Part 07

1079 Words
Nafasnya tercekat, detik-detik menegangkan yang membuat Pelangi tak sanggup untuk bergerak. Ctak! Lampu menyala.. Dan! Pelangi menutup mata. Gadis itu menutup matanya erat-erat. Pelangi takut untuk membuka mata dan melihat kenyataan nanti, "Hei lo! Dasar bodoh!" bentak laki-laki itu. Hatinya berdesir dadanya naik turun mendengar bentakan itu. Pelangi masih menutup mata tetapi telinganya masih bisa mendengar, ia tidak tuli. Pelangi mampu menangkap dengan jelas kata per kata yang di lontarkan sosok itu. "Sialan! Buka mata lo!" geram nya. Dengan perlahan Pelangi membuka mata. Sinar terang dari lampu kamar menerobos retinanya. Gadis itu masih belum dapat melihat jelas. Ia mengerjapkan mata berkali-kali. Dan.. Terpampang lah Gifta yang bertelanjang d**a dengan rahang mengeras berdiri tak jauh dari tempat saklar. Matanya menyorot Pelangi tajam dan yang disorot hanya meneguk ludah. Jujur Pelangi ingin menangis. Ia tak kuasa melihat kesempurnaan dan kesixpackan tubuh Gifta. "Parah parah parah!" batin Pelangi histeris. Ia sedikit melupakan kenyataan bahwa sekarang ia terdampar di kamar Gifta. Pelangi masih menikmati kesempurnaan Gifta dalam diam. Ia berfikir dulu bunda Gifta ngidam apa sampai-sampai anaknya mampu meluluh lantarkan hatinya. "Itu dadanya pasti pelukable ya tuhan!" batin nya lagi dengan pipi merah merona. "Apa yang lo lihat hah!" sentak Gifta. Pelangi tersadar segera ia melenyapkan pikiran yang tidak-tidak dari Gifta, "Ti-dak." gugup nya. Ia takut Gifta akan membunuh nya, meskipun tidak mungkin juga. Kalau saja Pelangi di suruh memilih opsi pertama berdiam diri di kamar dengan Gifta atau opsi kedua menceburkan diri ke sungai, jelas Pelangi akan memilih opsi pertama. Ia akan memilih bersama Gifta saja meskipun kini kilatan marah terlihat dari wajah si tampan. Itung-itung sambil cuci mata, pikir Pelangi. Pelangi tersenyum kikuk menatap Gifta, "Hai? Sepertinya gue salah kamar ya?" celetuk Pelangi. Sadarkan Pelangi! Ini sudah ketiga kalinya gadis itu bertingkah konyol di depan Gifta. Bisa-bisa nya ia masih bertanya apakah dia salah kamar, basa-basi yang membuat nya terlihat seperti orang bodoh sekarang. Gifta masih saja menatap Pelangi tajam. Buru-buru Pelangi turun dari ranjang bersiap untuk pergi. Laki-laki itu tak mencegah atau sekedar mengucapkan selamat malam, Pelangi meringis untuk hal itu. Pelangi sengaja memperlambat gerakan nya membuka kenop pintu siapa tau Gifta sebentar lagi akan mengucapkan selamat malam untuknya, biarkan! Biarkan Pelangi halu untuk malam ini. Lagi-lagi Gifta tak mengubris nya bahkan Gifta tak melihat ke arah nya. Pelangi mendecak sebal dan membuka kenop pintunya. Ceklek.. Pelangi melongo kala di luar kamar sudah banyak orang dengan wajah yang sulit Pelangi artikan. Disana juga ada Bina, Ozil, dan Ziro sisa nya orang yang tidak Pelangi kenal. "Ada apa?" tanyaku tidak bersuara ke arah Bina. Bina memberi isyarat kalau ia akan menjelaskan nanti. Mendengar desas-desus dari luar Gifta menghampiri Pelangi di depan pintu. Sialnya Gifta hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang d**a membuat para orang-orang yang berada di luar kamar mendelik kaget. "Ini tidak seperti yang kalian fikirkan," ujarku menjelaskan. Gifta melirik ku dengan mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa kalian berkumpul disini?" tanya Gifta dengan suara tegas. "Maaf tuan muda tadi kami mendengar suara teriakan dan teriakannya berasal dari kamar tuan, kami hanya memastikan tuan muda baik-baik saja," jelas seorang pria paruh baya. "Tuan muda?" batin Pelangi bertanya. "Sudah kalian pergi dari sini sekarang! Menganggu orang saja! Lanjutkan tugas kalian masing-masing!" usirnya. Belum sempat mereka kembali ke pekerjaannya masing-masing, sosok pria dengan setelan