"Tumben Bunda pulang lebih awal?" tanya Pelangi kala melihat Bundanya yang kini sedang memasak makanan yang ia sukai.
"Iya, Bunda sekarang gak bakal sampai malam lagi kok La,"
"Ah syukurlah! Bunda jangan capek-capek," titah Pelangi.
"Iya, kamu cepat ganti baju sana!" suruh bundanya.
"Siap Bos," ujarnya sambil berlalu ke kamarnya.
Pelangi meletakkan jurnalnya di meja belajar lalu mengambil foto Gifta yang baru saja ia cetak, lamat-lamat ia memandanginya lalu kembali menyelipkan ke dalam jurnalnya.
"Pak Jokowi kapan sih rakyatmu yang satu ini peka? Lama-lama capek juga mendem sendiri diam-diam," curhat Pelangi.
Memang mulut perempuan itu suka asal, "Bentar lagi udah mau lulus nih, masa sih kisah cinta gue juga harus ikut berakhir? Udah mau enam tahun, bukan waktu yang sebentar, masih gini-gini aja," demi Gifta juga wanita itu memilih kampus yang sama dengan laki-laki tersebut, meski berbeda jurusan setidaknya ia masih bisa melihat Gifta.
"Dahlah makan aja, laper!" putusnya.
Setelah berganti pakaian ia berjalan ke bawah guna makan siang bersama bundanya.
"Buruan La,"
"Sabar Bunda, ini Pelangi lagi jalan,"
Ia mengambil tempat duduk di sebelah bundanya, biasanya ia akan makan sendiri bila bundanya kerja. Kali ini sepertinya bundanya akan sering makan bersamanya. Meskipun hanya makan berdua, Pelangi sangat bahagia.
Ia begitu mencintai bundanya. Tak pernah sedikitpun Pelangi mengeluh kala bundanya jarang memiliki waktu bersamanya. Pelangi kecil pun tak pernah menuntut bundanya harus selalu ada di sampingnya. Pelangi kecil pintar, ia sudah memiliki fikiran dewasa yang belum dimiliki oleh anak-anak kecil sepantarannya dulu.
"Bagaimana kuliahmu La?"
"Baik Bun, not bad, bentar lagi mau nyicil skripsi," ujarnya.
"Gak kerasa kamu udah mau lulus aja La,” ujar sang bunda yang hanya ditimpali senyum oleh gadis itu.
“Besok di anter Mang Wawan ya?" sontak Pelangi menggeleng, "Nggak usah Bun. Pelangi bisa naik bis atau angkot aja."
"Sekarang musim hujan La, mau hujan-hujanan?"
Pelangi menyendokkan makanan ke mulutnya, ia mengangguk, "Seru."
"Aish kamu ini! Kamu udah dewasa lho La!" Pelangi nyengir mendengar omelan dari bunda tercintanya.
Pelangi memang aneh, sejak SMA wanita itu tak mau kala bundanya memintanya untuk pergi sekolah dengan sopir alasannya "Kasian Mang Wawan capek nanti antar jemput Pelangi," ya kan tugas Mang Wawan emang supir. Suka lucu memang!
Pelangi lebih suka naik angkot atau bis, katanya lebih seru. Desak-desakan dengan banyak orang tak jarang ia berkenalan dengan orang yang berbeda setiap harinya. Itu yang membuat Pelangi lebih memilih angkutan umum, jarang ia menerima tebengan dari Bina kalau memang nggak kepepet.
"Pelangi selesai," ujarnya.
"La," panggil bundanya. Pelangi yang hendak berdiri kembali duduk.
"Iya bun?"
"Kamu nggak ingin bertemu sama ayah nak?" terlihat bundanya sangat berhati-hati kala berbicara.
Pelangi menggeleng, "Coba untuk memaafkan kesalahan ayah ya nak, jangan ada dendam. Bagaimanapun beliau itu adalah ayahmu."
Gadis itu membisu dalam hatinya ia membenarkan apa yang bundanya bilang. Tapi luka itu masih ada. Ia masih belum bisa setegar bundanya, dikhianati dengan sosok yang sangat ia cintai.
Bersyukur bundanya itu wanita kuat, tak butuh waktu lama untuk wanita paruh baya itu kembali bangkit. Melanjutkan hidup untuk dirinya dan Pelangi, tanpa suami.
"Pelangi tidak bisa Bun," sahutnya datar. Pelangi hanya bersikap datar dan angkuh kepada orang-orang yang ia benci. Jangankan melihat, mendengar namanya bisa membuat mood Pelangi menjadi jelek.
Bundanya tau bila Pelangi sangat kecewa terhadap ayahnya, luka batinnya masih membekas membuatnya sedikit hilang kontrol jika membahas sang ayah, "Pelangi capek mau istirahat, bunda jangan lupa istirahat."
Sebelum ia beranjak Pelangi mendekati bundanya dan mencium pipi wanita itu, "Pelangi sayang Bunda." lalu Pelangi pergi menuju kamarnya.
Ratna yang merupakan bunda dari Pelangi menitikan air mata melihat anak semata wayangnya tersebut. Ia tak mampu menghapus luka yang ada di dalam hati anaknya. Putri kecil yang kini beranjak dewasa itu menjadi korban keegoisan dirinya dan Tanto, yang merupakan ayah Pelangi. Wanita itu sangat merasa bersalah.
Ratna tau, sangat tau bila Pelangi anaknya sangat mencintai dan melindungi dirinya. Sebab itu Ratna tak ingin mencari pengganti ayah Pelangi, karena memiliki Pelangi merupakan anugrah terbaik yang wanita itu dapatkan.
***
Cahaya matahari tembus ke dalam kamar gadis yang masih terlelap. Ia sengaja setelah sholat shubuh tadi ia kembali tidur karena hari ini ia libur. Pelangi memutuskan untuk bangun telat, setelah 5 hari berturut-turut ia dituntut untuk pergi ke kampus dengan segala keriwehan dirinya sebagai mahasiswa tingkat akhir.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar Pelangi di gedor dengan sangat keras.
Pelangi tau siapa pelaku di balik gedoran pintu kamarnya, ia menulikan sejenak pendengarannya. Tapi semakin Pelangi diamkan gedorannya semakin kencang. Tanda si pelaku penggedoran tidak sabaran. Dengan rasa malas Pelangi bangun dan membuka pintu kamarnya.
"Apa?" Pelangi enggan marah-marah di pagi cerahnya. Ia mensetting dirinya untuk tidak marah dan merusak moodnya.
Ya! Meskipun si pelaku selalu membuatnya kesal dan pintar mengobrak-abrik moodnya.
Gadis dengan kaos berwarna merah maroon itu hanya menyengir melihat Pelangi, ia yakin sebentar lagi Pelangi mengomelinya atau bahkan lebih parahnya Pelangi dengan tega mengusir dari rumahnya.
"Ikut gue yuk! Ke-"
"Males!" sela Pelangi cepat ia kembali merebahkan dirinya di atas kasur kesayangannya.
"Ayolah La!" paksanya sambil mengikuti Pelangi ke tempat tidur.
Pelangi memejamkan mata seolah tertidur, Bina yang kesal menarik Pelangi untuk bangun.
"Bina!" teriak Pelangi. Bina tidak menggubris ia menarik Pelangi sampai bangun.
"Biadab lo ya!!!"
"Lo harus ikut gue pokoknya," Bina tetap keukeh memaksa Pelangi.
"Gue udah bilang ke Bunda kok dan Bunda kasih ijin. Hwekk," goda Bina sambil menjulurkan lidahnya. Lihat saja tingkah dua perempuan itu mereka lebih cocok sebagai bocah memang.
Membuat Pelangi semakin uring-uringan. Ia tak menyangka hari liburnya bakal di ganggu oleh setan berwujud manusia alias Bina. Pelangi menghentak-hentakkan kakinya kesal. Pelangi berjanji akan membuat perhitungan ke Bina nantinya.
"Lihat aja lo Bin!" geram Pelangi.
"Bodoh amat," sahut Bina sambil merebahkan tubuhnya ke kasur Pelangi.
Pelangi masuk ke kamar mandi dengan muka masam. Kentara ia sedang marah karena Bina, tetapi sahabatnya itu tak ambil pusing. Nanti bakal balik sendiri Pelangi. Mereka sudah bersahabat bertahun-tahun jadi keduanya sudah hafal bin tamat masing-masing karakter.
Gadis itu menyiramkan air ke badannya dengan ogah-ogahan. Padahal ekspetasinya ia akan tidur sampai siang lanjut menonton film kesukaannya, gadis itu rencananya ingin memanjakan dirinya, namun apa daya realitanya ia harus mandi pagi juga.
Ia menyambar handuk dan membuka pintu kamar mandi, "Cepet banget lo mandi!" komen Bina.
"Udahlah gak usah banyak bacot deh Bin!" dengus Pelangi.
"Aelah lo gak usah marah-marah deh, nanti juga lo bakal seneng,"
Pelangi diam tak menjawab, ia mengambil baju dan membawanya ke ruang ganti.
"Yakin deh La, nanti lo bakal terima kasih ke gue," yakin Bina.
"Dan anak perempuan itu pamali bangun siang tau," tambahnya.
Pelangi hanya menanggapinya dengan muka datar.
"Ngomong-ngomong gimana soal Gifta?" tanya Bina.
Sontak Pelangi mulai menyunggingkan senyum.
Gampang kan buat Pelangi kembali senang, hanya mempertanyakan Gifta moodnya kembali baik.
"Ya begitulah," jawab Pelangi dengan senyum yang masih lebar.
Bina terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Bina sendiri bingung kenapa sahabatnya ini begitu jatuh cinta dengan laki-laki tersebut. Iya sih Gifta tampan, tapi kelakuannya itu lho yang ENGGAK banget menurut Bina.
"Emang mau kemana si Bin?"
"Puncak," jawab Bina santai.
Pelangi tampak berbinar-binar mendengar jawaban Bina, "Serius lo?"
Bina mengangguk, "Yakali gue bohong."
"Ah terimah kasih cintanya aku," ungkapnya sambil memeluk Bina.
"Najis lo, tadi aja lu marah-marah!" geram Bina.
"Maaf janji nggak marah lagi," ujar Pelangi nyengir.
Bina memutarkan bola matanya jengah. Seminggu yang lalu Pelangi mengajak Bina untuk pergi ke puncak. Pelangi ingin sekali ke puncak, ya meskipun hanya sekedar berjalan-jalan setidaknya ia bisa sedikit merefreshing kan otaknya dari berbagai tugas kuliahnya yang menumpuk. Memanjakan pikirannya yang penat. Tapi berhubung waktu itu Bina tidak bisa menemani alhasil gadis itu tidak jadi pergi. Mana mau Pelangi pergi kesana sendiri. Sudah jomblo sendiri lagi, kan kasian.
Jadilah Bina mengajaknya sekarang berhubung hari ini juga weekend, jadi mereka bisa menikmati waktu liburannya pergi kesana.
"Buruan deh, keburu siang tau!"
"Baik bos!" sahut Pelangi sambil hormat kearah Bina.
Pelangi segera memakai skincare dan memoleskan sedikit lipbalm di bibirnya. Setelah itu mereka berangkat menuju Puncak.