14. Lagi-lagi Bertengkar

1156 Words
Baru seminggu aku tidak di rumah, tetapi sosis PAUD seperti tidak menemuiku selama setahun. Sampai pukul empat subuh aku masih dibangunkan untuk membangunkan sosis tersebut. Lelah yang teramat sangat, tetapi apa aku bisa menolak? Tentu saja tidak. Ini adalah bagian dari kewajibanku selama Kang Dadang masih menjadi suamiku. Biar kata baru dua kali mendesah, dia udahan, tetap saja aku lelah. Lelah karena tidak pernah sampai ke tujuan. Ibarat kata, mau pergi, baru pakai sandal, udah harus masuk rumah lagi. "Kang, ibu dan Teh Nuri mau ke sini, boleh gak?" tanyaku pelan sambil mengusap-ngusap pusarnya dengan jariku. Ia menoleh ke arahku dengan setengah menunduk karena kini posisinya aku berbaring di dadanya. "Menginap berapa lama?" "Gak tahu, Kang. Rumah Ibu rusak, jadinya mereka gak bisa tidur di sana. Jadi, kamar belakang yang biasa untuk gudang, saya beresin untuk kamar ibu dan Teh Nuri ya?" "Berani berapa mereka bayar sebulan?" tanya Kang Dadang sambil mengusap lenganku. Sontak aku bangun dari posisiku. Bayar katanya? "Maksud Kakang apa? Bayar apa?!" tanyaku dengan suara meninggi. "Bayar tinggal di sinilah. Memangnya ini panti sosial yang menampung orang susah? Lagian, rumah ibu itu bisa dijual, Nura. Jual saja dan ambil bagian kamu dan Nuri. Rumah kita ini jadi bisa direnovasi. Nuri bisa buat modal jadi TKW, apalagi Nuri belum menikah. Siapatahu dapat suami orang bule." "Kang, ibu itu mertua Kakang, masa mau tinggal sementara di sini harus bayar. Ya gak begitu, Kang?" Aku tetap menolak dengan tegas. Apa-apaan mertua menumpang sementara harus bayar? "Menginap sehari, cukup lima puluh ribu saja. Bebas pakai air dan listrik. Ingat, semua urusan rumah tangga tagihannya aku yang bayar. Jadi, mau ibu kamu, mau kakak kamu, bahkan sodaraku sekali pun kalau mau menginap di sini, harus bayar. Satu malam lima puluh ribu. Berhubung yang menginap mertua, aku kasih diskon lima puluh persen, jadi dua puluh lima ribu, tetapi karena yang numpang dua orang, jadi lima puluh ribu. Bayarnya boleh harian atau mau transfer juga bisa." Aku terdiam. Jika aku menimpali ucapan Kang Dadang, maka bisa terjadi perang Dunia sebelum subuh. "Kakang memberi tumpangan mertua itu dapat pahala, Kang. Sama aja kayak orang tua yang menumpang," kataku berusaha lemah-lembut. Berharap hatinya dilembutkan dan tidak membuat keputusan yang bikin aku gila. "Makannya, bayar listriknya, bayar air, siapa yang mau bayar? Aku? Memangnya gajiku berapa? Hidup kita udah susah, Nura, jangan bikin aku tambah sakit kepala. Pokoknya kalau gak bisa bayar, carikan saja kontrakan dekat sini, suruh mereka bayar sendiri, bukan dari aku." Kang Dadang berbalik memunggungiku. Aku hanya bisa menghela napas kesal, lalu turun dari ranjang untuk membilas tubuh yang lengket ini. Aku tidak tidur lagi sehabis mandi. Dengan bumbu dapur yang aku beli seadanya, aku memasak nasi goreng. Perut ini sangat lapar sejak semalam. Entahlah, aku gampang sekali lapar, gampang mengantuk, dan juga gampang lelah. Apakah ini tandanya aku kurang piknik? Suara sendok yang beradu dengan piring, membuat suamiku terbangun dan langsung menghampiriku di meja makan. "Mana nasiku?" tanyanya masih dengan belek yang menempel di ujung mata. "Cuci muka dulu atau mandi dulu, Kang, biar segar," kataku sambil menahan napas dari aroma neraka yang keluar dari helaan napas Kang Dadang. "Dah, jangan cerewet, cepat saja ambilkan!" Katanya lagi dengan tidak sabar. Aku pun bangun dari duduk, lalu menyendokkan nasi goreng ke dalam piring suamiku. "Cepat, Nura! Aku lapar!" Teriaknya tak sabar. Aku pun bergegas menghampirinya, lalu meletakkan piring nasi itu di depannya. "Gak pakai telur mana enak! Bikinin yang pakai telur sekarang! Yang ini aku makan dulu, buat ganjelan." "Nasinya habis, belum masak lagi. Apa Kakang mau menunggu aku masak nasi?" "Ya ampun, bodoh sekali kamu Nura, sudah tahu suami kamu ini kalau pagi harus nasinya banyak, kenapa malah habis nasinya?" Kang Dadang begitu marah, hingga ia bangun dari duduknya sambil menunjuk-nunjuk ke wajahku. "Beras habis, Kang." "Aku gak ma tahu, kamu gak akan aku kasih jatah belanja sampai utang kamu lunas!" Ia makan dengan lahap, nasi goreng tanpa telur tadi. Aku hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat, agar emosiku tidak tersulut oleh ucapan pedas suamiku. Selagi ia makan, aku pun menyapu, sungguh enggan menunggui suami yang kerjanya hanya marah dan begitu perhitungan. "Nura, nanti sore, masakin aku cumi saos padang ya." Aku malas menjawab. Ia berkata apalagi pun sudah tidak kugubris. Percuma, yang ada bisa membuat umur ini pendek. Begitu Kang Dadang berangkat kerja, aku pun bersiap-siap untuk berangkat ke laundry. Semoga saja aku tidak terlambat. Kalaupun terlambat, semoga Bu Widya memaklumiku. Dengan naik angkot bernomor 129, aku pergi menuju laundry. Tidak terlalu jauh, sehingga ongkosnya pun murah; tiga ribu saja. "Kiri, Bang!" Seruku pada sopir angkot. Mobil angkot berhenti tepat di depan ruko laundry. Sudah ada mobil Bu Widya di sana dan juga sudah ada Bu Septi yang nampak baru memanaskan setrikaan uap. "Assalamu'alaikum," sapaku ramah. "Wa'alaykumussalam. Eh, ini dia orangnya yang tadi saya tungguin. Nura, kamu gak papa? Saya khawatir kamu dibikin babak belur sama Dadang." Aku tersenyum penuh hari mendengar kekhawatiran Bu Widya. "Saya baik-baik saja, Bu. Memang Kang Dadang tanya, saya ke mana, saya jawab saya ke rumah sodara." "Oh, syukurlah, terus, Dadang tahu kalau kamu bekerja?" aku menggeleng kuat. "Kalau bisa jangan tahu, Bu. Biarin aja begini dulu." Bu Widya nampak menghela napas, merasa iba dengan kesulitan yang aku alami berumah tangga dengan Dadang. Bukannya aku main rahasia dengan Kang Dadang, aku hanya tidak sanggup kalau pria itu merongrongku dengan segala keinginannya. Motor barulah, gajian dia yang simpan, katanya biar aku gak boros. Ah, lelah pokoknya. "Nura, pokoknya kalau kamu kenapa-napa, cerita sama saya ya. Jangan dipendam. Wanita itu harus punya tempat curhat yang tepat selain sama Tuhan." Aku mengangguk paham. Bu Widya pun tersenyum begitu tulus. Aku pamit naik untuk merapikan atas dan bersiap menyalakan laptop. Hari ini toko lumayan ramai, karena gerimis terus sudah tiga hari ini, maka pakaian semakin berdatangan tanpa henti. Orang-orang mungkin malah mencuci, karena baru dijemur sebentar, sudah gerimis lagi. Aku begitu sibuk, sampai-sampai tidak terasa sudah jam tujuh malam. Dispensasi jam kerja yang diberikan oleh Bu Widya untukku. Waktunya aku pulang sebelum Kang Dadang pulang dari kebun binatang. "Mau saya anter lagi, Mbak?" tanya Udin. "Gak usah, Din, Terima kasih. Saya biar naik angkot saja." Setelah berpamitan pada Udin dan Bu Septi, aku pun pulang dengan naik angkot. Tidak enak juga merepotkan Udin jika pulang selalu diantar olehnya. Aku tidak mau jadi omongan di luar. Begitu sampai di rumah, motor Kang Dadang sudah parkir manis di teras. Lampu depan menyala, tetapi lampu teras dan kamar semuanya mati. "Kamu darimana, Nura? Aku pulang dari jam lima sore, tapi kamu gak tahu ke mana? Aku telepon juga gak bisa. Apa yang kamu lakukan di luar sana Nura? Hah? Jangan bilang demi ibu dan sodara kamu, kamu nekat menjajakan diri!" Plak! "Jaga bicara kamu, Kang!" Plak! "Istri durhaka kamu, Nura! Suami bertanya malah digampar! Masuk! Sini, masuk!" Kang Dadang menarik tubuh ini dengan begitu kasar masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi aku harus bersabar atas segala sikap Kang Dadang, bukan karena aku tak mampu mengambil sikap, tetapi karena aku memikirkan ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD