3. Macrobian (1)

1274 Words
Chapter 3 : Macrobian (1) ****** SUARA dedaunan kering yang ada di permukaan tanah hutan tersebut terdengar mengeluarkan bunyi gemerusuk tatkala Zoya berjalan di atasnya dengan sedikit terburu-buru. Bibir Zoya terkatup rapat, dahinya berkerut, dan kedua alisnya menyatu. Ia mendengkus. Di belakangnya ada Elias yang tengah berjalan mengikutinya tanpa mengatakan apa pun. Zoya benar-benar merasa kacau. Ia heran, kesal, kecewa, dan tak habis pikir. Iya, dia memang masih memiliki perasaan pada Elias, perasaan yang sejujurnya tak mau ia akui. Dia juga masih menyimpan memori tentang Elias di dalam otaknya, tentu saja, soalnya mereka belum lama putus. Akan tetapi, mendengar Elias berbicara seperti itu padanya membuat pikirannya jadi semakin kalut. Mereka putus karena bertengkar, Goddammit! Kalau memang mereka harus bertemu karena kebetulan atau karena tidak punya pilihan lain, Zoya lebih memilih untuk bertengkar saja dengannya daripada tiba-tiba mendapatkan pengakuan cinta seperti ini. Ini seolah-olah Elias tak pernah menganggap kalau mereka sudah putus. Sial. Kalau Elias seperti ini, Zoya takut dia akan lupa permasalahan di antara mereka, lalu lengah dan akhirnya memaafkan Elias begitu saja. Lebih baik mereka bertengkar saja untuk memperjelas masalah di antara mereka, supaya hubungan mereka tidak ambigu. Soal bisa berbaikan lagi (sebagai teman) atau tidaknya itu ya…urusan belakangan. “Zoe,” panggil Elias dari belakang. Zoya tak menggubris panggilan itu dan masih berjalan dengan cepat, berusaha untuk meninggalkan Elias. Ia tak mau berjalan berdampingan dengan Elias. Ia takut hatinya akan goyah, padahal ia masih belum memaafkan Elias. Akhirnya, langkah kaki Zoya mengantarkannya kembali ke area camp. Ia kembali bersama dengan—atau lebih tepatnya diikuti oleh—Elias. Sesampainya di sana, mereka berdua jelas langsung jadi bahan tontonan teman-teman mereka yang lain, yang rupanya kini tengah bersama-sama mempersiapkan alat-alat serta bahan-bahan untuk barbecue. July dan teman-temannya tengah mempersiapkan barbecue, sementara ada juga dua orang laki-laki yang tengah mempersiapkan kayu bakar untuk membuat api unggun nanti malam. Mereka semua jadi terdiam sebentar tatkala mereka menoleh dan mendapati bahwa Elias dan Zoya tampak kembali dari suatu tempat bersama-sama. Mereka lalu berpikir, ‘Ah, exes talk.’ Ya siapa, sih, yang tidak tahu kalau Elias dan Zoya itu berpacaran? Elias itu populer di kampus dan hal itu jelas membuat Zoya jadi ikut-ikutan dikenal. Salah satu dari teman mereka yang menyiapkan api unggun itu mendadak berpikir, ‘Sebentar, jangan bilang camping ini jadi ajang bagi mereka berdua untuk berbaikan dan kembali bersama?’ Namun, sebagian dari mereka memilih untuk mengedikkan bahu, tak memedulikan hal itu dan kembali fokus ke kegiatan masing-masing, kecuali para gadis. Agaknya, mata mereka tetap memperhatikan Elias dan Zoya selama beberapa waktu, terutama July. Ada rasa ketidaksukaan yang tersirat dari pandangan mata mereka. Oh, come on. Zoya itu cantik, tetapi terlalu plain. Bagi mereka, banyak gadis yang lebih cantik dan lebih menarik daripada Zoya di kampus. Mereka sebenarnya lebih senang kalau Elias itu single, biar bisa didekati dengan bebas tanpa harus ada pertengkaran. Ya…walau sebenarnya Zoya tak pernah mengajak mereka bertengkar. Gadis itu terlalu tertutup untuk bisa melakukan itu. Elias memperhatikan Zoya yang kini langsung belok ke kanan; Zoya pergi ke arah tendanya di mana ada Inez di sana yang juga sudah mulai berdiri dan berjalan menghampirinya. Elias spontan melebarkan mata, dia langsung mencoba untuk menghentikan Zoya. “Zoe—” “Elias!!” panggil July tiba-tiba, membuat Elias kontan menoleh ke arah gadis itu yang terlihat sedang mempersiapkan alat-alat serta bahan-bahan barbecue di ujung sana. Selain itu, ada beberapa gadis lain di sana yang juga tengah melambai pada Elias, memanggil Elias dengan ramah dan antusias. “Ayo, sini! Kita mau barbecue-an, nih!” “A—ah,” kata Elias, dia terdengar agak ragu sejenak. Matanya melirik Zoya yang sekarang sudah sampai di depan Inez, lalu ia pun menghela napas. Akhirnya, Elias pun menatap kembali ke arah teman-teman yang tadi sedang memanggilnya itu, lalu melanjutkan, “okay. On my way!” Elias mulai berlari menghampiri teman-teman mereka yang ada di ujung sana dan ia disambut dengan ramah dan tawa. Akhirnya, Elias jadi ikut membantu persiapan barbecue itu. Sementara itu, Zoya melihat semua pemandangan itu dengan tatapan sendu. Ia hanya mematung di sana dan menyaksikan semuanya dalam diam sampai akhirnya Inez memukul pundaknya. “Hei!” panggil Inez, sontak membuat Zoya tersadar dan menoleh ke arah gadis berbando putih itu. Inez lalu menghela napas. “Aku tadi melihatmu tiba-tiba berlari dan berteriak. Aku mau mengejarmu, tetapi ternyata Elias sudah bergerak lebih dulu untuk mengejarmu dan dia berkata padaku bahwa dialah yang akan menyusulmu. Ada apa, sih, sebenarnya?” Menatap Inez yang membeberkan hal itu, Zoya pun membuang napasnya lewat mulut dengan kuat seolah sedang lelah dan pusing. Lelah yang tak tahu tepatnya disebabkan oleh apa, entah karena berlari atau karena permasalahannya dengan Elias. Akhirnya, Zoya pun mulai membuka suara. “Waktu aku mencuci tangan tadi, kalungku tiba-tiba putus dan jatuh ke tanah. Setelah itu, ada seekor kucing yang menggigitnya dan membawanya kabur. Itulah yang membuatku berlari; aku mengejar kucing itu sambil berteriak,” ujar Zoya. “Ketika kucing itu sudah melepaskan kalungku, aku langsung berjongkok dan berencana untuk mengambilnya, tetapi ternyata sudah ada Elias di depanku. Dia juga mau mengambil kalung itu.” Mendengar itu, Inez pun mengangguk-angguk mengerti. Akan tetapi, kemudian Inez melebarkan matanya. “Terus bagaimana? Apakah kalian berdua sempat mengobrol soal ‘kalian’?” Zoya mengernyitkan dahi. Soal kalian? Ah. Soal hubungan mereka. Zoya mendengkus. Ia hanya mengedikkan bahu dan mengalihkan tatapannya ke tanah. Inez yang menyadari bahwa Zoya menolak untuk bercerita itu akhirnya hanya menghela napas. Inez kenal dengan Zoya, gadis itu memang sulit untuk langsung terbuka soal apa yang sedang ia rasakan. Akhirnya, Inez hanya mengusap punggung Zoya dan tersenyum lembut. “Ya sudah. Ingatlah bahwa aku akan selalu mendukung apa pun keputusanmu jika itu adalah yang terbaik bagimu.” Zoya pun mengangkat kepalanya. Ia menatap Inez dengan tatapan sendu, lalu menganggukkan kepalanya. Ia bersyukur memiliki sahabat seperti Inez yang mau mengerti dirinya. ****** 22 HARI YANG LALU “Zoe, wait!! Babe!” teriak Elias, mereka tengah berada di parkiran kampus dan Zoya baru saja melepas genggaman tangan Elias secara paksa. Gadis itu tampak berjalan dengan cepat, berencana untuk meninggalkan Elias tanpa mau mendengar penjelasan apa pun. Akan tetapi, begitu mendengar panggilan Elias kali ini, tiba-tiba Zoya berhenti melangkah. Elias lantas ikut berhenti. Gadis itu pun berbalik. Dia lantas menatap Elias dengan tajam. “Jangan panggil aku seperti itu. Sudah kubilang aku ingin kita putus.” Elias mengusap rambutnya ke belakang, mencengkeramnya karena merasa frustrasi. “For God’s sake, Zoe, aku tak mau putus denganmu! Mengapa kau melakukan ini?” “Kaulah yang terus curiga padaku!!” teriak Zoe. Untung saja tidak ada orang lain di parkiran tersebut sehingga Zoe tidak harus menahan amarahnya. “Beberapa hari belakangan ini, kau selalu membahas soal Jeremy dan terus mencurigaiku seolah-olah aku berselingkuh dengannya!! Apa kau gila? Kami hanyalah teman satu jurusan!” “Sayang,” panggil Elias. Pemuda itu mendekat, lalu memegang kedua pipi Zoe. Akan tetapi, Zoe langsung melepaskan tangan pemuda itu. Elias lantas menghela napas dan melanjutkan, “laki-laki tidak akan mendekatimu dan mengajakmu berbicara terus menerus, terutama kalau tidak ada urusan. Laki-laki tidak akan terus mendekatimu tanpa alasan, kecuali kalau dia menyukaimu.” “Dia melakukan itu karena kami adalah teman, Elias!” Zoe masih bersikeras. Elias menegapkan tubuhnya. Sebelah alis Elias terangkat. “Kalian tidak sedekat itu sebelumnya.” Zoya berdecak. Ia menatap mata Elias dengan penuh amarah. “Tetap saja kami adalah teman satu kelas; kami sering berada di dalam kelas yang sama!” bantah Zoya. Elias kembali menghela napas. Elias tahu bahwa kekasihnya ini keras kepala. Kekasihnya ini bukan orang yang terlalu terbuka, tetapi keras kepalanya minta ampun. “Zoe, Sayang, kita juga dulunya berawal dari teman. Bahkan, kita dulu hanyalah sebatas kenalan.” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD