Pesta

1513 Words
Kaylana memegang erat dress hitam yang ia kenakkan. Dress yang ia gunakan malam ini tampak elegan tanpa lengan. Dari atas hingga pinggul menampilkan postur tubuhnya yang ramping. Dipadukan dengan model rambutnya yang curly panjang dan dilapisi dengan poni yang semakin mempercantik penampilannya. Saat ini Kaylana berada dalam satu mobil dengan Karel menuju lokasi pesta ulang tahun Kiara. Pria itu benar-benar menjempunya tepat waktu. Kali ini Beno tidak ikut bersama mereka, Kaylana heran pria itu jarang sekali kelihatan bersama Karel. Mungkin saja pria itu sibuk menyelesaikan pekerjaan lain. Malam ini Karel menggunakan Porsche 911 Turbo S, mobil berbeda dari yang biasa ia gunakan. Kaylana penasaran berapa mobil yang pria itu punya? Apa ia juga memiliki koleksi mobil mewah seperti orang-orang kaya pada umumnya? Berbicara tentang Karel, pria itu malam ini terlihat maskulin dan berkharisma. Kaylana terpukau dengan pria itu hingga membuatnya tidak berani menatap langsung mata hitamnya. Pria itu malam ini menggunakan kemeja putih dibalut dengan jas hitam. Dua kancing kemeja atas pria itu terbuka dengan benar hingga memperlihatkan sedikit dadanya. Penampilan rambut pria itu terlihat rapi dan sedikit curly. Tidak lupa, ia dengan gagah mengenakkan jam tangan rolex mewahnya. Mobil mereka memasuki kawasan gedung pesta yang akan di tuju. Kaylana dapat melihat beberapa mobil yang berjalan di belakang mereka. Dari jauh ia bisa melihat betapa luasnya gedung pesta yang diadakan oleh Kiara. Berapa biaya yang perempuan itu habiskan dalam mengadakan pesta seperti ini? Kaylana mengeleng pelan, kebiasaan orang kaya memang tidak relate dengannya. Mobil yang mereka kendarai terhenti di depan anak tangga pintu masuk. Dilihat dari sini, ia sudah melihat banyak orang yang berlalu lalang memasuki pintu masuk. Dari semua tamu yang ia lihat, semua dari mereka menggunakan pakaian mewah. Hal itu semakin membuat Kaylana gugup hingga tanpa ia sadari tangannya gemetar. Sejujurnya ia telah merasa gugup selama perjalanan menuju pesta, karena ia tidak pernah menghadiri pesta ulang tahun selebritis atau kalangan atas. Lalu ditambah dengan malam ini ia hadir sebagai partner Karel semakin membuatnya tertekan. Sedangkan Karel, pria itu dengan pelan memegang tangan Kaylana dan menatap gadis itu lembut menenangkan. Sejujurnya pria itu diam-diam mengamati Kaylana dari ujung matanya. Sejak pertama ia melihat Kaylana berjalan ke arah nya menggunakan dress itu ia begitu terpana melihatnya. Karel bahkan hampir membatalkan niatnya pergi ke pesta karena tidak rela jika banyak pria yang akan menatap Kaylana. Kaylana menatap Karel saat merasakan tangan besar pria itu memegang tangannya. Ia terpaku pada tatapan lembut Karel padanya, kenapa ini seperti dejavu. “Jangan takut. Selama di sana tetap berada di sisiku.” ucap Karel pelan. Kaylana yang mendengar itu mengangguk patuh. Pipinya terasa hangat, ia ingin menangis saat ini. Ia merindukan sisi lembut Karel yang seperti ini. Karel dengan pelan melepaskan tangannya dan beranjak keluar mobil. Kaylana yang melihat itu, beranjak keluar dari sisi mobil yang lain. Kaylana menyergit saat melihat Karel yang mengulurkan tangannya. "Berikan tanganmu.” pinta Karel datar. Ya, pria itu kembali menampilkan wajah dingin dan datar. Kaylana menghela nafas pelan, padahal tadi ia telah tersipu malu namun sekarang ia menjadi sedikit kesal. Ia menatap Karel protes, “Maaf pak tapi sepertinya itu terlalu berlebihan.” Ayolah ia tidak ingin menjadi pusat perhatian tamu-tamu yang hadir nantinya. Apalagi Karel memilki banyak gadis yang menyukainya dan jika salah satu dari antara mereka tidak menyukainya itu bukan hal yang baik. Pertegas lagi, ia datang di pesta malam ini hanya untuk menemani Karel saja dan tidak ingin mendapat munsuh dari semua perempuan yang menyukai pria itu. “Kau di sini datang sebagai partner-ku, apa yang salah dengan itu? Jangan mencoba membantahku.” tegas Karel dingin. Pria itu tanpa persetujuan langsung meraih tangan mungil gadis itu dan mengengamnya erat. Kaylana tersengak kaget dan tidak memiliki kesempatan untuk menolak lagi. Mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk. Kaylana mencoba mengikuti langkah tegas Karel. Saat ini Karel dua kali lipat lebih tampan dari biasanya. Kharisma pria itu tidak dapat diitutupi. Lihat, mulai dari rahang wajahnya yang tegas, hidung mancungnya, alis tebalnya, brewok tipisnya, dan jangan lupa dengan tatapan tajam yang dapat melumpuhkan lawannya. Saat langkah keduanya memasuki pintu ruangan dan berjalan masuk melewati karpet merah, banyak mata yang menatap ke arah mereka. Kaylana yang menyadari itu, menunduk pelan semakin merasa gugup. Karel yang menyadari itu seketika menghentikan langkahnya dan berkata, “Angkat kepalamu. Kau saat ini datang bersama Karelion Mercues, tidak akan ada yang berani meremehkanmu.” angkuhnya. Lalu kembali melanjutkan langkahnya pelan dengan diikuti Kaylana. Kaylana sedikit merasa percaya diri, ia pikir malam ini tidak boleh membuat Karel malu hanya karenanya. Benar kata Karel, tidak akan ada yang berani memandang ia rendah. Bahkan jika ada yang menatapnya begitu, artinya mereka hanya iri padanya karena mereka tidak akan bisa mendapatkan itu. Kaylana mengangkat kepalanya, ia tersenyum ramah saat matanya bersitatap dengan beberapa orang yang tengah menatapnya. 'Saatnya kau tampilkan senyum professional mu, Ana' pikir gadis itu. Semua pasang mata tertuju ke arah mereka, terutama tatapan para gadis-gadis yang menatap Karel penuh puja. Ada beberapa di antara mereka memandang iri pada Kaylana, lalu ada juga yang menatap kesal, dan ada yang terpukau dengan senyum manis gadis itu. Liam yang sedang berbincang santai bersama beberapa teman selebritisnya memusatkan pandangan mereka pada sepasang pasagan yang baru saja memasuki ruangan. Terutama Kiara, perempuan itu mengepalkan tangannya kesal. Harusnya malam ini ia menjadi spotlight karena dapat mengandeng Karel di pesta ulang tahunnya, ia sangat percaya diri pria itu akan memperhatikan dirinya malam ini. Namun apa, Karel malah datang bersama gadis itu. Sebenarnya apa hubungan mereka? Sedangkan Liam, pria itu tidak kalah marah. Kekasihnya yang beberapa hari ini telah menghindarinya malah datang bersama pria lain dan apa-apaan itu mereka terlihat seperti pasangan kekasih. 'Mencoba selingkuh dari ku, heh?' pikir Liam marah. Lestari yang tengah duduk di samping Liam berkata, “Kau hebat sekali Kiara dapat mengundang Karelion Mercues datang malam ini.” Kiara menoleh dan tersenyum pelan. Ternyata masih ada yang menyadarinya. “Saya telah mengenal Karel dari lama dan itu bukanlah hal besar.” ucapnya bohong dan sedikit sombong. "Wow itu hebat. Apa gadis yang datang bersama Karelion itu pacarnya?” tanya Lestari penasaran. Liam yang mendengar itu menatap Lestari kesal, kenapa ia banyak tanya sekali. Saat ini hubungan Liam dan Lestari semakin dekat, gadis itu bahkan dengan rela tidur bersama Liam. Memang cukup bodoh. Sedangkan Kiara tersenyum canggung. “Tidak, gadis itu hanya karyawan yang bekerja di kantornya." ucapnya, ia tetap mempertahankan senyumannya. “Tapi mereka terlihat cocok.” ucap Lestari jujur, dan teman-teman yang lain mengangguk membenarkan. Kecuali, Liam dan Kiara. “Pelankan suaramu, mereka menuju ke sini.” ucap salah satu perempuan lain pada Lestari. Benar saja, Karel dan Kaylana berjalan menuju ke arah mereka. Alasan Karel karena ingin menyapa Kiara sebentar agar dapat segera meninggalkan pesta. Tetapi yang lebih utama, karena di sana ia melihat ada pria itu. Karel memeluk pinggang ramping Kaylana dan tersenyum licik saat pria itu menatap ke arah mereka. Kaylana yang merasakan itu, menjadi gugup dan tersipu malu. Kiara melihat Karel menuju ke arahnya tersenyum manis. “Terimakasih Karel telah datang di acara ulang tahun ku yang sederhana.” ucapnya manja sekaligus merendah diri. Padahal faktanya pesta malam ini sangat mewah jauh dari kata sederhana. Karel menatap Kiara datar “Ya, selamat ulang tahun.” ucapnya singkat. Kiara semakin sumringah, “Terima kasih Karel." ucapnya tersipu. Percayalah, ia bahkan tidak menyangka pria itu akan mengucapkan ulang tahun padanya. Perlu digaris bawahi, Karel adalah pria yang dingin dan tidak tersentuh. Jadi suatu kehormatan jika bisa berbincang dengan pria itu. Kaylana semenjak tadi menundukkan kepalanya gugup karena Liam yang terus menatapnya lekat. Pria itu terlihat marah padanya. Namun Kaylana perlu bersikap sopan pada pemilik acara. Gadis itu memberanikan diri mengangkat kepalanya mencoba mengabaikan tatapan Liam. Kaylana menatap Kiara sejenak, “Selamat ulang tahun Kiara.” ucapnya pelan tersenyum ramah. Kiara menatap Kaylana dan tersenyum paksa, “Ya terima kasih.” Lalu kembali menatap Karel penuh puja. Semakin lama, Kaylana semakin merasa gelisah. Tidak bisakah Liam berhenti menatapnya. Kaylana harus mencari cara menjauh dari pria itu. Kaylana menatap Karel dan menyentuh pelan lengan pria itu, "Pak Karel, saya permisi ke toilet sebentar.” bisiknya pelan. Karel menatap gadis itu dan mengangguk pelan. “Ya, ikuti saya.” ucapnya. Kaylana menggelengkan kepala, “Tidak, saya bisa sendiri.” Karel menatap Kaylana ragu, namun tetap mengangguk pelan. "Kabari saya jika terjadi sesuatu." ucap pria itu. Kaylana tersenyum dan mengangguk pelan. Kaylana dengan cepat melangkah pergi dari situ, ia sebenarnya tidak tahu letak toilet di gedung ini namun yang terpenting adalah harus menjauh dari Liam terlebih dahulu. Namun ia salah, Liam diam-diam mengikutinya dari belakang. Pria itu tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Karel yang mengetahui itu mengetuk jam tangannya dua kali dan memberikan signal pada Beno yang dari jauh mengawasi mereka. Beno yang paham dengan kode itu segera melangkah mengikuti Liam dengan pelan. Pergerakan Beno sangat mulus hingga tidak ada yang curiga sama sekali padanya. ‘Aku akan membunuh pria itu jika berani menyakitinya’ *** Halo selamat malam teman-teman, terima kasih telah membaca cerita saya. Saya baru saja mendapatkan satu kode penukaran. Saya akan menuliskannya di sini, jadi jika kau beruntung kau dapat menggunakannya. Sampai bertemu di episode berikutnya🙌 Kode penukaran: X1T7Q7MA
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD