8. Creeping in the Dark (2)

1226 Words
Chapter 8 : Creeping in the Dark (2) ****** ZOYA bersumpah, entah mengapa suara Mr. Parker malam itu terdengar seperti bergema. Apa karena hutan itu sepi? Atau karena otak Zoya mulai berhalusinasi karena panik? Apa pun itu, this is unsettling. Zoya menarik napasnya sejenak, lalu menjawab, “I—Ini sudah malam, Mr. Parker. Aku tak mau mengganggu tidur warga hanya karena aku ingin buang air kecil.” Mr. Parker mengangguk pelan, masih tersenyum. Tatapannya begitu lembut. “Ya sudah. Kalau kau ingin buang air kecil di luar, hati-hati, ya.” Zoya mengangguk perlahan, agak kaku. “Baik, Mr. Parker. Thank you.” Mr. Parker masih tersenyum. Pria itu mengangguk pelan, seolah-olah ingin mengatakan ‘sama-sama’ tanpa suara. Suasana saat itu mendadak jadi agak awkward. Zoya lagi-lagi meneguk ludahnya karena tak nyaman dengan suasana sepi ini. Namun, mendadak Zoya teringat sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa membuat situasi ini jadi tidak awkward atau janggal lagi. Siluet hitam tadi. Ya. Itu dia. Zoya kebetulan memang penasaran soal siluet hitam itu. Akhirnya, dengan sedikit canggung, Zoya pun mulai bertanya. “Umm…itu…Mr. Parker…” “Hm?” Mr. Parker sedikit memiringkan kepalanya. Zoya tanpa sadar menahan napasnya. Gadis itu mulai menunjuk ke depan sana. “Barusan…aku melihat ada beberapa orang yang lewat di sana…” Mr. Parker pun melihat ke arah yang Zoya tunjuk. Matanya agak melebar. “Ooh. Mungkin itu warga sini. Mereka ingin pergi ke peternakan sapi atau kambing mereka. Biasanya, mereka memang keluar malam-malam begini.” Zoya menatap ke arah yang sama, lalu menurunkan tangannya. Ia sadar bahwa siluet hitam tadi sudah tidak ada di depan sana. Sudah hilang, tentu saja. Orang-orang itu mungkin sudah sampai di peternakan mereka…walau Zoya tak tahu di mana tepatnya lokasi peternakan itu. Zoya dan Mr. Parker pun kembali saling menatap. “O—Oh…begitu, ya…” jawab Zoya dengan gugup. “Hm,” deham Mr. Parker. “Jangan khawatir. Itu hanya warga sini.” Zoya akhirnya mengangguk. Gadis itu tersenyum dengan canggung. “B—Baiklah, Mr. Parker. Terima kasih atas penjelasannya. Aku…aku mau buang air kecil terlebih dahulu.” Mr. Parker tersenyum dan mengangguk. “Baiklah. Hati-hati, ya.” “Yes. Thank you, Mr. Parker,” ujar Zoya seraya mengangguk. Mr. Parker pun pamit dan berbalik, lalu mulai berjalan menjauhi Zoya. Zoya kini hanya bisa memandangi punggung Mr. Parker dari belakang. Sosok Mr. Parker itu perlahan-lahan jadi terlihat semakin kecil…dan semakin menjauh. Zoya meneguk ludahnya—sedikit bersyukur karena ternyata semua ketakutannya tadi tidak terbukti—lalu berbalik dan mulai menyelesaikan urusannya, yaitu buang air kecil. ****** Sekitar jam enam pagi, kesepuluh orang yang mengikuti kegiatan kemah itu mulai bangun. Ada yang hanya melakukan peregangan di depan tenda, ada yang buang air kecil, ada yang mengambil minum, dan ada juga yang mencuci muka di danau. Udara di hutan tersebut pagi ini terasa begitu segar. Terasa dingin ketika sampai di hidung. Zoya baru saja kembali dari menggosok giginya bersama Inez ketika tiba-tiba Mr. Parker datang ke area perkemahan mereka bersama seseorang. Seorang gadis. Gadis itu berkulit putih, seperti Mr. Parker. Putih sekali. Wajahnya cantik, khas gadis desa. Dia berambut blonde dan diikat dua di bagian bawah. Dia juga memakai hair scarf berwarna krem dengan garis-garis jingga. Dia memakai pakaian yang warnanya dominan cokelat seperti gadis desa di abad pertengahan. Semua orang yang tadinya sedang melakukan aktivitasnya masing-masing…kontan langsung mendekat. Mereka merapat ke area tenda karena melihat Mr. Parker datang, terutama Mr. Parker datang bersama seorang perempuan yang tak pernah mereka lihat. Mr. Parker dan perempuan itu masing-masing sedang membawa sebuah kotak. Ketika semua orang sudah berkumpul, Mr. Parker pun tertawa renyah. “Ah, maaf, ya, sudah mengganggu kalian pagi-pagi begini.” Beberapa dari mereka langsung menjawab, “Oh, tidak, tidak, Mr. Parker. It’s okay.” Ada juga yang mulai bertanya, “Ada apa, Mr. Parker?” Mr. Parker tersenyum. “Aku dan Lynn, anak gadisku, membawakan sarapan untuk kalian. Ini bukan makanan yang mewah, tetapi…semoga kalian suka.” “Woah!! Thank you, Mr. Parker!” teriak Miller. Beberapa dari mereka mulai mendekati Mr. Parker dan melihat bahwa kotak yang Mr. Parker bawa adalah kotak berisi minuman, sementara kotak yang dibawa oleh anaknya Mr. Parker (Lynn) adalah kotak berisi makanan. Semacam rice bowl. Wadahnya bulat dan memakai tutup. Lynn tersenyum dengan sangat manis kepada mereka semua. Namun, ada satu orang yang agaknya benar-benar tak berhenti menatap Lynn. Eddie. Di antara Eddie dan Lynn, sempat terjadi sebuah tatapan yang bertahan lebih lama daripada seharusnya. A gaze that lasted for four seconds longer. Seperti ada sebuah tension…yang tak tahu mengapa bisa terbangun. Awalnya…Lynn tersenyum pada Eddie. Setelah itu, Eddie menatap gadis itu dengan lekat…dan tersenyum miring. Tatapan Eddie sangatlah fokus, memenjarakan…seolah-olah tengah mengutarakan hasratnya tanpa ia sadari. Di sisi lain, dalam waktu singkat—yang hampir tidak kelihatan—Lynn sempat memberikan tatapan yang sama pada Eddie dan berhenti tersenyum manis. Senyuman manis itu berganti dengan seringai tipis sejenak…hanya selama satu detik, lalu Lynn kembali menatap ke lain arah dan memberikan senyuman manis. Semua aksi tanpa suara itu tidak dilihat oleh banyak orang. Mungkin…hanya dilihat oleh beberapa orang yang kebetulan berdiri di dekat Eddie. “Ini. Silakan…” kata Lynn dengan ramah. Senyumannya tidak pudar. Dia mulai membagikan rice bowl itu ke sepuluh orang yang ada di sana, satu per satu. Mr. Parker juga membagikan minuman kepada mereka semua. Semua orang yang menerima itu terlihat senang. Well, makan gratis, lho! Hitung-hitung…bisa sedikit menghemat persediaan makanan mereka (walau sebenarnya makanan mereka masih cukup). Setelah membagikan makanan dan minuman itu, Mr. Parker Lynn pun pamit. Kesepuluh orang yang menerima makanan dan minuman itu langsung mengucapkan ‘terima kasih’ pada mereka, nyaris serentak. Hayes, Elias, Sophia, dan Inez juga sempat mengatakan, “Hati-hati, Mr. Parker!” …dan Mr. Parker hanya tertawa kecil, mengangguk, dan pergi dari sana bersama anaknya. Sepeninggal Mr. Parker dan Lynn, mereka bersepuluh pun langsung duduk di depan tenda. Mereka duduk melingkar…dan mulai sarapan bersama-sama. Ada yang mulai mengobrol, ada yang mulai tertawa, dan ada juga yang hanya fokus makan. Inez dan Zoya ikut duduk bersama delapan orang lainnya, tetapi posisi mereka tetap ada di depan tenda mereka sendiri. Sayangnya, Sophia tidak ada bersama mereka. Sophia duduk di dekat Becca dan July. Zoya makan dengan santai. Pelan. Namun, pikirannya berkelana jauh. Sambil menyuap nasi ke mulutnya, ia terus memikirkan soal apa yang telah terjadi semalam. Ia yang ingin buang air kecil. Ia yang melihat Mr. Parker di dekat danau. Ia yang melihat Mr. Parker tiba-tiba menoleh ke arahnya. Ia yang melihat siluet hitam dari kejauhan. Ia yang kemudian bertemu lagi dengan Mr. Parker secara mendadak. Ia yang mendengarkan penjelasan dari Mr. Parker bahwa warga desa biasanya memang pergi ke peternakan mereka malam-malam. Semua itu terlalu aneh untuk tidak dipikirkan. Namun, di sisi lain, semua itu juga agak berlebihan jika dipikirkan sekarang, soalnya saat ini seharusnya mereka menikmati graduation trip ini. …walau sebenarnya sejak awal Zoya sudah tidak menikmatinya. Apakah hal ini hanya terjadi pada Zoya? Kalau memang begitu, apakah semuanya terjadi karena sejak awal Zoya memang tidak menikmati perjalanan ini? Ah, entahlah. Zoya jadi pusing sendiri. Otaknya mendadak overheating; pikirannya ke mana-mana. Tiba-tiba, seseorang membuka suara. Satu dari sepuluh orang tersebut. Jack. Suaranya cukup besar hingga membuat semua orang yang ada di sana fokus padanya; mereka berhenti mengobrol dan berhenti tertawa seketika. Semua orang menatap Jack saat pemuda itu mulai bertanya. “Hei, tadi malam ada yang keluar dari tenda, ya?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD