Perasaan Itu Masih Sama

1334 Words
Seorang pria berkulit putih memasuki ruangan. Sepatu pantofel-nya menapak lantai marmer dengan tegas. Tangannya dengan apik memegang tas kerja yang selalu ia gunakan. Langkah nya terhenti pada salah satu kursi tidak jauh dari pria yang duduk pada kursi utama. Dengan pelan ia manaruh tas yang ia bawa di atas meja dan mendudukan pantatnya pada permukaan kursi. Karel menatap pria yang baru saja datang bergabung dengannya dalam ruangan itu. Tangannya dengan santai mengambil korek dan rokok pada saku jas nya. Ia dengan tegas mematik korek api dan menghisapnya. Mulutnya dengan lihai menghembuskan uap asap mengepul di udara. Ia memejamkan matanya pelan meresapi aroma rokok yang telah menjadi favoritnya. Setelah cukup, ia membuka mata pelan dan menatap dingin pada pria yang duduk di kursi sebelah kakannya. “Katakan!” tekan pria itu. Pria itu menyodorkan amplop cream yang telah ia keluarkan dari isi tasnya sebelumnya. Karel mengambil amplop itu dan membukanya. Dalam amplop itu, Karel menemukan foto keluarga seorang gadis cantik yang tersenyum manis dengan dress putih yang ia kenakkan. Karel menatap lembut foto gadis cantik itu, ia tersenyum teduh ada kerinduan di matanya melihat itu. Ia menginggat dengan jelas, dress yang dikenakkan gadis itu adalah hadiah pertama darinya. Saat itu mereka belum resmi berpacaran namun ia dengan percaya diri memberikan hadiah dress putih, warna kesukaan Kaylana. Jika mengingat itu, membuatnya tersenyum lucu, namun merasa sedih diwaktu yang bersamaan. Lalu matanya menatap pada objek lain, di sebelah gadis itu ada seorang pria paruh baya yang mengenakkan seragam polisi dengan memiliki lambang berupa dua balok emas pada seragamnya. Lambang dua balok emas pada seragam polisi artinya memiliki pangkat IPTU (Inspektur Polisi Satu). Tidak ada yang salah dengan foto ini namun kenapa Yamada menaruh foto ini pada amplop cream yang ia bawa. Informasi apa yang telah pria itu dapatkan dari foto ini. Karel menatap Yamada bingung meminta penjelasan. Yamada yang melihat Karel menatapnya bingung mulai menjelaskan, “Itu adalah foto keluarga nona Kaylana. Foto itu diambil 5 tahun yang lalu, setelah 2 hari ayahnya naik pangkat IPTU." Karel mengangguk paham, ia sudah mengetahui hal itu. "Satu bulan setelah itu, Pak Baron selaku ayah nona Kaylana mendapat misi khusus mengungkap kasus perdagangan manusia. Di duga bisnis ilegal itu dilakukan di Casino milik keluarga Mercues, yaitu di tempat ini." lanjut Yamada. Karel mengangguk pelan, mulai memahami alurnya. Karel kembali memuka foto yang memperlihatkan Baron melakukan makan malam bersama dengan Kendrick Mercues yang merupakan ayahnya. Pria itu menyergit, sejak kapan pak Baron mengenal ayah? Seingatnya ayahnya tidak memiliki hubungan khusus dengan kepolisian, lalu apa maksud dari foto ini. Ia sangat mengenal ayahnya dengan baik, pria paruh baya itu tidak akan mau repo-repot makan malam bersama orang lain jika tidak ada kepentingan yang pria itu inginkan. Seakan paham Yamada kembali menjelaskan, “Pak Baron sangat terampil dalam melakukan misi yang diberikan padanya. Saat itu ia hampir membongkar jaringan kasus perdagangan manusia dan itu melibatkan Tuan Kendrick hingga mendapat kerugian besar saat itu. Tuan Besar marah mengetahui itu dan mengundang Pak Baron bertemu makan malam bersama seperti yang ada di foto itu. Saya belum mendapatkan informasi terkait apa yang menjadi pembahasan mereka, namun saya dapat memastikan makan malam itu menjadi salah satu faktor kepergian keluarga nona Kaylana dari kota ini." Jelas Yamada. Karel meremas foto itu dengan kuat, tangannya terkepal hingga urat-urat nadinya muncul. Ia menatap tajam dinding putih pada ruangan itu seakan mampu merobohkan pertahanannya. Aura kemarahan yang dikeluarkan Karel sangat lah mengerikan, pria pembunuh berdarah dingin itu tidak akan melepaskan pelaku yang terlibat dalam memisahkannya dengan gadis kesayangannya. Yamada yang merasakan itu menelan ludah takut, pria di depannya sangat mengerikan. Namun pria itu dengan ragu memberanikan diri berkata, "Maaf tuan apa kita akan membahas tentang perkembangan perusahaan otomotif Mercues di Tokyo?” tanyanya hati-hati. Karel menatap pria itu dingin, “Tidak perlu. Serahkan semuanya pada Beno. Saya mau kau lebih fokus bergerak mengulik kasus ini.” titahnya. Yamada yang mendapat tatapan itu merasakan suhu tubuhnya panas dingin, keringat sebiji jagung turun dipelipisnya, “Ba-baik, saya pastikan Tuan akan mendapatkan semua informasi itu.” ucapnya terbata. Karel mengangguk dan beranjak dari kursinya menuju sebuah pintu putih yang ada di pojok kanan ruangan. Beno yang sedari tadi memang berdiri di depan pintu itu dengan hormat menundukkan kepala dan membuka pintu. Langkah kaki Karel terhenti dan menatap Beno datar, “Pastikan tidak ada yang masuk di ruangan." ucapnya, sebelum berlaru pergi memasuki ruangan. Beno mengangguk paham, “Baik Tuan.” kembali menutup pintu ruangan. Pria itu memang memilih menunggu di depan pintu daripada satu ruangan dengan Kaylana. Ia masih sayang nyawanya untuk tidak terlalu dekat dengan gadis kesayangan Tuan-nya. Karel memasuki ruangan dan mendapati Kaylana yang tertidur nyenyak di sofa empuk. Ia menundukkan tubuhnya hingga matanya memandangi wajah gadis itu dengan benar. Tangannya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menganggu penglihatannya pada wajah gadis itu. Matanya menatap teduh, rindu, dan penuh cinta. Sudut bibirnya dengan pelan tersenyum. Tangannya mengelus pelan wajah gadis itu, matanya bergulir menatap lekat belahan bibir plum yang seperti memanggilnya untuk mendekat. Jari-jari tangannya mengelus bibir itu dengan pelan. Wajahnya hangat, jantungnya berdegub kencang, ia menelan ludah gugup. Ia sudah lama tidak merasakan perasaan ini, terakhir kali 4 tahun lalu saat ia dengan leluasa menghabiskan waktu indah bersama gadis itu. Namun saat ini Kaylana terlihat sangat menggoda dimatanya. Suhu di ruangan ini mendadak panas hingga membuatnya melonggarkan tali dasi yang melingkar di lehernya. Ia cukup lama berperang dengan pikirannya, hingga ia memilih menuruti keinginannya. Wajahnya mendekat, semakin dekat, dan sangat dekat hingga ia bisa merasakan nafas hangat dari gadis itu. Tangannya kian intens memegang sisi wajah Kaylana, kepalanya memiring dan bibirnya dengan sempurna mendarat pada bibir manis itu. Ia berhenti sebentar memandangi gadis itu yang masih belum tersadar dalam tidurnya. Karel tersenyum dan mulai melumat bibir itu hingga terdengar lenguhan manja darinya. “Ugh.” Kaylana yang merasa terusik dalam tidurnya melenguh dan mengeliat pelan hingga membuat Karel refleks melepaskan ciumannya. Karel mengangkat kepalanya menjauh, menatap kembali gadis itu dan mengelus pelan bibirnya sendiri. Ia masih merasakan betapa lembut dan hangat bibir gadis itu. Ia menelan ludahnya pelan. Gadis ini benar-benar membuatnya gila. Setelah menguasai kembali dirinya, ia dengan pelan menyentuh bahu gadis itu dan berkata, “Bangun.” gadis itu bereaksi dengan kembali mengeliat pelan. Karel harus segera membawa gadis itu keluar dari ruangan ini, karena semakin lama mereka bersama ia khawatir tidak dapat menahan nafsunya lagi. Bukannya bangun, Kaylana malah semakin meringkuk mencari posisi yang nyaman dan melanjutkan tidur. Karel tidak kehabisan akal, pria itu dengan kuat mengoyangkan bahu gadis itu hingga membuat Kaylana terbangun. Karel menatapnya datar. Kaylana tersentak dengan guncangan ditubuhnya hingga membuatnya refleks membuka mata. Karena merasa masih mengantuk ia mengucek kedua matanya agar dapat melihat dengan jelas. Ia tersadar dengan keberadaan Karel yang menatapnya datar. Kaylana refleks berdiri menatap pria itu. Kapan pria itu datang? Dan sudah berapa lama ia tertidur? “Jangan tidur di jam kerja.” ucap Karel dengan suara baritonnya. Kaylana menunduk malu sekaligus merasa bersalah. “Ma-maafkan saya Pak. Saya tidak akan mengulangginya lagi.” ucapnya gugup. Ia benar-benar tidak bermaksud untuk tidur. Salahkan saja sofa yang ia duduk sangat empuk, lalu di tambah ia harus menunggu sangat lama. Jadi saat itu ia hanya tiduran santai sambil memainkan handphone namun karena menunggu Karel yang lama hingga membuatnya ketiduran. Dan lagi Beno, pria itu kenapa tidak membangunkannya. 'Apakah pria itu sengaja membiarkan ia tertidur? Awas saja pria itu, aku akan memarahinya.' pikirnya kesal. Karel menatap Kaylana lembut, ia tidak tega memarahinya. Melihat gadis itu yang menunduk padanya malah membuat ia kesal. Harusnya hubungan mereka tidak serumit ini. Karel mengalihkan pandangannya, dan berdehem pelan, “Hm. Lain kali jangan diulagi. Kita pulang.” jawabnya, sambil berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Kaylana dengan langkah cepat mengikuti langkah lebar pria itu. Karena langkah kakinya yang kecil jadi ia seperti berjalan dengan tergesa-gesa menyesuaikan langkah mereka. Diam-diam Kaylana memandangi bahu tegap Karel dari belakang. Pria itu terihat angkuh, dingin, dan…..jantan. Aura yang dikeluarkan pria itu sangat kuat seiring ia melangkah melewati beberapa bawahannya yang menunduk padanya. ‘Ia benar-benar terlihat seperti Raja yang angkuh' ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD