Niat Isabella untuk tidak pergi ke rumah sakit karena luka itu terpaksa ia batalkan. Pagi itu, dengan kondisi yang pucat, ia akhirnya berangkat ke klinik terdekat karena tangannya gemetaran hingga nyaris menumpahkan air panas dari ketelnya. Setelah mendapat omelan panjang dari dokter klinik, Isabella senang karena memutuskan mampir. Ternyata lukanya memang separah itu!
“Kau seharusnya sudah pingsan semalam. Saat ini tolong jangan terkena air dulu. Pastikan kau mengganti perbannya dua kali sehari. Perhatikan kegiatanmu agar tidak membuat lukanya terbuka lagi. Kau juga harus banyak mengonsumsi vitamin dan protein. Dan pastikan untuk menghabiskan antibiotiknya.”
Nasihat yang ditinggalkan si dokter klinik masih melekat di ingatan. Isabella ingin sekali bersantai seperti anjuran itu, tapi sekali lagi, ia harus bekerja. Uang simpanannya sudah dipastikan akan habis dalam minggu ini—itu pun dengan penghematan di sana sini.
“Di mana kau?” Suara Sofia dari balik telepon terdengar.
Isabella menarik napas pelan sebelum menjawab, “Lima belas menit lagi aku sampai.”
Diam sesaat. “Kau tidak apa-apa?”
Isabella tidak bisa menahan diri untuk merasa ngeri. Memangnya temannya itu punya mata-mata di kota ini? Kenapa dia seolah tahu segala hal tentang Isabella?
“Aku lapar,” jawabnya jenaka.
Sofia mendengkus. “Cepatlah datang. Nanti kutraktir.”
“Wah, serius?”
“Tidak jadi kalau kau terlambat.”
“Sialan.”
Isabella tertawa. Tak lama itu telepon terputus. Dengan langkah perlahan Isabella menuju tempat yang mereka sepakati.
“Gosh! You look f****d up. Sudah kuduga kau terlalu mabuk semalam!” Sofia kembali mengomelinya saat ia tiba di butik.
Hari ini Sofia meminta Isabella menemaninya untuk memilih gaun pengantin. Untung saja kondisinya masih bisa diatasi.
“Tidak seburuk itu,” kilah Isabella. Menolak memberitahu karena Sofia pasti akan menggila jika tahu semalam ia bukan hanya mabuk, tapi ditusuk preman jalanan.
“Aku serius. Kau benar-benar pucat. Kita seharusnya makan dulu tadi.”
“Tidak apa-apa. Kita bisa makan setelah ini.” Isabella memandangi bagian dalam butik itu. Memamerkan gaun-gaun indah yang digantung ataupun dikenakan oleh beberapa manekin. “Kau serius tidak mengajak Antonio?”
Sofia menggeleng. “Dia harus membereskan tumpukan pekerjaannya sebelum cuti nanti.”
Isabella mengangguk. Seorang pramuniaga menghampiri mereka, memberikan beberapa katalog. Isabella mengambil benda itu, sementara Sofia berkeliling memeriksa gaun-gaun itu secara langsung. Karena Isabella tidak ingin membuat lukanya berdenyut lagi, ia memilih duduk tenang di sofa.
“Hei! Ini, bagaimana?” Sofia menunjuk gaun yang tersemat di patung di samping gadis itu. Gaun itu memiliki belahan d**a rendah, bagian punggung terbuka, dan bagian depan yang terbelah hingga setengah paha. Kain yang jatuh di bahunya tampak cantik, begitu pun dengan bagian pinggang yang mengetat.
Isabella menekuninya sesaat. “Cantik,” hening sebentar, “terlalu seksi,” susulnya kemudian.
Sofia merengut. “Pengantin wanita itu memang harus seksi!”
“Coba katakan itu pada Antonio. Kalau memang dia tidak menarik telingamu.”
Sofia mencebik. “Kalian ini sama saja.”
Isabella mendesis, tapi tidak mendebat lagi. Ia membuka halaman demi halaman katalog. Matanya terpatri pada gambar-gambar gaun itu. Ah, kapan ia akan pakai gaun pengantin juga? Ini pemikiran yang aneh, karena ia bahkan tidak punya kekasih. Jadi memikirkan pernikahan terdengar agak konyol. Namun, membantu Sofia menyiapkan pernikahan membuatnya ikut-ikutan membayangkan pernikahan impiannya.
Bagaimanapun, ternyata perempuan memang makhluk yang kelewat emosional.
Bayangan Isabella sontak terlempar pada khayalan semu, kala ia mengenakan gaun putih panjang cantik berbawahan mekar dengan brokat-brokat indah. Bagian atas dadanya melebar terbuka, bertepian renda hingga mencapai pangkal bahu, memamerkan tulang selangkanya. Lengan gaun itu membalut tangannya hingga ke siku. Bagian atasnya mengetat, meramping di pinggang.
Di pinggang itu, tangan besar yang hangat merangkulnya lembut. Kemudian laki-laki itu merapatkan dirinya pada Isabella. Membisikkan entah apa, lalu mencium sudut bibirnya dengan pelan dan manis. Cincin mengilat melingkari jari manis mereka. Kemudian keduanya menoleh saat mendengar seruan seseorang.
“Isabella!”
Sofia mengguncang lengannya, merusak segala khayalan yang lebih terasa seperti memori.
“Apa, sih?” balas Isabella agak kesal.
“Aku akan coba yang itu.” Sofia menunjuk gaun yang kini tengah dipegang oleh pramuniaga. “Tunggu sebentar, ya. Dan … kau melamun lagi. Mau aku pesankan sesuatu?”
Isabella menggeleng. “Nanti saja.”
Setelah mengangguk akhirnya Sofia menghilang di balik kamar pas. Isabella mengembuskan napas keras. Kepalanya tiba-tiba sakit. Sepertinya ia memang agak kelaparan. Ia sudah cukup hebat dengan efek hangover yang telah hilang mengingat seberapa banyak ia menenggak alkohol semalam.
Sofia bersalin hingga lima kali sebelum akhirnya menetapkan keputusannya. Isabella sendiri sudah agak waswas mereka akan diusir karena dianggap bermain-main. Sofia keluar dengan perasaan lega sambil menenteng kantong kertas berukuran besar.
“Ya ampun. Aku lapar,” keluh Sofia selagi ia menarik Isabella memasuki resto terdekat.
Beberapa saat kemudian mereka telah menghabiskan sarapan yang terlambat sekaligus makan siang yang lezat, mulai membereskan barang-barang dan bersiap pergi. Isabella sedang sibuk mengorek koin di dompet saat ponselnya berdenting. Setelah menyerahkan uangnya pada Sofia yang sedang membayar pesanan, ia membuka ponsel. Kesal karena sentuhan di layarnya tidak membuat benda itu bekerja dengan seharusnya.
Ayolah, kau tidak boleh rusak sebelum aku jadi kaya raya!
Dengan kesulitan berlebih, Isabella menekan ikon pesan. Ia menyipitkan mata. Membenarkan letak kacamatanya sembari membaca baris demi baris. Langkahnya otomatis terhenti. Membuat Sofia yang tadi menyeretnya keluar dari resto ikut berhenti.
“WOAAHH!” teriak Isabella nyaring. Mengagetkan para pejalan kaki.
Sofia sendiri ikut terlonjak. “Ada apa, sih? Kau gila?!!”
“Panggilan,” gumam Isabella seolah sedang melafalkan mantra. “Aku dapat panggilan!” serunya kemudian.
“Hah? Panggilan apanya?” Sofia ikutan heboh.
“Panggilan wawancara!”
Setelahnya Isabella sibuk meloncat-loncat kesenangan. Yang seketika langsung berhenti tatkala gerakan itu malah menyakiti perutnya.
“Di mana?”
Isabella berhenti. Membaca baris demi baris dalam pesannya sambil menahan nyeri.
“Olympus Corporation. Mereka memintaku datang untuk wawancara besok lusa.”
***
Isabella tak percaya bahwa ia akan berada di tempat ini. Ia merapikan penampilannya. Memastikan tak ada yang salah dengan kemeja krem polos dan celana kain biru dongkernya—setelan yang Sofia paksakan untuk dikenakan dalam wawancaranya pagi ini. Ia menekan tombol angka dua puluh pada lift. Jantungnya berdebar hebat. Ia begitu senang hingga merasa ingin menangis. Karena lensa kontaknya hilang, ia terpaksa mengenakan kaca mata, berharap tampilannya terlihat cerdas dan bukannya seperti wanita udik.
Ting!
Ia kira akan diwawancara di ruang pimpinan SDM, tapi staf mengatakan ia harus menuju ke lantai ruangan presdir. Pintu lift terbuka. Isabella berjalan keluar, melewati koridor yang berujung pada ruangan terbuka dengan seperangkat meja dan peralatan elektronik kantor, khas wilayah sekretaris—yang merangkap resepsionis pribadi. Seolah menjadi penjaga pintu besar di sebelahnya. Ruangan milik CEO Olympus Corporation.
Gila. Ini adalah langkah yang sangat ekstrem. Isabella bahkan nyaris demam sejak semalam. Seharusnya ia mengawali karir dari perusahaan kecil saja, bukan yang maha besar seperti Olympus. Kalau dihadapkan pada Olympus, menjadi budaknya pun sepertinya tidak apa-apa. Sepertinya ia memang sedang mabuk saat mengirimkan lamaran ke sini.
“Nona Isabella Claire?”
Seorang pria tinggi tersenyum saat Isabella berjalan mendekat.
“Ya?”
“Mari, silakan duduk. Saya sudah menunggu Anda.”
Isabella duduk di hadapan pria itu. Sebuah meja kayu yang kokoh berada di antara mereka.
“Saya Daniel Calvino. Sayalah yang akan mewawancarai Anda hari ini.”
Pria itu tersenyum ramah pada Isabella. Membuat kerisauan Isabella mulai memudar.
“Baik.” Isabella mencoba tersenyum.
Daniel mulai membuka berkas milik Isabella yang telah siap di meja. Membaca berkasnya dengan teliti.
“Jadi, kau lulusan dari fakultas ekonomi Universitas Pisa?”
“Benar.”
“Kulihat prestasimu dalam bidang pendidikan cukup bagus. Ada beberapa sertifikat riwayat keanggotaan lain juga yang patut diapresiasi. Seharusnya kau tidak terlalu kesulitan saat sudah mulai bekerja.”
“Aku tidak akan mengecewakan.” Isabella tersenyum dan ia begitu senang saat Daniel juga turut tersenyum padanya.
“Aku akan menilai hal itu nanti. Apakah sebelumnya kau pernah bekerja?”
Isabella terdiam beberapa saat. Dengan keraguan yang berusaha ditelannya, ia menjawab, “Aku belum pernah bekerja sebelumnya. Ini adalah pekerjaan pertamaku setelah lulus.”
“Oh? Kenapa begitu?” Daniel mengerutkan alis. Ia menatap Isabella curiga. Isabella merasa Daniel pasti bisa membaca ekspresinya dalam sekali lihat.
“Sesuatu tiba-tiba terjadi. Dan ada hal-hal yang harus kubereskan selama beberapa tahun ini, sehingga aku harus sedikit menunda karirku.” Isabella menjawab dengan pembawaan yang diusahakan terlihat meyakinkan.
“Hmm.” Pria itu menimbang-nimbang dalam diam. Mendalami lebih jauh berkas-berkas Isabella.
“Aku yakin aku tidak akan kalah hanya karena aku belum pernah bekerja. Aku adalah orang yang cepat belajar dan mengingat dengan baik. Kau bisa mengujiku untuk membuktikan. Kemampuan analisisku juga kritis, sertifikat di sana adalah sedikit bukti untukku. Kita bisa menguji hal lain juga jika kau bersedia.” Isabella akhirnya mengucapkan pembelaan terakhirnya. Menatap Daniel dengan keteguhan hati.
Daniel mengangguk. “Yah, tapi untuk bekerja dengan dia kau tidak hanya membutuhkan kemampuan,” balasnya pelan seolah tengah bicara sendiri.