jas hitam melekat di tubuhnya berjalan mendekat. Pria yang tak lagi muda tetapi masih terlihat tampan, Pelangi yakin dulu sewaktu masih sekolah Bapak-Bapak itu termasuk jajaran cogan di SMA-nya. “Ah kelak pasti Gifta juga akan tampan seperti om-om itu meski sudah berumur,” pikir Pelangi. Bahkan di keadaan genting seperti ini pun Pelangi bisa saja memikirkan hal-hal yang tidak penting, salah-salah mungkin hal itu penting bagi kemaslahatan hati Pelangi. Namun waktunya sedang tidak pas, di tambah semua orang sedang memergokinya sekarang. "Papa!" seru Gifta. "Jadi?" gumam Pelangi. “Pantas Gifta begitu tampan,” batinnya. Tak heran kala Gifta memiliki wajah tampan nan rupawan, bibit cogan nya sudah ada. "Selamat malam Pak," sapa karyawan-karyawan yang masih berkerumun. "Sudah kalian kembali," titah pria berjas hitam yang notaben nya papa dari Gifta. Mereka mengangguk dan bubar, menyisahkan Bina, Ozi, dan Ziro yang masih berdiri disana. "Apa yang sedang kamu lakukan Gifta?" tanya Papa Gifta dengan tegas. "Ini tidak seperti yang papa bayangkan," jawab Gifta. Memang benar Pelangi setuju dengan penuturan Gifta, ini hanya salah paham. Karena ulah Pelangi semua berantakan. Ia harus merelakan jam tidurnya padahal Pelangi sangat mengantuk. Gadis itu berharap sebentar lagi setelah menceritakan semuanya secara detail masalah ini selesai. "Apa yang Papa bayangkan? Bagaimana bisa laki-laki dengan seorang perempuan tidur di kamar yang sama dengan kamu yang bertelanjang d**a?" bentak Papa Gifta. Gifta memejamkan mata seakan itu mampu memedamkan amarahnya, Gifta melirik Pelangi lalu ia menyenggol lengan Pelangi, "Jangan diam saja! Coba jelaskan!" geram Gifta. Pelangi dengan takut-takut membuka suara, "Sebelumnya saya minta maaf om." Pelangi menjeda kalimatnya ia menghembuskan nafas pelan, "Ini hanya kesalah pahaman saja, saya yang keliru masuk kedalam kamar Gifta. Saya kira ini kamar saya setelah saya mengetahui salah kamar. Saya langsung keluar kami tidak melakukan apa-apa." terang Pelangi. Ia tersenyum samar semoga penjelasannya dapat diterima oleh Papa Gifta. Toh iya sudah berbicara jujur. Gifta tersenyum miring, sepertinya ia juga sudah lega setelah Pelangi mejelaskan ke papanya. Gifta yakin kalau dia yang menjelaskan papanya tidak akan percaya. "Kalian harus menikah!" tegas Papa Gifta. "Tidak! Gifta tidak setuju!" tolak Gifta mentah-mentah. Sedangkan Pelangi ia masih mencerna kalimat yang papa Gifta lontarkan. Kejutan apa lagi sekarang? Padahal niat awal Pelangi pergi ke Puncak hanya untuk bersenang-senang bersama Bina, melepaskan sejenak masalah-masalah yang mengganjal pikirannya. Tapi malah bertubi-tubi masalah yang datang kepada gadis itu. Seolah takdir enggan melihatnya tenang. Pelangi masih berfikir bahwa Papa Gifta masih bercanda soal menikah. Mana ada orang menyuruh menikah seperti menyuruh pergi ke pasar. Tidak masuk akal. Pelangi melirik Gifta yang sudah emosi. Wajah tampannya memerah. Pelangi mencoba menenangkan Anak dan Bapak yang sepertinya akan melakukan perang dingin. "Sebelumnya saya minta maaf lagi om," ujarnya sopan. Dua sosok laki-laki yang akan beradu mulut menatapnya, "Kami tidak melakukan apa-apa, tidak ada yang lecet di bagian tubuh saya dan Gifta tidak memegang bagian tubuh saya barang seinchi pun. Saya kira masalah ini sudah selesai, sekali lagi saya minta maaf. Saya berkata sejujur-jujurnya tidak ada yang saya lebih-lebihkan atau kurang-kurangkan." jelas Pelangi menyakinkan Papa Gifta. Berharap laki-laki paruh baya tersebut mengerti bahwa ini hanyalah kesalahpahaman yang dibuat Pelangi tentunya. Andai saja jika dirinya tidak sok tau, mungkin ini tidak akan terjadi. Masalah baru tidak akan datang, namun apa daya nasi sudah menjadi bubur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD