Chapter 2 :
Statue (2)
******
SAAT sudah berjalan masuk ke dalam hutan, ada seorang pria paruh baya yang menjemput mereka. Pria itu adalah pemimpin dari beberapa penduduk yang tinggal di dalam hutan itu, ia biasa menjadi tour guide untuk orang-orang luar yang berkunjung. Pria itu tersenyum manis kepada mereka, memperkenalkan dirinya sebagai Parker Dawson, dan mulai memimpin jalan; pria itu memberitahu mereka banyak hal dengan nada yang bersahabat.
Tatkala mereka sampai di daerah yang cukup luas (spasi berbentuk lingkaran di antara pohon-pohon), Mr. Parker pun berhenti dan mulai memberitahu mereka bahwa mereka sudah sampai. Zoya memperhatikan sekeliling. Tidak jauh dari sana ada danau dan danau itu ada di sisi kiri daerah tersebut. Zoya bernapas lega saat mengetahui ada air di dekat mereka. Setidaknya ia bisa mencuci ini-itu. Kalau untuk minum…mereka membawa banyak stok air mineral.
Daerah ini akan menjadi tempat mereka membangun tenda, begitu kata Mr. Parker. Mr. Parker sempat memperingatkan mereka untuk tidak bermain terlalu jauh karena takut terjadi sesuatu. Jika mereka tidak bermain terlalu jauh, Mr. Parker juga dapat dengan mudah mengawasi mereka. Setelah Mr. Parker berpamitan, mereka semua mulai membangun beberapa tenda yang masing-masing tendanya dapat memuat tiga sampai empat orang.
******
Zoya berjalan sedikit menjauh dari perkemahan mereka untuk mencuci tangan di dekat sebuah pohon; mereka bersepuluh baru saja selesai makan siang. Sedikit terlambat, memang, tetapi masih lebih baik daripada harus menahan lapar hingga malam tiba. Untungnya, mereka sudah merencanakan acara kemah ini dengan baik. Jadi, seluruh alat masak, alat makan, dan persediaan makanan, semuanya sudah tersedia dan tertata rapi di dalam tenda khusus logistik.
Saat Zoya sedang mencuci tangan, ada seekor kucing berwarna hitam yang mendadak mendekatinya. Zoya menatap kucing itu sebentar dan lanjut mencuci tangan, tetapi tiba-tiba Zoya mendengar ada sesuatu terjatuh di dekatnya.
Ya ampun. Kalung mutiara hitamnya terjatuh ke tanah.
Baru saja Zoya ingin mengambil kalung tersebut, Zoya mendadak terperanjat—hampir terjungkal ke belakang—tatkala tiba-tiba kucing hitam yang tadi dilihatnya itu berlari menghampirinya dan menggigit kalung tersebut, kemudian berlari kencang menjauhi Zoya.
Zoya menganga. Mengerang frustrasi, Zoya pun akhirnya berdiri dan berlari mengejar kucing tersebut, tetapi semakin dikejar, kucing itu justru berlari semakin cepat karena merasa terancam.
“Hei, tunggu!!” teriak Zoya. “Tunggu!!!”
Aduh, itu adalah kalung peninggalan almarhum ibunya. Dia tidak bisa membiarkan kalung itu hilang!
Zoya kemudian berlari semakin kencang hingga terengah-engah. Napasnya memburu, suaranya nyaris habis karena terus-terusan berteriak. Namun, ternyata ia masih beruntung. Kucing itu mendadak melepaskan kalungnya di tanah, lalu berlari menjauh.
Sesampainya Zoya di tempat di mana kucing itu menjatuhkan kalungnya, Zoya pun langsung membungkuk dan memegang lututnya untuk mengatur napas. Ia benar-benar terengah-engah; jantungnya berdetak tak keruan. Rasanya sesak sekali.
Setelah napasnya mulai normal, Zoya pun berdiri dan mencari keberadaan kalungnya. Ia sempat menyingkirkan rambut panjangnya yang terurai itu ke belakang telinga tatkala mencari kalungnya di tanah. Saat berhasil menemukan kalungnya itu, Zoya pun bernapas lega. Ia berjongkok dan berencana untuk mengambil kalung itu, tetapi kemudian tangan Zoya terhenti.
…karena tiba-tiba saja ada orang lain yang juga sedang berjongkok di depannya dan mengulurkan tangan untuk membantunya mengambil kalung tersebut.
Napas Zoya tertahan; ia langsung menatap orang tersebut dengan mata yang melebar. Akan tetapi, ternyata itu bukanlah orang asing.
Itu adalah Elias.
“Zoe,” panggilnya pelan.
Meskipun merasa kaget, ada sebuah percikan yang tidak asing di dadanya saat akhirnya ia melihat Elias lagi di hadapannya. Percikan kecil yang perlahan menyebar luas dan menggelitik dadanya. Memori tentang mereka jelas belum menghilang, tetapi memori itu sudah dipaksa untuk menguar kembali ke permukaan.
Akan tetapi, Zoya berhasil menguasai dirinya sendiri. Untuk yang kesekian kalinya, ia kembali mengingatkan dirinya bahwa tiga minggu yang lalu ia dan Elias tidak putus secara baik-baik. Pemuda ini bersalah padanya.
Zoya lalu menghela napas, mulai berdiri seraya bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?” Tanpa sadar, nada bicara Zoya terdengar sedikit kasar.
Elias pun berdiri perlahan. Menghadap lurus ke arah Zoya dalam jarak yang dekat. Setelah itu, pandangan matanya melembut; ia tersenyum tipis kepada Zoya.
“It’s been a long time, Zoe.”
Jantung Zoya seakan berhenti berdegup. Napasnya tertahan.
Elias masih memanggilnya Zoe. Panggilan khusus darinya untuk Zoya selama mereka menjadi sepasang kekasih.
Zoya berdeham, masih mencoba sekuat tenaga untuk tidak luruh atau kalah di hadapan Elias. Ia tidak ingin terlihat lemah ataupun terlihat masih menyukai keberadaan Elias. “Belum lama. Kita berpisah sekitar tiga minggu yang lalu.”
Elias mengangguk pelan. Seraya tersenyum, suara rendahnya terdengar di telinga Zoya. “Yes. It’s been quite long, for me.”
Zoya sedikit membuang muka, tidak ingin menatap Elias. Ia tidak ingin melihat ke dalam mata indah milik Elias yang kemarin-kemarin selalu bisa menjebaknya, selalu bisa menenggelamkannya. Saat memandang mata Elias, dunia sekitarnya serasa mengabur dan ia seolah terhipnotis; ia dibuat masuk secara sukarela ke dalam dunia Elias.
“Bagaimana kabarmu, Zoe?” tanya Elias pelan.
“Bukan urusanmu,” tegas Zoya. “Sudah, ya. Aku sudah menemukan kalungku. Aku mau kembali ke perkemahan.”
Tidak disangka-sangka, saat Zoya baru saja ingin melangkah pergi, mendadak Elias menoleh ke samping. Pemuda itu terlihat sedikit takjub, lalu berkata, “—tapi…ini sedikit mengejutkan. Ada patung yang cukup besar di sini.”
Zoya mengernyitkan dahinya keheranan, lalu gadis itu ikut menatap ke samping.
What the hell?
Sejak tadi ada patung di sini! Mengapa Zoya tidak menyadarinya?
Zoya menganga. Bisa-bisanya dia tidak sadar bahwa dia berdiri di dekat patung sebesar ini sejak tadi!
Patung itu tingginya sekitar sepuluh kaki. Berwarna putih dan memiliki sayap yang lebar. Zoya dapat melihat sayapnya dengan jelas karena patung itu membelakangi mereka. Posisi patung itu terlihat seperti orang yang sedang start jongkok sebelum berlari. Agaknya, kepala patung itu sedikit tertunduk di depan sana, soalnya Zoya tidak dapat melihat kepala patung itu.
Tanpa sadar, Zoya pun mengomentari patung itu, “Mengapa bisa ada patung di sini? Ini di dalam hutan.”
“Ini kelihatannya sudah lama. Mungkin bukan dibangun oleh penduduk yang tinggal di hutan ini, melainkan peninggalan dari zaman dahulu,” jawab Elias, pemuda itu menilik patung tersebut.
Zoya mengernyitkan dahi. Akan tetapi, Zoya memutuskan untuk tidak memperpanjang pembicaraan tersebut. Ia tak ingin berlama-lama membicarakan patung itu karena ia masih merasa tidak nyaman berada di dekat Elias. “Ya sudah. Aku mau kembali ke perkemahan.”
Elias lalu menatap Zoya seraya tersenyum dan mengangguk pelan. “Let’s go back together, Zoe.”
Zoya langsung berjalan dengan cepat demi menghindari Elias. Dia kini memunggungi Elias. “Aku tak mau mereka melihatku kembali ke sana bersamamu. Also, stop calling me that. We’re already over.”
Elias terkekeh pelan. Zoya menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, ke wajah rupawan Elias yang sedang terkekeh. Rasa marah dan sakit hati yang luar biasa ternyata mampu membuat Zoya menahan dirinya.
“Zoe. Sudah tiga minggu ini aku tidak bisa menghubungimu,” ujar Elias dengan suara rendahnya. Suaranya itu terdengar pelan dan berat. “Apakah kau memblokir nomorku?”
Zoya terdiam. Zoya memang memblokir nomor serta seluruh sosial media Elias. Ia benar-benar marah pada Elias saat mereka putus tiga minggu yang lalu.
Ada jeda yang tercipta sejenak karena Zoya tidak kunjung menjawab pertanyaan Elias. Hingga akhirnya suara maskulin Elias terdengar kembali.
“Buka, ya. Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu,” bujuk Elias pelan. “For me, as a matter of fact, you’re still my Zoe.” []