Satu minggu kemudian.
"Dokter prisil, maaf saya terlambat tadi ada sedikit masalah di jalan" ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk kedalam ruang praktek prisil.
"Tidak masalah nyonya saya juga sebenarnya baru datang, silahkan duduk" ucap prisil yang dibalas dengan anggukan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Apakah ada yang bisa saya bantu nyonya? Sepertinya ini masalah serius sampai sampai membuat anda harus menemui saya secara pribadi" ucap prisil
"Sebenarnya saya juga bingung harus menceritakan ini darimana tapi yang jelas saya ingin anak saya kembali seperti dulu" ucap wanita paruh baya tersebut sambil menatap prisil dengan sendu
"Sepertinya lebih baik kita duduk di sofa saja agar lebih santai, mari nyonya" ajak prisil yang sadar akan situasi.
"Silahkan nyonya anda bisa bercerita kepada saya jika anda bingung, anda bisa memulainya dari hal yang kecil terlebih dulu dan menurut anda mudah untuk diceritakan" lanjut prisil ketika mereka sudah duduk berhadapan di sofa yang ada
"Jadi ini berawal dari pernikahan anak saya dengan mantan istrinya..." dan mengalirlah cerita tentang anak dari wanita paruh baya yang saat ini sedang menangis di hadapannya,
padahal jika dilihat dari wajah dan penampilannya dia adalah wanita keras dengan segala kemauannya, dan seperti yang sudah-sudah mother will be mother sekeras apapun sifat mereka jika menyangkut anaknya mereka akan luluh juga. Pikir prisil
"Mendengar dari cerita anda sepertinya anak anda masih belum bisa melupakan masa lalunya dan itu membuatnya trauma dan enggan untuk menjalin sebuah hubungan dalam ilmu psikologis trauma ini biasa disebut Philophobia "Philo" artinya cinta dan "phobia" artinya ketakutan.
Philophobia adalah satu penyakit mental dalam diri seseorang yang takut untuk jatuh cinta dan dicintai. Mereka sama seperti kita pernah jatuh cinta bahkan pernah merasakan cinta, tetapi bedanya mereka akan menghindari apapun yang beralasan tentang cinta. Sebenarnya mereka pun ingin merasakan cinta, tetapi rasa takut yang berlebihan akan cinta membuat mereka sulit membangun sebuah hubungan." Jelas Prisil
"Lalu apa yang harus saya lakukan dok? Saya sakit melihat dia seperti itu" tanya wanita paruh baya itu
"Pertama anda bisa memberi anak anda pengertian bahwa tidak semua wanita itu sama, kedua berikan pengertian bahwa masa lalu ada tidak untuk ditakuti melainkan sebagai sebuah pembelajaran, Ketiga yakinkan anak anda bahwa cinta tidaklah seburuk itu cinta adalah sebuah kebahagiaan, dan yang terakhir anda bisa memancing anak anda agar lebih terbuka karena faktanya bercerita tentang isi hati kita kepada seseorang yang kita percaya bisa membuat beban ditanggung sedikit berkurang."
"Tidak perlu terburu-buru untuk melakukannya anda bisa melakukannya secara perlahan dan bertahap dengan diselingi candaan" lanjut prisil dengan senyuman hangatnya yang menenangkan.
"Saya akan mencobanya terima kasih dok, benar apa kata anda bercerita membuat hati menjadi sedikit lebih ringan" ucap wanita paruh baya itu dengan senyumannya
" tidak masalah nyonya itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter"
"Baiklah sepertinya saya harus pamit, senang bertemu dengan anda dokter Prisil terima kasih" ucap wanita paruh baya itu sambil berdiri dan memeluk prisil
"Sama-sama nyonya, senang bertemu anda juga" balas prisil
°°°°
"Dokter Prisil pasien gangguan jiwa nomor 016 kamar 7 atas nama Paraswati dia melarikan diri lagi" ucap salah satu suster yang sedang bertugas
"Sekarang tanggal berapa?" Tanya prisil
"Yah? Oh uhm... tanggal 15 dokter" jawab suster itu dengan bingung
"Tanggal 15 jam 9 pagi" gumam prisil "tolong cek kamarnya lagi tepat pukul 12 siang, tapi sebelum itu tolong datang keruangan saya untuk mengambil buket bunga mawar dan bubur ayam yang sudah saya pesankan katakan permintaan maaf saya tidak bisa datang karena ada urusan mendadak" lanjut prisil drngan menatap suster tersebut
"Baik dokter"
"Baiklah silahkan pergi jika tidak ada yang ditanyakan lagi karena saya harus pergi rapat dewan sebentar lagi"
"Kalau begitu permisi dok" jawab suster tersebut lalu pergi meninggalkan ruangan prisil
Prisil PoV
Akhirnya aku keluar dari lingkaran macan yang membosankan. Heran bagaimana bisa mereka yang sedarah bisa saling sindir dengan kata-kata yang mungkin anak 18 plus plus saja tidak boleh dengar.
"Gimana dokter prisil rapatnya?" Tanya stella yang tiba-tiba datang, stella tepatnya Stella Putri Anggraeni first friend ketika aku awal kerja. Dia disini bekerja sebagai Dokter spesialis bedah.
"Ini bukan rapat, tapi perang bagaimana bisa mereka yang sedarah saling menjatuhkan hanya karena kekuasaan yang sewaktu-waktu bisa saja diambil oleh tuhan, ck heran saya" jawabku dengan koso kata sedikit formal karena masih di wilayah rumah sakit
"Buktinya bisa, tadi contohnya hahahah" jawab stella sambil ketawa nggak jelas, memang gila dia
"Jangan tertawa tidak ada yang lucu disini"
"Sans ae dong mbak ngegas mulu"
"Bahasa anda dokter stella ini masih wilayah rumah sakit" ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba berdiri di samping stella, dia Abraham Darmawansyah bisa dikatakan dia adalah satu-satunya anak keturunan Darmawansyah yang lurus, karena pribadinya yang cuek dan tidak mengatas namakan uang adalah segalanya.
"Uppssss...maaf dokter Abra saya lupa" sesal stella dengan cengiran bodohnya.
"Sebentar lagi jam istirahat makan siang apa kalian berdua ingin ikut makan bersamaku diluar?" Tanya dokter Abra
"maaf, mungkin lain kali saja. saya masih ada urusan diluar" jawabku yang dibalas tampang beratanya ala stella
"Cek tanggalan" suruhku lalu pergi meninggalkan mereka berdua menuju parkiran.
°°°°°
"Alex aku menyesal maafkan aku" ucap seorang wanita yang berdiri dihadapan Alex sambil berusaha meraih tangannya
"Sudah terlambat aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu"
"Aku mencintaimu alex percayalah, aku tau kamu masih mencintaiku juga kan?"
"Percaya diri sekali kamu? Aku sudah melupakanmu pergilah jangan ganggu hidupku dan anakku"
"Tidak, ingatlah dia adalah anakku juga"
"Dia bukan anakmu dia adalah anakku
A nak ku, kau bahkan tidak tau namanya dan apa kesukaannya, pergilah selagi aku mengusirmu secara halus caelin"
Pertengkaran antara dua manusia yang berbeda jenis itu tanpa sengaja membangunkan tidur nyaman Prisil di bawah salah satu pohon rindang yang berada di pojok taman yang selalu dia datangi setiap minggu.
Prisil mengedarkan seluruh pandangannya ke segala sudut taman, mencari asal suara pertengkaran yang mengganggu tidurnya, dan...ketemu
"Bukannya itu Alexander Edzardo, Ayah shawn? Sedang apa dia disini. bertengkar dengan perempuan? Siapa dia?" Tanya prisil pada dirinya sendiri. Karena penasaran akhirnya dia mendekati kedua manusia berbeda jenis itu.
Sementara dilain tempat kedua manusia berbeda jenis itu masih tetap saling adu mulut.
"Pergi Caelin aku sudah tidak mencintaimu lagi, kau hanyalah sampah di kehidupanku" ucap Alex sarkas
"Baiklah, tapi sebelum itu buktikan padaku bahwa kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi"
"Aku akan membuktikannya sebentar lagi calon istriku datang" balas Alex setelah melihat Prisil yang berjalan kearah mereka dengan wajah yang terlihat ragu bercampur dengan penasaran membuatnya terlihat imut bagi Alex saja tentunya
'Tidak-tidak apa yang aku pikirkan tidak mungkin aku jatuh kedalam pesonanyakan?' Batin alex
"Ada apa ini?" Tanya prisil dengan tampang bingungnya ketika sampai di tengah-tengah kedua orang yang mengganggu tidurnya
Grep
"Perkenalkan Priscilia Rahdiansyah calon istri sekaligus ibu dari anak-anakku"
Bersambung....