Kesal

1258 Words
Telah terhitung 20 menit keheningan menyelimuti isi mobil yang melaju sedang. Kaylana saat ini bersama Karel dan Beno diperjalanan menuju lokasi meeting bersama klien. Berbicara tentang Beno adalah asisten pribadi Karel, dia adalah pria yang pernah bertemu dengan Kaylana saat hari pertama pertemuan pembahasan kontrak kerja bersama Karel dan Adward. Saat itu, Beno dengan ramah membukakan ia pintu ruangan. Namun selama Kaylana bekerja di kantor Karel, ia tidak melihat pria itu lalu hari ini ia hadir dan dengan sopan memperkenalkan diri padanya. Meeting kali ini dimulai pukul 3 sore bersama bapak Yamada, lalu untuk lokasi pertemuan Kaylana belum mengetahuinya. Entahlah, ia tidak diberikan informasi terkait itu. Hanya saja Karel memintanya ikut meeting karena ingin Kaylana lebih terbiasa mengikutinya. Mobil yang mereka kendarai memasuki kawasan sepi dengan sepanjang jalan dipenuhi pohon-pohon. Ia tidak tahu mereka akan ke mana dan yang pasti ia belum pernah melewati jalan ini. Kaylana menatap Karel yang duduk di sampingnya di kursi penumpang, pria itu terlihat sibuk pada ipad miliknya. Kaylana ragu ingin berbicara dengan pria itu tetapi ia sangat penasaran. Karel yang menyadari gadis itu terus menatapnya merasa terganggu, “Bicaralah” pintanya pada Kaylana. Kaylana yang mendengar itu berdehem kecil, sudah menjadi kebiasaannya. “Maaf pak, sebenarnya kita mau ke mana? Apakah kita tidak salah jalan?" “Duduk saja dan diam.” jawab Karel datar. Kaylana mendengus kesal, kenapa bertanya saja salah. Ia mengerucutkan bibirnya kesal dan memilih mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Namun tanpa ia sadari, ekspresi yang gadis itu tampilkan malah terlihat lucu oleh Karel hingga membuat pria itu tersenyum tipis. Karel mencengkram kuat ipad ditangannya menahan gemas pada gadis itu. Mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di bangunan yang mewah. Pada halaman arah samping kanan mereka tersedia kolam berenang yang besar. Kaylana terbelalak melihat itu, kenapa ada bangunan mewah seperti ini di tempat yang tersembunyi? Namun yang lebih membuat ia kaget adalah nama besar yang tertera di bangunan itu, CASINO MARCUES. Tunggu, sejak kapan keluarga Marcues memiliki bisnis Casino. Sejauh yang ia ketahui, keluarga Marcues memiliki bisnis otomotif, PH Mercues Pictures, properti hotel dan restaurant. Apa ia yang telah kurang riset? Tetapi tentang casino ini memang tidak ada satu pun media yang memberitakannya. Lamunannya terhenti dengan gerakan Karel turun dari mobil. Pria itu dibukakan pintu oleh Beno, benar-benar asisten yang gesit. Kaylana ikut turun melalui pintu mobil arah lain. Setelah turun, matanya dengan liar menyusuri segala arah tempat, menurutnya tempat ini sangat bagus dan udara yang sejuk hingga membuatnya betah. Tetapi satu hal yang menganggunya, begitu banyak pengawal yang menyambut kedatangan mereka. Karel benar-benar memiliki pengaruh besar di sini. Karel berjalan dengan gagah menuju pintu masuk yang diikuti Beno di belakangnya. Kaylana yang melihat itu refleks mengikuti langkah kaki pria itu. Namun Karel tiba-tiba menghentikan jalannya, “Di samping ku.” ucapnya. Kaylana menyergit bingung dan memandang Beno di sampingnya seakan bertanya, apa maksud pria ini? Beno yang mengerti mencoba menjelaskan, “Nona Kaylana silahkan berjalan di samping tuan Karel.” Kaylana menatap Beno takjub, pria ini sangat pandai menterjemahkan kata pria dingin ini. Ia mengangguk pelan, “Baik!” dengan patuh melangkah ke depan sejajar dengan Karel. Karel kembali melanjutkan langkahnya, diikuti Kaylana dan Beno. Ketika tepat di depan pintu, 2 orang pengawal menundukan kepala dan membukakan pintu mempersilahkan masuk. Kaylana melihat itu ragu-ragu hendak menundukkan kepalanya namun terhenti dengan ucapan Karel dan menatap padanya, “Angkat kepalamu!” Kaylana berdiri tegap dan mengangguk pelan. Ke dua pengawal itu kompak berkata, “Silahkan masuk tuan.” Karel berjalan dengan tenang namun setiap langkah darinya seperti bom waktu untuk mereka. Entah kenapa saat ini Kaylana merasa gugup karena aura yang dikeluarkan Karel sangat gelap seperti terlihat lebih angkuh dan mengerikan. Mereka memasuki lorong-lorong dengan karpet merah dan beberapa pintu besar yang masing-masing dijaga oleh 2 orang pengawal. Setiap mereka melintasi penjaga itu, mereka dengan patuh menundukkan kepala ke arah Karel. Semakin jauh mereka berjalan, ia semakin penasaran dengan pintu-pintu ruangan yang mereka lewati. Gadis itu sampai tidak fokus melihat langkahnya karena sibuk mengamati pintu rahasia yang telah mereka lewati. Sebenarnya tempat apa dibalik pintu-pintu itu? Karel yang peka dengan ekspresi penasaran dari gadis itu merasa terganggu. Ia merasa seharusnya semua ekspresi yang ditampilkan gadis itu hanya boleh dipusatkan padanya saja. Dengan terus melanjutkan langkahnya Karel berkata, "Beno, jelaskan padanya." "Baik tuan." pria itu mengangguk patuh. Kaylana menyergit mendengar percakapan keduanya. Apa yang telah mereka bicarakan? Karena telah lama bekerja dilingkungan keluarga Marcues, membuat Beno sedikit banyak memahami kepribadian Karel. Jika pria itu melakukan kesalahan, tidak segan-segan Karel akan memukulnya. Karena itu lah ia terus belajar memahami perintah Karel dan hingga terbiasa. Seperti sekarang, ia paham apa yang dimaksud oleh tuan-nya. "Setiap pintu ruangan yang ada di lorong ini memiliki arti yang berbeda dan kegiatan yang berbeda pula." ucap Beno memulai pembicaraan. Kaylana menoleh ke arah pria itu sekilas, "Apa itu?" tanya nya penasaran. "Jika nona menyadari, setiap pintu memiliki lencana yang menempel pada daun pintu dengan warna putih, merah, dan hitam. Warna putih, artinya di dalam ruangan itu hanya ada aktivitas club, biliar, dan jenis judi pada umumnya yang ada di casino. Lalu warna merah, artinya orang-orang yang melakukan aktivitas seksual secara bebas. Di sana semua jenis seksual yang diminati pengunjung telah di sediakan. Lalu warna hitam.." Beno ragu untuk mengatakannya. Apa ia boleh menyampaikan tentang ruangan yang satu itu? "Lalu warna hitam?" tanya Kaylana semakin penasaran. Gadis itu sepanjang mendengarkan penjelasan Beno telah menampilkan beberapa ekspresi mulai dari mengerutkan kening, mengangguk paham, wajah penasaran. Namun ekspresi penasaran lebih ketara. "Berhenti berbicara lagi." titah Karel dingin. Menurutnya untuk sekarang belum saatnya gadis itu mengetahui semuanya. Lagipula mereka sudah sampai di depan pintu ruangan yang ingin mereka tuju. Kaylana yang mendengar itu mengerucutkan bibir kesal. Karel memang selalu pandai mengubah mood nya. Sedangkan Beno, pria itu dengan sigap membuka pintu dan mempersilahkan tuan-nya masuk. Mereka memasuki ruangan yang dipenuhi nuansa hitam. Ruangan ini dihiasi dengan beberapa ornamen kuno, hingga membuatnya terlihat menarik. Di tengah ruangan terdapat meja bundar yang di sekelilingnya di isi dengan 6 kursi dan 1 kursi utama. Lalu sudut kanan ruangan ada sebuah pintu putih dan sangat mencolok dari warna dinding ruangan yang gelap. Karel menatap Beno datar, “Pastikan ia aman.” lalu menoleh pada satu pintu yang ada di sudut kanan ruangan. Beno mengangguk paham, lalu ia menundukkan kepalanya pada Kaylana, “Mari nona Kaylana ikuti saya.” Kaylana menyergit, “Tunggu, kau akan mengajakku kemana?” ucapnya menatap Beno curiga. “Ikuti saja dia.” perintah Karel mutlak. Kaylana semakin tidak mengerti, “Maaf pak bisa jelaskan terlebih dahulu. Maksud saya, kita di sini akan melakukan meeting bersama bapak Yamada benar? Lalu jika saya pergi dengan Beno, artinya bapak juga ikut dengan kami.” ucap gadis itu. “Saya sendiri yang akan menemuinya.” jawab Karel. Kaylana merasa ini tidak benar, “Lalu untuk apa saya ke sini?” protesnya kesal. “Hanya agar kau tidak bersantai di kantor.” ucap Karel enteng. Menyebalkan, sangat menyebalkan. Kaylana merasa kesal, ia sudah dipermainkan di sini. Ia hendak melayangkan protes kembali namun terhenti karena kedatangan seorang pengawal asing. Sebenarnya berapa jumlah pengawal di gedung ini. Pengawal itu menundukkan kepala sejenak dan berucap, “Maaf tuan. Tuan Yamada telah sampai di depan.” Karel mengangguk paham, “Suruh masuk.” “Baik tuan” ucapnya berlalu pergi. Karel kembali menatap Kaylana yang terlihat menahan kesal, “Ikut dengannya.” titah Karel tegas. “Baik. TUAN.” tekan Kaylana. Tangan Kaylana mengepal dan bibirnya mengerutu, namun tetap patuh mengikuti langkah Beno menuju pintu sebuah ruangan yang Karel maksud. ‘Kau sangat menyebalkan Karelion Marcues.’ ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD