Kaylana hari ini memutuskan untuk membeli kebutuhan bulanan. Hitung-hitung untuk membeli beberapa kemeja yang nanti dapat ia kenakkan saat bekerja di tempat baru. Sejujurnya ia merasa sedikit tidak percaya diri karena perusahaan besar itu sangat diminati banyak orang. Namun tepat saja dulu ia menghindari melamar pekerjaan di perusahaan besar itu, selain meragukan skills yang ia miliki juga ingin menghindar dari keluarga Mercues. Tapi sekarang berbeda, ia malah masuk dalam perusahaan itu dengan begitu mudahnya.
Hari ini sangat cerah jadi ia mengenakkan dress putih polos di bawah lutut yang begitu cocok padanya. Ia menggunakan tas kecil berwarna cream yang semakin membuat penampilannya begitu cantik. Kaylana berjalan dengan santai menelusuri bangunan Mall besar. Tujuan awalnya ia ingin ke store buku untuk membeli beberapa stock novel. Saat fokus berjalan, ia dikagetkan oleh seseorang yang menabraknya dari belakang hingga hampir membuatnya tersungkur ke lantai.
Kaylana merasa kesal dan hendak protes namun terhenti setelah tahu pelaku yang menabraknya adalah anak kecil. Gadis itu luluh pada anak kecil yang menatapnya takut. ‘Sangat menggemaskan’ pikirnya.
Kaylana refleks menunduk menyamakan tinggi tubuhnya anak kecil itu, lalu mengelus pelan bahu anak itu agar tidak merasa takut, “Hei anak manis, siapa namamu?” tanyanya lembut dan tersenyum manis.
“Maaf kak, Elen tidak sengaja.” ucap anak itu merasa bersalah.
Kaylana mengangguk pelan, “Baiklah, jadi nama mu Elen?” Anak kecil itu mengangguk cepat.
“Bersama siapa kau di sini?” Kaylana celingak-celinguk namun tidak menemukan orang lain bersama anak kecil ini.
“Elen bersama mommy dan tante jelek.” jawab anak itu.
Kaylana menyergit, “Lalu di mana mereka?” tanyanya kembali.
“Tidak tahu. Elen sudah berlari sangat jauh dari mereka. Elen tidak menyukai tante jelek itu.” jawabnya enteng. Kaylana mengangguk mengerti, ‘Jadi gadis ini kabur dari orang tuanya.’ pikirnya.
Kaylana menatap kasihan pada anak di depannya, “Apa Elen ingat nomor ponsel yang bisa dihubungi?” anak kecil itu menggeleng pelan dan menuduk dalam.
Kaylana menggigit kuku jempol tangannya, sembari berpikir cara agar anak ini dapat bertemu orang tuanya. Namun selain itu ia juga perlu memastikan anak kecil ini tidak menangis agar orang-orang tidak salah mengira ia sebagai penculik. Kaylana ingat kalau anak kecil biasanya menyukai hal-hal imut kan? Benar, itu ide yang bagus menurutnya.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sambil mencari ibumu. Atau kita membeli mainan misalnya?” Elen yang mendengar itu mengangguk senang.
Gotcha, Kaylana berhasil membujuknya. Gadis itu dengan semangat menggandeng tangan Elen dan berjalan beriringan. Mereka menyusuri Mall sampai tiba di store mainan anak-anak, keduanya dengan langkah senang menjelajahi tempat itu.
“Kau ingin membeli apa?” tanya Kaylana. Matanya dengan lihai menelusuri beberapa mainan yang terpajang di rak.
Anak itu dengan senang menjawab. “ Elen ingin membeli boneka Jessie, karena ia sangat cantik dan kuat.”
Kaylana menyergit, “Siapa dia?” tanya gadis itu.
Elen menatap Kaylana, “Jessie adalah sahabat Woody, dia selalu membatu teman-temannya.” jelas anak itu semangat. Kaylana terkekeh gemas melihat cara anak itu menjawab pertanyaannya, mata anak itu berbinar senang. Pasti Jessie yang ia maksud sangat keren hingga membuat anak itu terpukau.
“Baiklah, mari kita mencarinya.” ucap Kaylana semangat, meskipun ia tidak tahu siapa itu Jessie namun yang terpenting anak itu senang mendapatkan mainan favorit-nya.
Setelah menemukan boneka Jessie, Elen dengan gembira memeluknya. Kaylana tersenyum manis melihat itu, sungguh menggemaskan sekali anak ini. Saat mereka hendak membayar ke kasir, ia melihat ada gantungan kunci kupu-kupu warna putih dengan satu mutiara kecil di atasnya, sangat cantik dan lucu. Dengan semangat gadis itu mengambilnya. Gerakan tiba-tiba yang dilakukan gadis itu membuat Elen penasaran dan bertanya, “Kakak menyukai kupu-kupu?”
Kaylana mengangguk, “Ya benar. Lihat bentuknya sangat imut dan lucu. Cantik sekali.” Anak itu mengangguk setuju.
Mereka melanjutkan langkah menuju kasir membayar barang yang telah dibeli, lalu setelahnya beriringan berjalan keluar store. Elen menatap Kaylana kagum, ia merasa kakak itu sangat cantik dan baik. “Nama kakak siapa?” tanya anak itu penasaran, teingat ia belum mengetahui nama kakak baik ini.
“Kau boleh memanggil kakak kupu-kupu cantik.” goda Kaylana bercanda, dan tertawa kecil setelahnya. Elen mengangguk pelan.
“Baik, kalau begitu kakak juga harus memanggil Elen, Jessie.” ucap anak itu tersenyum senang. Kaylana mengangguk pelan, ‘Tidak buruk juga’ pikirnya.
“Deal” ucap gadis itu tersenyum manis. Langkah kaki keduanya terhenti akibat tarikan kuat pada lengan Elen dari belakang.
“Elen, apa kau baik-baik saja?” tanya seorang perempuan lain tiba-tiba menghampiri mereka dan memegang pergelangan tangan anak itu dengan kuat.
Kaylana terkejut melihat perempuan itu, setelah berfikir beberapa saat akhirnya ia ingat. Perempuan ini adalah orang yang dinner bersama Liam beberapa hari yang lalu. Mengingat itu membuat gadis itu merasa kesal.
Perempuan itu melihat Kaylana marah dan berkata, “Kau memiliki masalah denganku, jangan melibatkan dia.” tuduhnya pada Kaylana, hingga menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
Kaylana yang memang sudah merasa kesal pada perempuan itu semakin tersulut emosi. Ia melihat beberapa mata yang melihat ke arah mereka, terutama pada Kaylana yang terlihat seperti tersangka di sini. Ia menjawab dengan kesal,”Kalau kau tidak tahu kebenarannya, jangan asal bicara.”
“Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ini?” ucap perempuan itu curiga.
“Lepaskan tangan Elen. Tante jelek jangan memarahi kakak kupu-kupu.” ucap anak itu marah. Perkataan Elen membuat keduanya mengalihkan fokus menatap anak itu. Anak itu terlihat menahan sakit pada pergelangan tangannya yang digenggam kuat oleh perempuan itu. Kaylana yang melihat itu mendengus marah dan berniat menghentikannya namun terhenti karena teriakan Elen yang memanggil seorang wanita asing baginya.
Elen melihat seorang yang ia kenali “Mommy.” ucapnya kuat pada wanita itu. Wanita itu berlari dengan khawatir pada pelaku suara yang memanggilnya. Ia memeluk Elen dengan sayang dan bernafas lega saat mengetahui anaknya baik-baik saja. Wanita itu mengalihkan fokus nya pada kedua orang di depannya dan berkata, “Kiara, apa yang terjadi?”
“Kak gadis ini yang membawa Elen pergi.” tuduh Kiara, ia masih kekeh pada presepsinya bahwa gadis itu yang menculik Elen. Kaylana menatap Kiara berang, peremuan ini masih saja menuduhnya.
“Tidak mommy. Kakak kupu-kupu ini baik telah membelikan Elen mainan. Lihat.” ucap anak itu sembari memperlihatkan mainan yang telah ia beli. Wanita itu menatap gadis yang disebut Elen sebagai ‘kakak kupu-kupu’, ia tersenyum manis. Ia mengenal gadis itu, sedikit terkejut bahwa mereka akan bertemu di sini.
“Terima kasih ‘kakak kupu-kupu’, sebetulnya nama mu sedikit lucu.” tawa kecil wanita itu. Kaylana merasa malu, seharusnya tadi ia memperkenalkan diri dengan benar.
“Ibu bisa memanggil Ana saja, dan aku benar-benar tidak menculik Elen. Maaf, seharusnya aku terlebih dulu membantu Elen mencari orang tuanya bukan mengajaknya membeli mainan.” jelas Kaylana merasa bersalah.
“Saya tahu. Saya Sherly dan kau boleh memanggil saya kakak saja. Panggilan ibu terasa cukup tua.” ucapnya tersenyum lembut. Kaylana mengangguk pelan, mommy Elen baik sekali.
Kiara yang melihat itu hendak protes, seharusnya gadis itu mendapat introgasi dari Sherly tapi apa ini, mereka malah terlihat akrab.
“Kakak serius tidak mencurigainya?” ucap Kiara ragu.
Sherly menggeleng, “Saat ini yang terpenting Elen baik-baik saja.” ucapnya lembut.
Kaylana yang melihat itu tersenyum kemenangan. Ia merasa menang dari ‘tante jelek’ itu. Sebenarnya Kiara sangat cantik tapi karena ia kesal jadi kali ini ia setuju dengan panggilan Elen pada perempuan itu.
“Ana, setelah ini apa kau mau makan siang bersama kami?” ajak Sherly. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk berbincang lebih lama dengan gadis itu.
Kaylana dengan cepat menggeleng, “ Maaf, namun aku punya urusan lain yang harus dilakukan.” ucapnya pelan. Itu hanya alasan saja, karena ia pikir mereka tidak terlalu akrab jika harus makan bersama.
“Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu Ana, semoga kita bertemu lagi.” Kaylana mengangguk pelan. Elen melambaikan tangan pada Kaylana dan tersenyum manis hingga membuat gadis itu ikut melakukan hal yang sama. Lalu setelahnya, anak itu melangkah pergi bersama ibunya.
Kiara menatap Kaylana sinis, sebelum berlaru pergi menyusul keduanya. Kaylana mendengus kesal, ‘dasar tante jelek’ gumamnya.
Sherly membuka handphone-nya dan mengetik beberapa pesan pada seseorang. Ia tersenyum tipis, ia berharap setelah ini semuanya dapat kembali baik.
“Ternyata gadis itu ada di kota ini.”
**