10. Memulai Hidup yang Baru

1079 Words
"Ya ampun, jadi seperti itu ceritanya. Kenapa kamu baru cerita sekarang tentang keadaan rumah tangga kamu, Nura?" Bu Widya mengusap pundakku dengan lembut, membiarkan aku menangis sambil bercerita keadaan hidup berumah tangga bersama Kang Dadang. "Saya tidak mau mengumbar aib suami, Bu. Saya mencoba bertahan karena sebenarnya saya pun menyayangi suami saya. Hanya saja perlakuannya pada saya, tak ubahnya saya hanya b***k. Diberi makan seadanya dan semuanya juga serba seadanya. Bukan saya tidak bersyukur, Bu." Rasanya lidah ini begitu kelu untuk menceritakan kepahitan berumah tangga dengan Kang Dadang. Air mata ini masih mengalir deras, menyesali diri yang begitu lemah terhadap suami seperti Dadang. "Ibu memang suka dengar ibu-ibu cerita bahwa kami sering bertengkar masalah dapur, tapi Ibu gak menyangka kalau sampai seperti ini. Ya ampun, berat sekali ujian hidup kamu, Nura. Tunggu ya, Ibu pesankan sarapan. Setelah itu kamu mandi. Laundry ini akan buka pukul delapan, sekarang masih pukul tujuh. Kamu bisa beristirahat di lantai dua," ujar Bu Widya yah ikut mengusap air matanya karena iba padaku. Jujur aku tidak nyaman nampak begitu menyedihkan di depan orang lain, tetapi d**a ini rasanya sesak jika aku tidak menceritakan keadaan ini pada siapapun. Paling tidak, aku sudah mengeluarkan semua keluh kesah yang selama ini kusimpan sendiri. "Maafkan saya sudah merepotkan Ibu. Terlalu sering merepotkan malah." Aku menerima segelas air putih dari Bu Widya. Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu mengusap rambutku dengan begitu lembut, layaknya aku adalah anak perempuannya. "Tidak merepotkan, jangan dipikirkan. Sekarang yang penting kamu istirahat dulu sambil menunggu dua karyawan lainnya datang, kemudian nanti akan ada Willy yang mengajarkanmu tentang laundry. Kita mulai dari sekarang saja ya, biar kamu tidak kepikiran terus sama ucapan Dadang." Aku tersenyum sambil mengangguk antusias. "Terima kasih, Bu. Semoga Allah balas semua kebaikan yang sudah Ibu berikan untuk saya." Aku pun menghabiskan air mineral yang ada di gelas, lalu beranjak naik ke lantai dua sambil membawa tas pakaian. Kepalaku menoleh ke sana-kemari mencari posisi kamar mandi. Ada di bagian belakang ternyata. Ada juga sebuah pintu di dekat kamar mandi yang masih tertutup rapat. "Nura, itu kamarnya. Kamu bisa pakai itu untuk beristirahat mungkin beberapa hari, sambil menenangkan diri." Bu Widya mempersilakanku untuk membuka pintu kamar. Ada sebuah ranjang berukuran single. Sebuah kipas angin yang menempel di langit kamar dan juga ada sebuah lemari berukuran sedang dengan cermin. Sederhana dan sangat bersih. "Kamar ini biasa digunakan saya atau Willy untuk beristirahat, tetapi sekarang kamu bisa gunakan. Tidak perlu sungkan, ada seprei ganti di dalam lemari, kalau kurang nyaman, kamu bisa menggantinya." Bu Widya kembali mengusap punggungku dengan lembut. "Saya turun dulu ya." Bu Widya meninggalkanku sendirian di kamar. Langsung aku menutup pintu dan membuka risleting tas jinjing itu. "Waduh, ini pakaian Kang Dadang semua? Ha ha ha... berarti tas pakaianku ada pada Kang Dadang? Ha ha ha ha... ya ampun, dasar Nura!" Aku menertawakan diri sendiri. Semua pakaian suamiku ada di sini, termasuk seragam dan celana dalamnya. Aku bisa saja memakainya karena berukuran besar, tetapi bajuku tidak mungkin dipakai Kang Dadang. Sebaik-baik rejeki, adalah yang ada di depanmu saat ini. Makan deh rejekimu suamiku. Ha ha ha Aku mandi dengan perasaan begitu senang. Membayangkan Kang Dadang memakai baju kausku yang tidak mungkin muat di badannya, terutama di bagian perutnya. Setelah mandi dan berpakaian baju kaus besar Kang Dadang dan juga celana training yang kebenaran muat di badanku, walau sedikit kebesaran. Aku pun turun ke lantai satu ruko laundry Bu Widya. Wanita itu tengah berbincang dengan dua orang wanita dan satu anak muda dengan cukup serius. Bu Widya menoleh kepadaku. Ia tersenyum, lalu menggerakkan tangannya memangilku untuk mendekat. "Nura, kenalkan ini Septi, tukang setrika. Ini Bu Ana, tukang cuci, dan ini Udin, kurir pengantar laundry untuk segera sampai ke konsumen." Aku menyalami ketiga orang itu bergantian sambil tersenyum ramah. "Saya Nura," kataku memperkenalkan diri. "Nura ini keponakan saya ya. Dia yang akan menggantikan Diana. Untuk beberapa hari ke depan, Nura akan menginap di sini dan membantu untuk packing barang. Kalian harus sabar mengajarinya karena ia masih baru, paham!" Titah Bu Widya pada ketiga karyawannya. Hati ini begitu terharu saat Bu Widya memperkenalkanku sebagai keponakannya, demi menjaga nama baikku juga. "Paham, Bu," sahut ketiganya serentak. "Udin, tolong belikan bubur ayam dua ya. Kalian sudah pada sarapan?" "Sudah, Bu," jawab ketiganya lagi dengan serentak. Aku pun naik ke lantai dua bersama Bu Widya. Kami berbincang ringan tentang usaha laundry ini. Bu Widya tidak menanyakan lagi masalah rumah tanggaku karena ia nampak ingin membuatku sedikit lebih rileks dan tidak tertekan. Setelah menikmati sarapan bubur ayam, suara langkah kaki dengan sepatu terdengar menaiki anak tangga. Aku dan Bu Widya menoleh serentak ke arah yang sama. "Itu pasti Willy," ujar Bu Widya sembari bangun dari duduknya. Aku pun ikut berdiri menyambut kedatangan si pemilik usaha laundry. "Assalamu'alaikum, Ma, Mbak Nura," sapanya ramah sambil tersenyum lebar. Baru kali ini aku melihat anak muda ini tersenyum dan ternyata sangat tampan. Giginya berbaris rapi dan sepertinya bersih dari yang namanya karang gigi. Tepatnya seperti gigi model iklan pasta gigi. "Kamu pakai odolnya apa, Willy? Kenapa giginya putih sekali," tanyaku dengan polosnya dan masih memperhatikan wajah pemuda itu dengan seksama. Bu Widya dan Willy tertawa. "Odolnya biasa aja, Nura. Willy tidak merokok dan rajin sikat gigi, makanya silau kalau dia nyengir," jawab Bu Widya sambil tersenyum. Aku pun mengangguk paham. "Jadi, kita bisa mulai belajar sekarang, Mbak Nura? Saya harus ke kampus satu jam lagi." "Wah, tentu saja bisa, dengan senang hati." Aku pun bersiap menanti penjelasan tugas yang diberikan oleh Willy. "Saya pulang ya, Nura. Papanya Willy kasian di rumah sendirian. Kamu di sini saja sama Willy ya. Kalau dia nakal atau genit sama istri orang, lapor saya saja." "Mama!" Pemuda itu melotot, lalu dengan gerakan kepalanya seolah-olah meminta sang Mama segera turun ke lantai dua. Aku hanya bisa tersenyum tanpa mengerti bahasa tubuh keduanya. "Sebelah sini, Mbak!" Aku pun mengekori Willy sampai pada sebuah meja yang sudah ada laptop di atasnya. Pemuda itu menyalakan laptop, lalu membuka beberapa file bahan untuk pekerjaanku. "Mbak, nanti tugas Mbak itu.... " Willy mengajarkanku dengan sabar satu per satu tugas yang harus aku kerjakan. Ia memberikan padaku untuk mencoba mengoperasikannya sendiri. Ia hanya memantau saja sambil mengarahkan bila aku lupa harus bagaimana. "Jika sedikit bosan, Mbak boleh nonton di laptop ini. Sebelah sini jika ingin menonton film atau youtube ya." "Wah, kalau suami saya punya beginian, Wil, pasti isinya film bokep semua." "Apa?!" Pemuda itu memekik kaget dengan ucapanku yang jujur apa adanya. "Tapi, di sini gak ada film bokepnya, kan, Wil?" tanyaku lagi dengan serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD