Bertemu Kembali

1324 Words
Tak tak tak… Irama hentakan heals pada lantai bergema seiring ia berjalan. Bibir tipisnya tersenyum ramah pada beberapa orang yang menyapanya. Gadis itu memasuki lift khusus Presedir dan menekan angka 5 pada floor button dan setelahnya menekan door close button. Saat pintu lift terbuka, dengan langkah tegas ia keluar menuju area toilet karyawan wanita. Lantai 5 merupakan lantai terakhir pada gedung khusus untuk ruangan Presedir, ruangan sekretaris, dan ruangan besar untuk melakukan meeting bersama para investor perusahaan. Langkah kaki Kaylana memasuki pintu toilet wanita yang terlihat sepi. Ia menatap pantulan dirinya pada kaca dan menghembuskan napas lesu. Hari ini ia harus menemui Pak Adward selaku Presedir Bramantya Group. Ia tidak tahu hal apa yang akan disampaikan mengingat pak Adward jarang memanggilnya secara langsung menghadap ruangannya. Selama ini jikalau pria itu butuh apapun, ia memilih menghubungi melalui nomor telepon kantor. Namun kemarin sebelum pulang pria itu memintanya langsung menghadap ke ruangannya hari ini untuk membahas hal urgent, aneh sekali. ‘Jikalau itu hal mendesak kenapa tidak dibahas kemarin saja’, pikirnya. Kaylana mengamati dirinya di cermin, memeriksa riasannya yang masih terlihat baik. Meskipun kemarin malam ia mengalami hal yang tidak menyenangkan namun jikalau sudah di tempat kerja ia harus mengkesampingkan itu dan tampil professional secara maksimal. Tangannya dengan cekatan touch-up kembali pada pipinya yang chubby menggunakan compact powder miliknya. Ia harus memastikan bekas kemerahan pada pipinya tertutupi sempurna. Setelah selesai, matanya beralih ke riasan bibir tipisnya yang masih fresh. Tanganya beralih merapikan rambut curly miliknya hingga terlihat lebih menarik. Terakhir merapikan penampilan kemeja cream yang ia kenakkan sesekali berpose kecil, sangat cantik dan menggemaskan. ‘Ana, mari semangat hari ini’, ucapnya pelan. Ia melangkah pelan keluar menuju ruangan Presedir yang terletak pada ujung kiri tidak jauh dari meja miliknya. Tertera nama Presiden Direktur di daun pintu ruangan. Ia mengetuk pintu pelan hingga dibukakan pintu oleh seorang pria asing dari dalam. Kaylana tersenyum ramah dan berucap, “Terima kasih.”. dibalas anggukan pelan dari pria tersebut dan menutup pintu kembali. Kaylana terhenti sejenak saat hidungnya menghirup bau perfume yang familiar baginya. Ia mengenali dengan sangat baik pemilik perfume ini di masa lalu. Kaylana menoleh saat Adward yang menyapanya dan mempersilahkan masuk. “Selamat pagi, Kaylana silahkan bergabung.” ucap Adward ramah sembari berdiri dari duduknya. Kaylana tersenyum ramah dan mengangguk pelan. Di sana tidak hanya Adward namun ada seorang pria lain yang tidak ia kenali karena pria itu membelakanginya. Kaylana membeku saat matanya menatap wajah pria yang duduk bersama Adward. Ia menatap pria itu sendu, sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Kaylana merasa ingin berlari dan memeluk pria itu seperti dulu dan mengatakan semua hal yang telah ia lalui tanpa pria itu. Namun sekarang telah berbeda, mereka telah menjelma menjadi orang asing hingga tanpa sadar membuat hatinya sesak. Mata hitam pria itu menatap Kaylana dingin, raut wajahnya datar tanpa ekspresi. Kaylana yang melihat itu segera memutus tatapannya, ia tidak sanggup lebih lama bersitatap dengannya. Pria itu pasti marah dan benci padanya setelah kejadian di masa lalu. Menepis pemikiran-pemikiran itu, dengan patuh ia duduk pada sofa single seat bergabung dengan keduanya. Ruangan itu mendadak canggung untuk Kaylana, ia tidak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan pria di masa lalunya. Pria itu terlihat sangat berubah mulai dari penampilan dan sifatnya. Hari ini pria itu 60 derajat berbeda dari yang ia kenal dulu. Namun ia tersadar dari pikirannya saat Adward memanggil namanya. Oh tidak sudah berapa lama dia melamun dan memperhatikan pria itu. Kaylana mengalihkan pandangannya pada Adward yang menatapnya, “Maaf pak, bisa bapak ulangi.” ucap Kaylana merasa bersalah. Ia sungguh merutuki dirinya yang tidak fokus mendengarkan. “Apa kau baik-baik saja Kaylana?” tanya Adward, pasalnya ini kali pertama gadis itu tidak fokus berbicara dengannya. “Sa-saya baik-baik saja pak.” gugup Kaylana, karena bukan hanya Adward yang menatapnya tapi pria di sebelahnya juga menatapnya lekat. “Baiklah. Perkenalkan ini Karelion Mercues selaku CEO Mercues Company. Dan Karel, ini Kaylana sekretaris yang pernah saya ceritakan sebelumnya.” ucap Adward memperkenalkan mereka masing-masing. Karel berdiri menjulurkan tangannya dan dengan gugup diterima Kaylana. Tangan dingin gadis itu memegang tangan besar Karel, hingga tatapan mereka kembali bertemu. Karel melepas tangannya dan kembali duduk di ikuti oleh Kaylana. “Begini Kaylana, Pak Karel membutuhkan sekretaris untuk membantunya dan saya merekomendasikan kau untuk bekerja dengannya.” ucap Adward. Kaylana menyergit bingung, tunggu ini gimana maksusnya? “Bagaimana pak?” sepertinya salah dengar. Ia menatap kedua orang itu secara bergantian meminta penjelasan lebih jelas. “Saya tahu kau pasti merasa bingung. Kau hanya bekerja dalam kontrak 5 bulan saja Kay, lalu setelahnya kau akan kembali bekerja di sini. Untuk gaji masih sama seperti biasanya, dan saya juga telah mengenal Pak Karel dengan baik jadi saya pastikan ini kesempatan yang baik untukmu. “ Kaylana ingin protes tapi melihat Karel yang hanya diam dari tadi membuatnya menarik kembali dirinya. Apa pria itu sudah tahu sebelumnya.? “Maaf sebelumnya Pak, saya rasa masih banyak karyawan lain yang lebih kompeten dan berhak mendapatkan kesempatan ini. Selain itu, saya juga sudah nyaman bekerja di sini pak.” pada akhirnya Kaylana memilih menyampaikan protes dengan keputusan Adward. “Sudah 2 tahun kau bekerja di sini dan saya mengenal mu dengan baik. Kau lebih cekatan dan jujur. Saya pikir ke dua hal itu menjadi faktor penting yang diperlukan oleh pemimpin dan kau adalah orang yang tepat.” ucap Adward mantap. “Silahkan Kaylana baca terlebih dahulu kontrak kerjanya dan sampaikan pada kami hal-hal yang dapat memberatkanmu.” Adward memberikan map kerja pada Kaylana dan gadis itu menerimanya. Tidak ada yang salah pada kontrak kerja ini, bahkan Kaylana mendapat gaji bonus jika hasil kinerjanya baik. Namun yang membuatnya keberatan adalah harus bekerja satu kantor dengan Karel dan artinya ia akan berada di sekeliling pria itu selama 5 bulan penuh. Setelah kejadian di masa lalu, apakah Kaylana bisa bersikap professional bersama pria itu? “Saya sangat berharap kau menyetujui ini Kaylana. Ini kesempatan yang bagus untuk mu memiliki pengalaman bekerja di Mercues Company yang merupakan perusahaan besar.” ucap Adward serius. “Apakah Pak Karel telah menyetujui ini juga?” tanya Kaylana ragu-ragu. Ia harus memastikan pria itu tidak keberatan karena akan mempengaruhi pekerjaaan mereka nanti kedepannya. Karel yang mendengar nama nya disebut mengangguk pelan, “Ya.” jawabnya singkat. Adward yang melihat itu membantu menjelaskan, “Iya, dan Pak Karel lebih dulu tandatangan di kontrak itu.” Kaylana segera mengecek pada Lembar Pengesahan Kontrak Kerja dan benar, Karel telah menyetujuinya lebih dulu. Kaylana menatap Karel curiga, apakah pria itu merencanakan sesuatu? Kenapa ia tidak membuat rekrutmen sekretaris baru yang lebih professional darinya, ia yakin pasti ribuan orang yang ingin bekerja di Mercues Company. Namun apapun itu alasannya, saat ini ia tidak bisa menolak lagi. Selain tidak ada alasan yang dapat ia sampaikan untuk menolak, ia juga merasa segan dan menghargai Pak Adward. Jadi ia terpaksa tandatangan pada kertas itu. Adward tersenyum melihat Kaylana yang akhirnya setuju, “Terima kasih kay, selamat kau telah menjadi bagian dari Mercues Company. Saya menunggu kedatanganmu kembali 5 bulan kedepan.” “Terima kasih pak Adward.” senyum Kaylana tulus. Sudut bibir Karel tersenyum tipis hingga tidak ada yang menyadarinya. Ia berdiri dan mengulurkan tangan pada Kaylana, dan diterima baik gadis itu. “Selamat bekerja di Mercues Company.” ucapnya datar. “Terima kasih pak Karel.” ucap kaylana pelan. Saat tatapan mereka kembali bertemu ia melihat ada sesuatu dibalik tatapan itu, dengan cepat Kaylana menarik kembali tangannya. “Kay kau boleh mengemasi barang-barang mu hari ini, dan istirahat di rumah. Senin depan kau mulai bekerja kembali di tempat yang baru.” ucap Adward kembali menjelaskan. “Baik pak.” Kaylana mengangguk mengerti. Setelahnya ia berpamitan keluar ruangan meninggalkan keduanya. Sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan, ia kembali menatap Karel, entah kenapa Kaylana merasa pria itu terlihat berbahaya seperti ada sesuatu yang lain dengannya. Kaylana bergelut dengan pikirannya sembari melanjutkan langkah kakinya keluar ruangan. Tanpa ia sadari seorang pria menatap kepergiannya dengan diam. ‘Semoga ini bukan pilihan yang buruk.’ **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD