Part 03

1203 Words
Malam ini indah, banyak bintang yang muncul di hamparan langit malam menemani seorang gadis dewasa yang masih betah duduk di balkon padahal dari tadi bundanya sudah berpesan untuk segera masuk di karenakan hari semakin larut. Tapi sepertinya wanita ini enggan untuk masuk dan segera tidur. Ia lebih memilih duduk menatap langit, entah apa yang sedang ia pikirkan. "Kapan ya lo bakal ngerti isi hati gue Gif?" katanya pelan sambil menatap langit, seolah disana ia dapat berbicara langsung ke orang yang wanita itu tuju. "Tapi apa lo bakal suka ke gue kalo lo tau yang sebenarnya?" ia mengingat kejadian tadi siang di kampus, dengan Gifta yang bernada dingin bicara kepadanya. "Bagaikan pungguk merindukan bulan," ujarnya sebelum ia masuk kedalam kamarnya. Pelangi menidurkan tubuhnya di ranjang kamar, ia menarik selimut lalu mencari posisi ternyamannya, "Selamat tidur Gifta." ujarnya "Serius lo?" tanya Bina kaget. Pelangi mengangguk sambil menguyah baksonya, gadis dengan kuncir kuda itu saat ini berada di kantin bersama Bina. Sepertinya Pelangi menyesal menceritakan kejadiannya kemarin kepada Bina sekarang. "Terus terus terus lo gimana?" Bina masih dengan ke kepoannya. "Gue bohongin mereka," ujar Pelangi santai. Brak!! "Apa?" teriak Bina sambil menggebrak meja. Pelangi terjingkat kaget. Alhasil dua orang gadis itu menjadi pusat perhatian satu kantin. Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. Seketika Pelangi tersedak sangking kagetnya, "Maaf La gak sengaja, nih minum dulu minum dulu!" kata Bina sambil menyodorkan minuman kearahnya. Dengan cepat Pelangi meneguknya, "Gila ya lo Bin! Lo hampir nyelakain gue!" maki Pelangi. Bina hanya menyengir tanpa dosa, "Lo nya juga bikin kaget. Serius tadi reflek!" Jelas Bina. "Dahlah gue hampir mati di tangan Lo!" "Hehehe maaf, buktinya lo masih hidup kan?" canda Bina sambil menyengir. Pelangi memutar bola matanya jengah, "Terus terus gimana lo? Kok bisa lo bohongin mereka?" lanjutnya. "Ya gue males bermasalah sama mereka, meskipun Gue suka sama sih Gifta! Gue mah pengen hidup normal-normal aja. Menikmati masa-masa kuliah gue dengan tenang, ditambah lagi gue mau ngerjain skripsi bentar lagi," kata Pelangi sambil merentangkan tangannya ke udara. “Gue mau cepat-cepat lulus, terus nikah deh!” halu wanita tersebut. “Nikah sama siapa emang? Gifta?” ujar Bina sambil menoyor kepala sahabatnya, “Halu aja terus!” "Bodoh, sewot aja deh lo!" dengus Pelangi. Pelangi melanjutkan makannya sambil sesekali menulis di jurnal yang ia bawa. Iya, di manapun dan kapanpun Pelangi menyempatkan diri menulis sebait kata yang tiba-tiba muncul di kepalanya, kecuali di toilet ia takkan membawa jurnalnya. "Noh! Noh! Kecintaan lo datang," ujar Bina. Sontak Pelangi menoleh, benar saja Gifta berjalan menuju kantin tapi yang membuat Pelangi kesal yaitu, si Siska ikut berjalan berdampingan dengan Gifta. Jelas lah kan sekarang mereka sedang menjalin hubungan, tak salah jika jalan berdampingan. Tapi di mata Pelangi itu salah besar. Sangat salah! Pelangi dongkol melihatnya, ia kembali membalikkan badan menutup jurnal lalu mengajak Bina untuk segera pergi dari kantin. "Yakali, bakso Gue belum abis ini!" seru Bina. "Udah deh Bin! Nanti Gue ganti!" tanpa pikir panjang Pelangi menarik Bina untuk segera pergi dari kantin. "Hai? Kalian disini juga?" sapa Siska ramah. Terlihat dari wajah Pelangi enggan menjawab. Sepertinya Pelangi mempunyai dendam kepada Siska, karena Gifta? Mungkin. "Iyaa," bukan. Itu bukan Pelangi yang menjawab tapi Bina. Pelangi hanya diam saja membuang pandangan nya ke arah lain. Ia malas melihat wajah Siska yang terkesan sok cantik itu. "Buru-buru banget?" tanya Siska. Pelangi mengembuskan nafas jengah, Bina yang melihat ekspresi Pelangi buru-buru pamit untuk segera ke kelas, "Iya, soalnya bentar lagi ada kelas." Siska menganggukkan kepala, Bina segera menyeret Pelangi menjauhi Gifta dan Siska. "Kenal sama mereka?" tanya Gifta. "Iya, mereka temen satu jurusanku. Baru tau kalau mereka sering ke kantin sini," Gifta mengedikkan bahu tak peduli, menurutnya sah-sah saja untuk anak-anak jurusan lain pergi ke kantin gedung fakultas teknik. *** Pelangi menghentak-hentakkan kakinya, ia masih kesal dengan Siska. "Kenapa harus Siska!" geramnya. "Gue benci banget sama dia Bin!" Mata Pelangi berkaca-kaca, lelehan bening akan jatuh mengenai pipinya. "Gue ngerti perasaan elo La, lo yang sabar. Ada gue di sini!" Bina berusaha menenangkan sahabatnya. Ia membawa Pelangi ke dekapannya. Ia tau di balik sifat Pelangi yang ceria perempuan itu menyimpan sebuah luka yang teramat dalam. Bina tak tau harus menasehati bagaimana ke Pelangi, ia takut salah dan melukai Pelangi. Karena Bina sendiri tidak pernah merasakan berada di posisi Pelangi, tapi ia berusaha untuk ada di samping perempuan itu. Ia selalu berusaha selalu ada untuk Pelangi. Ia hanya mampu memberikan pelukan untuk Pelangi, setidaknya itu mampu membuat Pelangi lebih tenang. Pelangi masih terisak di dekapan sahabatnya tersebut. "Gue tau lo kuat," kata Bina. "Hapus air mata lo, bentar lagi kita ada kelas kan? Gue antar ke kamar mandi," Pelangi mengangguk, mereka berdua pergi meninggalkan taman dan menuju kamar mandi. Kata Bina, Pelangi adalah orang yang pintar menyembunyikan luka. Dulu awal-awal berteman dengan Pelangi ia mengira bahwa Pelangi tak pernah memiliki beban atau masalah hidup yang serius. Tapi ternyata dugaanya salah, masalah yang tak seharusnya Pelangi telan saat itu menimpa masa kecilnya. Saat itu mereka masih SD sekitar kelas 4 mungkin. Pelangi harus menerima kenyataan pahit yang harus ia terima. Keluarga nya yang begitu harmonis tiba-tiba hancur begitu saja, ayah nya pergi meninggalkan bunda Pelangi. Mau tak mau saat itu gadis cilik itu harus menjadi dewasa sebelum waktu nya. Setelah ayahnya pergi meninggalkan dia dan bundanya, bunda Pelangi menjadi single parent dan harus memenuhi kebutuhan hidupnya seorang diri. Ia selalu di tinggal dari pagi hingga malam. Kadang Pelangi harus menunggu di rumah Bina kalau bundanya telat menjemputnya. Pelangi tak pernah mengeluh meskipun bundanya sering meninggalkan gadis tersebut. Karena ia tau bundanya bekerja keras demi kebahagiaan Pelangi juga. Sampai akhirnya sekarang bunda Pelangi menjadi Direktur di perusahaan Mahendra Grup. Bunda Pelangi dipercaya memegang salah satu perusahaan Mahendra Grup yang terkenal itu. "Lo pulang sama gue aja deh La," kata Bina. "Gue masih harus ke tempat Bang Rahmad," ujar Pelangi. "Gue anter aelah," tawar Bina. Pelangi masih menimang-nimang tawaran Bina. Ia kasian bila Bina mengantarnya maka sahabatnya itu harus putar balik lagi, mengingat jalan rumah Bina yang tidak searah. "Gue sendiri aja deh Bin, naik angkot. Lo pulang aja," "Gue antar aja deh kenapa?" keukeuh Bina yang ingin mengantarkan Pelangi pulang. "Noh langit mendung, mending lo pulang duluan. Janji gue gak kenapa-napa," Iya! Bina takut Pelangi kenapa-napa di jalan. Mengingat sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Bina takut Pelangi melakukan hal yang tidak-tidak, seperti saat itu. Jangan lupakan bahwa Pelangi “PINTAR BERAKTING”. Seandainya dia ikut penghargaan Piala Citra, Bina yakin Pelangi akan menang, "Gue gakpapa beneran dah, lo pulang aja Bin. Udah sono sono!" usirnya. Pelangi mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir Bina. "Ah monyet lo!" maki Bina. "Iya gue cantik, salam buat nyokap sama bokap," sahut Pelangi yang membuat Bina makin kesal. "Bodo amat! Gue pulang!" "Hati-hati my best best best friend polepel," goda Pelangi sambil tertawa. Bina langsung menghidupi motornya dan meninggalkan Pelangi dengan hati dongkol. Pelangi patut bersyukur memiliki Bina, entah seandainya tidak ada Bina di hidupnya mungkin Pelangi tidak akan bisa seceria saat ini. Saat hendak melangkah menjauhi parkiran, gadis tersebut melihat Gifta. Untung saja laki-laki itu berjalan sendiri tanpa di temani Siska, mood Pelangi menjadi sedikit bagus. Ia mengeluarkan camera dan, Cekrek. Ia berhasil membidikkan camera dan mengabadikannya di dalam jurnalnya tanpa sepengetahuan si empunya. Ia merasa lega sekarang, kemudian gadis itu pergi menuju tempat Bang Rahmad.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD