9. Gara-gara Teh

1126 Words
"Kenapa kamu bawa tas besar dengan troli itu? Apa isi tas itu?" tanya Kang Dadang dengan kening berkerut. "Isinya baju, biar saya gak bolak-balik pulang ke rumah dengan jalan kaki. Jadi baju buat Kakang dan saya dibawa sekalian. Mukena, handuk, sempak, semua saya bawa. Lemari juga kosong," terangku sambil menoleh ke sana dan kemari menanti kapan brangkar suamiku pindah ke ruang perawatan. "Ya ampun, kamu ini merepotkan sekali! Siapa suruh bawa banyak baju, memangnya mau pulang kampung? Saya juga belum tentu dirawat, hanya masih diobservasi saja sampai enam jam ke depan, kalau badan saya tidak meriang, saya boleh pulang. Lagian pulang dari rumah sakit naik motor gak mungkin bawa tas begitu. Menyusahkan saja kamu ini," omelnya panjang lebar sambil menggelengkan kepala. "Mending dirawat, Kang, daripada nanti kenapa-napa kalau sampai di rumah. Paling gak, sampai besok dirawatnya. Kakang ada BPJS'kan, udah pasti gratis," kataku. "BPJS obatnya generik semua, kalau gigitan buaya itu harus pakai obat paten, biar sembuhnya maksimal." Aku hanya memutar bola mata malasnya. Gratis saja masih ribet, apalagi bayar. Suamiku ini sungguh unik. Tatapanku beralih pada tangan kanan Kang Dadang yang sedikit membiru. Aku menyentuhnya pelan, tetapi Kang Dadang malah meringis kesakitan. "Aw! Jangan pegang!" Katanya dengan suara keras, sehingga beberapa perawat dan pasien di IGD memperhatikan kami. "Kang, kenapa biru seperti ini? Apa jangan-jangan, karena gigitan buaya, kulit Kakang akan berubah seperti kulit buaya? Kasar dan keras." Ia melotot padaku begitu bibir ini selesai bicara. "Jangan ngaco! Duh, kepala saya tambah pusing ada kamu di sini. Dah, sana deh! Belikan makanan di kantin. Ambil uang sepuluh ribu di dompet saya. Beli roti coklat satu, roti abon satu, sama air mineral dan juga belikan permen. Kalau ada teh manis, pesan teh manis juga. Ingat, uang di dompetku ada empat ratus dua puluh ribu, kamu ambil selembar saja uang sepuluh ribu nya," katanya lagi sambil menunjuk saku jaketnya yang ada di ujung tempat tidur. Kang Dadang sama sekali tidak peduli padaku. Tidak menanyakan apakah aku sudah makan atau belum? Sudah minum atau belum? Aku yakin, ia pun membeli roti dan minuman itu hanya untuk mengisi perutnya saja. Dengan langkah tidak semangat, aku pergi menuju kantin. Aku tidak yakin apakah uang sepuluh ribu ini cukup untuk membeli semua pesanan makanan suamiku. "Mbak, beli roti abon satu, roti coklat satu, air mineral, dan juga teh. Ini uangnya!" Aku menyerahkan uang sepuluh ribu pada kasir kantin. "Maaf, Mbak, uang sepuluh ribu hanya dapat teh saja ya. Roti coklat dua belas ribu, roti abon lima belas ribu, air mineral dua belas ribu, teh manis sepuluh ribu. Uangnya kurang, pesanannya banyak." "Hah? Apa? Mahal banget, Mbak. Jadi saya hanya dapat beli teh saja?" tanyaku tidak percaya. Roti coklat biasa di warung dua ribu, di sini malah dua belas ribu? Pantas saja kasir kantin gelang emas di tangannya besar sekali. Untungnya pasti gede. Pikirku takjub. "Jadinya mau pesan apa? Di belakang sudah panjang antreannya, Mbak, " tanya kasir itu lagi padaku. Kepalaku menoleh ke belakang, sudah ada tujuh baris orang yang mengantre untuk membayar. Di tangan mereka masing-masing memegang aneka makanan untuk dihitung. Air liurku menetes saat melihat ada potongan cake strawberry dipegang seorang bapak. Pasti rasanya sangat enak. "Mbak, jadi pesan gak?" "Eh, iya, jadi. Teh manis saja." Uang sepuluh ribu diterima oleh kasir itu, lalu aku bergeser ke kanan untuk menunggu pesananku dibuat oleh satu orang pelayan kantinkantin yang lain. Setelah menerima teh manis yang dibungkus rapi dengan cup berukuran kecil, aku pun berjalan kembali ke ruangan IGD. Kembali kulihat Kang Dadang tengah berbincang dengan perawat yang tadi. "Kang, ini tehnya." Aku mengulurkan cup teh ke arah Kang Dadang. "Kuenya mana?" Ia memandang heran kedua tanganku yang kosong, hanya membawa cup teh saja. "Gak cukup uangnya, Kang. Roti coklat dua belas ribu, roti abon lima belas ribu, air mineral dua belas ribu. Jadi haya bisa beli teh di cup kecil ini," jawabku jujur sambil meluruskan pinggang duduk di ujung kakinya. "Bohong, pasti kamu yang makan roti pesananku ya?!" Aku melongo mendengar tuduhan Kang Dadang. "Apa saya terlihat seperti baru saja makan roti coklat atau abon? Lihat nih, bibir saya kering. Saya haus karena lelah berjalan. Boro-boro nanyain udah makan atau belum? Nawarin air minum juga tidak. Sekarang malam menuduh saya makan roti diam-diam." Kumajukan tubuh ini mendekat pada Kang Dadang. Kubuka lebar mulut agar matanya jeli melihat isi dalam mulutku. Hah! Kuberi dia napas agar terciun aroma apa di dalam mulutku. "Wah, uangnya kamu belikan nasi campur? Pantas saja tidak cukup! Keterlaluan kamu, Nura!" Aku semakin mendelik kaget. Aku beli nasi campur? Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Habis sudah kesabaranku kali ini. Jika ia terus-terusan marah dan pelit aku masih bisa sabar, tetapi jika sudah memfitnahku, maka aku pun sepertinya harus menyerah. "Terserah apa yang ada di otak kamu, Kang. Jika kamu menurutku makan uang yang kamu suruh beli makanan. Jika kamu tidak percaya, silakan berjalan sendiri ke kantin. Saya mau pulang, urus diri sendiri!" Aku berbalik badan sambil menahan air mata agar tidak tumpah. Perdebatan kami mengundang banyak mata memperhatikan, tetapi aku acuh saja. "Istri saya itu, udah pengangguran, maunya banyak banget. Suami lagi sakit disuruh beli makanan, malah dibelikan makanan yang lain dan dia makan sendiri." Kututup telinga saat Kang Dadang malah berbincang dengan pasien di sebelahnya; menjelek-jelekkan diriku. Kuletakkan tas pakaian Kang Dadang, lalu kutarik kembali troli Bu Sari yang hanya berisi tasku saja. Tanpa menoleh lagi, aku keluar dari ruangan IGD. Tumpah kembali air mata ini. Dosa apa yang aku lakukan terdahuku sehingga ujian hidupku begitu berat seperti ini? Bukankah aku anak baik dan tidak pernah membuat mamaku marah dan kesal. Pacaran saja aku tidak, sekalinya bertemu lelaki adalah Kang Dadang. Ya Tuhan, kuatkan aku! Aku tidak tahu harus ke mana, karena aku memang tidak ingin pulang ke rumah. Biarlah aku mengasingkan diri sementara waktu, berharap Kang Dadang bisa berubah dan merasa membutuhkanku. Namun aku harus pergi ke mana? Uang tidak punya, ponsel tidak ada pulsa. Satu-satunya barangku adalah cincin pernikahan yang saat ini masih berada di jari manisku. Apakah benda ini harus aku gadaikan untuk bertahan hidup? Malam semakin larut dan aku terus berjalan tanpa tujuan. Kaki ini seperti kayu begitu keras dan kaku karena terlalu banyak berjalan hari ini. Aku berhenti di sebuah ruko yang sudah tutup. Kurenggangkan kaki dan pinggang dengan duduk di pelataran ruko tersebut. Lelah dan mengantuk, semua menjadi satu. Aku putuskan memejamkan mata sesaat, sebelum kaki ini melanjutkan perjalanan kembali. "Mbak, Mbak, ya ampun, apa yang Mbak lakukan di sini?" suara seseorang membangunkanku dari tidur. Mata ini menyipit karena langit ternyata sudah terang. Beberapa kali aku mengerjap karena jujur saja, rasa kantuk ini sungguh luar biasa. "Mbak, kenapa bisa tidur di sini? ayo, bangun, istirahat di dalam saja!" Aku tersentak saat melihat Bu Widya yang ada di depanku, seraya mengulurkan tangan untuk membantuku bangun dari duduk. Widuri Laundry
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD