8. Persiapan Keranda Mayit dan Tenda

1178 Words
["Maaf, Pak, maksud saya buayanya gak papa setelah menggigit suami saya? Mati gak? Soalnya kalau buaya populasinya semakin sedikit, kasihan kalau mati, Pak. Kalau manusia mati mah, masih banyak stok yang lain."] ["Maaf, Mbak Nura, buayanya gak papa."] ["Oh, terus, suami saya yang gawat? Gagal jantung gak? Tangan atau kepalanya masih yang gak ada, Pak?"] ["Langsung ke rumah sakit saja, Mbak. Ada di Rumah Sakit Persada ya."] ["Baik, Pak. Titip suami saya dulu ya, bacakan ayat qursi atau yasin, biar kuat nunggu sampai saya datang. Makasih infonya, Pak."] Aku bergegas masuk ke dalam kamar setelah menerima telepon. Kuambil tas jinjing, lalu kumasukkan pakaian Kang Dadang di dalam sana. Ada baju, celana, sarung, baju koko, dalaman, kaus dalam, kemeja, hingga tiga baris rak baju suamiku kosong. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Kang Dadang. Bisa saja dia tidak sadarkan diri atau mungkin saat ini tengah berdiskusi dengan Malaikat Izrail. Semua pakaiannya sengaja aku bawa agar aku tidak repot bolak-balik dari rumah ke rumah sakit. Satu tas jinjing besar penuh dengan baju Kang Dadang. Dilanjutkan dengan tas jinjing kedua berisi pakaianku yang sama banyaknya kuisi ke dalam tas jinjing itu. Kosong sudah lemari tanpa sisa sehelai sempak pun. Gimana bawanya ya? Aku bergumam bingung. Kalau aku angkat tidak mungkin, sedangkan aku harus berjalan kaki ke rumah sakit karena tidak ada ongkos. Kalau naik ojek online, siapa yang mau bayar. Belum tentu Kang Dadang mau membayar ongkos ojek online-ku. Bisa saja ia berkata, kenapa kamu tidak jalan saja, biar hemat? Aku pun memutuskan pergi ke warung Bu Sari. Di sana ada troli pengangkut air galon yang memiliki roda, sehingga aku tidak akan keberatan jika harus menarik tas jinjing itu. Semoga Bu Sari mau meminjamkannya padaku. "Bu Sari, troli galonnya saya pinjam dulu, boleh gak, Bu?" tanyaku saat berada di depan warung Bu Sari. "Buat apaan, Neng?" "Buat ngangkat tas, Bu. Suami saya sedang dirawat di rumah sakit, katanya terluka karena buaya. Saya gak tahu umurnya masih lama atau sebentar lagi. Tolong standby HP ya, Bu, kalau ada apa-apa dengan suami saya, saya kabari Ibu," kataku panjang lebar pada Bu Sari. Wanita paruh baya itu bukannya bersimpati, ia malah tertawa sambil menggelengkan kepala. "Kayaknya Mbak Nura sudah siap banget jadi janda ya, Mbak?" goda Bu Sari membuatku menggaruk kepala. "Iya, Bu, InsyaAllah siap banget saya. Apalagi kalau kecelakaan kerja gitu suka dapat santunan jiwa'kan? Bisa jadi janda kaya saya, ha ha ha.... " Bu Sari pun ikut tertawa. Apa hanya aku yang bisa tertawa selebar ini disaat suamiku di rumah sakit sana, mungkin sedang meregang nyawa. "Bu, udah dulu ya, saya pinjam satu trolinya." "Ya sudah, pakai saja. Saya akan minta tolong Pak Usman untuk bersihin toa masjid, biar pas pengumuman nanti suaranya jelas, ha ha ha.... " Aku tidak tersinggung sama sekali, justru aku tergelak sampai mengeluarkan air mata. "Iya, Bu, jangan lupa tenda sama keranda belum ada yang sewa lagi'kan?" "Belum, Mbak Nura. Apa mau dipasang saja dahulu, biar nanti gak buru-buru?" Aku menggigit bibir sedikit ragu untuk memutuskan. "Boleh deh, Bu, tenda dipasang, keranda di siapin depan rumah saja, Bu." Bu Sari pun mengangkat jempolnya tanda setuju. Lekas aku masuk ke dalam rumah, meletakkan dia tas jinjing besar itu pada bagian bawah troli. Tak lupa kuikat kuat dengan tali rapia. Aku juga membawa bekal makanan, sendok, gelas, dan juga piring sebagai bekal untuk di perjalanan. Untung saja masih ada makanan dari Bu Widya, sehingga aku tidak perlu menahan lapar sampai besok pagi. Satu dua orang tetangga terheran melihatku mendorong troli galon dengan membawa tas jinjing dan juga tas selempang. "Mau ke mana, Mbak Nura?" tanya Bu Arti saat aku melewati depan rumahnya. "Mau lihat nasib, Bu, he he he..., " jawabku sambil tersenyum. Kaki ini melangkah lagi dengan penuh semangat, lalu aku bertemu dengan tetangga lainnya. "Jualan daster sekarang, Mbak Nura? Saya lihat sini!" Seru Bu Asma sambil melambaikan tangan padaku. Tentu saja aku tertawa karena penampilanku ini membuat banyak tetangga salah paham. Langit perlahan gelap. Sudah tiga jam aku berjalan sambil menarik troli. Begitu azan magrib, aku pun berhenti sejenak di sebuah masjid untuk mandi dan melaksanakan salat. Setelah salat, aku pun makan bekal yang aku bawa dari rumah. Kurang lebih aku satu jam setengah di masjid, sampai bertemu waktu isya, baru aku melanjutkan perjalanan kembali. Rumah Sakit Persada sudah dekat, jika ditempuh dengan jalan kaki, mungkin sepuluh menit lagi. Kaki ini sudah sangat lelah, tetapi aku harus terus berjalan ke rumah sakit. Udara pendingin ruangan rumah sakit membuat bulu tanganku meremang. Sungguh dingin dan sejuk. Keringatku yang mengucur deras, langsung kering begitu memasuki rumah sakit. "Permisi, Mbak, saya mau tanya. Apakah ada pasien yang meninggal terkena gigitan buaya hari ini?" tanyaku to the point. Lebih baik langsung daripada aku tanyakan kamar perawatan. "Oh, sepertinya tidak ada. Adanya pasien meninggal karena digebukin istri, ada lagi pasien meninggal karena dipotong anunya sama istrinya, karena galak dan ketahuan selingkuh." "Wah, bisa juga nih jadi ide saya, Mbak. Berarti pasien yang digigit buaya belum meninggal? Kalau saya boleh tahu, dirawat di ruangan apa ya, Mbak? NICU, PICU, atau inkubator?" tanyaku dengan rasa penasaran yang teramat tinggi. Perawat itu bukannya menjawab pertanyaanku, tetapi ia malah tertawa terbahak-bahak. "Mbak, pasiennya emangnya masih bayi? Kenapa di inkubator?" "Udah setengah tua, Sus. Namanya Kang Dadang Murindang. Pawang buaya di kebun binatang," jawabku santai. "Oh, yang tadi siang dibawa ke IGD? Sekarang masih ada di IGD, Mbak, katanya gak mau dirawat. Coba Mbak langsung ke IGD saja." "Baik, terima kasih, Suster." Aku pun mengangguk paham, kemudian berjalan menuju ruangan yang sudah ditunjukkan oleh perawat tadi. Kupanjangkan leher untuk melihat ruangan IGD; mencari keberadaan suamiku. Benar, Kang Dadang tengah berbaring sambil berbincang dengan salah seorang perawat muda yang cantik. Tangan Kang Dadang diperban, mungkin digigit buaya. "Kang," panggil kau sambil menarik troli tas masuk ke dalam ruangan IGD. "Ya ampun, Nura, kamu darimana saja? Aku masuk IGD dari masih siang, kamu sampai di sini jam setengah sembilan malam. Keterlaluan kamu!" "Dih, saya mah dari sore udah berangkat, Kang, tapi karena jauh, jadinya lama. Namanya juga jalan kaki, kecuali saya naik ojek online, baru cepat. Mau naik ojek bayarnya pakai apa? Kalau saya nekat naik ojek ke sini, lalu minta dibayarin Kang Dadang, yang ada saya diomelin. Pasti kata Kakang, siapa suruh naik ojek kalau gak bisa bayar? Saya udah hapal sama tabiat suami. Dah, sekarang saya sudah di sini, gimana kabar buaya Kakang?" aku merasa bola mata suamiku akan meloncat keluar saat mendengar pertanyaanku. "Kamu ini, tidak lihat sebelah tanganku digigit? Malah nanya kabar buaya." Mata Kang Dadang masih melotot marah padaku, sambil menunjukkan sebelah tangannya yang diperban. "Makanya jangan suka galak sama buaya, apalagi kurangin jatah makannya, jadi tangan Kakang digigit. Malah saya kirain kepala Kakang yang digigit. Udah, yang penting sekarang sudah diobati. Kenapa Kakang masih di sini? Gak di ruang perawatan?" ["Halo, Bu Sari."] ["Halo, Mbak Nura, gimana? Jadi gak ngumumin di masjidnya? Toa-nya udah bersih nih, biar kenceng suaranya."] ["Kagak jadi, Bu. Kaga jadi mati suami saya. Salah prediksi kita, Bu. Mungkin memang belum waktunya hari ini, Bu, bisa lusa atau minggu depan. Biar gak ribet, tendanya ga usah dilepas dulu aja."] "Nura, kamu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD