Hari Pertama Sekolah

1700 Words
Pagi hari yang begitu cerah, seorang gadis cantik membuka jendela kamar sambil tersenyum melihat ke arah langit, pantulan sinar matahari mengenai wajah cantiknya, bahkan sinarnya sampai masuk ke dalam kamarnya melalui jendela. “Bulaaannnnnn!” ucap seorang wanita cantik yang berada di meja makan. Seorang gadis turun dari lantai dua sambil memasukkan buku ke dalam tasnya. “kamu mau selai kacang atau stroberi?” ucap Layla kepada anaknya. “stroberi aja ma.” Bulan lalu melahap roti tawar selai stroberi buatan Layla. Di mobil, Mardika memperhatikan Bulan yang sedari tadi hanya fokus pada ponselnya. “Bulan nanti kalau di sekolah baru tiba-tiba ada yang jahat sama kamu, langsung lapor papa!” ucap Mardika sambil menyetir. “iya papaku sayang, papa tenang aja gak perlu khawatir. Lagian aku gak akan di jahatin ko.” ucap Bulan sambil mematikan ponselnya. *** Seorang pria duduk di atap sekolah sembari memainkan gitarnya. Dia melihat dari kejauhan tampak seorang gadis cantik yang turun dari mobil hitam sambil melambaikan tangannya kepada pria yang ada di dalam mobil. Tiba-tiba Bimo memukul bahunya “Bro, kemana aja lo, gue cariin tau-taunya disini.” “Ya elah Bim kan lo tau setiap pagi gue disini, kalo gue gak ada disini berarti gue ada di ruang musik.” Bintang menunjuk ke arah gadis yang dia lihat tadi kepada Bimo. “Bim itu anak baru kan? Lo tau gak dia siapa?” Bimo melihat ke arah gadis yang di tunjuk Bintang. “Oh, itu gue juga nggak tau hehe.” timpal Bimo sambil cengengesan. Bell sekolah berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran akan di mulai. Di kelas XII IPA 3 tiba-tiba ada pak Hidayat yang masuk ke kelas itu dengan maksud untuk memperkenalkan anak baru kepada muridnya. “Selamat pagi anak-anak.” “Pagi pak!” ucap para murid di kelas. “Pak kan sekarang bukan pelajaran bapak.” ucap Doni terheran-heran. “Memang bukan pelajaran bapak, tapi bapak kesini mau ngenalin anak baru, pindahan dari sekolah lain.” pak Hidayat mempersilahkan Bulan untuk masuk ke kelas. Bulan yang melangkah pelan berhasil membuat satu kelas terdiam dan terpaku seketika saat melihat dirinya. “hai semuanya! Kenalin nama aku Bulan Almaira.” Gilaaa tuh cewek cantik banget, gumam Doni pelan sambil tersenyum melihat Bulan. Bulan melangkah menuju bangku kosong yang berada di barisan kedua, ia melemparkan senyum manisnya kepada seorang gadis yang berada di samping bangku kosong itu. “Kenalin nama gue Salsabila, panggil aja Salsa.” ucap Salsa sambil mengulurkan tangannya. “Aku Bulan.” Bintang yang tau di kelas sebelah ada anak baru merasa biasa saja, bahkan dia belum tertarik kepada Bulan. “Bro di kelas sebelah ada anak baru cantik banget, namanya Bulan. Namanya cocok banget sama nama lo, Kalo di gabung jadinya Bulan Bintang.” ucap Bimo sambil tertawa kecil. “Ya menurut gue cantik itu relatif Bim, yang terpenting itu sikap dan sifatnya, pinter juga pastinya.” Bimo terheran-heran dengan ucapan Bintang. Ramainya suasana di dalam kelas semenjak kehadiran Bulan, tanpa di sadari sedari tadi Doni sibuk memperhatikan Bulan. Raka yang duduk di samping Doni bahkan ikut memperhatikan Doni. “Don ngapain si lo dari tadi gue perhatiin ngeliatin anak baru terus. gak ada bosennya apa?” “Ya nggak lah. lo kan juga bisa liat mukanya si Bulan kalo di perhatiin tuh bersinar kaya rembulan di malam hari.” Raka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sahabatnya itu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, Banyaknya para siswa-siswi yang berhamburan tak terarah, ada yang menuju parkiran sekolah, ada yg menuju ke gerbang sekolah, bahkan ada juga yang menuju ke ruang eksul masing-masing. Bulan yang berjalan santai ke arah gerbang sekolah tak sengaja melihat suatu ruangan yang berisikan alat-alat musik. Dia merasa senang saat melihat ada piano disana tanpa pikir panjang ia langsung menyanyikan lagu sambil bermain piano dengan kelihaiannya tangannya. Lagu yang berjudul “Lovely” dari Billie Eilish dan Khalid, yang ia nyanyikan sangatlah merdu dan indah. Tanpa ia sadari ternyata sedari tadi ada pria yang mendengarkannya bernyanyi, pria itu ada di balik tirai besar yang menjuntai sampai ke bawah lantai. Bulan yang baru menyadari langsung kaget. “Ternyata suara Lo bagus juga, kalo Lo mau Lo bisa ikutan eksul musik di sekolah kita.” ucap seorang pria yang ada di balik tirai tersebut. “tapi aku gak pede sama suara aku, aku takutnya nanti banyak yang gak suka sama suara aku.” Bulan sambil melangkah menuju tirai itu. "Suara Lo bagus ko. Oh iya kenalin gue Bintang.” Bintang menjulurkan tangannya kepada Bulan. “Aku Bulan.” Layla dari kejauhan melambaikan tangannya kepada anaknya yang berada di gerbang sekolah. “mamaku udah jemput, aku duluan ya Bintang.” bulan pergi meninggalkan Bintang. Bulan menceritakan hari pertama sekolah nya pada Layla, dengan wajah yang cantik Layla hanya tersenyum bahagia mendengarkan Bulan bercerita. *** Suara butut motor Vespa Doni adalah pertanda untuk Dania bahwa anaknya telah sampai di rumah. Biasanya Doni sehabis pulang sekolah langsung meminta kepada ibunya untuk membuatkan mie rebus di tambah telur dan cabai kesukaannya. Tetapi anehnya hari ini Doni tidak memintanya, hal itu membuat Dania merasa ada yang aneh pada anaknya. “Don tumben kamu gak minta di buatin mie rebus? Kamu lagi sakit?” ucap Dania sambil memegang jidat Doni. “enggak Bu.” Doni pergi meninggalkan ibunya begitu saja. Di kamar Doni membuka sebuah kotak yang ia simpan di laci. Kotak itu berisikan sebuah boneka gurita berukuran sedang berwarna biru muda. Lala andaikan kamu ada disini, pasti aku gak bakal kesepian. tapi La kamu harus tau tadi di sekolah aku, ada murid baru wajahnya juga gak asing buat aku. Gumamnya di dalam hati. Tidak ada yang tau nama kecil Doni adalah Dodit selain Lala. Tiap malam Doni memikirkan Lala. Jika ia rindu Lala ia membuka kotak yang ada di lacinya, untuk melihat bonekanya bahkan Doni tidak segan untuk mencium boneka itu. Saat pertama kali ia melihat Bulan ia merasa bahwa Bulan adalah Lala tapi itu tidak mungkin karena Lala bukanlah Bulan begitupun sebaliknya. *** Bintang berangkat ke sekolah tanpa sopir . hari ini ia genap berusia 17 tahun, Saat orangtuanya berjanji akan mengizinkannya membawa mobilnya sendiri. Sesampainya di sekolah banyak mata yang memperhatikannya apalagi para siswi-siswi yang tidak memalingkan wajahnya saat ada Bintang lewat. “Yaa ampun, Bintang ganteng bangettttt.” ucap Salsa sambil tersenyum bahagia melihat pujaan hatinya yang lewat di hadapannya. “Bulaaannn, sini.” panggil salsa “Ada apa sa?” bulan menghampiri salsa “Anterin gue yuk ke kelas IPA 2.” Sambil senyum-senyum salsa menarik tangan bulan. “Eh, mau ngapain.?” Di kelas IPA 2 banyak yang mata yang melihat ke arah Bulan. Sedangkan Salsa yang ganjen malah menghampiri Bintang yang ada di kursi paling belakang. “Bintang, gue boleh gak minta nomor w******p Lo?” “Nggak.” Bintang malah pergi meninggalkan Salsa begitu saja. Bintang yang ingin menarik tangan Bimo malah salah menarik tangan Bulan, karena posisi Bimo dan Bulan bersebelahan. “Aduh, lepasin!” ucap Bulan kesakitan “Lho? Kok lo?” Bintang kaget sambil melepaskan tangannya “Lah, kan emang kamu yang narik-narik tangan aku. Sakit tau!” Bulan berdengus kesal. “Maaf, gue salah tarik, harusnya tadi Bimo yang gue tarik.” Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu cowok yang kemarin kan? Yang ada di ruang musik?” Bulan memperhatikan wajah Bintang. “Aku mau kok gabung ke eskul musik kamu.” Bintang hanya diam. “Kenalin nama aku Bulan Almaira, panggil aja Bulan.” Lanjutnya. “Gue Bintang Mahesa, nanti sehabis pulang sekolah lo langsung aja ke ruang musik! Gue tunggu disana!” Bintang lalu pergi meninggalkan Bulan. Latihan Band musik telah selesai, saatnya Bulan, Bintang dengan teman yang lainnya pergi meninggalkan ruangan musik tersebut. Bulan yang tidak di jemput berencana untuk memesan ojek online melalui ponselnya. “Bulan, Lo gak di jemput?” Bintang yang bertanya pada Bulan sambil melangkah keluar bersama dengan Bulan dan yang lainnya. “Nggak, hari ini papaku masih ada urusan di kantor. Jadinya aku pulang naik ojek online deh.” Sahut Bulan santai. “Lo pulang bareng gue aja hari ini.” “Emangnya nggak ngerepotin Bi?” “Intinya Lo mau apa nggak?” Ucap Bintang yang di balas anggukan oleh Bulan. Di perjalanan mereka saling diam, Tidak ada yang mulai buka suara. Tiba-tiba Bintang membuka suaranya “Bulan, Lo nggak keberatan kan kalo gue mampir ke toko bunga?” Sambil tersenyum Bulan menjawab “nggak kok, santai aja.” Di toko bunga, Bintang membeli sebuah bucket bunga mawar yang sangat indah, hmmm mungkin itu buat pacarnya. gumam Bulan dalam hati. Bulan yang terdiam sepanjang perjalanan mulai buka suara “Bunganya bagus, buat pacar kamu ya?” Tanya Bulan sambil tersenyum tipis. Bintang tidak menjawab pertanyaan Bulan, tetapi Bulan bingung kemana arah Bintang akan melajukan mobilnya, sedangkan jalan yang ia tempuh bukanlah arah ke rumahnya. Tidak lama kemudian sampailah mereka berdua di pemakaman umum. Bulan hanya terdiam dan bingung, entah apa yang akan di lakukan Bintang. “Maaf ya, gue udah ajak Lo ke makam” Bintang membukakan pintu mobilnya. “Ini tuh, makam nyokap gue. Dia meninggal karena sakit jantung.” lanjut Bintang dengan raut wajah sedih. “Iya nggak apa-apa kok Bintang, aku boleh kan ikut ke dalam. Sekalian aku juga mau berdoa buat almarhumah mama kamu.” Jawab Bulan prihatin. Selama di makam mereka hanya berdoa bersama lalu pergi meninggalkan makam. Di perjalanan pulang terdengar suara dari perut Bulan yang lapar, dan itu membuat Bintang senyam-senyum sendiri. Bintang memarkirkan mobilnya di sebuah restoran yang cukup ramai. Tiba-tiba ada pelayan yang datang menghampiri mereka. “Lo mau pesan apa?” tanya Bintang sambil melihat daftar menu makanan. “Aku mau pesan, spaghetti carbonara 1 terus minumnya jus stroberi 1.” jawab Bulan sambil menutup buku menu. “Kalo saya pesan spaghetti bolognese 1 sama minuman soda 1, ya mbak.” ucap Bintang kepada pelayan restoran. Di restoran mereka saling berbicara layaknya seorang yang sudah kenal lama. Bintang menceritakan mamanya yang sudah tiada kepada Bulan. Bulan merasa prihatin atas apa yang menimpa pada Bintang, tentang papanya yang sudah sibuk dengan kerjaan sehingga tidak ada waktu untuknya. Bulan pun juga menceritakan tentang seorang anak kecil yang dulu memberikan sebuah boneka gurita berwarna pink kepada Bintang. Bintang hanya tertawa mendengar cerita Bulan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD