Chapter 4 :
Macrobian (2)
******
ZOYA tertunduk. Alisnya masih bertaut, tetapi ia mulai menggigit bibirnya. Kata-kata Elias memang masuk akal, tetapi…tetapi tetap saja Elias bersikap berlebihan kalau cemburu pada Jeremy! Zoya dan Jeremy jelas tidak punya hubungan apa-apa. Percakapan yang mereka lakukan juga hanyalah tentang kaset-kaset jadul, buku horror, teori konspirasi, dan lain-lain. Mereka juga tidak melakukan percakapan itu sepanjang saat kok. Saat bercakap-cakap pun, tubuh mereka tidak bersentuhan. Mereka tidak saling menempel satu sama lain hingga bisa membuat orang-orang berpikir kalau mereka itu ‘dekat’. Jadi, rasanya sangat aneh kalau Elias cemburu pada Jeremy. Untuk apa dia cemburu?
Lagi pula, Zoya merasa tersinggung sekali kalau dicurigai seperti ini. Dia berasa seperti perempuan murahan saja, dicurigai terus seperti ini. Seakan-akan dia bukanlah wanita baik-baik yang dapat dipercaya.
Dengan lembut, Elias mengangkat dagu Zoya menggunakan jemarinya. Membuat tatapan mata Zoya langsung berserobok dengan tatapan mata Elias. Pandangan mereka terkunci; Zoya dapat melihat dengan jelas kedua bola mata Elias yang indah, yang tengah menatapnya dengan penuh permohonan. Ada rasa kesal yang masih tertinggal di sana. Ada juga rasa cemburu, rasa sedih…tetapi semuanya diselimuti dengan kasih sayang.
Elias pun mulai berbicara dengan lirih, “Aku tak suka melihatmu dekat dengannya atau dekat dengan laki-laki lain. Jangan dekat dengan laki-laki lain, Zoe. Aku tak mau kehilanganmu. Kau itu kekasihku.”
Namun, kata-kata Elias justru kembali menyulut amarah Zoya. Baginya, kata-kata Elias barusan itu terdengar seperti tuduhan. Elias menuduh Zoya mendekati laki-laki lain dan itu jelas membuat Zoya kembali tersinggung.
Tak ayal, Zoya pun langsung menarik tangan Elias—yang tengah memegangi dagunya itu—lalu gadis itu mengempaskan tangan Elias dengan kencang. Matanya menatap Elias dengan nyalang, penuh dengan amarah.
“We’re over,” tegas Zoya dengan suara yang terdengar begitu dingin. “Aku tak mau berhubungan dengan orang yang menuduhku seenaknya seperti ini. Jangan mengikutiku atau aku akan tambah membencimu. Aku tak mau melihatmu.”
Zoya langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Elias. Matanya mulai mengeluarkan air mata. Sementara itu, Elias ada di belakang sana, mematung…dan kedua mata pemuda itu tampak melebar tak percaya. Mulutnya terbuka, wajahnya blank. Otaknya bahkan tak mampu mencerna apa yang baru saja Zoya katakan kepadanya. Dia sungguh…tak habis pikir. Kakinya jadi kaku, tak bisa bergerak, padahal ia sangat ingin mengejar Zoya dan menarik tangan gadis itu, memeluknya serta menahannya agar hubungan mereka tidak berakhir seperti ini.
Akan tetapi, mendengar Zoya berkata bahwa gadis itu akan membencinya…membuat tubuhnya mematung.
******
Setelah beberapa lama kesepuluh orang itu barbecue-an, satu per satu dari mereka mulai bergerak untuk membersihkan diri. Mandi. Langit mulai menampilkan warna oranye yang mirip seperti ikan salmon, tetapi lebih pucat karena sekarang belum benar-benar senja.
Tadi Zoya dan Inez akhirnya ikut membantu mempersiapkan api unggun dan juga membantu mempersiapkan alat-alat serta bahan-bahan untuk barbecue. Mereka semua mengadakan pesta barbecue itu dengan gembira. Tawa mereka menghiasi pesta itu dan Elias jelas dikerumuni oleh semua orang, kecuali Inez dan Zoya. Para lelaki mengajaknya mengobrol dan tertawa; para perempuan juga melakukan hal yang sama. Sesekali para perempuan itu menempel pada tubuh Elias, memegang paha atau memeluk lengannya (saat duduk), tetapi tampaknya Elias bisa melepaskan sentuhan para perempuan itu dengan sopan tanpa harus membuat mereka tersinggung.
Zoya menyaksikan itu semua dan jujur ada sesuatu yang terasa seakan menohok jantungnya. Rasanya ada sebuah kecemburuan yang menggelitik dadanya, yang membuatnya agak merasa sakit di dalam sana, tetapi ia mencoba untuk memalingkan wajahnya dan tidak memperhatikan itu semua.
Hah. Ikut ke sini memang merupakan ide yang buruk selagi ada Elias di dalamnya.
Jadi, sore ini mereka mulai berpencar untuk mandi. Para lelaki mulai mandi di danau bersama-sama, sementara yang perempuan mulai bergerak mencari rumah-rumah warga untuk menumpang mandi. Mr. Parker berkata bahwa mereka semua bisa menumpang mandi di rumah-rumah warga atau mendatangi warga apabila membutuhkan sesuatu.
Teman-teman Zoya tengah mandi di rumah-rumah warga yang lain, sementara Zoya sore ini kebagian mandi di rumah Mr. Parker. Rumah-rumah warga di sana semuanya terbuat dari kayu dan merupakan rumah panggung, termasuk rumah Mr. Parker.
Mr. Parker menyambut Zoya dengan hangat, lalu menunjukkan kepada Zoya di mana letak kamar mandinya. Tanpa ba bi bu lagi, Zoya langsung mandi. Ia benar-benar membersihkan dirinya dengan baik. Setelah selesai mandi, dia langsung berganti pakaian di dalam kamar mandi itu, lalu ke luar.
Seraya melangkah menjauh dari kamar mandi, Zoya mengeringkan rambutnya dengan cara mengusap-usapkan rambutnya itu menggunakan handuk berwarna putih yang ia bawa. Ia melangkah melewati dapur, lalu langkah kakinya itu kini membawanya hingga ke lorong rumah Mr. Parker: lorong yang menyambungkan dapur dengan ruang tamu. Di lorong yang lumayan panjang tersebut terdapat dua kamar yang berseberangan—berhadapan satu sama lain, di sebelah kanan dan kiri—tetapi saat itu kedua pintu kamar tersebut tengah tertutup.
Pada dinding lorong yang sebelah kiri—kiri, kalau dari posisi Zoya saat ini—Zoya melihat ada beberapa pigura yang tergantung. Bingkai dari foto-foto itu semuanya terbuat dari kayu. Karena sedikit penasaran—dan tak sedang buru-buru juga—Zoya pun mulai berjalan mendekati pigura-pigura tersebut.
Di sana, Zoya melihat beberapa foto. Ada foto keluarga Mr. Parker, foto seorang anak, lalu beberapa di antaranya adalah foto Mr. Parker. Ada foto Mr. Parker yang sendirian, ada yang berfoto berdua, dan ada juga foto yang beramai-ramai. Tak tahu siapa saja yang ada di dalam foto yang beramai-ramai itu, tetapi tentunya ada Mr. Parker di sana.
Akan tetapi, anehnya…foto-foto Mr. Parker tersebut terlihat seperti sudah lama sekali. Fotonya hitam putih. Pakaian yang dikenakan oleh Mr. Parker dan orang-orang yang berdiri bersamanya di dalam foto-foto itu kelihatan seperti…pakaian orang-orang zaman dahulu. Apakah Mr. Parker dulunya hobi bermain drama di pentas sehingga dia memakai kostum seperti itu?
Hmm, bisa jadi.
“Apakah kau sudah selesai mandi?”
Zoya kontan tersentak, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak karena kaget. Gadis itu pun lantas menoleh ke samping kanannya, lalu mendapati Mr. Parker yang ternyata sudah berdiri di ujung lorong, di dekat ruang tamu. Zoya pun langsung menjawab, “A—ah…ya, Mr. Parker. Aku sudah selesai. Terima kasih atas kamar mandinya, Mr. Parker.”
Mr. Parker pun mengangguk dan tersenyum lembut kepada Zoya. Zoya balas tersenyum padanya, lalu gadis itu mulai berjalan ke depan. Ke ruang tamu.
Tatkala sampai di ruang tamu, Zoya pun merunduk hormat pada Mr. Parker dan kembali berterima kasih. “Terima kasih, Mr. Parker. Aku akan kembali sekarang.”
Mr. Parker mengangguk dan berdeham. “Sure. You’re welcome. Kalau ada yang kau atau teman-temanmu butuhkan, beritahu aku, ya. Hati-hati.”
Mendengar ucapan Mr. Parker yang sangat baik itu, Zoya pun tersenyum dengan tulus. “Baik, Mr. Parker. Terima kasih.”
Setelah melihat Mr. Parker balas tersenyum dengan ramah padanya, Zoya pun berpamitan pada Mr. Parker dan berjalan keluar dari ruang tamu rumah milik pria paruh baya itu, menuju ke pintu depan. Zoya lantas melangkah keluar dari pintu tersebut, melewati teras depan rumah Mr. Parker, lalu turun ke bawah melalui tangga rumah panggung itu.
Namun, nahasnya, tatkala Zoya baru saja menuruni anak tangga terakhir rumah panggung tersebut, mata Zoya menoleh ke samping kanannya.
Gara-gara itu, dia jadi melihat apa yang ada jauh di depan sana. Di pinggir danau.
Namun, meskipun jauh, Zoya masih mampu melihatnya dengan jelas.
Di danau tersebut, Zoya memang bisa melihat para lelaki yang sedang mandi bersama dengan bertelanjang d**a. Ada Eddie, Hayes, Miller, dan Jack. Namun, bukan itu fokus Zoya saat ini. Bukan itu yang membuat langkah Zoya terhenti. Bukan itu yang membuat Zoya menyipitkan matanya karena heran. Bukan itu yang membuat tubuh Zoya mematung.
Zoya berhenti melangkah karena di pinggir danau itu ia melihat ada Elias. Tidak, Elias tidak sedang mandi. Pemuda itu sedang berdiri berhadapan dengan July dalam jarak yang sangat dekat. Selain itu, Zoya juga bisa melihat bahwa saat ini July tengah menatap Elias dengan penuh kasih sayang seraya memegang pipi sebelah kanan pemuda itu dengan lembut. []