Bab 5 Surat Perjanjian dengan Tobias

1212 Words
Isabella belum bisa masuk kerja esok harinya. Ia harus menunggu satu hari lagi. Setelah menerima saran dokter tersebut, ia tidak punya pilihan lain selain menurut. Ia sangat ingin mengabari Sofia, tapi sisi hatinya yang lain membuatnya tidak ingin membuat Sofia lagi-lagi cemas. Isabella mengangkat sedikit baju rumah sakit, memeriksa lukanya. Seorang perawat tadi sudah membantunya membersihkan tubuh. Kini sudah nyaris petang, ia harus mengobati lukanya segera setelah tadi meminta obat secara darurat pada perawat. Tidak melakukan apa-apa di rumah sakit benar-benar membuatnya suntuk. Pekerjaan yang tadi disinggung Daniel juga sudah ia cek dan pelajari. Meskipun ia masih belum bisa bangun dari kasur dan berjalan, tapi kini gejalanya sudah membaik. Perawat bilang ia beruntung bisa selamat dari racun itu. Mungkin tubuhnya memang benar-benar hebat. Baru beberapa menit menunduk dan berusaha mengolesi salep sambil memegangi bajunya, Isabella sudah kelelahan. Dengan putus asa ia akhirnya menggigit pakaiannya agar tetap terangkat. Berusaha mengolesi lagi. Mengambil kasa dan plester. Belum selesai pekerjaannya, tiba-tiba saja pintu terbuka. Isabella menoleh cepat. Dan seseorang yang berada di sana adalah orang terakhir yang dibayangkan Isabella akan datang. Meski kemarin ia hanya separuh sadar, ia ingat betul wajah itu. Tobias Natanael Oliveros, bosnya, CEO Olympus Corporation. Laki-laki yang tempo hari tidak mengizinkan Isabella untuk mati di kantornya. Bukannya terganggu dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang sekarat, pria itu lebih mementingkan kenyataan agar tidak membuat kantornya kotor dengan mati di sana. Pria itu menatap Isabella dengan tatapan datar dan dingin. Dengan gestur angkuh ia mendekati ranjang. “Sepertinya kau sibuk.” Kalimat sapaan pertama yang ia dengar dari mulut itu. Tidak ramah, malah seperti sindiran. Isabella tergelagap. Ia sontak menurunkan pakaiannya dan langsung duduk tegak. Ia berniat bangun berdiri, tapi gerakan tangan Tobias memintanya untuk tetap duduk. Pria itu duduk di sofa tunggal tak jauh dari Isabella. Dengan kaki menumpang di atas kakinya yang lain. Tampak seperti putra mahkota bangsawan Italia. Isabella kesal saat menyadari bahwa ia menyukai pemandangan itu. Mengingat ekspresi dingin dan kalimat kejam yang pria itu sempat lontarkan saat ia nyaris mati. “Tidak, Pak. Sama sekali tidak,” cicit Isabella. Tobias tersenyum setengah. Meski ia tidak bisa melihat jelas ekspresi wajah itu, entah kenapa ia bisa menebak seperti apa rupa gadis itu hanya dari suaranya. “Pak,” panggil Isabella lagi dengan takut-takut. Tobias menatapnya. Tidak menyahut, tapi karena tahu pria itu menunggu dan mendengarkan, Isabella melanjutkan. “Apa Bapak benar-benar tidak akan mengizinkan saya mati di kantor Bapak?” Pertanyaan gila itu akhirnya terucap. Untuk sesaat Tobias hanya diam. Ia memiringkan kepalanya ke satu sisi dengan samar. Berusaha mengamati wajah Isabella meski hanya diakhiri dengan embusan napas lelah. “Ya.” Isabella seharusnya tidak sakit hati. Memangnya jawaban macam apa yang ia harapkan? Sudah jelas, kan? Namun, kini sebagian dari hatinya memang sakit. “Aku kemari untuk membawakan kontrakmu.” Tobias lalu melangkah mendekat. Jantung Isabella berdetak semakin keras seiring dengan langkah kakinya. Saat pria itu benar-benar berada di depannya, ia nyaris tidak bernapas. Wajah itu … tulang hidung sempurna, mata hitam pekat, alis rapi yang menukik di ujung, serta bibir tebal yang agak pucat. Ia tidak yakin apakah ini orang yang sama dengan yang dilihatnya saat hampir pingsan. Karena Tobias yang sekarang tampak terlalu tampan. Tidak peduli meski ekspresinya tampak dingin yang malah memperkuat eksistensinya. Sebuah map jatuh ke pangkuan Isabella. Tobias kemudian kembali ke kursi. “Tapi saya sudah tanda tangan kontrak dengan Daniel beberapa waktu lalu.” Isabella menatap berkas itu bingung. Dengan gerakan agak ragu ia membukanya. “Yang kau tanda tangani waktu itu adalah kontrakmu dengan Olympus Corporation. Yang kau hadapi sekarang adalah kontrakmu denganku.” Alis Isabella mengerut. PERSETUJUAN KONTRAK Kesepakatan ini berlaku sejak tanggal 1 Januari. Antara: Pihak pertama, Tobias Natanael Oliveros, atasan sekaligus CEO Olympus Corporation. Pihak kedua, Isabella Claire, sekretaris sekaligus asisten pribadi dari pihak pertama. Mata Isabella menyusuri kalimat demi kalimat. Melewati bagian-bagian pembuka. Ia membaca sungguh-sungguh bagian selanjutnya yang membuatnya penasaran. Hak dan Kewajiban Pihak Kedua: 1. Berhak mendapat gaji bersih sebesar €5.000 setiap bulan (belum termasuk insentif tambahan) yang diberikan setiap tanggal 1 dengan tanpa toleransi keterlambatan 2. Berhak mendapatkan jaminan keamanan dan keselamatan selama masa kontrak dan kebersamaan dengan pihak pertama 3. Harus selalu tersedia dan ikut ke mana pun pihak pertama pergi terkait kegiatan pekerjaan atas izin pihak pertama 4. Harus menempatkan keselamatan pihak pertama sebagai prioritas tertinggi di atas keselamatannya sendiri 5. Tidak diizinkan untuk menceritakan segala hal yang ia lihat dan/atau dengar saat bekerja bersama pihak pertama kepada siapa pun, yang dikenal dan/atau tidak dikenal, kecuali atas izin pihak pertama 6. Tidak diizinkan untuk menyembunyikan fakta, kejadian, segala sesuatu terkait hidupnya dari pihak pertama 7. Tidak diperkenankan membantah dan/atau menolak perintah pekerjaan pihak pertama 8. Tidak diizinkan pulang kerja kecuali lebih lambat satu jam dibandingkan pihak pertama, kecuali dinyatakan lain Isabella memijat kepalanya selagi melanjutkan kalimat pada lembaran selanjutnya. Kontrak itu juga menjelaskan bahwa tak hanya sekretaris, ia kini juga bekerja sebagai personal assistant alias asisten pribadi. Ia terus membaca hingga sampai pada bagian yang lagi-lagi membuatnya bingung. “Saya harus pulang lebih lambat satu jam dibandingkan Bapak?” Tobias mengangguk. “Kenapa begitu?” Pria itu menatapnya dengan ekspresi seolah itu pertanyaan yang sudah jelas dan tidak perlu ditanyakan lagi. “Karena kau sekretarisku,” jawabnya enteng. Isabella melongo? Memangnya sekretaris punya kewajiban untuk pulang satu jam lebih lambat dibandingkan bosnya? “Kenapa saya diharuskan punya SIM?” tanyanya lagi bingung melihat kualifikasi syarat dan kemampuan yang harus dimilikinya. “Kau tidak punya SIM?” Isabella mengangguk dengan polos. “Saya punya SIM.” “Tentu saja karena kau harus mengemudi. Kegunaan SIM untuk apa lagi?” “Saya akan menyopiri Bapak?” Lagi-lagi Tobias menatap Isabella seolah ia orang dungu. “Tentu saja. Karena kau sekretarisku,” ulangnya. Isabella mengabaikan hal itu dan melanjutkan membaca. Lagi-lagi terhenti pada poin yang membuatnya bingung. “Saya harus menjalani tes IQ?” Tobias mengangguk. “Tidak perlu bingung. Daniel akan mengurusnya dan kau tinggal mengikuti instruksi.” “Untuk apa pengujian itu?” Tobias berpikir agak lama. Menatap Isabella dengan lurus dan datar. “Karena aku ingin tahu gambaran kecerdasan intelektualmu. Tidak perlu menatapku dengan aura permusuhan seperti itu.” Isabella buru-buru menormalkan ekspresi wajahnya. Tidak menyangka Tobias akan langsung mengomentari raut tidak sukanya. “Saya harus menyiapkan sertifikat kemampuan bela diri?” “Benar.” Tobias tidak memberi penjelasan lanjutan. Isabella kembali membaca. Mulai merasa seolah bukan akan menjadi sekretaris, melainkan penjaga dan pesuruh dua puluh empat jam. “Jika kau mau menolak, sekarang adalah satu-satunya kesempatan. Kau tinggal berurusan dengan Daniel mengenai pengembalian gaji pertamamu yang telah dikirimkan. Tidak perlu merasa tertekan.” Tobias mengatakannya dengan dingin dan datar. Tanpa perasaan. Tanpa kepedulian. Ia menyeringai samar. Tentu saja ia tidak peduli, karena ia tahu gadis ini tidak akan bisa menolak. Ia tidak akan bisa mengembalikan uang yang sudah ia peroleh. Isabella menggigit bibir bawahnya ragu, menatap Tobias sekali lagi. Lalu pada kertas di depannya. Menarik napas dalam sambil menggenggam pulpen erat. Mau bagaimana lagi. Uang itu sama sekali sudah tidak utuh lagi. Di detik ia menggunakannya, Isabella sudah berjanji akan bekerja dengan baik. Jadi, tanpa berpikir panjang ia membereskan segala urusan ekonominya. Mana ia tahu kalau surat kesepakatan lain sudah menunggunya! Ah, ya sudahlah. Tanpa ragu-ragu lagi, ia mengangkat pulpen, membubuhkan tanda tangan. Hanya Olympus Corporation. Bisa seburuk apa, memangnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD