Part 06

1102 Words
Pelangi kembali menyeka air mata yang turun tanpa ia minta. Sudah lama rasanya Pelangi tidak menangis seperti ini. Semua itu berkat Bina yang selalu menghiburnya dan selalu ada untuknya. Dulu hanya Bina yang mau berteman dengan Pelangi, karena teman-temannya yang lain memeilih menjauhi darinya lantaran berita ia menjambak Siska tersebar satu sekolah saat itu. Hanya Bina, hanya seorang Bina yang mau berteman dengannya hingga sekarang. Meskipun sekarang ia mempunyai banyak teman. Pelangi menganggap Bina lebih dari seorang teman. Bina mampu menjadi kakak atau adik untuk Pelangi. Selain bunda dan Gifta, nama Bina terdaftar di urutan orang yang paling Pelangi sayang. "Kayak pernah liat," Pelangi menoleh dan buru-buru menghapus air matanya. "Gue?" tanya Pelangi sambil menunjuk dirinya sendiri. "Yaiyalah. Lo cewek waktu itu kan?" "Kenapa?" Lelaki itu duduk disebelah Pelangi. Sebenarnya Pelangi agak ngeri melihat laki-laki itu kini duduk di sebalahnya, "Lo suka ya sama Gifta?" kata Ziro. Ya laki-laki yang kini duduk di sebelah Pelangi adalah Ziro. Pelangi melotot kala telinganya mendengar Ziro berbicara, "Gue? Suka Gifta?" Ziro mengangguk, laki-laki itu tampak antusias mendengar jawaban Pelangi, "Yang bener aja mana mungkin gue suka Gifta!" decih Pelangi sambil menggeplak bahu Ziro. "Eh maaf-maaf gue kelepasan," Pelangi meringis bisa-bisanya tangannya dengan lancang menggeplak asal bahu Ziro. "Nggak papa santai," ucap Ziro tertawa. Pelangi menggaruk kepalanya yang tak gatal tanda gadis itu gugup. Pelangi tak ingin rasa sukanya ke Gifta yang sudah dua tahun berhasil ia sembuyikan dari orang-orang (terkecuali Bina dan Bang Rahmad) terbongkar begitu saja. Apalagi di bongkarnya oleh sahabat Gifta sendiri, untung saja Pelangi jago beralibi. "Gue kira lo suka, soalnya kalo Gue liat tiap lo mandang Gifta itu beda," jujur Ziro. Pelangi meneguk ludah, "Beda apanya dah? Sok tau deh lo, Gue rasa sama aja." elak Pelangi. Pelangi harus ingat sebentar lagi ia harus bersikap biasa saja kala bertemu Gifta. Daripada dua sahabat Gifta mencurigainya, ia harus menormalkan perasaannya meskipun gejolak untuk memiliki semakin menggebu-gebu. "Gue salah berarti ya?" ujar Ziro. "Iyalah," sahut Pelangi sambil tersenyum mengejek kearah Ziro. Padahal ia menyembunyikan perasaan was-was, agar Ziro tak mencurigainya. "Gue mau cabut dulu," pamit Pelangi. "Oke," sahut Ziro. Belum sempat Pelangi melangkah, "Lo disini Ro?" tegur laki-laki yang baru saja datang. Tubuh tegap itu menghadang Pelangi untuk berjalan, "Gifta!" batin Pelangi. Pelangi merasakan telapaknya kini basah karena keringat, "Jangan gugup Pelangi! Jangan gugup!" jeritnya dalam hati. Padahal belum genap 10 menit ia memproklamirkan untuk bersikap biasa saja kala bertemu Gifta. Pelangi masih diam di tempat, jaraknya dan Gifta tak terlalu jauh bahkan Pelangi mampu mencium aroma parfum Gifta yang menyeruak ke indra penciuman nya. Pesona Gifta terlihat jelas di mata Pelangi. Membuatnya ingin menerkam Gifta diam-diam, "Jangan berfikir yang enggak-enggak Pelangi!" makinya dalam hati. Ia bergelut dengan perasaan yang di penuhi Gifta. "La nggak jadi cabut?" tegur Ziro. "Oh jadi kok," sentak Pelangi gugup. "Gue duluan ya Ro dan hay Gifta!" ujar Pelangi sok kenal dengan melambaikan tangannya kearah Gifta. Gifta meliriknya dengan tatapan datar. Sebelum Gifta dan Ziro menanggapi Pelangi buru-buru pergi. "Syukurlah," ucap Pelangi sambil mengelus dadanya yang masih berdegub kencang. Mengingat 2 kali bertemu Gifta, Pelangi selalu bertingkah konyol seperti wanita aneh. Semoga saja Gifta tak ilfil dengan tingkahnya. "Bodoh sekali lo La! Bisa-bisanya bertingkah seperti itu! Citra lo di depan Gifta hancur kan jadinya!" sesalnya sambil mengusap wajahnya kasar. Sedangkan Gifta dan Ziro menatap kepergiaan Pelangi dengan saling tatap, "Gebetan baru lo?" tanya Gifta. Ziro menggeleng, "Bukan. Dia cewek yang waktu itu." Gifta tampak mengingat-ingat, "Nggak ingat!" "Waktu hujan di gedung sastra," jelas Ziro. "Oh," sahut Gifta. Entah ingat atau tidak Gifta hanya ber-oh ria. *** Setelah makan malam Pelangi dan Bina kembali menuju kamarnya. Malam ini mereka tidak jadi untuk berjalan-jalan dikarenakan hujan mengguyur bumi begitu deras. "La gue mau di sini aja deh," ujar Bina kala ia mendapati ruangan yang instagramable di villa. Bina akan berpose-pose bak selebgram papan atas yang akan membuat Pelangi malas melihatnya. Pelangi lebih memilih untuk tidur daripada menunggu Bina yang sibuk berselfi ria. "Yaudah gue duluan ke kamar," kata Pelangi. "Yakin lo? Awas aja salah masuk kamar," timpal Bina. Pelangi tipe orang yang sangat sangat sangat pelupa dalam mengingat sesuatu. Pelupa akut kalau kata Bina. Pelangi mengangguk, "Gue inget kok." "Yaudah sana," Pelangi tak mengidahkan Bina lagi, ia bergegas meninggalkan Bina. Villa yang Bina pilih ini seperti hotel, terdapat lorong-lorong yang di penuhi kamar-kamar dengan berbagai nomor. Kebetulan Pelangi dan Bina mendapat kamar nomor 34. Dimana kamar itu terletak tak jauh dari taman. Pelangi berjalan santai dan masuk kedalam kamar yang ia yakini bahwa itu kamarnya. Ia merebahkan badannya di ranjang karena hari ini Pelangi sangat mengantuk tanpa berniat mencuci mukanya terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama nafasnya teratur tanda ia sudah tertidur. Baru beberapa menit ia tak sadarkan diri akibat kantuk yang luar biasa menyerangnya dan ia merasakan seseorang ikut berbaring di sebelahnya. "Bina menganggu saja!" decaknya dalam hati. Ia sudah tak kuasa untuk bangun dan memarahi Bina. Pelangi sempat berfikir tumben Bina cepat sekali, biasanya Bina bisa menghabiskan waktu satu setengah jam bahkan bisa sampai dua jam berpose-pose yang menurut Pelangi sangat tidak jelas. Ia akan tanyakan besok. Pelangi risih kala Bina tidak bisa diam dalam tidurnya. Menggangu tidur Pelangi. Pelangi membuka mata dan merasakan kejanggalan disana. Kamar ini bukan seperti kamarnya. Tetapi Pelangi yakin tidak salah kamar. Lampu kamar sedari tadi mati, sepertinya memang sudah di matikan kala ia masuk. Pelangi tak melihat kopernya dan koper Bina di sebelah tempat tidurnya. Ia mulai curiga sepertinya ada yang mencuri kopernya dan koper Bina, ia harus membangunkan Bina. Pelangi duduk dan menggeser tubuhnya menghadap Bina. "Bin! Bangun Bin!" ujarnya membangunkan Bina. Tapi ia merasa ada yang berbeda dengan Bina. Tubuh Bina terasa lebih besar, padahal yang ia tau badan Bina kecil. Karena pencahayaan kamar yang remang-remang di tambah matanya yang terasa begitu berat. Pelangi tak mempersalahkan itu. "Bin bangun koper kita nggak ada!" ujar Pelangi panik. Namun orang yang berada di sampingnya tak mengidahkan sama sekali, "Bin bangun!" "Koper kita hilang Bina!" teriak Pelangi histeris. "Lo siapa?" tanyanya sarkasme. Deg! Ini bukan suara Bina yang Pelangi kenal. "Aaaaaa!" jerit Pelangi histeris. Pelangi berteriak kencang berharap orang-orang mendengar dan menolongnya. "Lo siapa?" suara bariton laki-laki membuat Pelangi menciut. Iya Pelangi tau siapa pemilik suara ini tapi ia tak bisa melihat jelas karena pencahayaan yang remang-remang. Pelangi mengigit bibirnya, peluh sudah merembes ke dahi nya. Tangan nya bergetar hebat, semoga saja orang yang kini dihadapan Pelangi bukan orang yang ada di pikirannya sekarang. Pelangi sangat menyesali perbuatannya yang berlagak sok tau di depan Bina tadi. Pelangi meremas sprei kuat-kuat kala lelaki itu berdiri dan berjalan menuju saklar lampu, keringat dingin Pelangi semakin bercucuran rasanya untuk sekedar berdiri dan berlari sudah tidak kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD