng lagi, itu namanya si Fajar bintang tamu dalam acara di kampus yang kita datangi di jalan perintis kemerdekaan.}
@Ammar
{Aku juga lagi di kampus itu, sekarang posisi kamu di mana}
@Dafa
{Aku sih lagi di kantin kampus}
“Ya di matiin lagi nih orang, berarti aku sukses nih memperkeruh keadaan, kita hitung mundur deh hahaha ... tawa Dafa yang merasa sukses dengan kerjaannya.
Sementara itu Tari dan Fajar masih bertengkar hal yang sepele, mereka pun tidak tahu kalau ada sebagian mata memandang mereka dengan tawa menggelitik.
“Ayo Mas Fajar lanjutkan perjuangan mu mencari cinta, siapa tahu memang jodoh!” teriak salah satu mahasiswa diikuti sorak ramai.
“Iya gas pol terus senang deh kalau kalian jodoh!” sahut lainnya.
“Mbak kok ngomongnya gitu, memang Fajar susah ya ditaklukkan ya?” tanya Dafa kepada salah satu mahasiswi yang melihat kejadian mereka bertengkar.
“Iya Mas, kami sangat mengenal siapa itu Fajar Ali Wardana selain anak dari dosen kami Bu Nia Ramadhani, dia juga kadang mengajar juga di sini, dan yang kami tahu Pak Fajar itu susah sekali di dekati,” jelasnya.
“Baru kali ini ada cewek yang berani sama dia dan tidak memandang wajahnya yang tampan, super cool, kan seru!” lanjutnya lagi.