Bab 3 Menenggak Racun Presdir

1564 Words
Isabella memasuki apartemennya. Ia baru saja menemui Nyonya Satta. Wanita itu benar-benar senang. Wanita itu hampir mematahkan punggungnya karena memeluk terlalu keras saat Isabella memberikan uang sewa apartemennya dua bulan ini. Isabella membuka mantel. Mengangkat sedikit pakaian untuk melihat luka goresannya melalui cermin di hadapannya. Sudah tidak terlalu parah meskipun masih sedikit berdarah. Ia sudah mengoleskan salep, meminum obat, dan mengganti perbannya tadi pagi, jadi seharusnya tidak ada masalah. Baru saja ia berganti pakaian, terdengar bunyi kelontangan dari dapur. Isabella sontak menoleh dengan kewaspadaan meningkat. Gadis itu membatu. Mengingat bahwa pintu apartemennya adalah benda yang akan dengan gampang dibobol, ia tidak berani membayangkan siapa yang kini ada di sana. Ia sudah siap dengan pemukul bisbol saat suara seseorang menghentikan ketakutannya. “Aw!” Seorang pria berdiri sambil mengusap kepalanya karena terantuk langit-langit lemari bawah di dapur Isabella. Tangannya memegang sebuah penggorengan dan sebungkus spaghetti. Ia terlihat baru saja mengambil sesuatu dari dalam lemari. “Eryk! Apa yang kau lakukan di sini? Kau benar-benar mengagetkanku!” Isabella melempar sebungkus kopi instan pada Eryk yang tergelak. Tidak terkejut pada kedatangan Isabella yang tiba-tiba. Oh, tentu saja. Pria itu pasti sudah mengetahui kedatangannya dan pura-pura tidak tahu. Bersyukurlah Isabella masih menganggapnya sahabat. Karena kalau tidak, Isabella pasti sudah menyeret laki-laki itu keluar. “Aku kelaparan, Bella. Sudah tiga hari kau tidak memberiku makan. Kau tidak merindukanku? “ Eryk menggerutu. Sibuk berkutat dengan kompor. Isabella duduk di kursi dapur. Hanya ada dua kursi makan di sini, dengan meja yang juga tak terlalu besar. “Untuk apa bos sepertimu minta makan padaku. Lagi pula kau sendiri yang menghilang. Ke mana saja kau?” “Tidak ada. Hanya bermain, melakukan ini dan itu. Aku bosan bekerja.” “Aku nyaris gila di sini dan kau malah bersenang-senang?!” Isabella bertanya dengan nada tinggi. Mulai kesal melihat Eryk yang terbahak. “Ya Tuhan, Bella. Kau bahkan malah mabuk-mabukan di acara pesta pengumuman pernikahan Sofia, kan?” Isabella merengut. Detik berikutnya ia tersadar. “Kau tahu dari mana?” Eryk menatapnya bingung. “Aku bertemu Antonio kemarin.” Isabella menatap curiga. Ia menarik napas dalam. “Aku baru saja ditolak lagi hari itu.” Gadis itu meminum air putih dengan beberapa tegukan besar. “Oh, aku sampai tidak bisa merasa sedih lagi. Sudah keberapa kalinya? Dua puluh? Sudah kubilang, kan, cukup ambil alih saja resto milikku. Aku berencana ingin berbisnis dengan klub malam saja. Akhir-akhir ini aku begitu menyukai alkohol. Ah, dan wanitanya juga. Kau harus lihat—aduh!” Baru saja Eryk selesai mengucapkan rencananya, ia langsung sibuk berjingkat-jingkat karena Isabella berhasil menendang tulang keringnya. “Isabella, sakit!” “Berhenti mengatakan omong kosong dan cepat selesaikan masakanmu. Aku lapar.” Eryk menghela napas kasar. “Va bene[1], Signorina Isabella Claire. Akan aku siapkan.” Eryk mengaduk-aduk spaghetti buatannya lalu menatanya di atas piring besar. Meletakkannya di meja yang langsung disambut Isabella dengan suka cita. “Bagaimana lukamu?” Kunyahan Isabella terhenti. “Seingatku aku belum bilang padamu soal lukaku.” Isabella lagi-lagi menatap curiga, sementara Eryk hanya menampilkan senyum nakal. “Jangan kau kira aku melewatkan pemandangan tadi. Padahal aku ingin sekali membantumu berganti pakaian.” Isabella mendesah jijik. “Hilangkan pikiran kotormu itu, Eryk Alfonso. Aku sedang memegang garpu sekarang.” “Jangan mengancamku. Aku juga sedang memegang garpu, kan? Mau lihat siapa yang mena—uhuk!” Pria itu tersedak saat Isabella menyumpalkan spaghetti ke dalam mulutnya dengan porsi besar. Ia mengangkat tangannya, tanda menyerah. “Dari mana kau mendapat luka sebesar itu? Kau seharusnya ke rumah sakit.” “Aku sudah minum obat. Bukan masalah. Oh, aku punya kabar bagus. Kau pasti terkejut.” “Aku sedang makan, dan kupikir sebaiknya aku tidak kaget sekarang.” “Besok aku akan mulai bekerja.” Satu kalimat itu berhasil menghentikan kegiatan Eryk. Ia menatap Isabella penasaran. “Serius? Di mana?” “Olympus Corporation. Ya Tuhan, mungkin karena inilah aku selalu ditolak. Aku dipersiapkan untuk Olympus! Ah, aku nyaris gila membayangkan gaji yang sudah kuterima dan akan kubelanjakan dengan amat bijaksana itu. Mereka benar-benar bukan main-main.” “Olympus?” “Ya! Kau tahu, kan? Perusahaannya sangat terkenal. Mengingat ia berkecimpung dalam banyak sekali bidang usaha. Dulu ia selalu jadi sampel yang bagus saat aku kuliah. Anak perusahaannya saja sudah besar. Zeus Oil Company. Lalu ada Athena Textile Company. Kemudian Apollo Gigantio Pharma. Kau bisa bayangkan tidak, sekaya apa pemilik perusahaan raksasa seperti itu?” Isabella kembali menjelaskan dengan menggebu-gebu. Mulutnya masih berusaha menghabiskan spaghetti yang tinggal seperempat. “Tidak tahu. Tidak suka. Kabarmu tidak bagus. Kembalikan waktu berhargaku.” Eryk menjawab dengan datar. Membuat Isabella refleks menatapnya. Untuk sepintas, Isabella merasa melihat sorot kebencian yang samar dalam tatapan sahabatnya itu, tapi pikiran itu langsung sirna begitu mendengar ucapannya selanjutnya. “Seharusnya mereka biarkan saja kau jadi pengangguran. Kau nanti pasti akan mengambil alih resto spaghetti milikku. Lalu kita akan jadi partner yang cocok!” Mulut pria itu baru berhenti setelah Isabella lagi-lagi menghantam lengannya karena kesal. *** Isabella mematut dirinya melalui cermin yang ada pada lift. Ia memakai sebuah celana kain abu-abu dan blazer senada serta inner berwarna hitam. Ia merapikan rambut ikalnya lagi. Menghirup napas pelan seraya membisikkan kata-kata penyemangat. Berharap bahwa hari pertamanya bekerja akan berjalan dengan lancar. Lift itu bergerak mengantarkannya ke lantai tiga puluh, tempat yang akan mempertemukannya dengan atasan—yang Isabella harapkan adalah orang yang baik dan menyenangkan. Ting! Isabella melangkah keluar, mendapati Daniel yang kini telah siap di balik mejanya yang sebelumnya. Berdiri saat matanya melihat Isabella. “Selamat pagi, Tuan Calvino.” “Selamat pagi, Nona Claire. Panggil aku Daniel. Aku bukan atasanmu. Kau datang tepat waktu.” “Isabella saja. Ya, aku bersemangat sekali. Aku bisa bekerja sekarang?” “Kau akan bertemu Tobias sebentar lagi. Kuharap kalian akan cocok satu sama lain.” Daniel menggiringnya menuju pintu besar dengan dua daun pintu. Berdiri bagaikan gerbang yang akan mengantarkanmu ke ruangan yang begitu terlarang untuk dimasuki. Daniel membukakan pintu itu untuknya. Isabella menarik napasnya pelan. Ruang kerja itu luas. Amat luas untuk ukuran ruangan seorang CEO sekalipun. Didominasi oleh nuansa abu-abu dan hitam. Dipoles dengan ketegasan yang mantap dan kemewahan yang menguar. Begitu bersih dan kuat. “Tobias akan menemuimu sebentar lagi. Kau boleh duduk dan menunggunya di sini. Silakan duduk di sofa itu. Yang di sana adalah pintu ke kamar kecil, siapa tahu kau membutuhkannya.” Daniel menunjuk sekilas pada sebuah pintu di sisi kanan, membuat Isabella heran bagaimana pria itu bisa tahu bahwa sekarang ia benar-benar gugup hingga ia merasa perlu ke toilet dulu. Setelahnya pria itu keluar, meninggalkan Isabella. Kaki Isabella melangkah ragu menuju sofa di tengah ruangan. Di belakangnya, terlihat dinding kaca yang menampakkan pemandangan Roma dari ketinggian yang tak berani dibayangkan Isabella. Sebuah meja kerja dan kursi kebesarannya berdiri di sana, dilatarbelakangi oleh pemandangan cerah. Isabella duduk di sofa tamu. Berusaha terlihat nyaman karena nyatanya ia begitu gugup. Tangannya bertautan. Ia bahkan bisa merasakan tubuhnya gemetar. Perasaan itu terus membuatnya tertekan hingga nyaris memutarbalikkan ususnya. Isabella memandangi interior ruangan itu lagi. Melihat-lihat sambil berdendang lirih, berusaha menghilangkan kegugupan, tapi kini ia malah merasa jauh lebih buruk. Kandung kemih ini … Matanya kembali memandangi pintu kamar mandi. Bisakah … ia menggunakan toilet sebentar? Sudah lebih dari lima belas menit, tapi tak ada tanda-tanda kemunculan Tuan Tobias Oliveros, orang yang tadi Daniel sebut-sebut. Isabella mulai gelisah. Kakinya sudah bergeliatan menahan sesak. Akhirnya dengan desahan napas berat, ia berbalik arah menuju toilet. Tak sampai sepuluh menit, Isabella sudah keluar dari kamar kecil. Tidak sempat untuk sekadar mengagumi desain kamar mandi luas itu. Ia buru-buru kembali ke posisinya. Mengedarkan pandangannya lagi, menanti Tuan Tobias dengan perasaan lebih baik. Mungkin Tuan Tobias sedang sibuk. Matanya menangkap segelas teh di atas meja. Hidungnya dapat menghirup aroma yang seketika membuatnya terbang, melemaskan saraf. Lima poin lagi bertambah untuk perusahaan ini. Bahkan untuk penjamuan pegawai alias sekretaris baru saja sudah sebaik ini. Tangan Isabella terulur, mengangkat cangkir beserta tatakan. Ia meniup pelan, merasakan hawa hangat. Lalu dengan tegukan pelan, bibir Isabella menyesap teh itu dengan santai. Tadinya ia merasa seperti di surga, tapi belum habis setengahnya, pegangannya pada cangkir itu terlepas. Jatuh ke lantai dengan bunyi lantang. Tangan Isabella mencengkeram lehernya tanpa sadar. Merasakan perasaan terbakar yang menggerus kerongkongannya. Ia tak bisa bernapas, membuat paru-parunya sakit bagaikan sedang diremas-remas. Merasakan teh itu mengaliri kerongkongannya, membuatnya perih hingga saluran cernanya hingga ke saraf-saraf otaknya. Ia tersedak, tubuhnya kejang-kejang tanpa ia sadari dan ruam kemerahan muncul pada pergelangan tangannya. Detik berikutnya tubuhnya terkulai ke sofa, terbaring tak berdaya seolah nyawanya sedang ditarik ulur. “Tolong ….” Isabella merintih. Ia bahkan tak bisa mendengarkan suaranya sendiri. Ia terbatuk memuntahkan darah saat kembali berusaha meminta tolong. Ketidaksadaran nyaris merenggutnya, tapi ia masih berusaha membuka mata dan menjangkau pintu. Di tengah tingkat kesadaran yang hanya tersisa beberapa persen, Isabella menangkap bayang-bayang orang berdatangan. “Berengsek! Apa yang sudah wanita itu lakukan di sini?” “Tobias, dia keracunan!” “Itu bukan urusanku, Daniel. Kenapa dia bisa di sini sendirian?” “Diamlah dulu! Dia sedang sekarat. Aku akan menelepon dokter.” “Jika dia mau mati maka matilah, tapi dia tidak boleh melakukannya di kantorku. Bawa dia keluar.” Isabella merasa kekuatannya benar-benar menguap. Telinganya masih bisa mendengar percakapan itu dengan samar. Tapi matanya sama sekali tak bisa terbuka. Tubuhnya seperti sedang dihabisi dari dalam. Bukan ini yang ia bayangkan akan terjadi di hari pertamanya bekerja. Lalu ia akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD