6. Brosur Motor

1311 Words
Pagi-pagi sekali, saat Kang Dadang sudah berangkat ke kebun binatang, aku pun bergegas ke rumah Bu Widya. Pintu pagar rumah besar itu masih rapat dan tergembok dari dalam. Apa aku terlalu kepagian bertamu? Aku berbalik, memutuskan pulang saja dan kembali lagi nanti siang. Siapa tahu Bu Widya sedang sibuk, aku malah bertamu. "Mbak," suara yang aku kenal memanggul namaku. Aku pun menoleh dan melihat Willy di depanku dengan tubuh penuh keringat. Ia baru saja tiba dengan sepeda lipat kekinian yang pernah aku cek harganya sekitar enam puluh juta. "Ada apa? Mau ketemu Mama?" tanyanya dengan suara lebih ramah dari biasanya. "Eh, iya, Wil, tapi pagar masih tergembok, gak papa nanti agak siangan saya balik lagi," jawabku sambil tersenyum canggung. Bagaimana tidak canggung? Diperhatikan oleh pemuda tampan dan gagah yang berkeringat, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ya ampun, aku baru sadar tengah memakai sandal jepit yang hampir lepas bagian ujung depannya. Belum lagi rok yang aku kenakan bolong, gara-gara tersangkut saat aku pergi ke pasar kaget mingguan. "Oh, pagar depan memang masih tergembok. Pagar samping sudah terbuka, Mbak, tadi saya keluar dari situ. Mama mungkin sedang olah raga di dalam. Masuk saja, ayo!" Pemuda itu mendorong sepedanya ke arah pintu samping. "Willy, nanti saja deh, gak papa. Gak terlalu penting juga. Saya pamit ya." Tanpa mendengar panggilan pemuda itu, aku berjalan cepat menjauh dari rumah Bu Widya. Aku sudah kadung malu dengan penampilan ini yang sangat berantakan. Bagaimana aku bisa menjadi admin keuangan? Sedangkan pakaianku saja sungguh berantakan. Tidak mungkin aku memakai baju robek untuk bekerja. Bisa-bisa image-ku hari ini begitu buruk karena penampilanku. Begitu sampai di rumah, aku pun mandi dan berganti pakaian. Kuputuskan untuk mengirimkan pesan pada Bu Widya terlebih dahulu sebelum aku ke sana. Siapa tahu beliau sedang sibuk. Assalamu'alaikum, Bu, apa Ibu ada di rumah? Saya mau membicarakan hal yang kemarin Ibu tawarkan. Send Wa'alaykumussalam. Ada, Neng, kemari saja. Baik, Bu, terima kasih. Send Kukenakan celana jeans sedikit longgar, pemberian dari sepupuku di Depok. Lalu baju atasan kaus berwarna merah muda model berkerah, pemberian dari adik sepupuku yang ada di Bandung. Kuikat rambut ekor kuda agar lebih rapi dan terlihat pantas saat aku bekerja nanti. "Mau ke mana, Mbak Nura?" tanya Bu Tejo saat melihatku audah rapi, tengah mengunci pintu rumah. "Eh, Bu Tejo, ada urusan sebentar, Bu," jawabku sambil tersenyum. "Gini atuh setiap hari, Mbak, saya jamin Kang Dadang pasti gak marah-marah lagi," seru Bu Tejo sambil tertawa. "Oh, kalau soal itu kayaknya sejak dari masih Zygot, Kang Dadang emang senangnya ngajak ribut, Bu. Sudah gak aneh saya." Aku menimpali dengan tawa yang sama lebarnya. "Ya sudah, hati-hati ya." Aku tersenyum kembali pada Bu Tejo, kemudian melangkah dengan penuh semangat menuju rumah Bu Widya. Satu dua orang tetangga menyapaku dengan ramah. Mereka terheran melihat keadaanku yang sangat rapi, berbeda dari biasanya. Tidak sampai tiga menit, aku sudah tiba di rumah Bu Widya. Ada mobil besar di sana dan dapat kupastikan itu adalah mobil suaminya. Ganggu atau tidak ya? Kembali aku ragu untuk bertamu, tetapi aku sudah mengatakan pada Bu Widya untuk datang ke rumahnya. "Assalamu'alaikum," seruku dengan suara cukup keras. "Wa'alaykumussalam, tunggu." Suara Bu Widya menyahut. Tidak lama kemudian wanita setengah baya itu keluar dari dalam rumah dengan senyuman lebarnya. "Maaf, Bu, saya datang disaat yang tidak tepat ya," Kataku dengan rasa sungkan. "Tidak, kata siapa? Ayo, masuk!" Bu Widya mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya yang jika dilihat dari depan tidak terlalu besar, tetapi saat masuk ke dalamnya, sungguh di luar perkiraan. Cantik, sejuk, dan sangat bagus. "Bik Hasna, buatkan teh untuk tamu saya!" Seru wanita itu pada pembantunya. "Jangan repot-repot, Bu, saya sudah minum teh di rumah." "Gak papa, satu gelas tidak akan merepotkan, kecuali kamu minta satu galon teh, he he he..... " Aku dan Bu Widya tertawa bersama. "Jadi, bagaimana? Apa Dadang mengijinkan kamu bekerja?" tanya Bu Widya to the point. "Boleh, Bu, maka dari itu saya ke sini sekarang. Kapan saya bisa mulai belajar, Bu?" tanyaku antusias. Jujur, aku sudah tidak sabar bekerja di luar rumah, mempunyai penghasilan sendiri, dan bisa menggunakan pendapatanku untuk membeli apa yang aku inginkan. "Willy sedang kuliah, mungkin pulang sore. Besok pagi saja jam delapan kemari, karena Willy besok tidak masuk." "Baik, Bu, ya ampun, saya terima kasih banyak sudah diberi kesempatan ya, Bu." Mata ini sudah berkaca-kaca menahan tangis haru. "Senang bisa membantu Mbak Nura. Semoga pekerjaan ini cocok dengan Mbak ya." Aku tersenyum senang. Kami berbicara tentang usaha laundry yang tengah dirintis anaknya. Bu Widya juga menceritakan aktivitas apa saja yang biasanya ada di tempat itu. Hingga azan zuhur pun berkumandang, aku memutuskan untuk pamit pulang. "Mbak, papanya baru saja pulang dari Korea. Ini ada sedikit oleh-oleh buat Mbak ngemil di rumah ya." Bu Widya mengulurkan paper bagian berukuran sedang padaku. "Saya terlalu sering dibagi, Bu, saya jadi tidak enak hati," kataku kali ini dengan perasaan yang sebenarnya tidak begitu nyaman dengan kebaikan Bu Widya. Apakah ini tidak apa-apa? "Kalau menolak rejeki malah gak boleh. Saya tidak akan miskin jika berbagi sedikit makanan sama kamu, Nura. Ni, ambil ya." "Baik, Bu, terima kasih banyak." Aku pun pamit pulang karena mata ini seperti tidak bisa ditahan rasa kantuknya. Begitu sampai di rumah, aku pun salat, lalu makan siang. Tadi padi aku sempat memasak terong pemberian Bu Widya yang masih tersisa dua buah. Tidak apalah seperti ini, semoga saja setelah nanti aku bekerja, aku bisa makan apa yang sedang ingin aku makan. Mata ini tidak bisa diajak kompromi. Begitu aku rebahkan kepala di atas bantal, langsung mata ini terlelap. Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas suara motor Kang Dadang yang berhenti di depan rumah membuatku tersentak bangun, tetapi tubuh ini masih lemas untuk menyambutnya. Untung saja pintu rumah tidak aku kunci, biar Kang Dadang masuk sendiri saja. Pintu kamar terbuka. "Ck, sudah sore masih tidur aja, Nura! Bangun dong! Suami pulang buatkan air dulu!" Tukasnya sambil membuka seragam kerja, lalu melemparkannya asal ke atas kursi. "Sebentar, Kang, saya baru aja bangun, masih lemes banget. Kakang mandi dulu saja," mataku sambil mencoba bangun dengan kepala yang sedikit berputar. "Ya sudah, kalau begitu. Oh, iya, kapan kamu mulai bekerja? Gajinya berapa? Aku mau ganti motor kalau kamu sudah mulai kerja dan gajian," ujarnya dengan santai, sembari memberikan brosur motor padaku. "Maksudnya, Kang?" tanyaku tidak paham. "Aku mau ganti motor dengan yang lebih bagus dan besar. Tukar tambah dengan motor butut kita. Karena kamu nanti punya gaji, makanya bayar motor itu pakai duit gaji kamu." "Saya kerja untuk bayar motor Kang Dadang? Terus saya kerja berangkatnya gimana? Kang Dadang antar gitu? Terus Kakang jemput? " tanyaku masih dengan ekspresi tidak paham. "Ya nggak, Nura! Kamu kerja ya pakai angkot. Jangan manjalah, mentang-mentang saya motor baru, terus kamu nebeng? Jangan, kamu tetap harus kelihatan susah di depan orang-orang, biar banyak yang iba termasuk Bu Widya." "Aku yang kerja, Kakang yang mau nikmati keringat aku? Mending aku gak usah kerja sekalian!" Kurobek brosur motor GMax yang ada di tanganku dengan kasar. "Kalau mau ganti motor, pakai uang sendiri! Bukan malah ngerampok uang istri! Kalau gak mampu, naik buaya saja ke kebun binatang!" Aku turun dari tempat tidur, lalu berjalan cepat meninggalkannya yang terdiam sambil berkacak pinggang padaku. Belum lagi bekerja saja, sudah membuatku hampir gila. Bagaimana nanti kalau aku sudah bekerja? "Kang, saya pinjam uang deh!" Kataku saat melewatinya. "Buat apa lagi? Kamu ini utang terus sama suami, tapi warisan belum juga dapat!" Sahutnya sambil menggelengkan kepalanya. Aku beristighfar dalam hati, jangan sampai tangan ini melayang ke pipi suamiku. "Kalau ada maunya baru suara kamu gak kayak toa masjid," sambungnya lagi dengan wajah masam. "Saya pinjam sembilan ratus ribu, ada gak? Nanti begitu saya gajian saya bayar," kataku lagi masih tidak mau mengalah. Kang Dadang berjalan mendekat padaku, lalu meremas b****g ini seperti biasa. "Buat apa sih uang sebanyak itu, hem?" Kali ini remasannya pada bokongku cukup kuat, sehingga aku meringis. "Mau ke pengadilan agama, mau daftar gugatan cerai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD