Prolog

421 Words
"Bang Abang! Bang ini Pelangi! Yuhuuu Bang!" teriak seorang gadis dengan kunciran kuda di depan toko percetakan. "Iya tunggu sebentar La," sahut abang percetakan. "Jangan lama-lama napa Bang," omel gadis yang menggunakan setelan kemeja. "Ini jalan La, sabar dikit," "Biasa Bang," ujar Pelangi sambil menyerahkan sebuah flashdisk miliknya. "Yaelah La La, udah hampir 6 tahun masih gini-gini aja. Kenapa nggak langsung tembak aja sih?" kata Bang Rahmad pegawai percetakan tersebut. "Ya si Abang gak seru! Nanti gak ada yang jadi langganan lagi kalau aku udah jadian. Hahaha" "Ya gakpapa. Asal lu gak bucin gini, ingat umur La!” gadis yang kini menginjak umur 23 tahun itu masih saja menyukai sosok yang ia temui 6 tahun silam di bangku SMA. "Udah deh Bang. Cepetan! Di tungguin Bunda!" "Iya iya. Ini semua apa gimana La?" "Semua itu Bang yang di folder," tunjuk Pelangi di layar komputer. "Di tunggu La?" "Asiappp Bang," Gadis bernama lengkap Rakilla Pelangi Lolina setiap hari datang ke percetakan selain hari Sabtu dan Minggu tentunya. Seperti rutinitas wajib sejak dulu ia mengenyam bangku sekolah hingga kini gadis itu sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas negri di kotanya datang ke percetakan Bang Rahmad guna mencetak berlembar lembar foto yang baru dia tangkap di kampusnya. Bukan! Bukan foto pemandangan atau foto foto aesthetic lainnya. Melainkan foto seorang Gifta. Sosok yang di gila-gilainya hampir 6 tahun ini. Pelangi akan membidikkan kameranya secara diam-diam kearah Gifta. Sialnya meskipun foto yang di dapat candid tetap aja Gifta terlihat begitu tampan. Ya wajarlah orang tampan, mau habis bangun tidur, mau pakaiannya compang camping tetep aja ter the best. Gak ngaruh sama aura ketampanannya. "La ini, bengong aja lu. Awas kesambet!" "Hust Bang, gak boleh ngomong gitu. Ini lagi mikirin doi," ujar Pelangi sambil tertawa. "Udah cepet bayar La. 10 ribu nih semuanya," Segera Pelangi mengambil uang 10 ribuan di kantong bajunya dan memberikannya ke Bang Rahmad. "Terima kasih Bang. Lala pulang, jangan kangen besok kesini lagi kok. Dadah Bang," ujarnya sambil berjalan keluar. "Idih najiss La!" kata Bang Rahmad yang masih di dengar Pelangi. Pelangi a.k.a Lala memang usil, dia termasuk tipe-tipe gadis yang usil. Bang Rahmad saja kadang sampai geleng-geleng kepala meladeninya. Di sepanjang trotoar tak henti-hentinya Pelangi menatap foto Gifta sambil senyam-senyum sendiri. Memang dia gila kalau mengenai Gifta. Setelah puas memandangi foto Gifta, Pelangi menyelipkan foto tersebut kedalam jurnal yang dia bawa. Jurnal dengan sampul berwarna ungu muda itu menjadi jurnal kebanggaannya karena di sana dia mencurahkan semua tentang Gifta. "Pak Jokowi aku mencintai salah satu rakyatmu..." teriaknya sambil berjalan pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD