Renungan Malam

1361 Words
Malam yang dingin menyelimuti suasana hati Doni yang merindukan sosok Lala di kehidupannya. Doni hanya menatap ke arah bulan yang bersinar terang benderang yang di temani oleh satu bintang. Terbesit di pikiran Doni untuk pergi ke kota Palembang hanya untuk mencari Lala cinta pertamanya, tetapi itu tidaklah mungkin bagaimana bisa ia pergi kesana sedangkan dia bukanlah dari kalangan orang yang kaya raya. Bahkan untuk keperluannya saja masih belum tercukupi. Doni menghampiri meja belajarnya lalu membuka buku catatan yang tersusun rapi di atas meja. Pada malam yang panjang Di antara gelap yang terang Bersama ramai yang hampir sunyi Berselimut dingin yang menghangat Aku bersyair tentang cinta Pada sajak ini aku tidak ingin menyebutnya Aku ingin melibatkan rasa Tanpa sedikit pun harus membawa kata cinta Lalu menepis setiap renjana Berdiri menghadang realita Pada jalur bifurkasi Kita kembali temu di titik mula Berapa banyak kali temu Berapa banyak kali simpang Berapa banyak kali tunggu Dan berapa banyak kali kenang Aku kembali pada garis awal Tersembap pada nadir terdalam Dimana kita berjumpa tanpa kata Di kala rasa tidak berwujud nyata Pada titik paling tinggi dari rasa Maka melibatkan tuhan Adalah jawaban utama Ikhlas harus berada di antara kita Sebagai puncak paling tinggi rasa cinta... Doni lalu menutup buku catatannya yang baru saja ia nodai dengan tinta hitamnya. *** Di sisi lain Bulan membuka pintu kamarnya lalu melihat boneka gurita berwarna pink berada di depan pintu kamarnya yang sengaja ia gantelkan di gagang pintu. Ia mengambil boneka itu sambil melangkah menuju jendela kamarnya. Bulan melihat ke arah langit yang cuma ada bulan dan satu bintang. Dodit, maaf aku nggak bisa tepati janji, Karena hati ini sudah memilih. Bahkan aku nggak tau dimana kamu sekarang? Kamu juga nggak berusaha buat cari aku. Aku disini Dodit harusnya kamu tau. Bahwa aku telah kembali tetapi bukan sebagai pacar kamu melainkan sebagai sahabat. Gumamnya sambil menatap ke arah langit. Doni hanya menatap ke arah langit yang begitu terang benderang karena adanya bulan. Tiba-tiba ia teringat oleh sosok wajah cantik Bulan teman sekelasnya. Ia memikirkan Bulan dan Lala semalaman. Hal itu membuatnya menjadi bingung karena Doni harus fokus pada satu perempuan bukan pada keduanya. Jika ia terlalu berharap pada Lala rasanya itu akan sia-sia saja, karena Lala tak kunjung datang untuknya. Jika ia memilih Bulan itu artinya ia harus meluluhkan hati Bulan terlebih dahulu. *** “Ma aku berangkat ya.” ucap Bulan sambil melangkah ke depan rumah. “Lho kok duluan? Biasanya bareng mama atau papa.” “Hari ini aku bareng temen ma. Pulang sekolah mama nggak perlu jemput aku! Oke.” Bulan pergi meninggalkan kedua orangtuanya yang berada di meja makan. “Bulaannnn!!! Kamu belum sarapan. Obat juga gak kamu bawa!!!!” teriak Layla pada anak semata wayangnya. Bulan yang tidak dengar perkataan Layla pergi begitu saja bersama dengan Bintang. Di perjalanan mereka saling berbincang bahkan sampai bercandaan. Bintang memberikan Roti tawar selai coklat untuk Bulan “nih, gue tau lo pasti belum sarapan kan?” “Terus kamu sendiri pasti belum sarapan juga kan?” Timpal Bulan yang di balas anggukan oleh Bintang. “Mendingan kita bagi dua aja rotinya.” lanjutnya. Roti di bagi dua oleh Bulan dengan tangannya lalu di berikan kepada Bintang. Dengan lahapnya, sekali caplok Bintang memakan roti tawar itu. Bulan hanya tertawa kecil melihat mulut Bintang yang penuh dengan roti. Sesampainya di sekolah, Bintang langsung membukakan pintu mobil untuk Bulan. Banyak mata yang melihatnya, Bahkan ada juga siswi yang cemburu atau iri pada Bulan. Bulan terkesima dengan apa yang di lakukan oleh Bintang. Mereka lalu berjalan dari parkiran menuju ke kelas. Bulan dan Bintang berjalan bersama melewati koridor sekolah, dari kejauhan Doni melihatnya, rasanya Doni ingin meledak melihat kedekatan mereka. Sebelum Bulan masuk ke dalam kelas tiba-tiba ada yang memanggilnya. “Bulan.” Panggil Bintang. Bulan langsung membalikkan badannya.“Kenapa?” “Pulang sekolah lo bareng gue lagi!” Bintang lalu pergi menuju ke kelasnya yang berada di samping kelas Bulan. Kelas Bintang dan Bulan memanglah bersebelahan. Salsa yang menyukai Bintang merasa kesal pada Bulan, sampai-sampai saat di dalam kelas pun mereka saling diam dan tidak berbicara. Doni hanya memandangi Bulan dari belakang, tempat ia duduk. Rasanya ingin sekali ia mengajak Bulan pergi ke kantin bersama saat istirahat tiba, tetapi apa daya Doni terlalu takut untuk mengajak Bulan. Takut di tolak mungkin akan terasa sakit! Bell berbunyi tepat pukul 13.00 WIB bertanda bahwa pelajaran telah usai. Belum sempat ia merapikan bukunya tiba-tiba ada seorang Pria tampan mendatanginya. Pria itu tersenyum manis kepada Bulan, Salsa makin geram melihatnya, belum lagi Bulan tidak peka bahwa Salsa menyukai Bintang. Dari arah belakang Doni hanya menatap tajam ke arah Bintang. Bulan tersenyum kepada Bintang. “ayo.” sambil memegang tangan Bulan keluar kelas. Di mobil Bulan hanya melihat ke arah luar kaca . Bintang hanya memperhatikan Bulan sambil menyetir. Tiba-tiba kaca mobil di buka Bintang. Tanpa pikir panjang Bulan mengeluarkan kepala dan tangannya keluar kaca mobil sambil menikmati pemandangan yang ada di jalan raya. “Besok-besok gue bawa motor deh.” “Emangnya kamu punya motor?” Bulan lalu menutup kaca mobil. “Ada, besok gue bawa. Tapi jangan salahin gue kalo nanti rambut lo berantakan!” Bulan manggut-manggut. Awan hitam menyelimuti langit. Doni yang kesal karena motor bututnya mogok di pinggir jalan raya, tiba-tiba ada mobil berwarna merah yang melewatinya. Bulan membuka kaca mobil lalu tersenyum kepada Doni “Eh kamu kan temen sekelas aku? Kenapa motornya?” tanya Bulan pada Doni yang sedang menguprak-ngaprik motornya. “Bisalah motor gue lagi ngambek.” Timpal Doni sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bulan menawarkan Doni untuk pulang bersama tetapi Doni menolaknya karena tidak mau menyusahkan orang lain. “Nama kamu siapa? Kita belum kenalan kan?” “Gue Doni Prayoga” “Aku Bu...” Baru saja ingin mengatakan namanya tiba-tiba Doni memotongnya “Udah tau kok, nama lo Bulan kan?” Bulan hanya manggut-manggut. Bintang kembali melajukan mobilnya, tiba-tiba kepala Bulan terasa pusing dan jantungnya berdegup kencang. Ya Tuhan aku lupa minum obat gumamnya sambil memegang kepalanya. Bintang menyadari terjadi sesuatu pada Bulan ia pun langsung melajukan mobilnya begitu cepat. Sesampainya di rumah Bulan, Layla ternyata sudah menunggu di depan pintu. Dengan bantuan Bintang, Layla merangkul Bulan ke kamarnya. Setelah pamit kepada Layla Bintang langsung pergi meninggalkan rumah Bulan. *** Sesampainya di rumah, seperti biasa Doni minta di buatkan mie rebus di tambah telur dan cabai kesukaannya. Ia memakan dengan lahap sampai tidak ada yang tersisa di mangkuknya. Doni pergi ke kamarnya untuk istirahat karena hari ini adalah hari yang melelahkan baginya. Dia harus mendorong motor nya dari jalan raya ke rumahnya. Sambil berbaring di kasur ia menatap atap kamarnya sambil memikirkan wajah Bulan dan Lala cinta pertamanya. Langit-langit mulai gelap gulita. Bintang hanya menatap ponselnya berharap ada pesan dari Bulan. Sudah hampir 5 jam ia menunggu kabar dari Bulan. Bintang melamun memikirkan bagaimana keadaan bulan, apa dia baik-baik saja atau tidak? Hal itu selalu menghantui pikirannya selama berjam-jam. Ia pun mulai membuka ponselnya untuk menelpon Bulan tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari Bulan. Beberapa menit kemudian tiba-tiba ponsel miliknya berdering, ada pesan masuk untuknya. Bulan Almaira : Bintang terimakasih kamu udah mau antar aku pulangJ aku baik-baik aja kok, tadi kepalaku hanya pusing aja. Maaf udah ngerepotin kamu. Bintang akhirnya menghela nafas lega mendapatkan kabar dari Bulan. Iya terseyum lalu membuka jendela kamarnya dan melihat Bulan yang bersinar terang benderang di atas langit. *** Doni membuka pintu kamarnya setelah beberapa kali terdengar suara ketukan pintu yang mengganggu pikirannya. “Don, ada Raka tuh nungguin kamu di luar” ungkap Dania sambil memegang nampan yang berisi teh. Doni langsung keluar kamar menemui Raka temannya. “Nak Raka, ini tehnya, maaf ya nggak ada apa-apa selain ini.” Dania lalu pergi meninggalkan mereka berdua. “Don lo harus bantuin gue buat dapetin Salsa.” “Gue harus gimana Ka?” jawab Doni bingung. Raka menyusun rencana untuk Doni. Ia menjelaskan secara pajang lebar soal rencananya besok. Lalu mereka sepakat untuk menjalani rencana tersebut. Tidak lama kemudian Raka berpamitan untuk pulang kepada Dania dan Doni. Setelah Raka pulang tiba-tiba ia mulai termenung sambil melihat ke arah langit yang begitu gelap yang hanya ada satu bulan. Akhir-akhir ini Doni selalu termenung sambil duduk di jendela kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD