Bab 1 Pria Asing di Tengah Malam

1932 Words
“Jangan mampir ke mana-mana dan langsung pulang!” ujar Sofia kejam sambil mencengkeram lengan Isabella erat. Wanita itu hanya berkata dengan suaranya yang biasa, tapi Isabella merasa sedang diteriaki dengan pengeras suara. Ia mengernyit sambil menjauhkan wajah. “Aku tahu! Tidak perlu meneriakiku.” Isabella berusaha menarik diri. “Kau mabuk, Bell! Kau yakin tidak ingin aku antar?” Isabella menggeleng. “Tidak apa-apa. Itu, calon suamimu sudah keluar. Kau pulanglah. Aku bosan melihatmu seharian ini.” “Tapi—” “Sshh! Tidak boleh membantah. Aku duluan, ya!” Isabella melambai pada Sofia dan Antonio yang hanya memandanginya cemas sebelum berjalan ke arah berlawanan. Di tempat lain, Isabella menyusuri jalanan gelap Roma. Sebenarnya, ia sama sekali tidak mabuk. Toleransinya pada alkohol benar-benar tinggi hingga Isabella sendiri lupa kapan terakhir kali ia pingsan karena alkohol. Hari ini pun, setelah Sofia memberikan kabar baik bahwa ia dan Antonio akan menikah, mereka akhirnya memutuskan berpesta. Namun tak peduli sudah berapa gelas ia tenggak, ia masih sangat sadar. Ia hanya pura-pura mabuk agar mereka bisa segera pulang—Isabella tahu bahwa Sofia tidak akan mengajak pulang lebih dulu karena tidak enak hati padanya. “Ah, aku ingin pulang!” rengek Isabella entah pada siapa. Isabella duduk di bangku tepi jalan. Meski tak mabuk, tapi kepalanya sakit. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, berisi tawaran peminjaman uang dari seseorang yang tidak jelas. Ia menggulir layar, terpaksa kembali membaca pesan dari perusahaan yang masuk tadi siang. Ia sudah mendapat pesan serupa entah berapa kali, tapi rasanya tetap saja menyakitkan. Lamaran kerjanya lagi-lagi ditolak. Sudah berapa kali sekarang? Dua puluh? Atau tiga puluh? “Memangnya mereka tidak tahu kalau aku ini pegawai yang sangat potensial?” racau Isabella seorang diri. “Ya Tuhan, aku benar-benar harus bekerja. Apa pun itu.” Isabella mengusap sudut mata kirinya yang berair. Tanpa sadar malah sudah menguceknya hingga lensa kontaknya terlepas. Ia sibuk menahan benda itu dengan tangannya agar tidak jatuh, tapi pergerakan selanjutnya malah membuat benda itu berakhir ke tanah. “God! Seriously! Apa menangis pun aku tidak boleh?” erang Isabella putus asa. Angin malam membuat Isabella refleks merapatkan jaket. Ia baru menyadari kalau saat ini benar-benar sudah sepi. Ah, jika ia kaya nanti ia akan membeli rumah di kawasan yang lebih baik. Kawasan apartemennya benar-benar mengerikan. Jalan menuju tempat itu saja sudah menyeramkan jika harus dilewati di malam hari. Belum lagi fasilitasnya. Ia benar-benar ingin pindah segera, tapi keuangannya benar-benar menyedihkan hingga membuatnya ingin menangis lagi. “Aku harus bekerja dulu baru memikirkan rumah baru.” Isabella menepuk keras kedua pipinya. “Baiklah, Isabella! Mari kita pulang, lalu tidur agar besok bisa bekerja lebih keras!” Isabella baru saja bangkit saat tiba-tiba mendengar bunyi letusan. Matanya sontak memperhatikan sekeliling. Apa itu tadi? Petasan? Atau … tembakan? “Halo …?” tanyanya sambil memperhatikan sekeliling. Terlalu sepi dan … gelap. Ia melanjutkan langkah dengan agak tergesa. Apartemennya masih beberapa puluh meter di depan. Gadis itu baru berbelok saat bunyi letusan kedua terdengar lebih keras. Kakinya membatu. Kepalanya memproses dengan lambat. Sial! Itu benar-benar bukan petasan. Itu suara tembakan! Isabella mempercepat langkah. Bertemu dengan orang—atau sekelompok orang—yang bermain dengan senapan di tengah malam jelas bukan pilihan yang bagus. Isabella masih berlari saat tiba-tiba dari belokan di ujung jalan terdengar gemuruh langkah kaki disusul siluet manusia yang semakin mendekat. Sial! Isabella berbelok tajam dan memasuki lorong buntu terdekat. Jantungnya berdebar keras. Ya Tuhan, ia hanya ingin pulang. Tolong biarkan ia lewat. “Berhenti kau, berengsek!” maki seseorang. Isabella menegang dengan tubuh merapat ke dinding bangunan tua. Gerombolan itu sudah melewati lorongnya. Jika beruntung mungkin ia bisa berlari menuju rumahnya dan meninggalkan tempat itu tanpa perlu bertatap muka. “Tidak, jangan …. Sungguh. Tolong ampuni aku sekali ini saja,” mohon seorang pria lain dengan suara bergetar. “Berani sekali kau memohon ampun setelah apa yang kau lakukan.” Suara lain yang jauh lebih dingin kini menjawab. Tanpa perlu melihat wujud orang itu, Isabella sudah merinding hingga ke jiwa. “Tidak …. Aku bersalah …. Tidak akan lagi …,” mohon orang itu putus asa bagaikan tikus yang sudah terkepung. Setelahnya hanya ada keheningan. Isabella tahu ini bukanlah pertanda bagus, tapi tubuhnya malah bergerak perlahan untuk sekadar mencuri lihat. Hal yang bisa dilihatnya dengan sebelah mata yang rabun hanyalah pria berpakaian serba hitam yang berdiri di belakang seorang pria tinggi. Isabella tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia cukup yakin kalau tubuh pria itu benar-benar proporsional. Tampilan sempurna untuk menghabisi lawan sekaligus model majalah mingguan dengan setelan jas paling mewah dan apik. Pria itu mengenakan long coat hitam yang hanya disampirkan ke bahunya. Isabella menyipit untuk bisa melihat lebih jelas. Tanpa sadar mengucek matanya karena tidak puas. Malang baginya karena kini lensa kontak yang dikenakannya malah terlepas dan mencuat keluar. Jatuh sudah keduanya! Bisakah ia lebih sial lagi?! Dasar tangan tidak berguna! “Sialan!” Ia refleks memaki. Tanpa benda itu kini pandangannya benar-benar buram. Miopi sialan ini benar-benar merepotkan! “Aku tanya sekali lagi. Siapa orangnya?” Suara dingin itu kembali terdengar. Isabella mendongak, tapi tidak bisa melihat jelas kecuali gambaran pendaran lampu jalan dan pemandangan buram lain. Tangannya berusaha meraba sekeliling. “AAAGGHHH!” Teriakan seseorang mengalihkan perhatian Isabella. Suara yang sama dengan pria yang terpojok tadi. “Jangan buat aku mengambil bagian tubuhmu yang lain,” ancam suara menakutkan itu lagi. Isabella bergetar. Ya Tuhan, orang-orang ini berbahaya. Ia benar-benar sedang menyiksa orang itu entah karena apa. Ia mundur seolah sekelompok orang itu kini ada di depannya. Yang malah membuatnya menabrak tong sampah di belakangnya dengan bunyi sangat nyaring. Detik berikutnya hening, tapi Isabella tahu benar bahwa kini hidupnya benar-benar sedang genting. Tanpa berpikir dua kali, Isabella berlari berbalik arah meninggalkan tempat itu. Napasnya memburu selagi ia berusaha keras memetakan arah dengan pandangan yang kacau. Di mana belokan rumahnya? Ia tidak bisa mengenali tempat ini! DOR! Bunyi tembakan lain menghentikan pergerakan Isabella. Tangannya refleks melindungi kepala dan telinga. Ia baru berlari beberapa meter saat tiba-tiba tubuhnya dihantam dari belakang hingga jatuh berlutut. Sebuah tangan yang dingin membekap mulutnya. Ia bahkan bisa merasakan ujung sebilah pisau kini menekan sisi perutnya. “Jangan berteriak, maka aku akan menghargai organmu dengan tidak mengoreknya keluar.” Suara dingin dan tenang yang tadi hanya didengarnya dari jauh kini berkumandang tepat di telinganya. Disusul oleh embusan angin yang kini menggelitiki leher. Membuat Isabella panas dingin dan merasa ingin meluruh ke tanah. “Apa yang sudah kau lihat?” todong pria itu lagi, sambil terengah karena telah berlari. “Aku … aku tidak bisa melihat apa pun dengan jelas …,” jawab Isabella bergegas. Ia tidak berbohong karena penglihatannya memang buram! “Ah, begitu?” Suara berat itu kini menjawab dengan nada mengejek. Gadis itu bisa merasakan senyuman samar dari bibir pria itu. Benda yang dingin kini semakin menekan kulit Isabella. “Tidak! Sungguh! Aku … aku tidak tahu dan tidak ingin tahu apa pun yang kalian lakukan. Aku juga tidak sempat melihat apa pun kecuali gerombolan sembilan orang yang mengelilingi satu orang.” Isabella bergetar lagi. Putus asa karena dianggap berbohong, ia lalu menyebutkan detail lain yang sempat ia tangkap. Menyesal karena pria ini jelas tidak akan mengampuninya setelah mendengar itu. Senyum puas di bibir pria itu tercetak jelas. “Hasil pengamatanmu cukup bagus untuk ukuran seseorang yang tidak bisa melihat dengan jelas,” sarkasnya menohok. “Kita bisa melihat apakah kau berbohong atau—” “Tidak!” potong Isabella dengan cepat dan bergetar. “Aku tidak bohong! Aku sungguh tidak ingin tahu. Pandanganku tidak bagus, lensa kontakku hilang! Aku bahkan tidak yakin dengan jumlah orang yang ada. Aku akan pergi. Kau boleh melanjutkan urusan apa pun itu. Tolong, izinkan aku pergi. Aku tidak akan mengatakan apa pun soal malam ini pada siapa pun.” Orang di belakang Isabella bergeming. Isabella menunggu dengan jantung yang rasanya sudah gugur ke tanah karena ketakutan. “Siapa yang bilang aku ingin dengar penjelasanmu?” Dunia Isabella langsung hening. Punggungnya berkeringat dingin. Nada tidak suka itu membuat Isabella patah harapan. Seperti kata orang, dalam situasi terdesak biasanya manusia akan mengerahkan kekuatan tidak terduga. Kondisi yang sama untuk Isabella, karena kini ia sepertinya sedang kerasukan karena berani menepis tangan orang itu agar bisa berkelit. Karena tidak menduga perlawanan dari gadis lemah yang terpojok, pria itu melepaskannya. Tidak lama, sebab bahu Isabella sudah tertangkap lagi. Keduanya terlibat pergulatan yang keras. Karena tidak bisa melihat dengan benar, Isabella tidak bisa membidik pukulannya dengan tepat. Ia hanya bisa menjangkau perut kiri dan dagunya. Punggungnya sendiri sakit karena dibanting ke tanah dengan keras. Tak ingin mengalah, ia menarik tangan pria itu kemudian menjatuhkan beban tubuhnya pada orang itu. Menduduki perutnya sambil berusaha mencengkeram lehernya. Semua orang di belakang mereka tampak tegang sejenak lalu bergerak berniat menangkap Isabella, tapi isyarat singkat dari jari pria itu menghentikan segalanya. Tangan dengan ruas jari yang panjang itu kini mendarat di pinggang Isabella, dengan pisau yang masih menghunus. Isabella mengembuskan napas yang memburu sejak tadi. “Tolong. Mari jangan pernah bertemu lagi setelah ini. Sungguh, aku tidak melihat apa pun dengan jelas,” ujar Isabella dengan lebih tenang. Ia berusaha menatap tajam orang di bawahnya, tetapi yang ia lihat hanyalah sebuah wajah yang buram. Tadinya ia hanya berniat untuk menekan agar pria itu tidak bangkit, tetapi kukunya menancap lebih kuat dari yang ia maksudkan hingga membuat leher putih itu berdarah. Gadis itu sama sekali tidak tahu bahwa pria itu menatapnya dengan tatapan seolah melihat setan. Bahwa setiap embusan napasnya pada wajah pria itu membuat orang itu meremang. Pandangan tajam itu berusaha menguliti Isabella dengan lekat. Isabella baru saja berniat tersenyum saat tiba-tiba rasa perih merayapi perutnya. Disusul oleh bunyi sepotong daging yang baru saja dihunjam pisau. “Baiklah, tapi setidaknya aku harus memastikan janjimu dengan memberimu sedikit hadiah,” ujar suara dingin itu lagi saat tidak bisa memperoleh apa pun dari pengamatannya pada wajah Isabella. Gadis itu mengerang sambil memegangi perutnya. Saat itu juga pria itu membalik posisinya. Ia hampir saja ditindih kembali jika saja terlambat beberapa detik. Sambil memegangi perutnya, ia merangkak menjauh. Isabella masih setengah sadar saat tangannya langsung meraup tanah. Melemparkannya pada orang itu, berharap bisa membuatnya buta. “Agh!” Tangannya mencabut pisau itu dari perutnya lalu dengan pertimbangan asal ia melemparnya sekuat tenaga pada sosok kabur di depannya. Detik berikutnya ia berlari sekuat-kuatnya. Suara riuh di belakangnya terdengar bersahutan. Beberapa langkah kaki menyusulnya, tapi Isabella lebih dulu melesat dan menyelipkan diri di lorong terkecil yang bisa ia perkirakan. Ia menyipitkan matanya lagi, berusaha melihat sekeliling. Setidaknya ia sudah hafal seluk beluk daerah ini. Ia nyaris berteriak senang saat pintu rumahnya terlihat di depan mata. Di belakang, suara beberapa orang masih terdengar. Derap langkah masih bersahutan. “TANGKAP DIA APA PUN YANG TERJADI!” Suara gahar lain terdengar keras. Isabella melangkah gemetar menuju pintu. Benda yang biasanya tidak bisa dibuka dengan sekali percobaan itu kini terbuka tanpa perlu ia maki dan gedor terlebih dahulu. Tubuhnya meluruh ke lantai rumahnya. Dengan tangan gemetar ia mengunci pintu. Ah, sebaiknya ia mengingatkan Nyonya Satta lagi untuk memperbaiki pintu ini. Jika begini tidak akan membutuhkan banyak usaha untuk menjebol rumahnya. Apalagi oleh sekelompok bandit tadi. “Ah, sakit!” erang Isabella saat ia melangkah. Isabella menyalakan lampu kamar dan mulai membersihkan diri. Ia harus mengobati lukanya sebelum berakhir infeksi. Dasar preman sialan. Kalau mau mengerjai orang, atau mungkin membunuh musuhnya, tidak perlu mengikutsertakan dirinya. Ia punya segudang urusan lain yang harus diurus. Isabella meraih kacamatanya di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian mengambil kotak pertolongan pertama. Ia mandi dengan cepat lalu mengobati diri. Syukurlah ternyata lukanya tidak separah yang ia bayangkan. Ah, padahal ia harus mencari pekerjaan lagi besok. Hari ini benar-benar sial.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD