Part 02

1219 Words
Hujan mengguyur kota dengan amat deras. Padahal tadi langit tampak begitu cerah, tak menunjukkan pertanda akan hujan. Pelangi memutuskan untuk pergi ke bangku dekat taman di dekat gedung jurusannya, sambil membuka jurnal yang ia miliki. Gadis itu menatap langit yang kini mulai menitikan air hujan. Biasanya sebentar lagi akan muncul pelangi. Layaknya nama yang ia sandang, ia sangat amat menyukai pelangi. Apalagi warna-warnanya, menurutnya pelangi itu sama seperti dirinya. Meskipun banyak perbedaan di sekelilingnya tetapi ia mampu membuat semuanya berakhir indah. Apalagi kisah cintanya, ia juga berharap berakhir indah! Hari ini ia lupa tidak membidikkan kamera ke arah Gifta. Rupanya Pelangi masih kesal dengan kejadian tadi. Ia mengerucutkan bibirnya kesal, sepertinya hari ini ia akan absen tidak berkunjung ke percetakan Bang Rahmad. Tidak! Bukan itu! Itu hanya alibinya! Sebenarnya ia kesal karena hari ini ia akan men-skip jurnalnya. Padahal hampir 6 tahun ini ia tidak pernah barang sehari saja meninggalkan isi di jurnalnya, lihatlah bagaimana usangnya jurnal ungu miliknya. Hujan semakin deras, Pelangi sedikit menyesal karena menolak ajakan Bina untuk segera pulang.Gadis itu memilih untuk tetap tinggal di kampus menunggu hujan benar-benar reda. Nyatanya malah semakin deras, apalagi banyak teman-temannya yang sudah meninggalkan sekolah. Hanya ada dia dan beberapa anak hima jurusan satra yang sedang rapat. Pelangi masih betah duduk disana sambil menatap lurus kedepan. Kini ia merasa pusing dengan fikirannya. Jika fikiran Pelangi digambarkan dengan sebuah benang maka benang itu akan membentuk lingkaran dengan tali benang yang kemana-mana tak tentu arah. Moodnya benar-benar kacau hanya karena melihat adegan Gifta yang tak ingin ia lihat. "Ha ha ha!" Pelangi menoleh kala suara yang tak asing di tangkap oleh indra pendengarnya. Benar saja! Gifta dan para sahabatnya sedang berjalan dari ujung lorong. Gadis itu terkejut karena baru kali ini ia melihat gerombolan Gifta melewati gedung fakultasnya. Buru-buru Pelangi pura-pura tak melihatnya, ia menutup jurnalnya mengganti dengan novel yang ia bawa. Pelangi seolah sibuk membaca novel, padahal ia tidak benar-benar membaca novel tersebut. Hanya sekedar pengalihan isu dari Gifta dan teman-temannya. Gifta dan para sahabatnya semakin berjalan mendekati Pelangi. Bukan masalah Pelangi takut dengan Geng penindas itu, hanya saja ia tak ingin ada masalah dengan manusia-manusianya. Pelangi tidak ingin menjadi sorotan satu kampus, apalagi berurusan dengan mahasiswa teknik, ia ingin hidup normal-normal saja. Meskipun ia menyukai Gifta, ia lebih memilih mencurahkan di jurnal yang ia khususkan untuk laki-laki tersebut. Gifta dan dua orang sahabatnya berjalan melewati Pelangi. Pelangi diam saja, toh memang Gifta tidak mengenalnya. Wajar saja dia berjalan begitu saja tanpa melirik Pelangi. Saat tiga orang tersebut sudah berjalan agak jauh darinya, buru-buru Pelangi mengambil camera yang ia simpan di dalam tasnya setelah itu dengan gesit ia membidikkan camera kearah Gifta. Dan.. SPASLH! Flash cameranya menyala, sontak tiga lelaki itu menoleh. Pelangi cepat-cepat berdiri dari duduknya. "Hei tunggu!" teriak Ziro. Seketika tubuh Pelangi menegang, peluh menetes dari wajahnya. "Mampus lu La!" makinya lirih. Pelangi memutar tubuhnya pelan, ia cemas, gadis itu tak tau sebentar lagi apa yang terjadi dengannya jika para manusia-manusia anarkis memergokinya. Pelangi dan tiga lelaki itu berjarak tak jauh, Gifta, Ozil, dan Ziro berjalan mendekatinya. Jantung Pelangi berdegub kencang, ia meremas bagian samping celana bahannya. Fikiran wanita tersebut sudah liar kemana-mana, ia membayangkan besok pagi fotonya sudah tertempel di mading jurusan dan setelah itu ia akan menjadi bulan-bulanan tiga manusia ini. Pelangi tidak mau itu! Ia hanya ingin menamatkan pendidikan sarjananya seperti mahasiswa-mahasiswa lain. Ia tidak ingin mengalami masa-masa kuliah yang kelam. "Kenapa kabur?" tanya Gifta dingin. Pelangi meneguk ludahnya, wajahnya pucat. Ini pertama kalinya Gifta berbicara kepadanya. Tentunya ia senang tapi disatu sisi ia takut dengan suara Gifta yang terkesan dingin. "Ah itu gue gak kabur kok. Gue udah di jemput di depan, ada apa?" ujar Pelangi sambil memamerkan lesung pipitnya. Sebenarnya ia sangat takut tapi Pelangi berusaha untuk stay cool di hadapan mereka. Pelangi tak ingin nanti tiga orang di depannya semena-mena terhadapnya. "Lalu?" Gifta bertanya lagi dengan gaya yang masih sama seperti tadi. Pelangi di buat bingung dengan pertanyaan Gifta, ia mencoba mencerna satu kata yang terlontar dari mulut cowok yang ia suka selama 6 tahun itu. "Ha? La-lalu apa?" tanya balik Pelangi. "Flash tadi? Lo paparazzi?" kini giliran Ziro yang bersuara. “Jangan-jangan,” selidik Ziro menggantung. Glek.. Pelangi kembali menelan ludah, hampir saja ia melupakan dua lelaki yang tak kalah tampan dari Gifta. Tapi tetap saja Gifta yang nomor satu di hati Pelangi. "Oh itu?" tanya Pelangi mencoba sok asik kepada tiga orang di hadapannya. Padahal di lubuk hati nya yang paling dalam gadis itu sangat takut. "Gue bukan paparazzi kok," jawabnya sambil tertawa pelan. "Terus?" desak Ozil. Pikir Pelangi Ozil satu-satunya orang baik di antara mereka bertiga. Ternyata sama saja. Otaknya seakan tak berjalan untuk beralibi kepada tiga orang laki-laki di depannya. Ia tak tau harus menjawab jujur atau berbohong. Kalaupun ia menjawab jujur kalau selama ini Pelangi diam-diam mengambil foto Gifta, ya hancur sudah riwayat hidupnya. Tiba-tiba ide muncul di otaknya. Ia mengambil handphone di sakunya dan, "Iya bun. Pelangi akan segera kesana, bunda tunggu di depan ya?" Pelangi kembali memasuk kan ponselnya ke dalam saku celanyanya. "Besok kita sambung lagi ya, nyokap gue udah nungguin tuh soalnya, Dahh!" ujar Pelangi berlalu dari hadapan tiga laki-laki tadi. Pelangi berjalan dengan langkah cepat, ia harus segera meninggalkan tempat ini seakarang juga. Jangan sampai Gifta dan gengnya tau bahwa ia berbohong. Mau tak mau gadis itu harus menerobos hujan. Karena masih di area kampus Pelangi masih mengontrol diri untuk tetap biasa, kalau ia berlari geng Gifta akan tau Pelangi berbohong. Setelah Pelangi merasa aman, dia memilih berlari secepat mungkin agar segera sampai di percetakan Bang rahmad dengan novel yang ia jadikan pelindung di kepalanya. Sebenarnya ia tak rela melihat novel yang ia beli dengan uang sakunya menjadi rusak karena ulahnya. Tapi kali ini nyawanya jauh lebih penting dari pada tumpukan kertas tersebut. *** "Hhh.. Hhh," terdengar nafas terengah-engah dari Pelangi. "Eh busyet! Lo kenapa La? Kek habis di kejar setan!" kata Bang Rahmad heran. Pelangi mengangkat tangannya, "Sss-stop Bb-bang!" sergah Pelangi yang masih mengatur nafasnya. "Minum dulu nih nih," ujar Bang Rahmad sambil menyodorkan sebotol air mineral kepadanya. Bang Rahmad ini baik, super baik pol kalau kata Pelangi. Ia sudah mengenal Bang Rahmad dari Pelangi masih duduk di bangku sekolah dasar. Mangkanya mereka akrab. Pelangi menerima botol mineral dari Bang Rahmad lantas meminum nya, "Lo itu kenapa deh La? Masyaallah banget kelakuan kayak bocah bener deh." Lalu Pelangi menceritakan kejadian yang ia alami tadi. Selain Bina yang menjabat sebagai sahabatnya, Bang Rahmad juga menjabat sebagai sahabat sekaligus kakak bagi Pelangi. Dua orang yang bukan merupakan keluarga tapi sudah di anggap keluarga oleh Pelangi. Pelangi juga akrab dengan Akbar anak Bang Rahmad dan juga Mbak Yani yang merupakan Istri Bang Rahmad. Bang Rahmad juga sudah menganggap customer percetakannya sebagai adik kandungnya. "Astagfirullah ada-ada aja kelakuan anak muda jaman sekarang! Jadi lo lari dari kampus, baju sampai basah semua!" Pelangi hanya mengedikkan bahu acuh, "Ya begitulah Bang," mengingat jarak percetakan dengan kampusnya lumayan menguras energinya. "Sana ke dalam! Minta buatin teh anget gih ke Mbak Yani!" "Nggak usah deh Bang," tolak Pelangi sambil mengambil memori cameranya. "Biar lo nggak masuk angin La!" kata Bang Rahmad. "Udah gakpapa Bang. Selow aja! Bang ini tolong pindahin ya Bang gak sempet tadi," "Memang bebal ini orang," oceh Bang Rahmad. Pelangi hanya memasang tampang watados nya. Baiklah kali ini ia bisa selamat dari Gifta and The Geng.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD