"Jangan pernah main-main dengan kata cerai, paham kamu! Apa kamu memang ingin melihat ibu kamu segera mati? Saya anggap kamu tidak pernah mengatakan ini, Nura!" Kang Dadang menunjuk bibirku, lebih tepatnya ia menekan sedikit dengan rahang yang mengeras. Suamiku marah, tetapi aku lebih marah lagi dengan kelakuannya. Lihat saja nanti jika aku sudah bekerja, aku tidak akan mau diperlakukan semena-mena lagi olehnya.
Ia pergi meninggalkanku sambil membanting pintu kamar. Aku tidak peduli, mulai hari ini aku tidak akan tinggal diam dengan semua perlakuannya. Suara motor menyala, kemudian menjauh dari rumahku.
Malam ini kami lalui dengan tidur saling memunggungi. Suara dengkurannya yang teramat keras membuatku susah memejamkan mata. Jika saja melakban mulut suami tidak berdosa, maka sudah kulakukan daritadi agar ia tidak berisik.
Keesokan paginya, aku bangun lebih dahulu seperti biasa. Walau tubuh ini lemas, tetapi aku harus melakukan pekerjaan rumah tangga semampuku. Perut ini terasa begitu lapar, tetapi hanya ada kentang pemberian Bu Widya kemarin. Aku ingin sekali makan nasi uduk, tetapi minta pada suamiku tidak mungkin.
Bergegas aku mandi dan salat. Lalu menyapu serta mengepel rumah dengan cepat.
"Nura, belikan aku nasi uduk dengan bakwan goreng!" Seru Kang Dadang dari dalam kamar, masih dengan suara serak.
"Iya, Kang." Aku tersenyum senang, akhirnya aku sarapan nasi uduk juga. Kenapa suamiku bisa paham yang sedang aku inginkan saat ini? Kaki ini melangkah dengan penuh semangat menghampiri Kang Dadang yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.
"Ini, belikan satu bungkus nasi uduk dengan bakwan satu." Aku menerima uang enam ribu rupiah dari suamiku.
"Kang, saya juga mau nasi uduk," kataku dengan memaksakan senyuman.
"Kamu masih ada utang, jadi makan yang ada saja di dapur. Siapa suruh ngutang sama suami?!" ujarnya ketus sambil meninggalkanku yang tergugu sambil meremas uang enam ribu rupiah.
"Di dapur sudah gak ada bahan makanan, Kang! Saya lapar," kataku lagi sambil menahan tangis.
"Siapa suruh tidak bisa menjadi istri yang hemat. Sudah sana pergi! Aku lapar!" Teriaknya dari dalam kamar mandi.
"Saya ini istri atau b***k? Kalau b***k, boleh saja seenaknya memberi saya makan, tetapi saya istri, buku nikah pun saya ada, tetapi kenapa saya diperlakukan seperti b***k?!" Teriakku berapi-api.
Kuhentakkan tangan ini di atas meja makan. Uang dari Kang Dadang kutaruh di sana dengan kemarahan yang membumbung tinggi.
Kutinggalkan rumah dengan air mata yang mengalir dengan deras. Tak lupa kunci cadangan aku bawa, tetapi ponsel dan pakaian tidak ada yang aku bawa.
Satu dua orang tetangga memperhatikan langkahku yang tergesa berjalan keluar dari rumah. Entah mau ke mana kaki ini melangkah, karena seperak pun aku tidak memiliki uang. Ingin pulang ke rumah orang tua tidak mungkin, ongkosnya aku tidak punya.
"Mbak Nura kenapa?!" Seru Bu Suci yang melihatku menangis dan berjalan cepat untuk keluar dari gang rumah kami.
Setelah merasa lelah dan cukup jauh berjalan dari rumah, aku duduk di sebuah halte kosong. Kakiku lemas, perutku lapar, aku berbalik memunggungi jalan raya agar tidak ada yang mengetahui aku menangis.
"Saya tidak tahu Mbak kenapa? tetapi menangis dari rumah sampai ke sini itu pasti tenaganya banyak terkuras. Ini, makan dulu!" Aku menoleh kaget dengan suara lelaki yang kini berada di belakang tubuhku. Willy dengan sepedanya mengulurkan bungkusan stereofoam makanan padaku.
Aku tidak sanggup menerimanya, air mataku semakin deras mengalir karena merasa begitu sedih. Aku menunduk merasakan sakit pada d**a dan juga perutku yang lapar. Lelaki itu memarkirkan sepeda lipatnya, lalu ikut duduk di sampingku.
"Sarapan dulu dan minum tehnya, biar kuat kalau mau gelud sama suami sendiri, he he he..." Aku menoleh, lalu dengan tangan gemetar menerima pemberian Willy.
"Selesai makan, pulang ya, Mbak. Orang pasti bingung lihat Mbak seperti ini, pulang dan selesaikan. Lekas bekerja di laundry saya, biar gak terlalu sakit hati dengan masalah rumah tangga. Saya permisi ya, Mbak." Willy berkata bijak sebelum ia berbalik untuk mengambil sepedanya kembali.
"Terima kasih, Willy. Jangan katakan apapun pada Bu Widya." Pemuda itu tersenyum.
"Terlambat, Mbak, justru mama yang paling awal tahu Mbak jalan sendirian sambil menangis. Itu, mobilnya di seberang jalan!" Aku sontak menoleh ke seberang jalan. Ada mobil tengah parkir dan itu mobil yang selalu dikendarai Bu Widya. Wanita paruh baya itu melambaikan tangan padaku dari jauh, sambil tersenyum dan juga mengangguk. Apakah maksudnya semua akan baik-baik saja?
Aku pun ikut tersenyum, lalu mengangguk dengan kaku. Mobil Bu Widya beranjak dari sana, begitu juga Willy dengan sepedanya. Kuambil stereo foam dan juga bungkusan teh hangat. Lalu kaki ini melangkah menuju musola yang tidak jauh dari sana. Jika aku makan di halte, bisa saja Kang Dadang menemukanku dan meminta semua makanan yang ada padaku.
Bungkusan pertama aku buka, ada nasi uduk lengkap dengan tahu semur dan ayam goreng. Sungguh menggugah seleraku karena memang aku sedang ingin makan nasi uduk. Bungkusan kedua aku membukanya dengan penuh semangat. Ada tiga potong paha ayam upin dan ipin ungkep yang siap digoreng. Mata ini kembali berkata-kata karena menerima pemberian Bu Widya. Jika tidak ada beliau, mungkin aku sudah gelap mata mengakhiri hidup ini.
Nasi uduk habis ku santap tanpa sisa, berikut dengan teh manis yang rasa hangatnya pas. Tubuh ini berkeringat dan seakan tenaga dan semangat ini kembali terisi. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan berdamai dengan keadaan. Bukan menghindar cara membalas perlakuan kejam suamiku, tetapi aku harus ada cara lain untuk membuatnya jera. Aku tidak boleh lemah.
Sesampainya di depan rumah, aku mencari kunci di dalam pot bunga;tempat biasa aku atau Kang Dadang menyimpan kunci. Tidak kutemukan. Pasti Kang Dadang yang membawanya. Lelaki itu tega membiarkan aku diluar hingga sore hari? Sungguh keterlaluan. Lihat apa yang bisa aku lakukan agar aku bisa masuk ke dalam rumah.
Aku pun berdiri di depan pintu dan siap dengan posisi kuda-kuda. Sekali hentakkan kuat kaki ini ke daun pintu.
Gagal
Pintu berhasil kutendang telak dan terlepas dari tempatnya, pada hentakan kedua. Sudah lama aku tidak mengaktifkan kembali kemahiran taekwondoku, haruskah aku melakukan hal yang sama untuk suamiku? Menghajarnya seperti pintu yang ku dobrak?
"Wah, Mbak Nura bisa karate ternyata, Kang Dadang harusnya melihat ini," seru Pak Asep yang kebetulan lewat di depan rumahku sambil mengacungkan jempol.
"He he he ... bisa aja, Pak Asep. Mari, Pak, saya masuk dulu," kataku sambil mengangkat pintu, lalu mengganjalnya dengan kursi tamu yang terbuat dari kayu jati.
Baru juga kuletakkan bungkusan ayam ungkep dari Bu Widya, ponselku berdering dari arah kamar. Lekas ku berjalan untuk melihat siapa yang menelepon, ternyata suamiku si Pawang Buaya.
"Halo, apa?!"
"Maaf, benar ini dengan Mbak Nura?" Aku mengerutkan kening, karena ternyata bukan dari Kang Dadang, tetapi suara orang lain.
"Iya, saya Nura, istri Dadang."
"Iya, Mbak, mohon maaf, kami mau memberitahu kalau Pak Dadang kecelakaan saat memeriksakan gigi buaya yang sakit. "
"Alhamdulillah, terus, mati gak?"