13. Pulang ke Rumah

1309 Words
Setelah kupikirkan berkali-kali, akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah suamiku. Kenapa aku harus pulang? Karena ibu dan adikku akan ke Jakarta, mereka akan tinggal sementara di rumah. Tidak mungkin aku bawa ibu dan Nuri ke laundry Bu Widya. Tinggal di sini beramai-ramai. Pasti sakit jantung ibuku semakin parah. "Mbak Nura mau ke mana?" tanya Bu Septi yang terheran melihatku menggotong tas jinjing besarku, turun dari lantai dua. Ini sudah pukul delapan malam dan laundry pun sebentar lagi akan tutup. "Saya mau pulang Bu Septi. Ibu saya dari kampung mau ke rumah saya. Ga mungkin saya ajak kemari, bisa-bisa sakit jantung ibu saya tambah parah," jawabku tanpa semangat. "Loh, suami Mbak Nura bagaimana?" taya Bu Septi lagi dengan raut wajah khawatir. Aku mengulas senyum. "Gak papa, Bu, kalau sudah waktunya, akan tiba waktunya suami saya dimakan buaya peliharaannya," jawabku sekenanya, tetapi mampu membuat tawa Bu Septi meledak. "Ya sudah, nanti Bu Widya dan Mas Willy tetap dikabarin, Mbak. Biar mereka gak bingung kenapa tiba-tiba Mbak pulang. Sekarang, biar pulangnya diantar Udin saja." Aku pun mengangguk setuju. Aku memang sudah mengirimkan pesan pada Bu Widya dan Willy atas keputusanku malam ini. Semua kulakukan demi ibu dan adikku. Semoga dengan hadirnya keluargaku, Kang Dadang bisa bersikap sedikit lemah lembut padaku. Pesanku belum dibaca, mungkin masih sibuk dengan. Pekerjaannya masing-masing. "Mbak Nura, ayo, malah ngelamun! Saya mau antar setrikaan nih!" Seru Udin dengan suara setenga berteriak. "Iya, sebentar! Duh, mana tas saya sih? Tadi ada di sini." Kepalaku berputar mencari keberadaan tas jinjing milik Kang Dadang, tetapi tidak ada. "Cari apa, Mbak?" tanya Udin lagi. "Cari musuh, Din! Ya, cari tas gue!" "Ini, udah di belakang motor saya. Tadi saya yang angkat, kan? Makanya jangan ngelamun!" Aku menyeringai lebar saat mendapati tasku sudah ada di motor Udin. Ditambah bungkusan besar berisi pakaian pelanggan yang harus diantar. "Bu Septi, saya pamit." Aku pun melambaikan tangan pada Bu Septi yang tengah membereskan meja setrikaan. Angin malam begitu kencang, seperti akan turun hujan. Untung saja, aku memiliki cardigan pemberian Willy, sehingga udara malam yang dingin, tidak sampai menusuk tulangku. Di kepala ini sudah bersliweran rencana, kalimat, dan hal apa saja yang akan aku katakan nanti pada Kang Dadang, saat ia menanyaiku pergi ke mana sudah seminggu. Semoga saja ia mau menerimaku kembali, begitu juga dengan ibu dan Nuri. "Mbak, gangnya yang sebelah kanan ya?" tanya Udin sambil menunjuk jalan bercabang tiga yang ada di depan kami. "Iya, itu, Din, Gang Aduhai," kataku seraya menunjuk gang yang terpasang gapura di depan jalan masuk. "Buaya suaminya suka dibawa gak, Mbak Nura? Saya takut loh!" Aku terkikik geli mendengar intonasi Udin. "Iya, suka digendong kayak ransel. Kadang juga di gendong pakai kain batik, kayak gendong bayi di depan gitu," jawabku asal. Udin tertawa sumbang. Antara geli dan ngeri beda tipis. "Tapi tenang aja, Din, buayanya masih asi ekslusif, jadi gak doyan daging kurir laundry." Entah apa saja yang kami bicarakan hingga akhirnya motor Udin berhenti tepat di depan rumahku yang gelap gulita. Tidak ada penerangan di sana dan aku yakin bukan karena tidak ada orang, melainkan suamiku yang terlalu irit. "Mati lampu atau dicabut PLN listriknya, Mbak?" tanya Udin heran. "Udah biasa, Din, suami gue bisa melihat di dalam gelap. Makasih ya, Din, cepat pulang gih, sebelum Marni datang." "Siapa Marni, Mbak? Buaya?" Aku mengangguk sambil tertawa. Udin pun melesat pergi dengan motornya. Aku berjalan masuk dengan mengatur napas agar tidak sesak. Kembali ke habitat kehidupan serba apa adanya. Aku harus tahan dan bertahan demi kesehatan orang tuaku. "Assalamu'alaikum," ucapku begitu masuk ke dalam rumah yang ternyata tidak mempunyai pintu. Melainkan menggunakan kain seprei sebagai penutup rumah. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suami yang benar-benar menguras kesabaran. Kang Dadang tidak di rumah. Ke mana dia? Pantaslah gelap semua rumah. Segera kunyalakan listrik ruang depan dan juga kamar. Tidak lupa halaman belakang tempat aku menjemur pakaian, kunyalakan juga lampu berukuran lima watt-nya. Rumah berdebu, lengket, dan bau apek. Belum lagi cucian pakaian kotor Kang Dadang setumpuk di ember kamar mandi. Benar-benar rumah tak terurus. Begitu selesai kurapikan kembali pakaian Kang Dadang ke dalam lemari, aku pun bergegas ke kamar mandi untuk merendam pakaian kotor yang entah bagaimana caraku mencucinya nanti. Tok! Tok! "Mbak Nura, sudah pulang ya!" Suara Bu Sari; pemilik warung berada di depan rumahku. "Iya, Bu." Aku pun berjalan cepat untuk menghampiri Bu Sari. Seprei yang bertugas sebagai tirai pembatas itu kusingkap sedikit untuk melihat Bu Sari yang tengah mengulum senyum. "Untunglah kamu sudah pulang, Nura, kalau tidak, suami kamu bakalan diamuk massa." "Waduh, tahu gitu saya gak jadi pulang, Bu, biar dia diamuk massa saja!" Aku berkata dengan serius, tetapi Bu Sari malah menertawakanku. "Jangan begitu, sabar dulu saja sama Dadang ya. Siapatahu, suatu hari nanti, dia berubah. Ini, saya punya kerai tidak terpakai. Mungkin bisa dipasang di sini, daripada seprei yang menggantung di pintu seperti ini. Oh, iya, satu lagi, Bu Tuti syukuran anaknya sunat, ini ada nasi uduk telor semur buat kamu. Makan cepat, sebelum diserobot Dadang." Aku pun begitu terharu di kelilingi tetangga yang begitu baik dan perhatian padaku. Justru mereka adalah salah satu penyemangat agar aku tetap bertahan dalam rumah tangga ini. "Terima kasih, Bu Sari, nanti sehabis makan, saya pasang tirainya. Paling besok baru saya pasang lagi pintunya. Menunggu Kang Dadang pergi kerja," kataku dengan menebalkan muka. Siapa yang tidak malu, rumahnya yang pintunya bukan terbuat dari kayu, melainkan seprei buluk yang berwarna pudar menjuntai hingga ke lantai. "Ya sudah, saya permisi ya. Kalau banyak nyamuk, pakai lotion anti nyamuk saja." Aku lagi-lagi mengangguk paham. Lekas kubawa masuk sepiring nasi uduk dengan telor semur, orek tempe, bihun goreng, sambal, dan juga kerupuk. Aromanya saja membuat perutku meronta minta diisi. Segera kulahap cepat nasi uduk itu dengan penuh semangat. Lima menit saja, piringku kosong. Lalu suara motor Kang Dadang pun berhenti di depan rumah. Untunglah rumah sudah bersih, rapi, dan juga wangi setelah aku beres-beres. "Waduh, Mbak Toyip baru pulang, langsung boros listrik," sindir Kang Dadang sambil melepas sepatu kerjanya. Pria itu duduk di kursi tamu dengan wajah lelah. "Saya buatkan teh, mau, Kang?" tanyaku berbasa-basi. Seolah-olah tidak ada yang terjadi diantara kami. Ia tidak menjawab, itu artinya ia mau. Segera ku buatkan teh favoritnya. Untunglah tadi aku sempat ke warung untuk membeli beberapa bahan dapur dengan uang pemberian Bu Widya. Kang Dadang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Aku pun meletakkan teh di atas meja sambil menunggunya selesai mandi. "Ke mana saja kamu, Nura?" tanyanya begitu keluar kamar mandi. "Saya pergi ke rumah teman, Kang. Menenangkan diri dari rasa lelah karena berjalan ke sana-kemari sambil membawa tas pakaian," jawabku berbohong. "Gara-gara kamu, aku jadi beli baju lagi. Berarti jatah baju lebaran kamu dan masak opornya sudah tidak ada ya. Siapa suruh bawa kabur tas pakaianku? Terus, besok ada tukang mau pasang pintu. Itu sudah aku catat sebagai utang kamu, karena kamu yang merusak. Jadi, untuk dua bulan, kami tidak akan dapat uang belanja. Terserah kamu mau masak dan makan bagaimana, yang jelas kami tidak akan aku kasih uang belanja selama dua bulan, karena kamu sudah merusakkan pintu rumah yang biayanya satu juta setengah." Aku diam saja, tidak mau membalas ucapan Kang Dadang yang sedang marah. Tidak masak malah bagus karena aku bisa makan di laundry. "Gak papa, aku bisa puasa kalau gak dikasih uang belanja," jawabku akhirnya. "Kamu puasa itu terserah kamu, tapi tetap harus memasak untukku, terserah mau ngutang atau bagaimana? Aku mau besok kamu masak yang enak. Daging semur dan tumis pokcoy." "Kamu suruh aku masak, tapi kamu gak kasih aku uang, bagaimana aku belanja, Kang?" "Bodo amat!" suamiku bangun dari duduknya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar dengan serampangan. Aku hanya bisa mengucap istighfar dalam hati sambil menahan air mata. Aku harus kuat dan bertahan. "Mbak Toyyib, cepat ke sini! Kita udah lama gak main nih!" Seru Kang Dadang dari depan pintu kamar. Ya ampun, kenapa mulut dan sosis serebuan miliknya sama-sama gak tahu diri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD