Karel memejamkan matanya agar lebih rileks. Pria itu masih mengenakkan kimono hitam 20 menit yang lalu selesai mandi. Ia seakan tidak berminat untuk berpindah pada tempatnya. Saat ini Karel sedang duduk pada kursi santai yang ada di rooftop kamarnya.
Karel membuka matanya pelan dan kembali menghisap nikotin di mulutnya. Lalu tangannya mengambil gelas wine yang ada di atas meja kecil tak jauh darinya. Dengan santai pria itu meneguk port wine yang ada di tangannya dan mulai meresapi rasa manis yang menjalari bagian mulutnya.
Karel tidak dapat menghentikan dirinya memikirkan Kaylana. Gadis itu dari dulu hingga saat ini telah memenuhi pikiran dan hatinya. Ia harus lebih cepat mendapatkan gadis itu kembali di sisinya bukan sebagai karyawan lagi namun sebagai pendamping hidup. Sudah cukup beberapa tahun ini ia jauh dari gadis itu hingga membuatnya tersiksa. Lagipula saat ini ia sudah cukup kuat untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak menyetujui hubungan mereka, terutama ayahnya.
Setelah itu ia akan melenyapkan Liam, pria yang telah mengaku sebagai kekasih Kaylana. Pria itu terlalu berani menyakiti kesayangannya, bahkan dengan lancang melakukan tindakan kekerasan. Ia bahkan tidak pernah menyakiti gadis itu sedikit pun dari tubuhnya. Baginya semua yang ada pada Kaylana adalah sempurna dan berharga. Gadis itu layaknya seperti berlian di matanya, yang layak dijaga dan dilindungi. Ia bahkan telah berencana untuk mengurung gadis itu pada sangkar emasnya dan memastikan bahwa hanya ia yang berhak menyentuh dan menikmati keindahan gadis itu. Memikirkannya saja, membuat Karel tersenyum dan menatap langit malam dengan penuh obsesi.
Lalu hukuman untuk Liam, ia telah memikirkan ide yang menarik. Pria itu cocok jadi bahan eksperimennya, lagipula ia telah lama tidak bermain-main dengan mainannya. Ia sedikit merindukan sensasi aroma darah dan teriakan kesakitan dari mangsanya.
Dering telepon pada meja kecil di sampingnya telah mengalihkan pikirannya. Dengan malas ia mengambil telepon itu dan melihat nama Sherly yang tertera di kontak itu. Ia mengeser icon hijau pada layar hingga terdengar suara perempuan yang menelponnya.
“Kak bagaimana kabar mu? Apa sekarang sedang sibuk?" tanya reruntutan perempuan itu.
Karel mendengus malas, ia tidak punya banyak kesabaran menghadapi energi perempuan itu. "Katakan." desak Karel dingin.
Perempuan itu terdengar mengerutu dengan jawaban Karel, "Kakak selalu saja seperti ini. Aku tahu kakak pasti tidak akan tertarik pada topik yang akan aku sampaikan tapi kali ini kupikir aku harus mengatakannya. Kiara terus memaksaku untuk membantunya bertemu denganmu. Apa kau tidak ingin sekali saja bertemu dengannya?” ucap perempuan itu.
Karel menghela nafas lelah, “Apa yang perempuan itu inginkan?"
“Dia menyukaimu. Aku bisa saja mengatakan padanya jika kau tidak ingin bertemu dengannya. Tetapi gadis itu sangat gigih dan aku tidak yakin jika ia akan menyerah begitu saja.” keluh Sherly ragu. Ya, kiara sudah menyukai Karel dari satu tahun yang lalu dan perempuan itu selalu menghubungi Sherly untuk meminta bantuan padanya agar bisa dekat dengan Karel karena pria itu sangat sulit didekati.
“Lalu?” ucap Karel cuek. Percayalah ia sangat tidak peduli pada perempuan itu.
“Menurutku, kau perlu bertemu dengannya sekali saja dan saat itu kau langsung katakan padanya jika kau tidak menyukainya. Itu cukup mudah sebenarnya.” usulnya.
“Tidak. Jangan menganggu ku dengan masalah kecil seperti ini lagi.” ucapnya kesal.
“Tapi-“
Tut...
Sebelum perempuan itu melanjutkan perkataannya, Karel lebih dulu menutup panggilan sepihak. Ia masih memiliki urusan lain yang lebih penting daripada perempuan itu.
Namun di sebrang sana Sherly mondar mandir gelisah, ia kali ini telah melakukan kesalahan besar. Ia dengan gegabah menyetujui permintaan Kiara yang ingin berkunjung ke kantor Karel tanpa sepengetahuan pria itu. Bagaimana nanti jika Karel memarahinya? dan….. Tidak, membayangkannya saja ia tidak sanggup.
**
Kaylana berjalan dengan santai memasuki ruangan CEO Mercues Companny. Hari ini gadis itu menggunakan kemeja cream dipadukan dengan rok hitam hingga membuatnya terlihat rapi dan cantik.
Kaylana kaget dengan apa yang ia lihat saat memasuki ruangan itu. Di sana, seorang perempuan dengan lancang membuka kakinya lebar dan duduk di atas meja kerja Karel. Sedangkan pria itu duduk dengan diam dan menatap kiara dengan tajam. Di lihat dari ekspresi yang dikeluarkan oleh pria itu menahan amarah dan jijik. Namun sayang, Kaylana tidak dapat melihat ekspresi Karel karena punggung perempuan itu menutupinya.
Kaylana menatap pemandangan tidak senonoh itu dengan sedih. Sesuatu dari dirinya merasa tidak rela jika Karel melakukan itu dengan perempuan lain. Ia menatap kesal pakaian yang digunakan perempuan itu sangat terbuka seperti kekurangan bahan. 'Apa perempuan yang disukai Karel perempuan yang seperti itu' pikirnya sedih.
Kaylana dengan lesu melangkah menuju mejanya, ia mencoba mengabaikan mereka namun tetap saja kupingnya dengan tajam mencoba mendegar pembicaraan mereka.
“Ayolah, sekali ini saja. Aku yakin pestanya akan menyenangkan Karel.” rengek perempuan itu. Kaylana dapat menebak dari suaranya, perempuan itu adalah Kiara.
Karel menatap perempuan di depannya tajam. Ia semakin muak dengan drama ini. Perempuan itu tiba-tiba saja masuk ke ruangannya. Yang membuat ia lebih marah saat perempuan gila ini dengan lancang duduk di meja kerjanya dan mengapit tubuhnya dengan kaki kotor itu. Lagipula di mana Beno, kenapa pria itu tidak melarang perempuan ini masuk. Tangannya gatal ingin mendorong perempuan jalang ini, namun ia telah menyadari kedatangan Kaylana dari wangi parfum yang tercium di ruangan itu. Ia sangat mengetahui hal kecil yang ada pada Kylana seperti parfum yang selalu dipakai gadis itu.
Karel mencoba menetralkan emosinya, ia perlu menahan diri agar tidak memukul perempuan ini di depan Kaylana. Percayalah jika saja tidak ada Kaylana, ia akan memukul perempuan itu dengan kuat.
Ia menatap Kiara tajam, “Baik, saya akan hadir. Sekarang pergi.” ucapnya dingin. Ia mempunyai alasan lain menyetujui itu. Tiba-tiba saja ia memikirkan ide menarik yang dapat ia lakukan nanti malam.
Kiara tersenyum kemenangan, ia merasa Karel ternyata tidak sesusah itu dilumpuhkan. Ia semakin percaya tidak ada satu orang pun pria yang dapat menolak kemolekan tubuhnya.
Kiara menatap Karel sensual, “Ya, aku tidak sabar melihatmu nanti malam." ucapnya pelan. Kiara memperbaiki bajunya dan meringsut turun dari meja. Ia kembali menatap Karel dan tersenyum manis padanya, sebelum akhirnya berbalik melangkah keluar.
Langkah Kiara terhenti karena melihat objek lain yang beberapa hari lalu pernah bertemu dengannya. Ia menyergit heran kenapa selalu bertemu dengan gadis itu. Sepertinya kali ini ia perlu mencari tahu tentangnya. Jika gadis itu terdeteksi menjadi penghalang hubungannya dengan Karel, maka ia akan melenyapkan gadis itu.
Saat mata mereka bertemu, kiara menatap Kaylana sinis dan angkuh sembari melajutkan langkah kakinya keluar dari ruangan itu. Sementara Kaylana menatap perempuan itu tidak kalah sinis. Ia mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.
Karel menatap Kaylana dengan tatapan yang sulit diartikan. Karel tenggelam dalam pikirannya, ia pikir kali ini perlu melibatkan Kaylana dalam rencananya. Namun ia khawatir konsekuensi buruk yang akan terjadi, terutama Kaylana.
Karel terus menatap Kaylana hingga pandangan mereka bertemu, “Kaylana kau malam ini ikut dengan ku menghadiri pesta.” ucap Karel tenang pada gadis itu.
Kaylana menyergit bingung, “Maaf pak, apa saya boleh menolak?” tanya gadis itu. Ia tahu Karel akan mengajaknya hadir di pesta yang Kiara sebutkan tadi. Ia sungguh kesal dan tidak mau menghadiri pesta itu.
“Tidak. Pukul 7 malam saya akan menjemputmu.” tekan Karel, tidak bisa dibantah.
Kaylana yang mendengar itu menghela nafas kasar, ini salah tahu hal yang ia tidak sukai dari pria ini. Dari dulu hingga sekarang, pria itu pemaksa dan tidak ingin dibantah. Apa pria itu tidak berpikir bagaimana jika ia memiliki kegiatan penting dan tidak dapat pergi. Apa pria itu akan tetap memaksanya? Tidak, kali ini ia harus berani membantah. Ia hanya perlu mengikuti arahan dari pria itu jika berhubungan dengan pekerjaan dan jikalau tidak, ia berhak menolak.
“Maaf pak, saya tidak bisa pergi malam ini.” tolak Kaylana mantap. Namun sebenarnya sedikit merasa takut.
Karel menatap kaylana dingin “Saya tidak meminta persetujuanmu.” ucap pria itu.
Kaylana yang melihat tatapan itu menelan ludahnya kasar, “Baik pak” ucapnya mengangguk pelan. Pria ini selalu saja membuat ia tidak bisa melawan.
Karel menatap Kaylana puas. Ia membuka handphone-nya dan mengetik beberapa pesan untuk seseorang. Ia tidak sabar menonton sesuatu yang menarik malam ini.
‘Pastikan pria itu hadir malam ini’
***