7. Creeping in the Dark (1)

1037 Words
Chapter 7 : Creeping in the Dark (1) ****** JANTUNG Zoya serasa berhenti berdegup. Gadis itu terkejut setengah mati; dia spontan mundur dan menutup pintu tenda itu kembali. Dia terengah-engah. What was that? What the hell was that?! Mengapa Mr. Parker menatap tepat ke arahnya?! Apakah Zoya hanya salah lihat? Apakah sebenarnya mata Mr. Parker hanya kebetulan menatap tenda-tenda mereka dan tidak melihat ke arahnya secara spesifik?! Lagi pula, kalau memang Mr. Parker melihat ke arahnya… …bagaimana Mr. Parker bisa tahu bahwa dia sedang mengintip?! Danau itu cukup jauh. Selain itu, Zoya hanya membuka ritsleting tendanya sedikit. Tidak. Mr. Parker melihat tepat ke arahnya? Itu tidak mungkin. Kalau memang benar, berarti jarak pandang Mr. Parker jauh sekali. It’s kind of…impossible. Mr. Parker pasti tidak benar-benar melihat ke arahnya. Mungkin melihat ke tenda mereka…atau ke sesuatu yang ada di belakang tenda. Di antara pepohonan. Iya. Pasti begitu. Pasti Zoya hanya salah paham. Akan tetapi, jika Zoya hanya salah paham… …mengapa jantung Zoya saat ini tak berhenti berdegup kencang? Zoya meneguk ludahnya. Dia tak jadi buang air kecil. Dia duduk di tenda itu, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun…selama sekitar satu menit. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi dia hanya salah paham; dia diam dan menunggu hingga situasi setidaknya jadi lebih aman. Mungkin, kalau ia menunggu sebentar, Mr. Parker akan hilang dari danau itu. Mungkin, sebentar lagi…Mr. Parker akan pergi dari sana. Zoya menunggu. Terus menunggu. Ia menunduk dan menyatukan jemarinya. Menahan hasratnya untuk buang air kecil. Tunggu. Tunggu sebentar saja. Sebentar lagi…seharusnya Mr. Parker sudah tak ada lagi di sana. Sekitar satu menit kemudian, Zoya pun kembali mendekati pintu masuk tenda itu. Menyibaknya perlahan… …dan mulai mengintip lagi. Jantungnya berdebar tak keruan. Napasnya tertahan. Ludahnya terasa sulit untuk ditelan. Dia pun melihat jauh ke depan sana. Ke danau itu. Ternyata, Mr. Parker… …sudah tidak ada lagi di danau itu. Bagaikan terbebas dari segala beban yang telah menyesakkan dadanya, Zoya pun bernapas lega. Embusan napasnya terdengar begitu kuat; ia membebaskan semua udara yang sejak tadi ia tahan. Kencangnya bunyi detak jantung yang sudah mengganggunya sejak tadi pun perlahan-lahan mereda. Huh. Syukurlah. Syukurlah… Zoya menunduk dan mengusap dadanya pelan. Gadis itu mulai merasa tenang. Beberapa saat kemudian, hasrat untuk buang air kecil itu pun kembali mampir. Membuat Zoya langsung sadar tentang apa yang membuatnya ingin ke luar tenda sejak awal. Dia tadi ingin buang air kecil. Zoya pun meraih ponselnya yang ada di dekat bantal. Gadis itu menghidupkan flashlight, lalu membuka ritsleting pintu tenda itu sepenuhnya. Dia sempat melihat Inez dan Sophia yang sedangtertidur pulas sebelum akhirnya keluar dari tenda. Zoya mengarahkan flashlight ponselnya itu ke depan untuk melihat jalan. Ia ingin buang air kecil di dekat pohon saja. Ia harus mencari pohon yang tidak terlalu dekat…tetapi juga tidak jauh dari tenda mereka. Suara gemerusuk dari dedaunan kering yang Zoya injak di sepanjang jalan itu terdengar begitu kencang, terutama karena sepinya malam di hutan itu. Suaranya sekarang jadi terdengar sangat creepy, padahal tadi siang…ketika ia berjalan ‘mendahului’ Elias, suaranya terdengar biasa-biasa saja. Zoya berjalan pelan-pelan. Dia menerangi jalanan di depannya…dan menuju ke salah satu pohon. Namun, sebelum langkahnya benar-benar mencapai pohon itu, …tiba-tiba dia melihat beberapa siluet manusia di depan sana. Siluet hitam. Seperti bayangan, tetapi bukan hantu. Itu manusia. Sekitar tiga…atau empat orang. Di depan sana. Berjalan dari arah kanan…dan lurus terus hingga ke arah kiri. Mereka berjalan santai. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat… ...tetapi tanpa suara. Agaknya, mereka ingin pergi ke suatu tempat bersama-sama. Zoya berhenti melangkah. Gadis itu spontan terdiam di tempat; keningnya berkerut. Dia memperhatikan orang-orang itu. Bukankah mereka…sedikit aneh? Apa yang mereka lakukan malam-malam begini? Mau ke mana mereka? Rasa penasaran itu membuat Zoya terdiam di tempat. Ia terus berdiri di sana seraya memperhatikan orang-orang itu. Apakah orang-orang yang tinggal di hutan ini memang sering keluar malam? Tadi, Mr. Parker juga sedang berdiri di depan danau… Zoya mulai memfokuskan pandangannya. Ia ingin melihat siluet itu dengan lebih jelas tanpa harus mengarahkan flashlight-nya ke depan sana. Ia tak ingin ketahuan meskipun mungkin saja ia sudah ketahuan karena cahaya flashlight-nya. Soalnya, orang-orang di depan sana… …agaknya tidak memakai penerangan apa-apa. Hanya mengandalkan cahaya bulan dan bintang malam ini. Ayo lihat dengan saksama. Ada satu…dua…tiga…dan— Pundak Zoya ditepuk pelan. “Apa yang kau lakukan di sini?” Mata Zoya membulat sempurna. Ia refleks langsung berbalik dan menjauhkan tubuhnya. Ia panik bukan main dan jantungnya nyaris mencelus ke perut. Wajahnya pucat seketika. Akan tetapi, di tengah napasnya yang pendek-pendek itu, di tengah kegelapan malam itu, dibantu dengan flashlight ponselnya yang sekarang mengarah entah ke mana… Ia melihat Mr. Parker berdiri di hadapannya. Tengah tersenyum lembut padanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Mengapa Mr. Parker tiba-tiba ada di sini?! Bukankah—bukankah tadi pria paruh baya itu sudah pergi dari danau? Dia masih ada di sekitar sini, ya? Sebenarnya, dia sedang melakukan apa?! Zoya meneguk ludahnya. Entah mengapa, instingnya menyuruhnya untuk pergi. Berlari masuk ke tenda. Melupakan seluruh hasratnya untuk buang air kecil. Ada rasa takut yang tak bisa ia jelaskan; rasa takut itu merangkak masuk menembus kulitnya. Akan tetapi, ia takut kalau ia berlari…ia hanya akan membuat suatu kesalahan. Ia tak ingin dikira benar-benar takut. Ini seperti kau tidak boleh berlari di depan seekor anjing karena anjing itu mungkin akan mengejarmu. Zoya tidak bermaksud untuk menyamakan Mr. Parker dengan seekor anjing, tetapi—tetapi instingnya mengatakan demikian. ‘Kau harus lari, tetapi di sisi lain kau tidak boleh berlari.’ Namun, tatkala melihat senyuman ramah di wajah Mr. Parker, Zoya mendadak merasa bersalah. Ia tak seharusnya takut pada Mr. Parker; pria paruh baya itu sudah bersikap sangat baik pada mereka dan memperhatikan mereka. Dia bahkan menyambut Zoya dengan sangat baik ketika Zoya menumpang mandi di rumahnya tadi sore. Ini tak boleh dilakukan. Zoya tak boleh terlihat takut seperti ini, apalagi kalau sampai berlari. Itu sungguh tidak sopan. Jadi, dua detik kemudian… Zoya pun meneguk ludahnya. Memberanikan diri untuk membuka suara…meski terdengar serak dan bergetar. “A—Aku…” Napas Zoya tertahan. “Aku hanya ingin buang air kecil, Mr. Parker.” Zoya sadar bahwa posisinya tubuhnya sekarang masih terlihat waswas. Ekspresi wajahnya juga demikian. Namun, Mr. Parker masih tersenyum. Pria itu bernapas samar…lalu bersuara. “Mengapa tidak menumpang di rumah warga saja?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD