15. Terus-terusan Bertengkar

1313 Words
Kang Dadang mengurungku di kamar, karena sampai saat ini aku tidak mau mengatakan ke mana aku seharian. Aku tidak sanggup mendengar ocehan dan permintaannya jika saja ia tahu aku bekerja. Semua uang yang ada di dompetku, walau tidak banyak, pasti akan semua dibawa olehnya. Kang Dadang benar-benar membuatku tertekan, tapi aku tidak tahu bagaimana harus keluar dari tekanan ini? Jika saja ibuku sehat, maka rumah reotnya adalah tempat pertama aku pulang. Langkah ini akan ringan untuk memutuskan pergi ke kantor Pengadilan Agama untuk menggugat cerai. Namun, semua itu hanya nya angan, karena nyatanya, aku tidak senekat itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Kang Dadang belum juga membukakan pintu kamar. Sama-sama kudengar ia tengah berbicara di telepon, tetapi tidak tahu siapa. Bisa saja teman SMA-nya atau teman kerjanya. "Kang, buka, aku mau pipis!" Teriakku dengan kuat. Tidak ada jawaban. Kantung kemihku sudah penuh, minta dikeluarkan, tetapi Kang Dadang belum juga membukakan pintu. Ia masih asik berbicara sambil sesekali terbahak. "Kang! Buka! Aku kebelet!" Teriakku semakin keras diiringi gedoran pintu kamar. Aku yakin, tetangga kanan kiri, pasti hanya bisa mengusap d**a sambil menggelengkan kepala melihat tingkahku dan suamiku yang aneh. "Kang, astaghfirullah, aku kebelet. Ini mau pipis! Tolong buka! Woy!" "Pipis saja di situ!" Aku mendelik kaget. Apa susahnya bangun sebentar untuk membukakan pintu kamar, ini malah aku disuruh pipis di kamar. Oke, baik, biar dia tahu rasa. Aku pun menaikkan daster, lalu berjongkok di depan pintu. Sudah tidak bisa kutahan lagi rasa ingin pipis ini dan terpaksa aku pipis di kamar. Biarlah terjadi perang dunia setelah ini, karena aku pun sudah pasrah dengan Kang Dadang. Setelah puas buang air, aku pun membersihkan dengan tisu, lalu tisu itu kubuang keluar, lewat jendela. Aku pun berbaring, mataku mengantuk. Besok aku harus kembali bekerja, lalu sore harinya aku harus menjemput ibu dan Teh Nuri di terminal. "Ah, sial! Basah apa ini? Ya ampun bau pesing kamarnya! Argh, Nura! Bangun! Kamu pipis di kamar? Dasar wanita gila!" Aku tersentak saat ia meneriaku dengan kata gila. "Tadi siapa yang suruh aku pipis di kamar, hah? Kamu amnesia, Kang? Hilang akal? Istri mau pipis minta dibukain pintu, kamu bilang pipis aja di kamar, yang gila itu kamu, bukan aku! Satu lagi, jangan minta aku membereskan air kencing itu, biarkan kering sendiri. Bodo amat!" Aku berbalik badan melanjutkan tidur. Suara pukulan di pintu kamar membuatku sedikit kaget. Pasti Kang Dadang sangat marah hingga ia memukul pintu sebanyak dua kali dengan cukup keras, hingga terdengar suara 'brak' sangat keras. Aku pun sontak menoleh, pintu kamarku ambrol gara-gara Kang Dadang. Aku hanya bisa berkata 'sukurin' dalam hati. Ini namanya kualat. Jatah makan istri dipotong untuk ganti pintu depan, malah dia merusak pintu kamar. "Ini akan aku catat sebagai utang kamu, Nura!" Katanya lagi dengan suara tertahan. "Catat aja, Kang, nanti tinggal hitung di akhirat. Akan bisa dilihat, siapa yang harus melompat ke api neraka karena zolim sama istri!" "Banyak omong kamu! Tidak aku ijinkan ibu dan kakak kamu di sini! Suruh mereka cari tempat tinggal sendiri! Listrik, air, makan, aku gak mau tanggung. Bisa gila benar-benar aku jika ada tiga wanita gak waras di rumah ini." Kang Dadang keluar dari kamar dengan serampangan. Aku kembali menahan kesal sambil mengucap istighfar. Untuk saat ini keadaanku belum baik, sehingga aku tidak bisa melakukan apapun. Aku harus bersabar dan kuat demi menghadapi suami yang berperangai kasar. Mata ini sudah tidak tahan lagi ingin segera kupejamkan. Lihat besok bagaimana saja perihal ibu dan Teh Nuri. Aku pun terlelap dan tidak mau memedulikan Kang Dadang yang pergi entah ke mana. Biarlah, mungkin ia ingin menenangkan diri sebelum masuk dalam api neraka. Keesokan paginya, aku terbangun dalam keadaan sakit perut. Bukan karena mau BAB, tetapi rasa nyeri di bawah perut. Kuputuskan segera ke kamar mandi, siapa tahu, mungkin ingin buang air besar. Kang Dadang tidur di depan dengan menggelar kasur lipat. Aku melihatnya sekilas, lalu segera berlari masuk kamar mandi. Sepuluh menit berjongkok, tidak ada apa-apa. Rasa nyeri itu perlahan hilang. Apakah ini ada hubungannya dengan percintaanku dan Kang Dadang yang over dosis kemarin? Rasanya tidak mungkin. Lekas aku membilas seluruh tubuh, mulai dari kepala. Lalu tak lupa aku berwudhu untuk melaksanakan salat subuh. "Kang, bangun, udah subuh!" Panggilku sembari melewati ruang tamu. Ia bergeming, masih pulas dengan memeluk guling. Suara denting ponselnya berbunyi. Siapa yang mengirimkan pesan subuh-subuh begini? Aku mengintip layar ponselnya. Junaidin Bang, bangun. Keningku mengerut dalam. Junaidin? Setahuku, suamiku ini anak pertama. Memang ada saudaranya, adiknya kalau tidak salah, tapi hanya adik angkat dan namanya Mulyadi; dipanggil Yadi atau gak Mul. Sejak kapan Yadi ganti nama jadi Junaidin? Merasa aku tidak perlu kepo dengan urusan suamiku, aku pun masuk ke dalam kamar dengan melewati pintu yang terkena air pipis ku yang telah kering. "Ya ampun, aku belum bersihkan! Lupa!" Aku pun keluar lagi untuk mengambil kain basah. Kubersihkan dua kali dengan kain basah, sebelum aku mengeringkannya dengan lap kering yang bersih. Setelah semua rapi, aku pun kembali berwudhu untuk melaksanakan salat subuh. "Belikan aku sarapan nasi kuning di rumah Bu Salamah, Nura!" Titah yang paduka suamiku tercinta. Aku membuka mukena, lalu menoleh ke arah suara suamiku yang baru saja lewat di depan kamar, menuju kamar mandi. Beli nasi kuning pakai uang siapa? Uangku? Ogah! Sisa uang pekanan dari Willy udah menipis karena aku berbelanja kebutuhan dapur waktu itu. "Mana uangnya, Kang?!" tanyaku dari depan pintu kamar mandi. "Pakai uang kamu, Nura. Masa lupa? Semua makanan yang ingin aku makan, kamu beli dengan uang kamu dan jika kamu gak punya uang, ngebon saja dulu. Nanti saat kamu jual rumah ibu , baru kamu bayar." Aku menggelengkan kepala. Dengan terpaksa, kuambil selembar uang lima ribu dan satu lembar uang dua ribu rupiah dari dalam dompet yang aku sembunyikan di bawah kasur. Uang itu akan aku belikan nasi kuning untuk Kang Dadang saja, sedangkan aku sedang ingin makan nasi panas dengan telor ceplok. Tak apalah, sesekali aku menraktir suami manisku yang sangat mengesalkan itu. "Nasi kuning satu, Bu Salamah," kataku sambil tersenyum. Wanita setengah baya itu pun membalas senyumanku sambil mengangguk. "Utang atau bayar nih?" tanyanya dengan wajah berubah tak sedap. "Bayar, Bu. Pakai bakwan satu." Aku menunjukkan uang tujuh ribu yang aku bawa. Perasaan aku tidak pernah beli nasi kuning dengan berutang, kenapa ditanya mau bayar atau utang? "Nih, kekurangan kemarin masih lim puluh ribu ya. Lima hari Dadang sarapan di sini, nasi kuning pakai telur. Sepuluh ribu harganya, kata Dadang, uangnya dibawa kamu kamu pergi, jadi saya disuruh minta ke kamu, Nura. Lima hari lagi tanggal satu, jangan lupa bayar yang lima puluh ribu itu ya." Aku pun mengangguk pelan tanpa bisa membela diri. Sungguh suamiku adalah makhluk yang paling hih di muka bumi ini. Aku rasa, dari seribu jiwa para suami di luar sana, hanya seratus yang model Kang Dadang dan dia adalah orang yang paling pertama. Pemimpin suami yang meresahkan. "Nanti, begitu gajian, saya ganti ya, Bu." Aku pun tersenyum sambil menahan malu. Lekas aku berjalan pulang, tetapi di depan rumahku sudah ada Pak RT, Pak Usman marbot masjid, dan juga Bu Nisa. Ada apa? Pikirku tiba-tiba tidak enak hati. Ketiga orang itu tengah berbincang dengan Kang Dadang. Aku semakin mempercepat langkah agar segera sampai di sana. Apalagi raut wajah Kang Dadang nampak tidak baik-baik saja. Memang bukan baru kali ini sih, dari sejak seminggu menikah, wajah suamiku memang lebih sering terlihat tidak baik-baik saja. "Pak RT, Bu Nisa, Pak Usman, ada apa ya? Aduh, masa berdiri di depan pintu begini. Kang, kenapa tamunya gak disuruh masuk? Ayo, Pak, Bu, mari masuk!" Ajakku dengan ramah. "Gak usah, Mbak Nura, di sini saja. Begini, kami ingin menyampaikan protes warga atas kegaduhan yang selalu Mbak Nura dan Pak Dadang ciptakan. Setiap hari, gak kenal waktu, siang, malam, sore, tengah malam, kapan saja saling berteriak. Tetangga mulai resah dan meminta saya untuk menegur kalian berdua. Jika masih terus saja bertengkar, maka mohon maaf, kalau Mbak Nura dan Pak Dadang tidak bisa tinggal di sini." "Apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD