Kaylana dengan lesu duduk di mejanya sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja. Ia merasa sedih akan meninggalkan tempat ini. Ia sudah bekerja di Bramantya Group selama 2 tahun, jujur saja ia merasa senang bekerja di sini. Kembali memikirkan akan bekerja bersama Karel membuatnya frustasi, bagaimana jika nanti ia malah bekerja tidak professional? Bukan Karel saja yang dirugikan, ia juga dapat mengecewakan kepercayaan Pak Adward.
Kaylana mengangkat kepalanya dan menatap kembali pintu ruangan Adward. Yeah, meja kerjanya tidak jauh dari ruangan Presedir hanya berjarak beberapa langkah saja, karena lebih memudahkan Pak Adward jika membutuhkan bantuannya segera.
Gadis itu menghela napas pelan, saat ini bukan waktu yang tepat untuk bersedih.
Kaylana mengalihkan fokusnya pada tumpukan kertas yang ada di atas mejanya. Ia memilih merapikan beberapa berkas yang perlu diperiksa oleh Adward, memisahkannya dengan berkas yang lain. Di saat ia tengah serius melakukan pekerjaannya, ia tersentak kaget saat Karelion keluar ruangan Adward. Kaylana refleks berdiri dan menyapa dengan senyum ramah, benar-benar bersikap professional. Namun reaksi Karelion hanya melihat datar dan pergi begitu saja. Kaylana yang melihat itu mendengus kesal sekaligus malu, ‘Bagaimana bisa ia seangkuh itu?’pikirnya kesal. Kaylana menghela napas pelan untuk menetralkan emosinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah selesai merapikan beberapa berkas yang diperlukan Adward, ia segera membawanya ke ruangan Presedir. Mengetuk pelan, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Kaylana tersenyum ramah saat pria itu menyadari kedatangannya, gadis itu segera melangkah menuju meja Adward.
Adward menghentikan kegiatannya dan melihat Kaylana menuju mejanya dengan membawa beberapa berkas. Ia menghela napas lelah melihat tumpukan berkas itu.
“Permisi Pak, ini berkas yang perlu bapak periksa hari ini.” ucap Kaylana meletakkan berkas itu di meja Adward.
Adward mengangguk pelan, “Terima kasih Kay. Ah ya, kau sudah mengemasi barang-barang mu?” tanya nya pada gadis itu.
Kaylana menggeleng dan menjawab, “Belum pak, setelah ini akan saya bereskan.”
Award mengangguk paham, “Kau boleh pulang lebih awal hari ini dan mempersiapkan diri untuk bekerja di minggu depan.” Adward terdiam sesaat, mempertimbangkan apakah perlu jika ia mengatakan ini. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya.
“Kay apapun yang terjadi selama kau bekerja di sana, ku harap kau bisa bertahan sampai waktu yang telah disepakati. Namun jangan sungkan untuk meminta tolong padaku jika kau dalam situasi yang berbahaya selama bekerja di sana.” pesan Adward tulus.
Kaylana tidak mengerti apa yang dimaksud Adward, ‘Bukankah ia hanya bekerja sebagai sekretaris bukan di medan perang’ pikirnya. Namun ia tetap mengangguk dan tersenyum ramah, “Baik pak, terima kasih. Saya permisi kembali ke meja saya pak.” Adward mengangguk mengiyakan.
Kaylana melangkah ke luar menuju mejanya dengan penuh kebingungan. Saat sampai di meja kerjanya, ia mengemasi berang-barang yang perlu ia bawa dan meninggalkan yang tidak perlu. Namun getaran pada handphone-nya mengalihkan fokusnya hingga ia memeriksanya. Nama Liam tertera dilayar handphone, pria itu melakukan panggilan video. Kaylana yang masih merasa marah memilih mengabaikan pria itu dan melanjutkan kegiatannya.
**
Seorang pria dengan kesal menghubungi seseorang, namun tidak kunjung mendapat jawaban. Ia meletakkan handphone-nya dengan keras pada meja di depannya. Pria itu memilih mengalihkan fokusnya pada seorang gadis yang sedang melakukan acting menangis, ia terpukau dengan kehebatan gadis itu. Gadis itu sangat ramah dan hal itu memudahkan mereka membangun chemistry yang baik selama proses syuting.
Kegiatan syuting itu selesai setelah sutradara mengatakan ‘Cut’. Gadis itu menghapus air mata dipipinya dan melangkah menghampiri seorang pria yang dari tadi menatapnya. Ia tersenyum manis pada pria itu.
“Kau melakukannya dengan sangat baik Lestari.” puji pria itu pada seorang gadis yang baru saja duduk di samping kursinya.
Lestari menoleh dan tersenyum manis, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu. Ia teringat dengan acara party ulang tahun salah satu pemain dalam project film mereka. Ia menatap pria itu, “Liam, apa kau akan datang malam ini?”
Liam mengangguk dan tersenyum, “Ya aku akan datang. Ada apa?” tanya nya. Gadis itu menatap wajah Liam, “Bisakah aku pergi dengan mu?” pintanya manja.
Liam mengangguk dan mengelus rambut pendek gadis cantik disebelahnya. Liam menatap gadis itu lekat, tatapan mereka bertemu hingga membuat gadis itu bersemu. Interaksi itu terhenti karena kedatangan Production Assistant yang menghampiri mereka.
“Permisi saya mengantarkan kotak makan siang.” sembari meletakkan dua kotak makan siang dan dua botol minuman di atas meja.
“Hm ya, terima kasih Pak.” jawab Liam, dan Lestari hanya mengangguk pelan.
“Liam apa kau ingin melakukan siaran langsung dengan ku? Siaran langsung santai saja dan bisa digunakan untuk kebutuhan marketing.” tawar Lestari, sambil membuka tutup botol minum miliknya yang tersedia di atas meja.
Liam mengangguk setuju, “Boleh. Apa kita perlu melakukan adegan manis tambahan?” tanya pria itu.
“Itu sangat baik dan akan semakin menarik.” setuju Lestari lalu meneguk air pada botol minuman ditangannya. Ia tersenyum pelan, sebenarnya itu hanya alasannya saja. Tujuannya ingin semakin dekat dengan Liam.
Setelahnya, Lestari mengaktifkan handphone-nya dan membuka fitur siaran langsung. Dalam hitungan menit dibanjiri dengan penonton yang menyapanya dan memuji penampilannya. Lestari tersenyum manis membaca itu,” Halo teman-teman, aku masih di lokasi syuting bersama Liam.” ucapnya ceria menyapa penonton, sembari mengarahkan frame kamera pada Liam dan pria itu tersenyum manis. Lestari terus berbicara tentang kegiatan mereka sembari menerima suapan nasi yang Liam berikan, ya pria itu memilih menyuapi gadis itu makan. Lestari semakin senang mendapatkan perilaku manis dari Liam.
Lestari tersedak setelah membaca salah satu komentar yang mengatakan, “Apa pacar Liam tidak marah melihat interaksi ini?”
Liam dengan gesit membuka tutup minuman dan memberikannya pada gadis itu. Interaksi kecil keduanya membuat komentar kembali ramai dengan seruan gemes dari para penonton. Namun Lestari menyergit bingung mengingat komentar tadi, ‘Bukankah Liam tidak memiliki pasangan?’ pikirnya.
Liam yang melihat gadis itu diam bertanya, “Ada apa?”
“Tidak ada.” elak gadis itu tersenyum manis.
Salah satu crew di sana mengabadikan moment manis mereka dan mengunggah-nya di akun fanbase couple mereka. Dalam hitungan menit postingan itu dibanjiri dengan komentar positif dan menjodoh-jodohkan keduanya. Postingan itu memiliki banyak komentar, like dan share. Karena akun sosial media fanbase couple mereka memiliki banyak penggemar.
Di lain tempat, seorang gadis sedang menahan kesal melihat siaran langsung yang ia tonton menggunakan second account miliknya. Hatinya semakin panas membaca beberapa balasan yang pada komentarnya dengan ujaran kebencian. Ia hanya menyampaikan kebenaran, pria itu memang telah memiliki pacar tetapi tidak di-publish saja. Padahal tadi pria itu menghubunginya, ia pikir merasa menyesal dan sedih. Tetapi malah terlihat ceria dan seperti tidak terjadi apa-apa. Malah memberikan perhatian pada gadis lain.
‘Aku semakin kesal padamu.'
***