Di hari pertama bekerja, Daniel memberi Isabella setumpuk dokumen yang tebal. Benda itu diletakkan di atas mejanya dengan debuman keras. Ia lantas menatap Daniel dengan bingung. “Ini … apa?”
Daniel membuka dokumen. Halaman pertama menampilkan profil-profil para pekerja perusahaan. Dengan biodata standar yang diperlukan.
“Dalam satu hingga dua minggu ini, kuharap kau sudah bisa menghafal semua wajah dan identitas orang-orang dalam dokumen ini. Sekarang adalah waktunya kau membuktikan daya ingat yang kau banggakan itu,” jelas Daniel perlahan.
“Hah?”
“Mereka para pegawai Olympus. Beberapa juga merupakan karyawan anak perusahaan.”
Isabella membuka-buka lembar dokumen. “Aku mengerti. Boleh aku bertanya, untuk apa semua ini?”
Daniel menampilkan senyum menawan sekaligus persuasi. “Kau akan membutuhkannya saat bekerja dengan Tobias.”
Hanya sebatas itu penjelasannya. Pria itu kemudian masuk ke ruangan Tobias. Isabella tidak sempat menanyakan apa-apa lagi—tak juga diberikan kesempatan untuk melakukannya. Ia sendiri hanya sempat ikut masuk saat mengantar minuman. Raut wajah serius keduanya langsung hilang saat ia masuk. Pembicaraan juga langsung berhenti. Isabella tahu bahwa situasi kembali serius saat ia keluar dari ruangan.
Pekerjaannya di hari-hari pertama tidak terlalu berat. Ia hanya diharuskan untuk terus mengikuti Tobias ke mana pun ia pergi. Pria itu menghadiri beberapa kali pertemuan setiap hari—orang sibuk. Ia harus bolak-balik mengecek tablet kerjanya agar memastikan tidak ada yang terlewat. Ia juga bertanggung jawab atas jadwal kerja, pemenuhan kebutuhan dalam pertemuan, serta pencarian informasi atas hal-hal yang dibutuhkan Tobias—tugas dasar sekretaris pada umumnya.
“Hei. Apa jadwalku setelah ini?” tanya Tobias saat mereka sampai di ruang kerjanya setelah menghadiri pertemuan dengan perusahaan makanan ternama di Italia.
Isabella memastikan jadwal atasannya lagi. Mengabaikan kekesalan saat masih saja dipanggil sebagai ‘hei’ dan bukan dengan namanya.
“Tidak ada, Pak. Semua pertemuan telah dilaksanakan. Karena pertemuan selanjutnya sudah ditunda menjadi besok lusa, artinya Anda bisa beristirahat sekarang. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.” Isabella membungkuk sopan. Mengamati saat pria itu duduk di kursi kerjanya sambil memijat dahi.
“Bapak ingin saya hidangkan teh hangat?” Isabella bertanya ragu.
Pria itu menaikkan pandangan. Menatap Isabella lama sekali, dengan mata yang semakin menyipit, sebelum memutuskan, “Kopi saja.”
Setelah keputusan itu, Isabella segera keluar ruangan.
***
Isabella masuk ke apartemennya sambil menghela napas berat. Ia merasa lelah sekali hingga ingin cepat-cepat mandi dan tidur. Untunglah ia sudah sempat makan. Berhubung ia baru boleh pulang satu jam setelah Tobias pulang, ia jadi kerap pulang malam. Karena Tobias sendiri juga sering kali pulang saat hari sudah gelap. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya bersama Daniel hingga mereka kerap sekali pulang terlambat.
Tubuhnya terasa benar-benar segar saat ia selesai mandi. Setelah menuang cokelat panasnya ke cangkir, Isabella duduk meringkuk di ranjang. Membuka kembali buku tebal dari Daniel. Mencoba melakukan tugas rumahnya, menghafal orang-orang yang ada di daftar itu. Ia baru saja menarik selimut saat matanya menangkap pakaiannya yang teronggok di lantai, tak jauh dari pintu masuk. Tepat di samping meja ruang tengah.
Isabella termenung sesaat. Apakah pagi tadi ia memang meninggalkan pakaian itu di sana? Kenapa pemandangan itu malah tampak agak asing?
Isabella memandangi keseluruhan bagian dalam apartemen. Jantungnya berdebar keras. Dengan langkah perlahan, ia menuju pintu, memeriksa adanya kerusakan di bagian lubang kunci, pinggiran kusen, dan sisi-sisi lainnya. Nihil. Tidak ada jejak pembukaan secara paksa, kecuali memang hasil akibat kekerasannya sendiri. Usahanya dalam menyisir bagian dalam apartemen juga tidak membuahkan hasil. Tidak ada tanda-tanda penyusup. Kecuali kalau pelakunya termasuk orang yang sangat teliti.
Dengan hati yang masih gundah, Isabella memungut pakaian itu. Ia memastikan pintunya terkunci sekali lagi. Sepertinya ia benar-benar harus membetulkan pintu ini saat ia libur kerja hari Minggu nanti. Isabella kembali pada ranjang dan bergelung nyaman. Hafalannya masih menunggu.
***
Beberapa hari berikutnya, Isabella sudah mulai beradaptasi dengan pekerjaannya. Ia baru menyadari hal baru tentang Tobias. Pria itu ternyata orang yang agak pelupa. Ia beberapa kali bersikap ragu setiap kali bertemu dengan kolega dalam pertemuan-pertemuannya. Setelah Isabella membisikinya bahwa orang itu adalah rekannya, berikut dengan identitas dasar mereka, barulah Tobias menghadapinya dengan baik dan benar.
“Itu Pak Sebastiano Anderson, Pak,” bisik Isabella saat kini mereka tengah duduk di sebuah ruang pertemuan, menghadapi seorang pria berusia tiga puluhan dan beberapa asistennya yang memasuki ruangan.
Tobias tidak merespons. Namun, Isabella tahu bahwa tindakannya benar-benar membantu Tobias.
Isabella berdiri di sebelah Tobias dengan tegap. Ia mendengarkan dengan saksama. Tangannya dengan cekatan memilah berkas dari beberapa tumpuk dokumen yang kini ada di dekat meja dan memberikannya pada Tobias saat pria itu menginstruksinya.
“Terima kasih, Tobias. Aku tunggu berita perkembangannya,” sapa Sebastiano saat pembahasan mereka telah berakhir. Keduanya lalu bersalaman sebelum berpisah.
Isabella tanpa sadar mengembuskan napas pelan setelah kini hanya ada mereka berdua di ruangan. Ia segera membereskan berkas-berkas saat Tobias berniat beranjak. Dengan langkah yang tidak lagi canggung, ia mengekor Tobias kembali ke ruangan kerja.
“Sejak kapan kau di sini?” ujar Tobias saat mendapati Daniel sedang bersantai di kursi tamu ruangannya.
“Hampir setengah jam.”
“Sepertinya kau senggang sekali.”
Daniel tertawa. “Aku ke sini untuk menjemputmu.”
Isabella menatap jam tangannya. Pukul lima sore. “Bapak akan pulang?” tanya Isabella ragu.
Tobias mengangguk. “Aku ada urusan dengan Daniel.”
Isabella ikut mengangguk. “Baiklah.”
“Oh, ya, Daniel. Berikan kunci mobil padanya.” Tobias mengedikkan dagu ke arah Isabella.
Isabella menganga. “Maaf, Pak?”
“Untuk apa?” tanya Daniel ikut bingung.
“Mulai besok ia akan mengantarku. Dia juga akan datang ke rumahku untuk mengurus beberapa pekerjaan saat aku tidak masuk kantor.”
Daniel tidak banyak bertanya. Ia hanya mengeluarkan kunci mobil dari kantung celana lalu memberikannya pada Isabella yang masih melongo.
“Ada masalah, Claire? Keberatan dengan tugasmu?”
Punggung Isabella menegang mendengar pertanyaan dingin Tobias. Mendengar pria itu kini sampai menyebut namanya membuat jantungnya malah tidak nyaman. Ia lantas menggeleng tegas. “Tidak, Pak.”
“Bagus.”
Tanpa berlama-lama lagi Tobias bangkit, disusul oleh Daniel yang mengekor di belakangnya seperti seorang ajudan siaga.
“Kami pergi dulu.”
Daniel berkata padanya sesaat sebelum mereka menghilang di balik pintu. Isabella hanya bisa mengangguk. Menatap kunci mobil di tangannya yang terasa amat berat.
***
Esok harinya, Isabella benar-benar diminta menjemput Tobias ke rumahnya. Ia hanya pernah satu kali ke sini, saat dulu Daniel menjemput Tobias sebelum mereka pergi ke sebuah pertemuan kerja di hotel dan Isabella ikut serta. Untunglah ia masih mengingat jalannya dengan baik—otaknya sangat bagus kan? Ia datang ke sini atas perintah Tobias, tapi saat tiba di gerbang besar itu, ia tetap saja gugup. Rumah Tobias amat megah, lebih tepat disebut sebagai puri. Dengan sentuhan tradisional sekaligus modern di beberapa sisi. Isabella tidak yakin apakah ia akan diizinkan masuk.
“Permisi, saya mencari Pak Tobias. Saya adalah sekretarisnya, Isabella Claire.” Isabella membungkuk dan bicara pada salah satu petugas keamanan dengan pakaian serba hitam—dari lima orang—yang berjaga di gerbang. Entah kenapa merasa harus memperkenalkan diri dengan benar.
Setelah pria itu menelisiknya dengan pandangan yang terlalu menyeramkan, akhirnya ia mengangguk. “Tunggu di sini.”
Seorang dari kelimanya berlari menuju pos keamanan untuk menelepon. Tak lama kemudian, sebuah mobil tanpa atap bergerak menuju gerbang. Di atasnya, Tobias duduk disopiri oleh pegawai lain.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Isabella sambil membungkuk.
Tobias hanya mengangguk. Isabella dengan cekatan membukakan pintu mobil. Para penjaga rumahnya segera membungkuk hormat seiring kepergian mereka.
Sesampainya di kantor, Isabella masih dengan memeriksa iPad sembari mengikuti Tobias menuju ruang kerja. Mereka baru saja sampai dan duduk sepuluh menit, bersiap-siap menghadiri pertemuan dengan kolega saat Tobias tiba-tiba berkata, “Ah. Aku melupakannya.”
Isabella menatapnya bingung. “Apanya, Pak?”
“Dokumennya. Aku meninggalkannya di rumah.”
Isabella menatapnya tidak percaya. Hanya tinggal menunggu waktu pertemuan mereka, dan Tobias baru mengatakannya sekarang?!
“Hei, kau kembali dan jemputlah dokumennya,” putus Tobias dengan yakin dan tergesa.
Situasi seketika hening.
“Maaf, Pak?”
“Jemput dokumennya di rumahku.”
Isabella masih menatap Tobias tidak percaya. “Saya? Menjemputnya sekarang?”
“Tahun depan. Ya, sekarang!”
Mendengar bentakan itu kontan saja Isabella langsung berdiri tegak. Sambil mencengkeram kunci mobil, ia membungkuk sekilas.
“Baik, Pak.” Sambil dengan menahan kekesalan, Isabella berlari meninggalkan ruangan. Juga Tobias yang kini tersenyum separuh.
***
Isabella tidak bisa mengingat sudah berapa kali ia memaki Tobias hari ini. Ia tidak tahu apa yang salah, tapi hari ini Tobias benar-benar menjengkelkan. Tak cukup dengan menyuruh Isabella bolak-balik kantor-rumah, ia juga terus memberi perintah yang menyebabkan Isabella harus berlari mengelilingi gedung ini. Ia memerintahnya untuk menemui kepala bagian yang ruangannya terdapat di sayap kanan yang terhitung amat jauh dari ruangannya. Belum lagi ia sudah bolak-balik turun-naik lantai bawah lalu ke atas, lalu turun lagi.
Alhasil, baru pukul tiga sore, Isabella sudah merasa ingin pingsan.
“Hei, kau!”
Isabella baru berniat kembali ke posisinya di depan ruangan saat Tobias lagi-lagi memanggilnya.
“Ya, Pak?”
“Apakah ada panggilan dari Daniel?”
Isabella mengerutkan kening. “Tidak ada, Pak,” sahutnya karena ia memang tidak melihat pria itu sejak pagi.
“Panggil dan suruh dia datang ke sini.”
Tobias masih menekuni layar komputernya dengan tangan yang sibuk pada papan ketik.
“Maaf, Pak?” Isabella merasa telah salah mendengar. Memanggil Daniel? Bukankah biasanya Tobias sendiri yang akan menghubungi pria itu jika memang mereka punya urusan? Lalu kenapa sekarang itu juga menjadi tugasnya?
“Daniel. Suruh dia kemari. Kenapa hari ini telingamu bermasalah sekali?”
Isabella menggigit bibir bagian dalamnya dengan gemas. Sabar. Jika saja kini lembaran euro sedang tidak menari di kepalanya, Isabella pasti sudah balas meneriaki Tobias.
“Baik, Pak.”
Isabella buru-buru keluar ruangan. Ia segera menghubungi Daniel. Tak sampai setengah jam, pria itu sudah tiba. Pria itu terbahak saat melihat Isabella menyambutnya dengan gaya seolah nyawanya sudah melayang.
“Ada apa denganmu?”
“Bosmu menggila hari ini. Dia benar-benar sedang mengujiku.”
Lagi-lagi Daniel tertawa.
“Nikmati minuman dingin sana. Aku harus masuk dulu.” Daniel memberi saran sambil tersenyum geli, kemudian menghilang di balik pintu ruangan Tobias.
Isabella menghela napas lelah. Masih tersisa banyak waktu hingga jam kerjanya berakhir. Ia berharap Tobias akan segera pulang dan mengurus urusannya dengan Daniel. Biasanya jika ada Daniel maka mereka akan keluar bersama sehingga ia bisa pulang lebih cepat.
Isabella masih sibuk menyusun dokumen untuk keperluan besok dan lusa, saat tiba-tiba sebuah buku tebal mendarat di mejanya. Ia mendongak, menatap Daniel yang tengah tersenyum.
“Perasaanku tidak enak,” akunya.
Daniel tertawa.
“Ini apa lagi? Karyawan anak perusahaan?” tanya Isabella sambil meraih benda itu, yang tampak hampir mirip dengan barang yang ada di rumah Isabella.
“Bukan.”
“Lalu?”
Daniel diam agak lama, membuat perasaan Isabella jadi agak tidak enak.
“Itu daftar orang-orang yang tidak begitu menyukai Tobias. Jika kau melihat salah satunya, segera laporkan pada Tobias, atau padaku. Tidak ada pengecualian.” Daniel berujar dingin dan penuh penekanan. Hilang sudah aura jenaka yang biasanya pria itu tampilkan.
Untuk sesaat Isabella hanya termangu dan ngeri.
“Daniel, sebenarnya untuk apa ini semua?” tanyanya pelan.
“Sudah kubilang, untuk membantu Tobias saat kau bekerja.”
Isabella diam sejenak. “Lalu kenapa aku harus menghafal mereka? Ingatannya juga terlihat masih sangat baik. Aku merasa sedang … mengintip dan menjadi bagian darinya. Dan itu rasanya agak tidak nyaman. Aku tidak mengerti kenapa aku melakukan ini.”
Isabella berusaha menjelaskan sebaik mungkin, tanpa menyinggung Tobias. Di hadapannya, Daniel menatapnya begitu dalam dan lurus. Seolah tengah menelusuri jiwa Isabella.
“Karena kau harus membantu dan melakukan apa yang Tobias tidak bisa lakukan.”
Isabella mengerutkan kening bingung.
“Tapi dia tidak buta, Daniel. Aku tidak melihat adanya keharusan untukku—”
Isabella terdiam seketika saat kepalanya baru mulai bisa memahami situasi. Perlahan ia menyusun kepingan petunjuk yang ia peroleh selama ini. Selanjutnya ia menatap Daniel dengan mulut menganga dan pandangan kaget sekaligus iba.
“Benar, Isabell. Face blindness. Tobias menderita prosopagnosia.”