Daniel lalu membuka berkas ke halaman selanjutnya. Menatap Isabella tepat di manik mata. Membuat Isabella tidak nyaman. Setelahnya, barulah pria itu mulai bertanya tentang pertanyaan layaknya dalam proses rekrutmen, termasuk apa saja yang terkait dengan pekerjaannya nanti. Menanyakan pendapat Isabella tentang bagaimana ia akan mengambil keputusan, serta berbagai poin lain yang diperlukan dalam penilaian.
***
“Terima kasih atas waktumu, Nona Claire. Besok kau akan mulai bekerja, kebetulan hari ini dia juga sedang libur. Jadi, kuharap kau bisa mempersiapkan dirimu sebagai sekretaris Tuan Oliveros.” Daniel menjabat tangan Isabella sambil tersenyum. Tepat setelah gadis itu selesai menandatangani kontrak.
“Sekretaris?” Isabella bingung bukan main. Ia masih geram karena merasa tidak maksimal dalam wawancara tadi, sehingga kepalanya berpikir dengan lebih lambat.
“Benar. Dan, aku tadi lupa memberitahumu. Tidak lama lagi gaji untuk bulan pertamamu akan dikirimkan. Silakan diperiksa dan laporkan jika terdapat kesalahan nominal.”
Daniel bangkit dari duduk, membuat Isabella turut berdiri meski dengan wajah bingung.
“Gaji?” Ia membeo dengan bodoh.
Daniel mengangguk. “Ya, pembayaran pertama akan dibayar di muka, tapi kusarankan sebaiknya jangan kabur walau sudah menerimanya. Kau akan kerepotan saat nanti berurusan dengan divisi keuangan kantor. Percayalah padaku, itu bisa berakhir dengan sangat buruk.”
Isabella tidak perlu peringatan lebih lanjut untuk mematuhi anjuran itu. Ia juga tidak berniat untuk kabur. Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa pembalasan yang akan diberikan Olympus jika ia berkhianat. Bisa saja besok ia hanya akan tinggal nama.
“Terima kasih, Tuan Calvino. Aku akan bekerja keras.”
Daniel mempersilakannya pergi. Baru saja berbalik, ia memutar tubuhnya lagi. Menghadap Daniel dengan panik.
“Maaf, Tuan Calvino. Anda tadi mengatakan kalau posisiku adalah … sekretaris?”
Isabella memutuskan bertanya karena selama wawancara tadi, Daniel tak pernah mengatakan jika akan menempatkannya sebagai sekretaris. Interviu berjalan seolah ia akan ditempatkan menjadi pegawai biasa, sesuai surat lamaran yang ia ajukan.
“Benar. Sekretaris. Tepatnya adalah sekretaris Tuan Oliveros.”
Kali ini Isabella benar-benar kebingungan. Tak tahu apakah harus senang atau malah cemas. “Kupikir aku akan menjadi karyawan biasa. Dan … aku tidak melamar sebagai sekretaris.” Isabella tak tahu bagaimana harus menjelaskan karena ia memang benar-benar kebingungan. Mendengar interupsinya, Daniel hanya tertawa ringan.
“Tidak, Isabella. Kau akan bekerja sebagai sekretaris mulai besok.” Daniel menatapnya tenang dan tajam. “Atau apakah aku harus membatalkannya karena kau keberatan?”
Isabella tersentak dan segera menggeleng, mengibaskan tangannya gelisah.
“Tidak, tentu tidak. Terima kasih. Saya akan bersiap sebaik mungkin. Selamat siang, Tuan Calvino.”
Isabella akhirnya mohon diri. Meninggalkan tempat itu dengan perasaan mengambang. Instingnya merasa ini tidak benar. Ada yang salah. Tunggu, apa dia baru saja menceburkan dirinya ke dalam masalah? Ini Olympus Corporation yang sedang kita bicarakan.
Isabella menggeleng keras. Tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang. Yang terpenting adalah ia sudah mendapatkan pekerjaan.
Ponsel Isabella berdenting saat ia sudah sampai di trotoar. Gadis itu membetulkan letak kacamatanya sebelum membaca pesan.
“ASTAGA!”
Ia menjauhkan layar ponsel seolah tengah melihat hantu.
Pemberitahuan dari pihak bank.
[Sebesar €5.000 telah ditransfer ke rekening Anda.]
[Pengirim: Departemen Keuangan Olympus Corporation.]