Isabella merasa kepalanya sakit. Dengan usaha agak keras, ia mencoba membuka mata. Setelah tidak lagi merasa silau, ia mengerjap-ngerjap. Memandangi sekitarnya dengan menyipit. Ruangan serba putih dengan fasilitas terbaik. Satu set sofa dan meja tamu, lemari pendingin beserta microwave, televisi plasma besar, dan bed rumah sakit yang empuk. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Ia menoleh ke samping, mendapati satu parsel berisi buah-buahan.
Ia sedang memakai kaca matanya saat pintu ruangan terbuka. Daniel masuk. Penampilannya tampak agak kacau. Lengan kemeja tersingsing hingga siku. Kancing kemeja teratas sudah terlepas. Pun dengan dasinya.
“Ah, Isabella. Kau sudah sadar?”
Isabella mengangguk. “Aku di rumah sakit?”
“Benar. Tadinya aku ingin merawatmu di kantor, tapi keadaannya agak kacau. Jadi, kami membawamu ke rumah sakit terdekat.”
Isabella mengangguk lagi. “Apa yang terjadi?”
Daniel duduk sebentar. “Kami minta maaf ini harus terjadi padamu di hari pertama kau bekerja.” Pria itu tampak sungguh-sungguh menyesal.
Isabella sontak langsung duduk tegak. “Tidak. Itu salahku. Tidak seharusnya aku meminum minuman itu. Aku juga minta maaf sudah meminumnya tanpa izin. Kupikir itu memang disiapkan untukku. Maaf, aku sudah membuat kekacauan.”
Isabella berusaha menjelaskan dengan payah. Mau bagaimanapun, ia memang turut bersalah. Tidak seharusnya ia menenggak minuman itu. Lagi pula, kenapa bisa ada racun di kantor sebagus itu?
“Tidak apa-apa. Salahku juga tidak menyadari keberadaan gelas itu.”
“Eh? Memangnya itu untuk siapa?”
“Tobias.” Belum sempat Isabella mendapat penjelasan lebih jauh, ponsel pria itu berbunyi. “Maaf, aku harus pergi lagi. Kau beristirahatlah. Aku sudah bertemu dokter, dan dia bilang situasimu tidak terlalu gawat. Jika beruntung kau bisa keluar besok lusa.”
Pria itu kemudian tersenyum lalu buru-buru keluar. Mengangkat ponselnya ke telinga. “Ya, Tobias?”
Lalu pintu ruangan tertutup. Isabella mengembuskan napas pelan. Kepalanya sakit lagi. Kini perutnya juga ikut-ikutan mual. Dengan hati-hati Isabella menjangkau buah apel yang tadi dibawa oleh Daniel. Tobias? Bosnya? Sebenarnya ada masalah apa hingga perjuangannya di hari pertama harus sesulit ini? Belum lagi, apa-apaan itu tadi? Bosnya bermain-main dengan racun di kantor?
Ah, ia lupa menanyakan pada Daniel di mana pria itu meletakkan tas kerja Isabella.
Gadis itu baru menyadari bahwa Daniel tidak sedikit pun menjelaskan apa yang terjadi padanya hari ini.
***
“Tobias.” Daniel memanggil dengan hati-hati.
Tobias masih bergeming. Duduk tegak di kursi kebesarannya. Kaki kanannya menyilang ke atas kaki kiri. Tangannya berada di lengan kursi, mengelus dagunya penuh pertimbangan. Sementara matanya masih menatap tajam pemandangan di depannya. Suara raungan dan erangan masih terdengar. Diselingi rintihan pengampunan yang sama sekali tidak didengar. Tobias menikmati pemandangan itu seolah tengah menyantap daging panggang kualitas terbaik.
“Tobias!” Kali ini Daniel menegaskan suaranya. Jika pria itu berdiam diri lebih lama lagi maka orang yang tengah digebuki di depan mereka bisa benar-benar mati.
“Ada apa, Daniel?” Tobias menyahut dengan setengah hati. Menatap temannya itu dengan tatapan malas.
“Sudah cukup. Kedatangan kita ke sini bukan untuk membunuhnya.” Daniel memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Tobias menarik sudut bibirnya sedikit. “Oh, sebenarnya aku ke sini memang ingin membunuhnya. Akan lebih baik lagi kalau begitu.” Ia meralat kalimatnya segera sebelum Daniel mulai mengoceh lagi.
Tobias mengangkat tangan. Mengisyaratkan orang-orangnya itu untuk berhenti. Pria itu menggerakkan tangannya lagi, memerintahkan mereka mendekat. Para pria berpakaian hitam tersebut langsung bergerak. Berusaha menyeret seorang laki-laki bertubuh tambun agar menghadap Tobias.
“Sudah berapa jari?” tanya Tobias dingin.
“Tiga.” Salah satu pria yang memegangi lengan atas laki-laki itu menjawab.
Raut wajah Tobias tampak tidak senang. “Baru tiga, ya?”
“Satu kakinya juga patah.”
Kali ini ekspresinya membaik. “Jadi? Sudah mau bicara?”
Tobias menatap laki-laki itu dengan alis terangkat. Laki-laki itu meringis lagi. Dengan tubuh yang sudah gemetaran, serta ujung jari yang mengucurkan darah karena kuku yang tak lagi tersemat. Ia menunduk dalam-dalam. Tak berani untuk sekadar menatap.
“Namanya,” pinta Tobias lagi, dengan nada lebih membekukan.
Orang yang ditanyai hanya diam terengah sambil berusaha tetap bernapas. Semua orang menegang, tak terkecuali Daniel. Terlebih saat Tobias menarik napasnya dalam-dalam. Seolah tengah berusaha keras mengumpulkan kesabaran. Para bawahannya sendiri nyaris mundur saat Tobias bergerak—hanya untuk sekadar bersandar pada belakang kursinya.
“Tambah satu jari lagi.”
“TIDAAAK!” raung laki-laki itu seketika.
Suaranya tampak serak bagaikan ayam yang ingin dipotong. Ia duduk bersimpuh. Membungkukkan tubuh dalam-dalam hingga nyaris bersujud.
“Sumpah! Aku bersumpah! Aku sungguh-sungguh tidak tahu!” terangnya dengan putus asa dan wajah bersimbah air mata. Bibirnya bergetar selagi kembali menyuarakan pembelaan yang tidak berarti di telinga Tobias.
“Kau mau aku memercayai perkataanmu? Kau bilang, kau menuruti kata-kata orang yang bahkan tidak kau tahu namanya?”
Kalimat tajam itu seolah berusaha membunuh laki-laki itu.
“Telepon! Aku—aku mendapatkan tawaran pekerjaan itu melalui telepon! Sungguh! Aku tidak berdusta!” mohonnya lagi, merangkak mendekati Tobias untuk bersujud di kaki pria itu. Namun, Tobias lebih dulu menendang bahunya.
“Beraninya kau menyentuhku,” peringatnya pelan dan tajam.
Tobias menegakkan duduknya lagi. Menatap lurus pada laki-laki yang kini sudah mundur menjauh darinya, seolah ngeri akan diterkam.
“Untuk terakhir kalinya. Beri aku namanya.”
Dengan suara yang masih sedingin sebelumnya, ia kembali menagih. Laki-laki yang ditanya semakin mengkeret di tempat. Ia menggeleng dengan raut wajah mengenaskan.
“Tidak … aku … aku benar-benar tidak tahu …,” jawabnya dengan suara yang kian mengecil.
Tobias memutar bola matanya malas. Ia kemudian bangkit. “Habisi sampai dia memberiku nama.”
Tanpa menoleh lagi langsung melangkah meninggalkan tempat itu. Daniel menatap ketua dari para bawahan Tobias. Memberikan gestur menggeleng dan melirik laki-laki malang itu. Dengan segera ia melangkah menyusul Tobias.
***
Mobil berhenti di pelataran rumah sakit. Daniel bersiap-siap turun. Ia menoleh lebih dulu pada Tobias.
“Kau yakin tidak ingin turun?” ulangnya untuk ketiga kali.
Tobias meliriknya sedikit. “Haruskah?”
Daniel mengembuskan napas pelan. “Tobias, dia meminum racun itu menggantikanmu. Sebuah kunjungan tentu akan membuatnya lebih baik.”
Daniel membujuk lagi. Tobias menghela napas dalam. “Bukankah dia akan masuk kantor?”
“Belum ada kepastian soal itu. Kita harus lihat kondisinya dulu.” Daniel agak berbohong.
Tobias berpikir lagi—kelewat agak lama. Tahu bahwa Daniel masih memandanginya—dan pria itu bisa saja terus melakukannya semalaman jika memang bersikeras—akhirnya Tobias mengembuskan napas kasar.
“Baiklah. Besok. Kalau dia belum bisa berangkat kerja juga besok, aku akan datang,” putusnya agak kesal.
Daniel tersenyum diam-diam. Ia tahu, setidaknya walau kelakuan Tobias terkadang bisa sangat kejam, nurani pria itu masih ada—sedikit. Setidaknya ia harus memastikan bahwa Tobias bertindak layaknya atasan normal.
“Aku ini bosnya. Dia hanya sekretaris. Kenapa aku harus repot-repot hanya demi seorang sekretaris? Ada ribuan orang yang akan melamar pekerjaan itu jika memang dia tidak sanggup melakukannya.”
Daniel memutar bola mata. “Dan kau tahu dengan jelas bahwa kita tidak bisa sembarangan memilih di antara seribu—atau bahkan mungkin sepuluh ribu—orang yang kau sebutkan itu. Kau tahu posisi sekretaris bagimu adalah sesuatu yang vital. Jadi tolong. Bersikaplah sedikit normal. Kau yang memutuskan sendiri ingin menerimanya. Ini bahkan masih masa investigasi. Jika memang tidak setuju, maka biarkan aku mencari ganti orang lain.”
Tobias tidak menjawab. Dan ia tidak peduli lagi akan seberapa lama Daniel menunggu setelah ini.
Tahu bahwa permintaannya tidak dijawab, Daniel menyerah. “Baiklah. Aku pergi dulu.” Pria itu akhirnya keluar dari mobil.
Sepeninggal Daniel, mobil kembali melaju. Tobias menatap kelebat pemandangan jalan Roma dari kaca jendela dengan pandangan datar. Menelan rasa sesak yang tak lagi ia ingat sejak kapan sudah berada di d**a.
Jika saja orang itu masih ada, maka semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Jika dia masih di samping Tobias, maka ia tidak akan membutuhkan hal lain.
Jika saja ….
Seandainya saja ….
Pengandaian yang tiada akhir. Yang masih terus disesali Tobias hingga membuatnya merasa sekarat.